Harapan di Hari Kebangkitan

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri



20 Mei 2009 09:44:55

Meski kemudian ada kontroversi mengenai tonggak penetapannya, namun karena
sudah terlanjur ditetapkan, maka kita pun tetap memperingati Hari
Kebangkitan Nasional (HKN) pada tanggal 20 Mei. Karena tonggak untuk
penetapannya adalah kelahiran Boedi Oetomo (BO), 20 Mei 1908, maka
peringatan HKN kali ini dianggap sebagai peringatan yang ke 101.



Memang sejak dan dalam tahun-tahun setelah berdirinya BO itu organisasi dan
pergerakan bertumbuhan di tanah air; mulai dari yang bersifat lokal,
kedaerahan, keagamaan, hingga politik. Semua komponen bangsa, mulai dari
kota hingga ke desa, bangkit kesadaran ke-tanahair-annya untuk melawan
penjajahan. Adalah menarik bahwa di kalangan pesantren yang terkenal gigih
melawan kolonialis, bahkan lahir perhimpunan-perhimpunan yang sengaja
menggunakan nama yang bermakna kebangkitan, seperti Nahdlatut Tujjar
(Kebangkitan Pedagang); Nahdlatul Ulama ((Kebangkitan Para Kiai), dan
Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air).


Allah telah menggerakkan hati dan pikiran bangsa yang begitu lama terjajah,
untuk bangkit. Menyadari betapa pedih dan menderitanya menjadi bangsa yang
terjajah. Menyadari bahwa kondisi seperti ini harus disudahi. Bangsa ini pun
gumregah, bangkit dari kejumudan untuk melawan penjajahan Belanda. Untuk
merdeka. Kebangkitan bangsa itu kemudian mengkristal dalam Sumpah Pemuda
tahun 1926 yang menegaskan ke-Indonesia-an bangsa dan klimaksnya adalah
Proklamasi Kemerdekaan 1945.


Kesadaran dan kebangkitan yang menggerakkan perjuangan bangsa itu akhirnya
sampai ke pintu gerbang Negara Indonesia Merdeka.


“Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat
yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia ke
depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil
dan makmur.” .” Demikian antara lain Pembukaan Undang-undang Dasar 1945
menyatakan. Dan dilanjutkan dengan “Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa
dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan
yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”


Meski sudah sampai ke pintu gerbang, ternyata untuk benar-benar memasuki
negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur; masih
memerlukan perjuangan yang panjang yang menguras tenaga, pikiran, darah, dan
air mata. Mempertahankan kemerdekaan, ternyata tidak kalah berat dari
merebutnya.


Dan rasanya baru kemarin; ternyata sudah lebih seabad bangsa ini sadar dan
bangkit. Pahit-getirnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan sudah kita
lalui sejak memasuki ‘pintu gerbang’. Kita telah melalui masa-masa revolusi
yang dahsyat; melalui orde-orde dan pemerintahan bangsa sendiri. Apakah kini
kita sudah sampai atau masuk ke Negara Indonesia yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil dan makmur?


Apabila dulu hal itu -- Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat,
adil dan makmur—menjadi obsesi dan impian para pemimpin dan rakyat, sehingga
mereka bersedia berkorban apa saja demi memperjuangkannya; apakah kini hal
itu masih menjadi obesesi dan impian para pemimpin dan rakyat kita?

Menyaksikan hiruk-pikuknya para tokoh berebut kursi kekuasaan,
hiruk-pikuknya rakyat jelata berebut BLT atau pembagian zakat; dan
diam-diamnya para koruptor nilep uang negara, diam-diamnya para politisi
mengamplopi para pemilih, dan diam-diamnya tokoh masyarakat menerima
‘salaman tempel’ para calon; serta menyaksikan pertikaian antar pemimpin dan
pertikaian antar rakyat, kita menjadi kecil hati. Jangan-jangan para
pemimpin dan rakyat negeri ini justru masih belum kunjung merdeka. Bahkan
lebih terjajah dari pada zaman dahulu.


Memang kita sudah lama merdeka dari penjajahan kolonialis Belanda; namun
penjajah demi penjajah masih terus menjajah kita. Atau kita sendiri yang
belum bisa melepaskan diri dari mental anak jajahan. Bahkan sejak ‘dakwah’
orde baru yang efektif --atas nama pembangunan ekonomi— untuk mencintai
materi, sadar atau tidak, kita telah menjadi budak jajahan dunia dan materi.
Hal ini diperparah oleh pemahaman mengenai kemerdekaan dan kebebasan yang
tidak pernah diluruskan yang berkembang sejak lengsernya penguasa pengekang
kemerdekaan.


Ibarat burung yang lama dikurung (selama lebih 30 tahun!), tiba-tiba
dilepas. Kebebasan pun membuatnya menabrak kesana-kemari. Kemerdekaan pun
diartikan kebebasan berbuat apa saja meski menabrak dan mengganggu
kemerdekaan liyan. Bebas teriak; bebas nyolong; bebas selingkuh; bebas
menipu; bebas nyuap; bebas menembak; bebas membakar; bebas merusak; bebas
melanggar hukum; bebas apa saja. Kebebasan yang semacam ini akan menjadi
malapetaka bila ditunggangi oleh kepentingan duniawi dan materi. Bahkan
kesadaran ke-tanahair-an yang begitu kuat lebih seabad yang lalu, kini
seperti sudah mulai memudar.


Untunglah, mendengar janji-janji para capres-cawapres kita yang kesemuanya
berniat memperbaiki Indonesia dan mensejahterakan rakyat, betapa pun kecil,
kita masih boleh berharap: semangat Kebangkitan Nasional masih menyala. Atau
justru para pemimpin yang berkompetisi untuk menjadi pemimpin bangsa saat
ini akan memelopori Kebangkitan Nasional yang kedua sebagaimana diidamkan
banyak tokoh. Sehingga praktek-praktek politik rendahan ala pasar hewan
tidak lagi diteruskan.


Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa mengembalikan akal sehat para pemimpin
dan bangsa ini; menolong mereka untuk menyadari keIndonesiaan mereka dan
bahwa kekuasaan, sebagaimana hal-hal duniawi lainnya, hanyalah wasilah atau
sarana dan bukan ghayah atau tujuan. Tujuan bangsa ini sejak awal ialah
mencapai Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur yang diridhai
Allah SWT.


Mudah-mudahan Allah merahmati dan menyelamatkan bangsa ini. Amin.



Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang.

Kirim email ke