Assalamualaikum..

Pada saat dzikir Rasulullah SAW menghitung dengan menggunakan ruas2 jari tangan 
kanan beliau.. bukan dengan batu2an (tasbih).. kenapa tidak mencontoh 
Rasulullah saja? bukankan mengikuti Rasulullah lebih baik daripada meniru 
kebiasaan biksu? 

Salam
icut

----- Pesan Asli ----
Dari: kang nceps <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Selasa, 28 Agustus, 2007 2:35:40
Topik: [keluarga-islam] BAGAIMANA MEMAHAMI BID`AH

BAGAIMANA MEMAHAMI BID`AH

Selepas sholat maghrib, seperti biasanya Haji Yunus melakukan dialog
dengan para jama'ah. Malam itu kebetulan terang bulan, dan udara pun
tidak terlalu dingin. Suasana nyaman itu mendadak menjadi panas akibat
pertanyaan seorang jama'ah.

"Pak Haji, ijinkan saya bertanya soal bid'ah." demikian pertanyaan
Ace, nama anak muda itu. Jama'ah tersentak kaget. Sudah beberapa tahun
ini masalah sensitif tersebut tidak disinggung dalam Masjid Jami' di
desa tersebut. Haji Yunus memang ingin menjaga keutuhan dan kekompakan
ummat Islam di desa itu.

"Silahkan," jawab Haji Yunus dengan senyum khasnya. "Ada baiknya
setelah sekian lama kita menahan diri dan bersikap toleran terhadap
sesama, ada baiknya kalau sekarang kita dialogkan dengan toleran dan
terbuka pula masalah ini. Biar kita terus dapat memelihara suasana
persaudaraan di kampung ini."

Ace kemudian mulai bertanya, "saya sering membaca buku agama yang
mewanti-wanti soal bid'ah. Baca Qunut bid'ah, Mauludan itu bid'ah,
tahlilan itu bid'ah bahkan berzikir dg tasbih juga bid'ah. Padahal
konon setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di
neraka! Mohon pencerahan pak Haji!"
"Anakku," sapa pak Haji dengan penuh kasih sayang. "Sekitar lima belas
abad yang lampau, Rasulullah saw bersabda, 'Sebaik-baiknya
perkataan/berita adalah Kitabullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah
petunjuk dari Muhammad. Sementara itu, sejelek-jelek urusan adalah
membuat-buat hal yang baru (muhdastatuha) dan setiap bid'ah adalah
sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka." [Lihat misalnya
Shahih Muslim, Hadis Nomor [HN] 1.435; Sunan al-Nasa'i, HN 1560; Sunan
Ibn Majah, HN 44 dengan sedikit perbedaan redaksi]

"Berarti benar dong...bid'ah itu sesat!" cetus Mursalin, jama'ah yang
semula hanya duduk di pojokan Masjid, kini mulai maju ke depan
mendekati sang Ustadz.

"Benar! Namun masalahnya apakah yang disebut bid'ah itu? apakah semua
urusan yang belum ada pada jaman Nabi disebut bid'ah? Saya ke kantor
pakai Honda, tetangga saya pakai Toyota, lalu Nabi pakai Onta. Apa ini
juga bid'ah?" balas Burhanuddin, pegawai jawatan kereta api. Ada nada
emosi di suaranya.

"Sabar...sabar. .."Haji Yunus berusaha menenangkan jama'ah yang mulai
merasakan 'hot'nya suasana. "Kita harus lihat dulu konteks hadis
tersebut. Nabi sebenarnya saat itu sedang membuat perbandingan antara
hal yang baik dengan hal yang buruk. Hal yang baik adalah berpegang
kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi. Sedangkan hal yang buruk adalah
melakukan sebuah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam kedua sumber
itu."

"Tetapi...pak Ustadz..." Burhanuddin mencoba memotong keterangan ustadz.

"Nah, anda sudah berbuat bid'ah saat ini. Tidak sekalipun Nabi
memotong perbincangan sahabatnya atau perkataan orang kafir. Ini
adalah contoh paling jelas dan nyata dari perbuatan bid'ah.
Dengarkanlah dulu penjelasan saya sampai selesai. Setelah tiba giliran
anda silahkan berkomentar. " tegur sang ustadz dengan lembut.

"Maaf..ustadz. ...silahkan diteruskan.. ." Burhanuddin menyadari
kekhilafannya. Kadangkala merasa diri benar telah menimbulkan hawa
nafsu dan setan berhasil membangkitkan nafsu tersebut.

"Saya ulangi, perbuatan bid'ah adalah perbuatan yang tidak ada
dasarnya dalam kedua sumber utama kita tersebut. Namun ini baru
setengah cerita. Bukankah seperti disebut ananda Burhanuddin tadi
terdapat banyak urusan kita sehari-hari yang berbeda dengan yang
dialami Nabi akibat perbedaan ruang dan waktu serta berkembangnya
tekhnologi. Apakah ini juga tergolong bid'ah? Tidakkah menjadi mundur
rasanya kalau kita harus memutar jarum sejarah lima belas abad ke
belakang untuk mengikuti semua hal yang ada di jaman Nabi termasuk
soal keduniawian? Tidak realistis rasanya kalau kita harus naik onta
di desa ini hanya karena tidak ingin jatuh pada perbuatan bid'ah.
Untuk itu perlu dipahami konteks bid'ah tersebut."

Jama'ah makin mendekat berdesak-desakan menunggu keterangan Haji Yunus
selanjutnya.

"Jama'ah sekalian.... Syarh Sunan al-Nasa'i li al-Suyuti memberikan
keterangan apa yang dimakud dengan "muhdastatuha" dalam hadis yang
saya bacakan di atas. Disebut muhdastatuha kalau kita membuat-buat
urusan dalam masalah Syari'at atau dasar-dasar agama (ushul). Dalam
Syarh Shaih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan lebih lanjut bahwa para
ulama mengatakan bid'ah itu ada lima macam: wajib, sunnah, haram,
makruh dan mubah."

"Yang wajib adalah mengatur argumentasi berhadapan dengan para pelaku
bid'ah. Yang mandub (sunnah) adalah menulis buku-buku agama mengenai
hal ini dan membangun sekolah-sekolah. Ini tidak ada dasarnya dalam
agama namun diwajibkan atau disunnahkan melakukannya. Yang dianggap
mubah adalah beraneka ragam makanan sedangkan makruh dan haram sudah
nyata dan jelas contohnya. Jadi kata bid'ah dalam hadis di atas
dipahami oleh Suyuti dan Nawawi sebagai kata umum yang maksudnya
khusus. Kekhususannya terletak pada persoalan pokok-pokok syari'at
(ushul) bukan masalah cabang (furu').

"Jika kita menganggap hadis itu tidak berlaku khusus maka semua yang
baru (termasuk tekhnis pelaksanaan ibadah) juga akan jatuh pada
bid'ah. Kedua kitab Syarh tersebut juga mengutip ucapan Umar bin
Khattab soal sholat tarawih di masanya sebagai 'bid'ah yang baik' (ttg
ucapan Umar ini lihat Shahih Bukhari, HN 1871). Dengan demikian Umar
tidak menganggap perbuatan dia melanggar hadis tersebut, karena
sesungguhnya yang di-"modifikasi" oleh Umar bukan ketentuan atau pokok
utama sholatnya, melainkan tekhnisnya. Mohon dicatat, penjelasan
mengenai hadis ini bukan dari saya tetapi dari dua kitab syarh hadis
dan keduanya saling menguatkan satu sama lain"

"Kita juga harus berhati-hati dalam menerima sejumlah hadis masalah
bid'ah ini. Sebagai contoh, hadis mengenai bid'ah yang tercantum dalam
Sunan al-Tirmizi, HN 2701 salah satu rawinya bernama Kasirin bin
Abdullah. Imam Syafi'i menganggap dia sebagai pendusta, Imam Ahmad
menganggap ia munkar, dan Yahya menganggapnya lemah. Hadis masalah
bid'ah dalam Sunan Ibn Majah, HN 48 diriwayatkan oleh Muhammad bin
Mihshanin. Tentang dia, Yahya bin Ma'yan mengatakan dia pendusta,
Bukhari mengatakan dia munkar, dan Abu Hatim al-Razi mengatakan dia
majhul. Ibn Majah meriwayatkan hadis dalam masalah ini [HN 49],
diriwayatkan oleh dua perawi bermasalah. Abu Zar'ah al-Razi mengatakan
bahwa Bisyru bin Mansur tidak dikenal, Zahabi mengatakan Abi Zaid itu
majhul. Kedua hadis Ibn Majah ini tidak dapat tertolong karena hanya
diriwayatkan oleh Ibn Majah sendiri, yaitu "Allah menolak amalan
pelaku bid'ah, baik sholatnya, puasanya...dst. Namun Saya tidak bilang
semua hadis ttg bid'ah itu lemah lho...."

"Pak Haji, bisa tolong membuat batasan masalah pokok agama itu apa
saja dan masalah cabang atau furu' itu yang bagaimana" tanya Ace yang
sebelumnya sibuk mencatat nomor hadis dan kitab hadis yg disebutkan
Haji Yunus.

"Yang disebut asal/pokok/dasar Agama adalah ibadah mahdhah yang
didasarkan oleh nash al-Qur'an dan Hadis yang qat'i. Dia berkategori
Syari'ah, bukan fiqh. Kalau sebuah amalan didasarkan pada dalil yang
ternyata dilalahnya (petunjuknya) bersifat zanni maka boleh jadi
amalan tersebut akan berbeda satu dengan lainnya. Ini disebabkan zanni
al-dalalah memang membuka peluang terjadinya perbedaan pendapat.
Sementara kalau dilalah atau dalalahnya bersifat qat'i maka dia masuk
kategori Syari'ah dan setiap hal yang menyimpang dari ketentuan ini
dianggap bid'ah. Jadi, sebelum menuduh bid'ah terhadap amalan saudara
kita, mari kita periksa dulu apakah ada larangan dari Nabi yang
bersifat qat'i (tidak mengandung penafsiran atau takwil lain) terhadap
amalan tersebut?"

"Jikalau tidak ada larangan, namun dia melanggar ma'lum minad din bid
dharurah (ketentuan agama yang telah menjadi aksioma), maka dia jatuh
pada bid'ah. Kalau tidak ada larangan, dan tidak ada ketentuan
syari'at yang dilanggar, amalan tersebut statusnya mubah, bukannya
bid'ah!"

"Contohnya pak Kiyai...."

"Baik, ini adalah contoh praktisnya:

Apakah ada larangan memakai alat untuk berzikir (kita kenal dg tasbih
atau rosario utk agama lain) ? Meskipun Nabi tidak pernah
mencontohkannya, bukan berarti tidak boleh! Adalah benar dalam masalah
ibadah berlaku kaidah, 'asal sesuatu dalam ibadah itu haram kecuali
ada dalil yg membolehkan atau mewajibkan'. Nah, apakah memakai tasbih
itu termasuk ibadah mahdhah atau tidak? Indikasinya adalah apakah
zikir kita tetap sah kalau tidak pakai tasbih? tentu saja tetap sah,
karena yang disebut ibadah adalah zikirnya, bukan cara menghitung 33
atau 99nya. Tasbih memang dipakai dalam zikir tetapi dia hanya masalah
tekhnis. Seseorang bisa jatuh pada bid'ah kalau menganggap wajib
hukumnya memakai tasbih untuk berzikir. Tetapi kalau memandang tasbih
hanya sebagai alat tekhnis saja, tentu tidakmasalah.

"Ini yang saya maksud dengan membedakan mana ibadah inti dan mana
tekhnis ibadah; mana ibadah mahdah dan mana ibadah ghaira mahdhah."
Contoh lain, haji itu wukuf di padang Arafah. Ini ketentuan Syari'ah;
bukan fiqh. Kalau anda wukufnya di Mina, maka anda berbuat bid'ah."

"Contoh lain....Nabi menyuruh kita melihat bulan untuk berpuasa.
Sekarang kita lihatnya pakai teropong? Apakah ini bid'ah? Fungsi
teropong kan hanya membantu saja (tekhnis/alat bantu). Jadi, sama dg
tasbih."

"Soal merayakan Maulid bagaimana?" tanya Mursalin.

"Sama saja...gunakan kriteria atau batasan yang saya jelaskan di
atas.Anda bisa menilai sendiri. Pertama, adakah nash yang melarang
atau menyuruh kita merayakan maulid Nabi?"

"Tidak ada" jawab jama'ah serempak.

"Apakah maulid nabi bagian dari ibadah inti atau ibadah mahdhah?

Apakah kita berdosa kalau meninggalkannya? "

"Tidak...." jama'ah menjawab lagi.

"Apakah hukumnya wajib menyelenggarakan maulid Nabi?"

"Tidak!!!"

"Bagus...anda sudah bisa menyimpulkan sendiri kan....Nah, contoh
bid'ah yg nyata adalah menambah atau mengurangi jumlah rakaat dalam
sholat. Karena ada perintah Nabi, "Shollu kama raytumuni ushalli"

"Bagaimana dengan masalah melafazkan niat atau ushalli dalam
sholatustadz? " tanya pak Haji Ya'qub, seorang juragan ayam di desa itu.

"Yang diperintah itu adalah berniat. Di sini tidak ada perbedaan
pendapat. Perbedaan mulai timbul: apakah niatnya itu kita lafazkan
atau cukup dalam hati. Sama-sama tidak ada nash qat'i dalam hal ini,
sehingga dia bukan masalah dasar atau pokok agama. Apalagi lafaz
niatnya itu dibacanya sebelum takbiratul ihram. Sholat itu dimulai
dari takbiratul ihram; apapun tindakan, ucapan atau pikiran anda
sebelum anda takbiratul ihram sholat anda tetap sah. karena sholat
dihitung dari saat anda mengucapkan takbiratul ihram."

"Bukankah ada hadis yg menyebutkan bahwa ketika sholat nabi
langsungmengucap Allahu Akbar, tanpa membaca ushalli." tanya pak Haji
Ya'qubpenasaran.

"Benar...selama kita tidak menganggap bacaan ushalli itu wajib dibaca
dan bagian dari sholat maka itu masuk kategori tekhnis ibadah. Lebih
tepat lagi tekhnis berniat dalam sholat. Dalam hal Nabi langsung
membaca takbir, berarti Nabi saat berniat sholat sudah mantap
menyatukan antara ucapan, perbuatan, pikiran, motivasi dan kepasrahan.
Lalu bagaimana dengan mereka yang perlu berkonsenstrasi memusatkan
perhatiannya dg melafazkan niat? Saya memandang ini bukan bid'ah, Wa
Allahu A'lam. Yang jelas melafazkan niat bukan bagian dari ibadah
sholat; itu dilakukan SEBELUM takbir. Lha wong anda sebelum takbir aja
gossip boleh kok...."

"Masak mau sholat nge-gossip dulu ustadz?" tanya Burhanuddin

"Maksud saya, contoh ekstremnya demikian. Nge-gossip sebelum takbir
tidak akan membatalkan sholat anda. Lha wong sholatnya belum dimulai,
kok sudah batal. Nah daripada antum pada nge-gossip kan lebih baik
berkonsentrasi dg segala cara agar sholatnya khusyu'."

Tanpa terasa...waktu isya' telah tiba. Haji Yunus menutup dialog kali
ini dengan menyatakan: "Apa yang saya sampaikan ini tentu belum
sempurna dan belum memuaskanantum semua. Saya mohon ampun kepada Allah
atas kekhilafan dan kekurangan saya. Semoga Allah senantiasa menunjuki
kita ke jalan yang lurus."

salam hangat,





      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke