Tulisan ringkas ini untuk menjelaskan bodohnya orang-orang tasawuf/sufi yang menyatakan bahwa tokoh mereka ini mendapat 'tempat yang baik' di kalangan imam madzhab, (silahkan lihat di:http://www.sufinews.com/?go=pledoi ), ketika diminta keterangan sumber perkataan imam madzhab tersebut, mereka diam seribu bahasa, dan sebentar lagi akan ada tanggapan bahwa : Mereka mendapatkan perkataan tersebut langsung dengan para imam madzhab dengan menggunakan ilmu kasyf, kalau berjumpa dengan Allah saja bisa, apalagi dengan imam madzhab.

Nama lengkapnya Abu Abdullah al-Harits Al-Muhasiby, wafat tahun 243 H, diantara karyanya adalah al-Luma’ dan Kitabul Washaya, yang sangat popular diantara kaum Sufi. Beliau pernah mengatakan berhubungan dengan perjuangan dirinya dalam mencapai wushul kepada Allah, melalui jalan Tasawuf dan tokoh-tokoh Sufi,

Amma Ba’du, sudah ada penjelasan, bahwa ummat ini terpecah menjadi tujupuluh lebih golongan Diantara golongan itu ada satu golongan yang selamat, Wallahu A’lam sisanya. Dan sepanjang usia saya, sering diperlihatkan perbedaan antara ummat. Saya mengikuti metode yang jelas dan jalan utama. Aku mencari ilmu dan amal. Saya menapak jalan akhirat melalui petunjuk para Ulama, dan saya memegang ayat Al-Qur’an melalui penakwilan para fuqoha’, dan aku merenungkan urusan ummat, dan menganalisa pandangan dan mazhabnya. Saya berfikir mengenai apa yang mampu, dan betapa banyak perbedaan yang begitu mendalam yang menenggelamkan banyak orang.

Hanya sekolompok manusia yang selamat. Saya melihat bahwa mereka berpendapat bahwa golongan merekalah yang selamat. Setelah menggambarkan berbagai kelompok mazahab dan golongan,

Al-Muhasiby mengatakan:
“Kemudian aku sangat mencintai mazhab kaum Sufi dan sangat banyak mengambil faedah dari mereka, menerima adab-adab mereka karena ketaatan mereka, yang sangat lurus, dan tak seorang pun melebihi mereka. Kemudian Allah membukakan padaku bukti-bukti tasawuf, keutamaannya mencerahkan jiwaku, dan aku berharap agar keselamatan ada pada orang yang mengakuinya, atau merias dengan perilakunya. Aku sangat yakin adanya pertolongan besar bagi yang mengamalkannya, dan aku pun melihat adanya pelencengan pandangan bagi yang menentangnya. Aku juga melihat adanya kotoran yang mengerak pada hati yang menentang tasawuf, dan terlihat pula adanya argumentasi yang luhur bagi yang memahaminya. Bahkan kemudian, aku mewajibkan diriku untuk mengamalkannya. Aku meyakininya dalam akidah rahasia batinku, dan meliputinya pada kedalaman rasaku, bahkan kujadikan tasawuf itu sebagai asas agamaku, dimana aku bangun amal-amalku, lalu di bangunan itu aku mondar-mandir dengan perilaku hatiku……


Setelah kita simak sekilas tokoh panutan tasawuf/sufi tersebut, maka kita perhatikan apa kata Imam-imam Madzhab ahlussunnah wal jama'ah :

Komentar Imam Mazhab Tentang
Thariqat Sufi & al-Harits al-Muhasiby

'Abdullah bin (al-Imam) Ahmad bin Hanbal Katanya:
" Saya mendengar ayahku berkata:'Siapa yang mengatakan ucapanku (lafadhku) dengan al-Qur'an adalah makhluk maka ia adalah ucapan sangat jelek dan rendah, dan ini adalah perkataan orang-orang jahmiyyah (kelompok yang mengatakan al-Qur'an adalah makhluk), 'Saya katakan padanya:"Sesungguhnya Husain al-Karabisiy mengatakan hal ini', Beliau berkata:' Dia dusta, semoga Allah membuka aibnya yang jelek itu. Sungguh ia telah menggatikan Bisyr al-Marisiy' (as-Sunnah li 'abdillah 1/165-166 nop.186-188)


Aly  bin   Abi   Khalid   menceritakan  bahwa  ia  berkata  kepada   Imam Ahmad bin Hanbal :
“Orang  tua  ini  –sambil mengisyaratkan kepada syaikh itu– adalah tetanggaku dan  saya  telah  melarangnya bergaul dengan seseorang (bid’iy) dan ia lebih suka  mendengar  perkataan  Anda  dalam  perkara  ini  –mengenai Harits  Al Qashir– (Harits Al Muhasibi) dan Anda pernah melihatku bersamanya selama beberapa tahun lalu Anda katakan pada saya :‘Jangan duduk (bermajelis) dengannya dan jangan ajak bicara. ’Maka  sejak saat itu  saya tidak pernah  mengajaknya  bicara  sampai  saat  ini sedangkan  orang   tua    ini    senang  duduk    (bermajelis)  dengannya  maka bagaimana pendapat Anda dalam hal ini?

”Saya  lihat wajah  Imam Ahmad memerah, urat lehernya  membengkak  dan matanya  melotot marah dan  saya belum  pernah  melihatnya seperti  itu sama sekali kemudian beliau menghembuskan nafas dan mulai berkata :“Orang itu! Allah telah berbuat terhadapnya apa yang Dia perbuat, tidak ada yang mengetahuinya  kecuali orang  yang  berpengalaman  dan  mengenalnya, uwaiyyah,   uwaiyyah,  uwaiyyah,  dia  itu  tidak  ada  yang mengetahuinya kecuali  yang pernah bergaul dan mengenalnya,  dia itu  yang pernah duduk bersamanya  Al  Maghazily,  Ya’qub,  dan  Fulan  lalu  ia  menggiring  mereka kepada pemikiran Jahm akhirnya mereka binasa karenanya.

”Orang tua itu berkata : “Wahai  Abu  Abdillah,  ia  juga  meriwayatkan  hadits, lembut,  khusyu’  dan  orang tua  itu terus menceritakan kebaikan  Harits Al Muhasibi.

”Imam Ahmad marah dan berkata :“Janganlah  kau  tertipu  dengan kekhusyukan dan kelembutannya. Dan  jangan kamu    terpedaya    dengan    kebiasaannya    menundukkan    kepala    karena sesungguhnya dia adalah laki-laki yang jahat, dia itu tidaklah mengetahuinya kecuali  yang  telah  berpengalaman  dengannya, jangan  kamu ajak dia bicara. Tidak ada kemuliaan baginya. Apakah setiap yang meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah  sawpadahal ia seorang  mubtadi’  kamu akan duduk bersamanya? Tidak!  Jangan. Tidak ada kemuliaan baginya dan jangan kita membutakan mata!

”Beliau mengulangi-ulangi ucapannya : “Tidak ada yang mengetahuinya kecuali yang  pernah  mengujinya dan mengenalnya.”  (Thabaqat Hanabilah 1/233-34 nomor 325)


Abul Qasim An Nashr Abadzy berkata : Sampai kepadaku bahwa Al Harits Al Muhasibiy mengucapkan sesuatu tentangAl Kalam  (Al  Quran) maka Imam Ahmad  bin  Hanbal  menjauhinya,  ia  pun bersembunyi dan ketika ia mati tidak ada yang mendatanginya kecuali 4 orang.” (At Tahdzib 2/117 dan Tarikh Baghdad 8/216)


Ketika  ditanya  tentang  Al  Muhasibi  dan  kitab-kitabnya,  Abu  Zur’ah menjawab :
“Tinggalkan  olehmu  kitab-kitab  ini  (karena) ini adalah kitab-kitab bid’ah dan sesat.  Berpeganglah  dengan  atsar  Salafus  Shalih  sebab  sesungguhnya akan  kamu  dapatkan padanya  segala  sesuatu yang mencukupi kamu.  Dan tidak perlu kitab-kitab ini.”

Lalu  dikatakan  kepadanya  :  “Di dalam  kitab ini ada juga  ibrah (pelajaran yang dapat diambil).”
Beliau  berkata : “Barangsiapa yang  tidak dapat  mengambil  ibrah dari Kitab Allah  maka  dia  tidak  akan  mendapatkan   ibrah  dari  sumber   yang   lain.” Kemudian katanya  lagi  : “Alangkah  cepatnya manusia  itu menuju bid’ah.” (At Tahdzib 2/117 dan Tarikh Baghdad 8/215)


Dari  Ismail   bin  Ishaq  As  Siraj  ia  mengatakan,  Imam  Ahmad  bin hanbal pada suatu hari berkata kepadaku :
“Saya dengar bahwa Al Harits Al Muhasibi sering berkumpul di tempatmu, kalau kamu mengundangnya ke rumahmu dan kau  tempatkan saya di  tempat yang tidak  terlihat  olehnya  tentu  saya  akan  dapat  mendengar  perkataannya.” 
Maka saya berkata :
“Saya dengar dan saya patuhi untuk Anda, hai Abu Abdillah dan ini  menyenangkan  saya.” 
Lalu  saya  mendatangi  Al  Harits  dan  memintanya datang  malam  ini, 
saya    katakan:    “Engkau    ajaklah    shahabatmu  hadir bersamamu.”
Katanya : “Hai Abu Ismail, mereka banyak maka jangan beri  mereka  lebih  dari minyak dan kurma dan perbanyaklah keduanya semampumu.”
Saya pun melakukan apa yang dia minta dan saya berangkat ke tempat Imam Ahmad dan menceritakan hal ini  kepadanya, beliau  hadir sesudah  maghrib dan naik ke kamar dan berusaha untuk tetap hadir sampai selesai. Kemudian Al Harits  datang  beserta  shahabat-shahabatnya  lalu  mereka  makan  kemudian shalat pada sepertiga awal  malam dan  tidak  shalat lagi sesudahnya.

Setelah itu  mereka  duduk  di  hadapan  Al  Harits  dan  diam  tidak  berbicara  hingga tengah  malam  kemudian mulailah salah  seorang  bertanya  kepada Al  Harits tentang    sesuatu    dan    ia    mulai    berbicara    sementara    shahabatnya memperhatikan seakan-akan di atas kepala mereka bertengger seekor  burung(karena tenangnya),  di  antara  mereka ada yang menangis adapula  yang menjerit dan Al Harits tetap berbicara kemudian saya naik ke kamar melihat keadaan Imam Ahmad, saya dapati beliau menangis sampai tidak sadarkan diri. Saya pun berpaling melihat keadaan orang-orang itu ternyata mereka tetap dalam keadaan seperti itu sampai shubuh lalu mereka berdiri dan berpisah.

Saya segera  menemui  Imam  Ahmad  sedang  ia  terlihat  lain  maka  saya  berkata  :
“Bagaimana pendapat Anda tentang mereka ini, wahai Abu Abdillah?”
Beliau menjawab : “Belum pernah saya  mengetahui  ada  orang-orang seperti. Mereka  ini  dan  saya  belum  pernah  mendengar  tentang  ilmu  hakikat  seperti ucapan laki-laki itu (Al Harits) dan meskipun saya terangkan keadaan mereka ini, saya tetap  tidak  memandang perlunya kamu bergaul dengan mereka.”  Lalu ia berdiri dan keluar. (Tarikh Baghdad 8/214-215)

Ikhwani fillah, silahkan mengutip tulisan ini dengan tetap mencantumkan sumber pengambilannya (http://smd.antibidah.net)

 

__._,_.___

Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.





SPONSORED LINKS
Single family home Family home finance Family home
Family home mortgage Family home business

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke