Melepas Punai di Tangan
Usul fatwa haram golongan putih dari Partai Keadilan Sejahtera diduga untuk 
menjaga agar kader yang kecewa tak lari. Iklan Soeharto biang keladinya.
MATAHARI telah sepenggalah ketika 500-an anggota jemaah berjubel di halaman 
Masjid Al-Hikmah, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Ahad pekan lalu. Masjid 
ini adalah pusat dakwah gerakan tarbiyah, cikal-bakal Partai Keadilan 
Sejahtera. Sejumlah ikhwan (sebutan untuk jemaah pria) dan akhwat (perempuan) 
bergabung dalam wadah Forum Kader Peduli. Ahad ketiga tiap bulan, pengajian 
digelar di masjid itu. 
  
Pekan lalu, pengajian itu mengkritik pedas sepak terjang partai. Sebuah pantun 
buatan pemimpin Forum, Rosihan Anwar, membuka pengajian: ”Jalan-jalan ke Kota 
Garut, jangan lupa membeli bakwan. Yang dulu dibilang thogut, sekarang jadi 
pahlawan.” Tawa jemaah mendadak pecah. Thogut adalah istilah Arab untuk Tuhan 
selain Allah. 
Fathuddin Ja’far, penceramah hari itu, berapi-api mengupas kriteria pahlawan. 
Intinya, Soeharto, yang belakangan diiklankan Partai Keadilan Sejahtera sebagai 
pahlawan, tak berhak menyandang predikat itu. Jemaah saksama mendengarkan. 
Sesekali mereka meneriakkan takbir. Seseorang yang belakangan diketahui bernama 
Junaedi tiba-tiba menyebarkan buletin. Ia berbaju seragam Korps Satuan Tugas 
Keadilan, sayap kepanduan milik Partai Keadilan Sejahtera. 
  
Buletin tersebut berisi tandingan atas materi pengajian hari itu. Isi selebaran 
itu mengajak jemaah taat kepada pemimpin dan ikhlas dalam beramal. Beberapa 
penggalan tulisan menyebarkan seruan agar jemaah tak pecah. ”Buletin ini hanya 
untuk tambahan pengetahuan,” ujar Junaedi. 
  
Tak lama setelah buletin disebar, Rosihan Anwar menyela pengajian. Ia memberi 
tahu jemaah bahwa buletin yang beredar tadi bukan buatan Forum. Ia menegaskan 
perpecahan tidak akan muncul jika Partai Keadilan Sejahtera setia berjuang di 
jalan Allah. ”Perpecahan hanyalah efek,” ujar Rosihan. 
  
Forum adalah kelompok kritis dalam partai. Lahir enam bulan lalu, lembaga ini 
menjadi tempat berhimpun kader yang tak menghendaki Partai Keadilan Sejahtera 
kehilangan identitas keislamannya. Di kalangan kader Partai Keadilan Sejahtera, 
berembus kabar Forum berusaha merebut tampuk kepemimpinan. Mereka inilah yang 
dianggap menyarankan golongan putih jika partai keluar dari rel perjuangan. 
Koordinator Forum, Habibullah Qomaruddin, menyatakan setia kepada Partai 
Keadilan Sejahtera meski, ”Banyak manuver partai yang dipaksakan.” 
  
l l l
PARTAI Keadilan Sejahtera memang sedang meriang. Ahmad Norma Permata, penulis 
disertasi Partai Islam dan Partisipasi Demokrasi: Partai Keadilan Sejahtera di 
Indonesia 1998-2006 di Universitas Muenster, Jerman, mengatakan partai ini 
rawan ditinggal pendukung ideologisnya. 
  
Norma menyelesaikan disertasi itu September lalu dan lulus dengan predikat 
magna cum laude. Rabu dua pekan lalu, ia mempresentasikannya di Maarif 
Institute, Jakarta. Menurut dia, pendukung Partai Keadilan Sejahtera tidak suka 
ketika setahun lalu sejumlah elite partai mulai mendekati keluarga Soeharto. 
”Padahal Keluarga Cendana musuh gerakan tarbiyah,” kata Norma. 
  
Mantan dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya ini mengatakan Partai Keadilan 
Sejahtera bergeser dari partai kanan berbasis agama menuju tengah yang 
nasionalis. Demokratisasi di Indonesia ikut menyumbangkan perubahan ideologi 
ini. Perubahan ini, kata dia, membuat keseimbangan politik partai guncang. 
  
Pada saat yang sama, tidak ada partai politik yang mewadahi kelompok Islam 
ideologis yang pada 2004 masih memilih Partai Keadilan Sejahtera. Kelompok 
inilah yang berancang-ancang meninggalkan partai. Sangat mungkin mereka akan 
menjadi golongan putih pada Pemilu 2009. Dalam konteks itulah, kata Norma, 
petinggi Partai Keadilan Sejahtera mengusulkan fatwa haram golongan putih 
dikeluarkan. 
  
l l l
ADALAH bekas Presiden Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid yang 
melemparkan isu itu. Ia mengusulkan Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa 
haram terhadap golongan putih. Katanya, fatwa itu penting untuk mendongkrak 
keikutsertaan pemilih dalam pemilihan umum sehingga demokrasi bisa lebih kokoh. 
  
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini merujuk konstitusi dan Undang-Undang 
Pemilu. Di sana, kata dia, tidak ada satu pun pasal yang menyatakan warga 
negara berhak untuk tidak memilih. Itulah sebabnya Majelis Ulama harus 
mengambil peran dengan mengeluarkan fatwa haram. 
  
Presiden Partai, Tifatul Sembiring, mendukung usul ini. Tapi fatwa itu, kata 
dia, tidak harus berformat halal-haram. Ia berharap Majelis Ulama Indonesia 
secara persuasif mengajak pemilih tidak menjadi golongan putih. ”Meminta 
pendapat ulama sesuatu yang baik. Boleh, kan?” kata Tifatul. 
  
Ia menepis anggapan fatwa itu untuk mengikat kadernya yang kecewa sehingga tak 
lagi memilih Partai Keadilan Sejahtera. Kabar konflik di dalam tubuh partai pun 
ia bantah. Tapi Tifatul mengakui citra partainya jeblok akibat iklan Soeharto. 
”Itu kekeliruan,” ujarnya. Iklan tersebut, kata Tifatul, bertujuan menambah 
pasar pemilih, tapi yang terjadi justru mendatangkan masalah. Ibarat pepatah: 
mengharapkan pipit di udara, punai di tangan dilepaskan. Meski begitu, kata 
dia, partai tetap solid. Kader di daerah masih terus berkampanye. ”Mereka tetap 
bekerja untuk kemenangan partai.” 
  
Usul itu mendapat reaksi keras guru besar ilmu politik Universitas Gadjah Mada, 
Amien Rais. Ia menyatakan para pengusul fatwa haram golongan putih hanya 
memperjuangkan kepentingan politik, tapi agama yang dijadikan dalih. Bahkan, 
kata Amien, fatwa itu berkaitan dengan kepentingan politik yang nista dan hina. 
”Mau golput atau tidak, itu hak asasi,” katanya. 
  
Sunudyantoro, Akbar Tri Kurniawan


      

Kirim email ke