Perubahan yang Kita Butuhkan
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani qs
Kamis, 6 November 2008
Chicago, Illinois - Amerika Serikat
www.sufilive.com
Bosnian Mosque, Northbrook
Semoga Allah merahmati Imam Senad dan komunitasnya. Merupakan kehormatan bagi
kami berada disini dan Imam Senad dengan tangan terbuka menerima kami di masjid
ini. Pertama, kita akan melaksanakan zikir, kemudian ada sohbet pendek, lalu
kita akan saksikan akad nikah
A'udzu billah min asy-syaitan ir-rajim Bismillahir- Rahmanir-Rahim
Kalimatan khafiifataan 'ala al-lisan thaqiilataan fil-miizaan. Dua kalimat yang
ringan diucapkan namun berat timbangannya di Hari Kiamat. Kalimat ini akan
menghapus dosa-dosa, bahkan jika dosa tersebut
sangat berat, dua kalimat ini akan menghapusnya. Rasulullah SAW menganjurkan
dua kalimat ini kepada para Sahabat agar diamalkan, yaitu Subhaanallaahi wa
bihamdihi Subhaanallaahil 'Azhim Astaghfirullah. Kalimat ini cukup kuat untuk
menghapus dosa apapun.
Kita hidup di dunia ini yang berlari sangat cepat menuju tujuan akhirnya.
Manusia mengira mereka akan hidup selamanya. Namun, sebagaimana yang Allah SWT
jabarkan kepada kita dalam Kitab Suci al-Qur'an:
Innaa 'aradhnaa amaanata 'alas samaawaati wal ardhi wal jibaali fa abaina ay
yahmilnahaa wa asyfaqna minha wa hamalahal insaanu innahuu kaana zhaluuman
jahuulaa
Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan
gunung-gunung, namun semuanya enggan untuk memikul amanat itu karena mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh
manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh, (QS Al-Ahzab
[33]:72)
Kita telah diberikan harta ini, Allah SWT berfirman, "Kami telah menawarkan
amanat kepada langit, bumi," dan mereka menolak, "Tidak, Ya Rabbi! Kami tidak
sanggup mengembannya. Ini sulit." Manusia menjawab,
"Kami bisa mengemban amanat itu," dan Allah SWT menyebut manusia sebagai
zhaluuman jahuulaa. Mengapa manusia mau memikulnya? Langit dan bumi menolak,
"Tidak, kami tidak bisa mengembannya. Jangan
pikulkan amanat tersebut kepada kami." Karena jika langit dan bumi mengembannya
dan gagal, maka Allah SWT akan menghancurkan jagad raya ini. Itulah mengapa
kalian melihat jagad raya disini.
Itulah amanat yang manusia emban. Itulah mengapa Allah SWT menimpakan bencana
atas manusia, tapi berpengaruh terhadap planet bumi. Siapakah yang terkena
dampak jika ada banjir? Kita, manusia. Karena kita berani memikul amanat tadi.
Jika kalian ingin harta itu, maka jagalah agar harta itu tetap bersih
sebagaimana Aku memberikannya kepada kalian. Jika tidak, Aku harus membersihkan
kalian. Apakah kalian membiarkan anak laki-laki atau perempuan kalian kotor?
Apakah kalian membiarkan diri kalian juga kotor? Tentu tidak, kita bergegas
mandi.
Jadi, mengapa kita membiarkan harta kita kotor? Kita membaca Kitab Suci al
Qur'an, membaca hadis-hadis suci dan meletakkan ayat-ayat dari Kitab Suci al
Qur'an di rumah dan sekolah. Namun, apakah kita mengambil hikmah dari ayat-ayat
tersebut?
Melihat – semua orang melihat bayinya Masud dan mereka senang. Mengapa kita
tidak tersenyum untuk menjaga harta kita tetap bersih? Mata semua orang selalu
menengok ke orang yang tidak berdosa (seperti bayi)
Namun mata kita tidak menengok ke orang dewasa, karena kita penuh dosa. Itulah
perbedaan utamanya.
Awliyaullah mampu menyeimbangkannya. Mereka punya penglihatan itu. Mereka tidak
menyukai apapun dalam jagad raya ini. Satu-satunya yang mereka inginkan adalah
bagaimana agar mereka dari hari ke hari semakin
dekat ke Hadirat Ilahi agar sampai ke tujuan mereka. Hari ini kita menyetir
untuk sampai ke sini dan kami menghitung menit demi menitnya, berapa menit lagi
kami sampai. Kami ingin sampai di tempat tujuan.
Semua orang ingin sampai ditempat tujuannya. Kita mengebut untuk sampai disini
jam 8, agar sampai di tujuan tepat waktu. Jiwa kita juga mengebut untuk sampai
tujuannya. Tubuh kita tidak menginginkan itu.
Karena tubuh mengemban amanat tersebut. Jiwa kita bersih karena tidak
menginginkan amanat itu. Sedangkan tubuh bodoh dan zalim.
Dunya pun mengejar tujuannya. Tidak seorangpun dapat menghentikannya. Para
Imam, presiden, raja pun tidak bisa menghentikan tujuan Dunya yang sedang
mencapai tujuan akhirnya agar mencapai tujuan-tujuan kita.
Akhir itu semakin mendekat. Awliyaullah punya sebuah komputer -kalian
perhatikan kini komputer sudah sangat sangat canggih- komputer sangat kecil dan
punya semuanya. Ketika waktu sholat datang, komputer
menyerukan azan. Waktu Zuhur datang, komputer menyerukan azan.
Bagaimana komputer bisa tahu? Dengan mengkalkulasikan detik. Kalian tidak punya
aplikasi seperti ini. Apakah Anda punya, Imam? Saya punya 1 buah disaku.
Selesainya di waktu sholat 'Isya. Benda itu menyerukan azan.
Planet bumi ini bergerak menuju tujuannya untuk melakukan sajdah. Ya Rabbi,
saya mendekati tujuan, saya melakukan perjalanan dengan cepat untuk
mencapai-Mu. Tidak satupun bisa menghentikannya. Awliyaullah tahu
tanda-tandanya. Awliyaullah hidup dengan tanda-tanda tersebut. Tanpa pertanda,
Rasulullah SAW memprediksikan tanda-tanda Hari Kiamat, berakhirnya jagad raya
ini.
Ketika Jibril menanyakan 3 buah pertanyaan kepada beliau tentang Islam, iman
dan ihsan. Kemudian Jibril bertanya lebih lanjut, "Beritahukanlah kepadaku
tentang hari kiamat?" dan Rasulullah SAW menjawab, "Orang yang ditanya tidak
lebih tahu daripada yang
bertanya." Kemudian Jibril bertanya, "Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya? "
dan Rasulullah SAW menyebutkan tanda-tanda Hari Kiamat. Salah satunya:
orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba
berlomba-lomba dalam mendirikan
gedung-gedung tinggi. Mengubah gurun pasir menjadi surga, surga dunia.
Awliyaullah menghitung Hari Kiamat dari waktu ke waktu. Nah, apakah yang
Awliyaullah lakukan? Mereka berada di hadirat Tuhan mereka. Rasulullah SAW
bersabda, "Waktu terbaik bagiku adalah ketika sedang
sholat." Mengapa Syaikh? Bagi Rasulullah SAW waktu terbaiknya adalah saat
sedang sholat. Bagi Awliyaullah, kapankah waktu terbaik bagi
mereka? Dalam sholat mereka. Ketika kalian membaca al-Fatihah, kepada siapa
surat itu kalian tujukan? Alhamdulillah. Ya Rabbi, segala puji bagiMu.
Ar-Rahman ar-Rahim, kalian sedang berbincang langsung kepada
Allah SWT dan salam, rasa hormat serta menerima bahwa Engkau-lah Tuhan kami.
Jadi, mengapa kita berdo'a dengan tergesa-gesa?
Jika kalian bersama seorang gadis, (dia tersenyum). Anda mengundang gadis itu
hari ini untuk sekedar minum kopi atau teh, mengapa? Saya tidak memberikan
contoh ini, karena memang itulah yang terjadi. Dan anda ingin bicara dengannya,
kan? Anda berusaha memperpanjang atau menyingkat waktu? Anda berusaha
memperpanjang waktu bersama gadis itu, mengapa? Karena hasrat anda mendesak
anda melakukan itu.
Lalu bagaimana dengan hasrat kita untuk memperpanjang waktu saat kalian sedang
sholat? Malah sebaliknya, kita mempersingkatnya, ya Imam? Kita selalu
tergesa-gesa. Itu sebuah contoh kecil. Itu terjadi
pada kita semua. Saya tidak membuat pengecualian pada kita. Kita semua seperti
itu.
Kaum ulama memberikan ceramah hari ini di mimbar atau memberikan presentasi di
sekolah-sekolah atau universitas berusaha membahas persoalan sangat penting
yang sedang muncul. Mengapa para ulama berbicara terlalu tinggi. Perhatikanlah
yang dibawah kalian. Kalian memperpanjang atau menghabiskan waktu kalian dengan
seorang wanita atau teman-teman, namun kalian memperpendek waktu kalian bersama
Allah SWT ketika sedang melakukan sholat.
Kullu hizbin bima ladayhim farihoon - Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan
apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)." (QS. Al-Mu'minuun [23]:53)
Kami membuat tafsir dari ayat ini. Mereka menerjemahkan menjadi 100 makna
berbeda. Namun salah satu maknanya adalah bahwa anda selalu bersama pengikut
setan, karena anda selalu berupaya menghabiskan waktu anda untuk selain Allah,
sedangkan pada saat sholat menghadap Allah, anda mempersingkat waktunya.
Apa yang Awliyaullah lakukan? Mereka memperpanjang sholat mereka, mereka
memperpanjang sholat hingga sempurna. Itulah mengapa dalam sholat tarawih,
Awliyaullah memanjangkan sholat agar bisa membaca
Kitab Suci al Qur'an dalam sholatnya. Bukan pada masa Rasulullah SAW melafalkan
Kitab Suci al Qur'an hingga khatam dan bukan pada masa Rasulullah SAW membaca
Kitab Suci al Qur'an hingga khatam. Namun dimulai pada masa ke-Khalifah- an
Sayyidina 'Umar (r.a), mereka
menjadikannya 20 raka'at dan kini mereka memutuskan untuk melafalkan seluruh
juz dalam Kitab Suci al Qur'an.
Mengapa? Supaya mereka dapat berlama-lama di Hadirat Allah SWT. Jadi, kita
harus memperpanjang sholat tidak tergesa-gesa agar kita bisa lebih lama di
Hadirat Allah SWT. Apa yang kalian punya dalam 5 Rukun Islam: syahadatu an la
ilaha illa-Allah wa anna Muhammadan 'abuduhu rasuluhu wa iqaamus shalaat, wa
ita-uz zakat, wa shawmu Ramadhaan wa hajjul bayti*. Perhatikan, *SubhanAllah*
dalam sholat ada 5 Rukun.
Awliyaullah tidak buta, mereka melihat. Saat kalian mengucap Allahu Akbar.
Iqaamus shalaat. Kalian ada didepan Ka'bah. Saat kalian duduk tahiyat: *asyhadu
an la ilaha illa-Allah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh.
Jadi, ada 2 buah Rukun disana. Saat mengucap "Allahu Akbar" kalian tidak dalam
kondisi makan dan minum. Jadi, kalian sedang puasa. Saat mengucap "Allahu
Akbar" kalian tidak sedang bekerja. Kalian
mengerjakan amal. Pada saat itu, kalian sanggup bekerja namun kalian meluangkan
waktu, kalian mengisi waktu itu dengan ibadah sholat.
Jadi, saat mengucap "Allahu Akbar" kalian ada dihadapan Ka'bah. Jangan pikir
kalian tidak ada disana. Bagi yang tidak bodoh dibawa Awliyaullah ke Ka'bah.
Namun kita tidak dapat melihatnya. Ada tabir
pada diri kita. Kalian saat sholat melihat tembok atau imam. Namun
sesungguhnya, kalian bukan sholat menghadap tembok, kalian sholat menghadap
Ka'bah.
Apakah Allah SWT tidak punya kekuatan untuk
menyingkirkan tabir untuk memperlihatkan kepada kalian bahwa ada di hadapan
Ka'bah? Kita berucap, "Allahu Akbar," bahwa "Allah Maha Besar!" Apakah Dia
tidak bisa menyingkirkan tabir dan memperlihatkan Ka'bah kepada kalian? Kini,
kalian menyalakan TV dan melihat Ka'bah.Tidak bisakah Allah SWT menyalakan TV
surgawi dan membawa kalian ke Ka'bah? Tentu bisa, namun ada tabir pada kita.
Bukan Allah yang membuat tabir itu, tapi kitalah yang memberi tabir pada diri
kita
sendiri.
Dunya ini bergerak menuju tujuannya. Tahun lalu di bulan Maret tepatnya pada
Maulid an-Nabi SAW pergerakan dunya dimulai. Mereka membukakannya. Mereka
membukakan kepada orang-orang untuk melihat; bagi orang-orang yang tahu bahwa
ada perubahan yang datang. Perubahan tersebut adalah sebuah pembukaan agar
sesuatu besar yang akan terjadi.
Awliyaullah menunggu, menunggu dan menunggu sesuatu yang akan terjadi itu. Dari
bulan Maret tahun lalu di California, banyak orang mendengar itu. Banyak pesan
datang bahwa sebuah perubahan akan terjadi. Perubahan itu terjadi. Jangan pikir
tidak ada Awliyaullah yang telah diberikan otoritas oleh Allah SWT atas dunia
ini. Mereka punya otoritas atas dunia ini. Allah
SWT memberikan kekuatan itu pada Awliyaullah.
Dengan perintah Mawlana, 2 minggu yang lalu saya datang ke sini dan dengan
perintah Mawlana minggu ini saya datang ke sini. Kedatangan ini bukan karena
saya ingin datang atau karena Anda mengundang saya. Dua
tahun yang lalu saya tidak datang. Namun ada sebuah pesan penting untuk
disampaikan, minggu ini juga harus disampaikan.
Saat Awliyaullah ingin kalian melihat, maka kalian akan melihat. Saat Mawlana
Syaikh ingin kalian melihat, maka kalian akan melihat. Kalian bukanlah sang
Syaikh. Kalian adalah domba. Saat domba jantan ingin melihat, dia bisa membawa
seluruh kawanan kembali ke rumah demi keselamatan.
Dan apakah yang dimiliki oleh para pemburu? Mereka punya anjing untuk
mengantarkan mangsa kepada pemburu. Mangsa. Kalian mengirim anjing kemana-mana
untuk menggiring mangsa untuk datang. Ada sebuah pesan
pada orang itu 2 minggu yang lalu. Orang yang bertanggung jawab atas seluruh
wilayah secara spiritual. Tiap wilayah diseluruh dunia ada dibawah tanggung
jawab seorang wali. Dan Sultan al-Awliya bertanggung jawab atas seluruh dunia.
Ada sebuah pesan untuk disampaikan kepada seorang yang bertanggung jawab atas
wilayah Midwest dan ucapan selamat kepada wali yang bertanggung jawab tersebut.
Jadi, Awliyaullah tidak terhijab. Saat Awliyaullah ingin mengirim sebuah pesan,
mereka tinggal mengirimnya. Nah, Mawlana Syaikh ingin mengirimkan pesan
tersebut. Karena inilah abad perubahan semakin mendekat. Ada sesuatu yang akan
berubah di seluruh dunia, dari buruk menjadi baik. Allah SWT tidak mengubah
dari baik menjadi buruk. Allah SWT mencintai para hamba-Nya - Dia menghendaki
perubahan dari buruk ke baik.
Itulah mengapa judul sohbet ini "Perubahan yang Kita Butuhkan". Mereka tidak
boleh mengubah judulnya. Awliyaullah mengubah inspirasi dihati mereka untuk
berubah dan perubahan pun terjadi. Dan dengan situasi
baru ini, ada sebuah perubahan besar yang akan terjadi bagi semua orang dengan
merasakan kebahagiaan, semua orang bersyukur kepada Allah SWT karena inilah
persiapan untuk dunia ini mencapai tujuannya. Saat dunia ini mencapai
tujuannya, kita mencapai tujuan kita.
Berkali-kali saya bertanya kepada Mawlana Syaikh (semoga Allah memberi beliau
panjang umur) tentang kaki beliau. Karena kaki beliau bengkak dan beliau selalu
menolak untuk diobati. Mengapa? Orang-orang bertanya-tanya. Kami
bertanya-tanya, namun saat beliau
ingin kalian tahu, maka kalian akan tahu. Beliau ingin menanggung rasa sakit
agar para pengikut beliau tidak akan merasakan sakit di dunya atau akhirat.
Beliau memikul rasa sakit ini, agar para pengikut beliau
tidak merasakan sakit di dunya atau akhirat serta beliau akan mengorbankan
keselamatan dan kenyamanan beliau demi kita agar bisa merasa nyaman.
Awliyaullah tidak bertindak tanpa ijin. Kini adalah waktunya dimana Allah SWT
pun menguji para wali. Berapa kalikah Rasulullah SAW ditimpa kesulitan
sedangkan beliau adalah Penutup para Nabi? Beliau diberikan kesulitan demi
tubuh suci beliau. Tubuh beliau suci dan ikut pergi saat Mi'raj dan masih saja
beliau diperlakukan dengan buruk oleh kaumnya dalam Perang Uhud. Pasa saat itu
mereka mematahkan gigi
beliau. Peristiwa itu terjadi setelah Mi'raj.
Seseorang yang Mi'raj dengan tubuh sucinya dan kembali lagi ke dunia ini, Allah
SWT tidak pernah meninggalkan beliau sendiri: "Ya Muhammad, angkatlah kesulitan
dari Ummah." Untuk mengangkat kesulitan, beliau harus mengalami patah gigi. Itu
sangat sakit.
Allah SWT menguji Awliyaullah -jangan pikir Allah SWT tidak akan menguji
mereka. Allah SWT ingin para Awliyaullah memikul sebanyak mungkin tanggung
jawab para pengikut mereka. Seperti seorang Syaikh dan wali yang kalian punyai.
Kaum ulama adalah anak-anak dipintu
Awliyaullah. Mereka bukanlah Awliyaullah - mereka adalah orang-orang yang
belajar dan yang masih punya kesombongan, kebanggaan, hawa dan nafsu. Karena
mereka masih belum mau berusaha berjuang melawan perilaku ini untuk mencapai
tingkat ihsan. Maka mereka tidak
memperoleh lebih dari tingkat pertama dari 2 tingkat.
Awliyaullah sudah jauh dalam maqam al-ihsan untuk mengubah tingkah laku mereka
menjadi lebih baik. Saya pernah berkali-kali melihat Mawlana, setelah semua
orang tertidur, beliau mengambil sampah didalam rumah, dan memperlihatkan
kepada saya, apa yang dilakukan seorang ulama dan yang dilakukan seorang yang
mengaku wakil atau deputi. Beliau mendatangi tempat sampah dan tidak bicara
apa-apa kepada semua orang.
Beliau mengambil sampah dan melihat sekerat roti, beliaupun mengambilnya.
Beliau melihat makanan itu disana dan mengambilnya. Menyimpannya dan kemudian
pada hari berikutnya, beliau tidak makan apa-apa dimalam hari karena tidak
merasa lapar. Tapi pada hari berikutnya saat orang-orang makan di meja makan
beliau, beliau membawa makanan yang diambilnya dari
tempat sampah dan memakannya. Aku melihat itu ratusan kali. Tidak saat ini,
namun ketika beliau ada di Damaskus tahun 1980an. Tunjukkan pada saya kalau ada
ulama yang melakukan dialog antar agama mau melakukan
seperti itu. Tidak, mereka membuang-buang makanan. Maulana Syaikh tidak pernah
membuang nikmat apapun dari Allah SWT.
Allah SWT meninggalkan Fira'un. Allah SWT berfirman, "Aku akan menghancurkan
Fira'un demi Sayyidina Musa." Mengapa Allah SWT tidak menghancurkan Fir'aun
pada 40 tahun sebelumnya? Karena Fir'aun mempunyai kebiasaan mengumpulkan
remah-remah makanan yang berjatuhan
dari meja. Fir'aun mengumpulkan dan memakan remah-remah tersebut. Fir'aun
berkata, "Aku tidak bisa membuang remah-remah ini karena inilah nikmat dari
Allah."
Karena saat tujuan datang -karena kita berada dijalan menuju tujuan akhir- dan
tujuan mendekat. Jadi, persiapkan diri kalian untuk tujuan tersebut. Nah, saat
tujuan akhir/masa hidup Fir'aun mendekat, setan
datang dan berkata, "Kau sudah menyimpan makanan dan remah-remah. Kenapa? Kau
kan Tuhan! Tinggalkan itu!"
Berapa kali kita membuang remah-remah bekas kita makan? Di meja kita dan di
lantai. Bukan hanya itu, kita mengambil makanan dan membuangnya. Saya tidak
berencana membicarakan ini dan Mawlana Syaikh bersikeras untuk mengatakan bahwa
perubahan mendekat. Dan perubahan tersebut mulai pada Maulid an-Nabi SAW
dibulan Maret. Sebagian orang di California mendengar dan melihat perubahan
itu. Barang siapa yang memahami, maka dipahami maksud dari perubahan tersebut.
Mawlana menyebutkan nama seseorang yang sedang datang. Dan orang itu sudah
datang sekarang. Dan kami akan melihat perubahan apa yang akan terjadi. Ini
bukanlah perubahan beliau dan bukan juga perubahan para
pengikut beliau. Bukan, ada sebuah perubahan surgawi mendekat. Perubahan
menjadi lebih baik. Bukan hanya bagi kaum Muslim, tapi buat semua orang. Allah
SWT tidak membedakan siapa yang Muslim dan yang tidak. Tapi perubahan bagi
semua orang. Urusan akhirat lain lagi. Allah SWT memberikan sebuah perubahan
yang sudah dinanti-nanti. Jangan lupa membaca, "Subhaanallaahi wa bihamdihi
Subhaanallaahil 'Azhim Astaghfirullah."
Wa min Allah at Tawfiq
wasalam, arief hamdani
www.rumicafe.blogspot.com