Al Qur'an dan Syiar Ramadlan

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri



Diantara keistimewaan bulan Ramadhan yang paling utama adalah diturunkannya
Al-Qur'an di bulan suci ini. Kenyataan turunnya Al-Qur'an itu, apabila kita
mau merenungkannya, benar-benar merupakan sesuatu anugerah yang sangat luar
biasa agungnya. Pertama, anugerah untuk Nabi Muhammad saw, kemudian untuk
kita semua ummatnya.



Al-Qur'an adalah firman Allah kepada kita. Al-Qur'an adalah kalam Tuhan
semesta alam, dan kita adalah sebagian dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya.


Apabila ungkapan di atas belum sebenarnya membawa Anda ke kemahaagungan
anugerah itu, coba saja bayangkan. Sebesar apa pun anda, misalnya, dan
setinggi apa pun pangkat anda, Anda tak akan lebih dari seorang anggota RT
dalam suatu RW di satu dusun, dari beberapa dusun di sebuah desa. Desa ini
merupakan salah satu desa dari suatu kecamatan di salah satu kabupaten.


Kabupaten hanyalah satu di antara sekian daerah tingkat II di suatu
propinsi. Dan propinsi hanyalah satu diantara sekian wilayah tingkat I di
nengeri ini. Jika negeri ini masuk ASEAN dan ASEAN masuk Asia, maka seperti
kita ketahui Asia hanyalah salah satu dari beberapa buah benua dan planet
yang bernama bumi ini. Sedangkan planet bumi, seperti kita ketahui, hanyalah
salah satu dari sekian planet dalam tata surya kita.


Dan Anda tahu, bahwa diruang angkasa ciptaan Allah ini ada jutaan – bahkan
konon miliaran bintang dan planet. Masing-masing bintang atau planet yang
sekian banyaknya itu ada yang sebesar bumi kita, ada yang lebih besar dua
kali lipat, ada yang belasan kali lipat, dan seterusnya. Jarak satu sama
lain tak terhinggakan oleh ukuran panjang-lebar kita.


Di antara ciptaan-ciptaan Allah yang begitu besar dan agung, dimanakah letak
RT, desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, bahkan negeri anda? Dan di manakah
Anda?


Nah, pencipta semesta alam yang sedemikian dahsyat dan agung itu ternyata
begitu murah dan suci berfirman kepada Anda. Itulah Al-Quran. Kitab suci
yang kita peringati turunnya setiap Ramadhan.


Tidak diragukan lagi bulan Ramadhan memang membawa hikmah tersendiri dalam
kehidupan kaum Muslimin. Misalnya, begitu masuk bulan Ramadhan kita serasa
hidup di dalam aktivitas kehidupan perorangan dan keluarga yang mendadak
berubah. Mulai dari situasi dan jadwal aktivitas – termasuk kegiatan dapur
hingga frekuensi tidur. Demikian pula media massa, baik cetak maupun
elektronik, dengan sendirinya di bulan suci ini menyemarakkan acara-acara
sungguhannya.


Apakah ini yang disebut-sebut sebagai syiar Ramadhan itu? Setelah lebih
'separo jalan' kita mengalami dan menghayati syiar Ramadhan, bagaimana kalau
sejenak kita menelitinya – dan meneliti sikap kita didalamnya – kembali?


Kesibukan malam yang kini sudah semakin 'merutin' itu masihkah berkait dan
seberapa kadar keterkaitannya dengan niat dan *keadrengan* kita semula:
ingin meningkatkan kualitas kehambaan kita di hadapan Allah.


Kehidupan siang kita yang kini sudah mulai terbiasa dengan pergantian jadwal
makan-minum – masihkah mengingatkan kita kepada hikmah-hikmah mulia
berlapar-lapar dahaga?


Marilah kita hitung kembali jam-jam, menit-menit, atau kalau perlu
detik-detik kebersamaan kita yang sesungguhnya dengan Allah. Untuk siapa
kita berpuasa dan bahkan hidup: kepada siapa segala harapan kita tumpukan.
Berapakah prosentasinya disbanding dengan yang lain? Atau adakah frekuensi
kebersamaan itu konstan?


Jawaban kita yang jujur masih belum terlambat apabila kita benar-benar ingin
memaksimalkan penggunaan kesempatan Ramadhan ini bagi meningkatkan kedekatan
itu kepada-Nya.



Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang.

Kirim email ke