Assalamualaikum wr wb,

Semoga bermanfaat (afwan kalo udah baca yaa..)

icut


AKU HANYA COMBLANG


Adalah hal yang jamak jika seseorang membutuhkan perantara untuk memenuhi 
keinginannya. Dalam pernikahan pun seseorang tidak jarang membutuhkannya. 
Dikenallah istilah comblang untuk menyebut orang yang membantu menyambungkan 
tali pernikahan. 
Sejak generasi pertama umat Islam sudah dikenal “profesi� comblang 
pernikahan. Motivasi mereka, generasi yang disebut sebagai assalafus shalih 
tersebut, tentunya tak lebih dari sebagai ungkapan ukhuwah islamiyyah, untuk 
memberi kemudahan pada jalan kebaikan. Benefit yang diharapkan adalah keindahan 
ukhuwah dan pahala, bukan aliran uang keuntungan atau sekadar dikenal sebagai 
orang yang baik hati. 
Seiring dengan semakin kompleknya lalu-lintas pernikahan, semakin kompetitif 
pula –diluar masalah takdir— proses sebuah pernikahan. Kondisi demikian 
bisa dipandang oleh sebagian pihak sebagai alasan untuk merasa semakin 
dibutuhkannya mak comblang. 

Hati-hati Memilih 
Tentu tidak ada salahnya “profesi� comblang, bukankah sifat manusia adalah 
saling membutuhkan pertolongan dan bantuan? Yang perlu dicermati adalah saat 
ada kecenderungan comblang dijadikan sebagai sebuah profesi. Lebih-lebih kini 
muncul berbagai lembaga yang berperan sebagai comblang dengan bermacam nama 
yang menawarkan jasa biro jodoh. 
Lembaga ini tentunya diilhami oleh “profesi� comblang yang sudah secara 
turun-temurun dilakukan oleh perorangan. Di tambah dengan gejala yang 
menunjukkan semakin kompetitifnya sebuah pernikahan, sementara pernikahan 
adalah kebutuhan primer dianggap sebuah peluang bisnis yang akhirnya ditangkap 
oleh sebagian pihak. Jangankan lembaga, secara perorangan pun ada yang 
menjadikannya sebagai ladang bisnis. Apakah semua biro jodoh selalu bermotif 
bisnis? Tentu tidak, sebab di Saudi Arabia ada lembaga semacam itu yang untuk 
menjadi pesertanya tidak dipungut biaya. Tidak sampai disitu, justru lembaga 
tersebut ikut menyediakan dana untuk proses pernikahan. Bagaimana di Indonesia? 
Wallahu a’lam. 
Sekali lagi sah-sah saja memanfaatkan jasa mak comblang demi mengejar 
pendamping hidup yang sah. Yang penting adalah sifat kehati-hatian tidak boleh 
dilupakan. Bila tidak hati-hati memilih comblang alih-alih mendapat jodoh, uang 
akan terkeruk untuk keluar biaya ini itu. Belum lagi rahasia pun akan tersebar 
laiknya berita koran. Kalau comblangnya orang yang bisa menahan diri dari suka 
berkisah dan mengumbar data-data rahasia, masih lumayan aman, tapi kalau 
orangnya bocor? Data dari A sampai Z bisa terbang hingga pulau seberang. 

Siapkan Diri Sendiri 
Kalau harus menjadi seorang mak comblang? Kebanyakan orang mungkin tidak 
bersedia mengambil peran menjadi seorang mak comblang. Selain merasa tidak 
mampu, juga kadang tidak mau repot. Tapi bagaimana kalau ada yang meminta 
dengan sangat untuk dicarikan incaran calon pendamping hidupnya kepada Anda? 
Lebih-lebih yang meminta adalah orang yang sudah sangat Anda kenal. Ada baiknya 
juga mencoba untuk membantunya. Bukankah Allah telah mengingatkan kita agar 
berlaku saling menolong selama bukan dalam kejahatan? 
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan 
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.� (Al-Maidah: 2) 
Kesiapan untuk menolong orang dalam kebaikan ini mesti menjadi semangat atas 
apa yang kita lakukan pada orang lain. Untuk “profesi� ini seseorang mesti 
menyiapkan diri dengan baik. Persiapan ini bermanfaat bagi diri sendiri dalam 
mengemban amanah yang ada, pun untuk klien yang tengah ditangani. 

Luruskan niat 
Sebagaimana amal perbuatan pada umumnya, keikhlasan sangat dibutuhkan saat kita 
memutuskan untuk mengambil peran sebagai mak comblang. Tidak bisa tidak rasa 
ikhlas mesti selalu menyertai kita setiap saat setiap kondisi. Memang tidak 
gampang meretas rasa ikhlas, namun kalau berhasil akan sangat menentukan 
kualitas sebuah aktivitas. Perbuatan hati ini betul-betul mesti dijaga dengan 
menjaga hati. Sebuah pertolongan yang kita berikan, men-comblang-i orang lain 
untuk menemukan jodohnya, misalnya, akan terasa begitu bermakna bila dilandasi 
rasa ikhlas kepada Alah semata. Hati pun tidak akan terbebani dan tertekan 
dengan berbagai halangan. Langkah terasa ringan, ridha Allah pun dijamin di 
tangan, insyaallah. 

Perluas informasi 
Comblang adalah menyambungkan dua pribadi yang berbeda. Bukan sekadar berbeda 
jenis kelamin, lebih dari itu ada perbedaan latar belakang, karakter, 
pendidikan, pola hidup, kebiasaan sosial, dan seabrek ketidaksamaan lainnya. 
Karena itulah seorang comblang mesti memahami kondisi kliennya. Comblang harus 
betul-betul buka mata buka telinga, mesti pinter dan jeli mengorek informasi 
yang sahih dari kedua belah pihak. Dengan begitu informasi yang bisa diberikan 
kepada kedua belah pihak akan akurat. Bukan mustahil permasalahan yang muncul 
dalam rumah tangga kliennya akan ditimpakan kepada comblang. 

Adil dan proporsional 
Comblang laksana seorang hakim, mesti bisa berlaku adil dan proporsional. Adil 
dalam memberi informasi, adil dalam memberikan penilaian, juga adil dalam 
memberi saran. Tidak boleh keluar dari keadilan hanya karena salah satu 
kliennya adalah teman dekat atau orang yang sering membantunya dalam maslaah 
finansial. Sehingga memberikan informasi yang berlebihan demi menyenangkan 
temannya, sementara pihak lain mungkin dirugikan dengan adanya informasi yang 
dibuat-buat tersebut. 
Proporsional pun mesti selalu dikedepankan oleh seorang mak comblang. Artinya 
setiap orang tentu punya kelemahan. Seorang comblang mesti bisa memilahkan mana 
informasi negatif yang diperlukan oleh pencari pendamping hidup dan mana yang 
tidak terlalu penting atau bahkan tidak perlu sama sekali. Sebagaimana 
Rasulullah n yang dimintai pertimbangan oleh Fatimah binti Qais yang bingung 
dengan lamaran dua sahabat. Beliau cukup memberi informasi sesuai kebutuhan 
Fatimah, satu sahabat digambarkan tidak pernah meletakkan tongkatnya, artinya 
suka memukul atau terlalu sibuk, sementara yang lainnya terlalu miskin harta 
sehingga tak punya apa-apa. Beliau tidak mengorek-orek aib hingga hal-hal yang 
tiak dibutuhkan kliennya. 

Menjaga rahasia 
Sedikit banyak seorang comblang akan mengetahui aib dan rahasia kliennya. 
Bahkan tidak jarang seorang klien yang tengah berburu pendamping hidup terlalu 
jujur menceritakan segala aibnya yang telah lalu. Ada seorang akhwat yang terus 
terang dalam sela-sela isak tangisnya mengaku sudah tidak perawan lagi, alias 
pernah berzina. 
Bagaimanapun seorang comblang akan menanggung beban amanah menjaga rahasia 
kliennya. Di sinilah ujian yang kadang terasa begitu sulit dilewati oleh 
seorang comblang. Seorang comblang yang punya sifat bocor akan cenderung 
menyanyi kemana-mana. Kepada setiap orang yang dijumpainya, orang yang baru 
dikenalnya hingga dalam majelis ilmu pun tidak jarang menjadi tempat bercerita. 
Akhirnya aib dan rahasia klien tersebar kemana-mana. Sebagai comblang mesti 
berusaha keras untuk mengerem penyakit mulut ini. Jangan sampai ada yang 
dirugikan oleh gerakan lembut bibir tipis dan lidah tak bertulang. Bukankah 
banyak orang yang terjerumus kedalam neraka gara-gara tidak bisa menjaga 
lisannya? 

Sabar 
Sebagaimana ikhlas, sabar pun senantiasa diperlukan setiap saat setiap kondisi. 
Sikap klien memang kadang membosankan atau bahkan menjengkelkan, tidak jarang 
malah menyakitkan. Menghadapi orang-orang semacam ini tentu sabar harus selalu 
dikedepankan, sehingga tidak merusak niat baik kita untuk menolong. Syukur 
kalau bisa dinasihat, kalau tidak yang ditinggal juga bukan hal yang salah. Ada 
lagi tipe klien yang suka bingungan karena terlalu selektif. Tipe klien “Abu 
Nazhar� ini, karena suka nazhar sana nazhar sini. Setelah nazhar (melihat) 
satu gadis yang ingin dipinangnya, masih ingin melihat yang lain hingga 
berkali-kali. Sikap sabar dan pengertian juga diperlukan untuk menghadapi tipe 
klien demikian. Pendek kata seorang comblang mesti melekat padanya sifat sabar. 

Berani Mengambil Resiko 
Menjadi seorang comblang memang besar pahalanya, namun bukan berarti tanpa 
resiko. Resikonya cukup banyak, dari sekadar dikomplain klien, dimaki-maki, 
hingga harus menggantikan klien yang melarikan diri. Lho kok? Seperti 
pengalaman RX (33th), sebut saja begitu, yang sempat men-comblang-i dua insan 
berbeda jenis. Sebenarnya juga bukan kebiasaannya jadi comblang, hanya karena 
waktu itu aktif memberi kajian mahasiswi jadilah comblang “karbitan�. 
Singkat cerita dua pihak dari kliennya sepakat untuk menikah walau masih 
menyisakan sedikit permasalahan keluarga. Hingga tiba hari H jam J pernikahan 
kliennya, calon pengantin lelaki yang ditunggu-tunggu tidak hanya oleh calon 
pengantin wanita, tapi juga seluruh tamu undangan tidak muncul-muncul. Hingga 
tiba-tiba datang berita keluarga pengantin lelaki membatalkan rencana 
pernikahan. Duh, saya kan hanya comblang, hatinya sempat sedikit protes, 
tapi..! Dengan berbagai pertimbangan, comblang yang waktu itu masih berumur 24 
tahun
 harus merelakan diri menggantikan pengantin lelaki yang melarikan diri, 
mendampingi pengantin wanita yang berusia 28 tahun. Bukan masalah umur, kalau 
memang Anda siap menanggung berbagai resiko tidak ada salahnya berharap 
mendulang pahala dengan menjadi comblang. Anda yang merasa berat jodoh pun ada 
baiknya meminta bantuan mak comblang. Siap...? 
(abu judzamah) 

sumber : http://www.majalah-nikah.com


                
________________________________________________________ 
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. 
http://id.mail.yahoo.com/

Kirim email ke