Dzikir Keseharian

" Alladzinaamanu wa tatmaninnu qulubuhum bidzikrillah 'ala bi dzikrillahi 
tatmainnul qulub" surat Ar Ra'd  ayat dua puluh delapan ini sudah dikenal baik 
oleh para ahli dzikir, tetapi mungkin tidak banyak yang bisa menghayatinya 
dalam tataran realistis. Ketika masih sekolah dulu sering diadakan outbond atau 
outing program keluar kota setelah ujian akhir dan selalu ada tim survey 
lapangan sebelum acara diadakan dan saya termasuk diantaranya. Setelah 
melakukan musywarah dan mufakat di tetapkan lah Cibatok bogor sebagai tempat 
outbond berikutnya.

Tim survey sebenarnya ada tiga orang tapi ada dua orang lagi yang bersedia 
menjadi penggembira dan dengan dana sendiri tentunya karena pada dasarnya 
mereka memang senang jalan-jalan. Salah satu diantara tim survey mempunyai uwak 
yang ada di salah satu desa dekat Jasinga Bogor, dan kami merencanakan mampir 
kesana setelah survey, sebenarnya jarak antara Cibatok dan Jasinga cukup jauh 
tapi bukan tim survey namanya jika mudah menyerah pada jarak. 

Setelah melakukan survey, kami tiba di  desa tujuan pukul setengah enam sore 
tapi kondisi sudah gelap karena hujan turun cukup deras. Biasanya pada jam 
segitu masih ada tukang ojek yang mangkal di prapatan untuk mengangkut 
penumpang kekampung dalam yang berjarak sekitar dua kilometer tetapi waktu itu 
tidak satupun yang terlihat sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki. 
Mungkin bagi orang setempat petir yang memekakkan telinga saling sahut menyahut 
merupakan hal biasa tapi tidak bagi kami. Ricky salah satu diantanya yang 
sering mengucapakan " Astagfirullah" sewaktu petir menyambar, semakin keras 
suara petir semakin tinggi pula suara Ricky menunjukan ketakutan dan ternyata 
lafaz agung tersebut tidak lebih dari sekedar tameng kelatahan.

Hujan mulai berhenti, perjalanan masih sekitar satu kilometer dan angin bertiup 
sangat kencang mengguncang tubuh kami yang menggigil karena basah kehujanan. 
Setelah melangkah beberapa lama tampak tumpukan batu nisan di pinggir jalan. 
Ternyata kami harus melewati area pekuburan, suasana tampak mencekam dan satu 
persatu diantara kami melafazkan ayat kursi , ayat favorite untuk hal-hal 
menakutkan bahkan saking seringnya dipergunakan untuk hal-hal ini maka sering 
diplesetkan jadi ayat horor, padahal otak yang membacanyalah yang penuh horor 
yang " horrible". Dan hal ini terbukti, sewaktu kami berjalan sambil melafazkan 
ayat kursyi , tiba-tiba ada pohon tumbang di belakang kami akibat terpaan angin 
yang kurang bersahabat dan seketika itupula kami lari pontang-panting gak 
karuan. Ayat suci itupun menguap seketika tidak berbekas dihati pembacanya 
selain rona ketakutan yang tampak di pias muka.

Sering kita terjebak dalam kausalitas parsial, dimana pemahaman kita terhadap 
ayat-ayat Allah adalah tekstual bukan kontekstual , kita melepaskan ayat dari 
yang mempunyai ayat tersebut yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga kepala 
dan hati kita penuh dengan lafaz dan bacaan ayat-yat suci tapi jauh dari 
keyakinan kita terhadap zat Allah sendiri sehingga tujuan seperti yang 
diterangkan Al Quran " 'ala bi dzikrillahi tatmainnul qulub"  jarang kita 
resapi pada keseharian yang kita jalani.


Salam


David

Kirim email ke