Pandangan Islam Tentang Sikap Fanatik

Sejarah Islam kaya dengan pengalaman pahit yang disebabkan oleh
perilaku fanatik yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam. Pada
zaman klassik, aliran Kha­warij dapat disebut sebagai awal mulanya
lahir kelompok fanatik. Logika berfikir faham Khawarij yang
menyesatkan itu antara lain bahwa orang Islam yang berbuat dosa
besar hukumnya kafir, dan orang kafir halal dibunuh. Dengan logika
fanatik demikian maka banyak terjadi korban pem­bunuhan dengan atas
nama agama.

Pada zaman modern sekarang, kelompok-kelompok fanatik juga banyak
dijumpai, terutama di kalangan kaum muda. Ciri mereka antara lain
mereka merasa benar sendiri sehingga merasa tidak sah makmum salat
kepada orang lain diluar kelompoknya, tidak mau mendengarkan nasehat
dan bahkan tidak bisa mengormati kepada orang lain yang di luar
kelompoknya meskipun ayah ibunya, gurunya dan sebagainya. Ada
contoh menarik dimana sekelompok mahasiswa sebuah perguruan tinggi
meninggalkan dosen yang sedang menga­jar di kelas menuju ke masjid
kampus untuk salat Ashar begitu azan terdengar. Kebetulan dosen yang
mengajar seorang Nasrani, dan dosen tersebut melaporkan perilaku
mahasiswa tersebut ke Dekan . Ketika mereka ditegur oleh Dekan bahwa
tindakan mereka tidak etis mereka menjawab bahwa panggilan Allah
(untuk salat) tidak bisa dikalahkan oleh panggilan manusia (dosen).
Saya oleh dekan diminta menjadi pengajar agama Islam dengan pesan
khusus bagaimana meredam sikap fanatic mahasiswa. Al hamdulillah,
satu semester, dengan dialog dan contoh-contoh empiric ada juga
hasilnya, yakni ada sedikit perubahan.

Di antara butir-butir ajaran Islam menyangkut sikap fanatik adalah
sebagai berikut :
1. Alqur'an mengisyaratkan bahwa manusia memang memiliki
kecenderungan untuk membanggakan apa yang ada pada mereka.
artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua,
agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kamu
kepadaKU. (52) Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul) menjadikan
agama mereka terpecah-pecah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap
golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-
masing) (53) Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan nya sampai suatu
waktu (54). (Surat Al Mu'minun, 52-54)

2. Alqur'an banyak sekali mengingatkan manusia agar menggunakan
akalnya, dan diingatkan agar tidak mengikuti pandangan yang mengabdi
kepada hawa nafsu.
Afala ta`qilun? artinya: Apakah kamu tidak berakal? Afala
tatafakkarun? Apakah kamu tidak berfikir? Apakah kamu tidak
merenungkan ...?

3. Bahwa beragama artinya juga hidup dengan meng­gunakan akal
karena agama itu sendiri didesain untuk manusia yang berakal. Oleh
karena itu orang yang tidak berakal tidak terkena kewajiban agama.
Addinu huwa al`aqlu la dina liman la `aqla lahu artinya: Agama
adalah akal, maka tidak ada agama bagi orang yang tidak menggunakan
akal.

4. Bahwa bersikukuh dengan pandangan yang diyakini seraya
menutup diri dari pandangan lain (yang justeru mungkin lebih benar)
adalah perbuatan sesat, yang dalam al Qur'an disebut sebagai
mengikuti hawa nafsu, yakni kecenderungan memenuhi dorongan ke­
inginan untuk kesenangan jangka pendek, bukan untuk mencari
kebenaran (yang pada mulanya mungkin te­rasa pahit).
artinya: Katakanlah; Hai ahli Kitab, janganlah kamu berlebih lebihan
(melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat
dahulunya (sebelum kedatangan Muhammmad) dan mereka telah
menyesatkan kebanyakan manusia, dan mereka tersesat dari jalan yang
lurus. (al Maidah, 77)

Pada akhirnya orang yang secara membabi buta membela sesuatu tanpa
melihat duduk soal dan benar salahnya masalah yang dibela akan
terjerumus pada per­buatan konyol dan sia-sia, meskipun boleh jadi
apa yang dilakukanya itu didorong oleh rasa cintanya yang menda­lam
terhadap sesuatu yang dibela itu. Imam Gazali dalam Ihya Ulumuddin
membagi cinta kepada empat kualitas:
(a). Cinta diri. Pencinta ini melihat segala sesuatu hanya dengan
satu ukuran atau satu kaca mata, yaitu dari kepuasan diri sendiri.

(b). Cinta kepada orang lain sepanjang orang lain memberi
keuntungan kepadanya. Cinta kelas ini seperti cintanya pedagang
kepada pembeli, cinta transaksional.

(c). Cinta kepada orang baik, meskipun yang dicintainya itu tidak
memberikan apapun kepadanya., seperti cinta kepada Nabi, ulama dan
pemimpin

(d). Cinta kepada kebaikan sich, terlepas dari siapa pemilik
kebaikan itu.

Dalam perspektip ini, maka sikap fanatik mudah timbul pada orang
dengan kategori pertama. Dari cinta diri (nar­cisme) dapat
berkembang menjadi cinta kelompok in group dan selanjutnya bisa
menjelma menjadi fanatik etnik. Sebaliknya cinta dalam kategori ke
tiga dan ke empat akan mengantarkan orang pada cinta kepada manusia
dan cinta kepada Tuhan.

Nabi mengingatkan bahwa barang siapa yang mati ka­rena membela
sesuatu secara fanatik buta (mata `ala `asabiyyah) maka ia masuk
neraka. Termasuk ke dalam kelompok ini barangkali adalah orang yang
berani mati hanya untuk partai dan bentrokan kampanye pemi­lihan
umum, atau pilkada padahal mereka sendiri tidak tahu apa hakikat
yang dibela.


Wassalam,
agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com








Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh 
manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya 
adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. 
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu 
wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang 
tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas 
yang engkau mampu. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/keluarga-islam/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke