----- Original Message ----- 
From: Gunawan GTF

MENYAMBUT PENGUASA NEGARA PENJAJAH: MENGKHIANATI ALLAH, RASUL-NYA, ISLAM, DAN 
KAUM MUSLIM
[Al-Islam  498] Umat Islam saat ini dihadapkan pada persoalan kenegaraan yang 
sangat sulit, yaitu rencana kedatangan Obama bulan Maret ini. Sekiranya Obama 
seorang warga negara biasa tentu tidak akan melahirkan pro-kontra di tengah 
mayoritas umat Islam Indonesia. Masalahnya, sosok Obama tidak bisa dilepaskan 
dari kedudukannya sebagai pemimpin dari negara Amerika Serikat (AS). Dunia saat 
ini melek betul, AS telah banyak menciptakan tragedi kemanusian di berbagai 
belahan negeri Dunia Islam, baik dalam bentuk penjajahan militer ataupun 
penjajahan politik, ekonomi dan budaya.

Ironisnya, Pemerintah Indonesia berharap kunjungan Obama tidak batal. 
Pemerintah malah mengklaim kedatangan Obama ke Indonesia adalah atas undangan 
dari Pemerintah Indonesia yang disampaikan sebelumnya. Karena itu, Pemerintah 
berharap, rakyat Indonesia menyambut Obama dengan baik, dengan berbagai dalih. 
Misal, seperti yang diungkapkan Menkominfo Tifatul Sembiring, “Kedatangan Obama 
sebagai tamu negara perlu disambut baik, tidak hanya oleh Pemerintah, tapi juga 
oleh seluruh masyarakat Indonesia. Sebab, banyak kepentingan Indonesia kepada 
negara adidaya itu.” (Eramuslim.com, 11/3).

Dukungan kepada Pemerintah juga diberikan oleh beberapa pihak dengan alasan 
kedatangan Obama ke Indonesia akan memberikan nilai positif, bahkan merupakan 
kesempatan untuk membangun dialog Islam dan Barat agar AS tidak lagi 
memposisikan Dunia Islam sebagai musuh, tetapi sebagai sahabat. 

Namun, tidak bisa diabaikan, banyak majelis yang dihadiri para ulama dan tokoh 
masyarakat justru mengeluarkan pernyataan bersama untuk menolak kedatangan 
Obama. Hal itu dilakukan setelah melakukan kajian mendalam atas fakta-fakta 
(manât al-hukm) AS dan Obama sebagai presidennya, juga setelah menelaah 
nash-nash syariah (Al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas) sampai pada 
kesimpulan hukum (istinbâth al-hukm). Mereka menyatakan: haram mengundang, 
menerima dan menyambut seorang pemimpin negara penjajah (harbi fi’l[an]). 
Penolakan para ulama itu antara lain terjadi di Jawa Timur (Surabaya, Malang), 
Banten, Bandung, Sumbar, Kalmanatan Timur, Sulsel, Jogya, dll (Suaramedia.com, 
13/3).

Dosa-dosa AS di Bawah Obama

Pertama: Di Irak Obama memang mendukung penarikan mundur pasukan AS secara 
bertahap dalam tempo 16 bulan sejak menjabat. Namun, Obama juga tidak setuju 
untuk menarik tentara AS total dari Irak yang dianggap masih tetap memberikan 
manfaat untuk mengamankan kepentingan AS di timur tengah. Obama bahkan berniat 
untuk menempatkan pasukan AS tidak hanya di Irak, tetapi juga di negara–negara 
Timur Tengah lain, seperti Kuwait. Padahal akibat pendudukan AS atas Irak sejak 
tahun 2003, menurut penelitian John Hopkins University, lebih dari 1 juta warga 
sipil Irak tewas. Kehancuran sosial, budaya serta ekonomi sangat luas.

Kedua: Di Afganistan, Obama menambah jumlah pasukan AS (30.000 pasukan), 
memperluas daerah operasi militer dan melancarkan serangan lintas batas secara 
sistematis. Obama telah memprioritaskan untuk membangun rezim agennya di Kabul 
sehingga Afganistan tetap ada dalam kontrol dalam kepentingan AS. Tujuannya 
adalah mempertahankan aset strategis di Asia Tengah seperti sumber energi dan 
infrastruktur pembangunan jalur pipa minyak. Ini sejalan dengan pikiran yang 
diungkap Obama dalam debat Senat Illionis di Jaringan Radio Illionis 12 Oktober 
2004. 

Ketiga: Dalam kasus Iran, Obama berjanji menyusun kekuatan internasional untuk 
menekan Iran dan mencegah Iran mengembangkan nuklir. Obama juga tidak menafikan 
kemungkinan penggunaan aksi militer untuk menguasai ladang minyak dan gas bumi 
Iran apabila diperlukan. Saat yang sama, seperti para presiden AS sebelumnya, 
Obama membisu seribu bahasa atas Israel dengan fasilitas nuklirnya di Demona, 
Gurun Negev, yang beroperasi sejak tahun 1960 dan telah memiliki hulu ledak 
nuklir yang menjadi ancaman serius di kawasan Timur Tengah.

Keempat: pada Forum AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) Juni 2008 
lalu, Obama dengan lantang dan tegas menyatakan dukungannya terhadap Negara 
Israel. “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya 
bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel tapi 
juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak 
mimpi yang dibuat 60 tahun lalu.” 

Juru Bicara Obama juga menegaskan, “Obama akan menghormati 
kesepakatan-kesepakatan yang sudah dilakukan terkait dengan bantuan dana bagi 
Israel dan akan mengusahakan agar bantuan itu ditingkatkan sampai 30 miliar 
dolar AS dalam jangka waktu 10 tahun.” (Suaramedia.com, 6/10/08).

Joe Biden (Wapres AS) dalam ceramahnya di Universitas Tel Aviv juga menegaskan, 
tidak ada teman terbaik di dunia ini bagi Washington (AS) kecuali Israel 
(Eramuslim.com, 12/3).

Kemenangan Obama menjadi presiden pun tidak lepas dari dukungan finansial dari 
komunitas Yahudi seperti: Sheldon Adelson (seorang Republikan); neokonservatif 
dan seorang ‘megadonor’, Sherry Lansing, penggalang dana dan donatur utama 
Partai Demokrat, pernah menjadi perempuan pertama yang memimpin Paramount, 
salah satu studio film terkemuka di Hollywood; Penny Pritzker, ketua nasional 
bidang keuangan kampanye Obama, seorang miliarder berasal dari keluarga Yahudi 
yang dikenal kerap menjadi donatur besar; Denise Rich, mantan istri miliarder 
March Rich, Barbra Streisand, penyanyi terkenal yang menjadi ikon 
Yahudi-liberal dan penggalang dana bagi Yahudi; dll.

Pembantaian Gaza oleh Israel yang terjadi dari tanggal 28 Desember 2008 hingga 
18 Januari 2009 sama sekali tidak disinggung dalam pidato kemenangan Obama. 
Saat serangan biadab Israel di Gaza itu, Obama justru sangat kentara mendukung 
penuh negeri Zionis dengan dalih mempertahankan diri. Padahal serangan itu 
telah mengakibatkan 1.400 orang lebih tewas; ratusan di antaranya adalah 
anak-anak, wanita dan orang tua; 5.000 orang terluka, termasuk 1.000 yang cacat 
seumur hidup; selain kehancuran dahsyat akibat berbagai jenis senjata paling 
mutakhir negeri Zionis itu.

Bagi Obama, menjaga keamanan Israel tidak bisa ditawar dan Amerika di bawah 
Obama akan tetap menjaga eksistensi Israel. Obama pada faktanya lebih Yahudi 
daripada orang-orang Yahudi (Lihat: Obama Revealed, Realitas di Balik 
Pencitraan, Dina Y. Sulaeman, Aliya Publishing 2010).

Kelima: Itikad Obama menutup Penjara Guantanamo juga sudah menjadi cerita usang 
tiada bukti. Justru Obama lebih gencar melakukan perburuan ‘teroris’ dengan 
cara menyerang kawasan Yaman, perbatasan Pakistan dan membunuh orang-orang yang 
hanya disangka ‘teroris’ oleh AS. AS juga memberikan dukungan dana dan 
pelatihan di negeri Muslim (misal Den-88 Indonesia) untuk mengeksekusi 
orang-orang yang dianggap bagian dari jaringan al-Qaidah.

Wajib Menolak Obama!

Sejak awal AS telah menempatkan Indonesia sebagai wilayah dan mitra strategis 
untuk mengokohkan agenda Kapitalisme globalnya. Karena itu, sangat wajar jika 
penolakan umat Islam terhadap Obama terus membesar dan melahirkan sikap kritis 
terhadap apa yang dilakukan oleh penguasa. Selain sejumlah alasan di atas, juga 
antara lain karena: 

1. Penguasa telah melanggar Konstitusinya sendiri, yakni UUD 1945 (di bagian 
Pembukaan) yang tegas menentang seluruh bentuk penjajahan. Jika konsisten 
dengan UUD ini, bagaimana bisa melihat AS sang penjajah menjadi samar hanya 
karena sosok Obama? Mengapa pula Indonesia seperti lebih menampakkan diri 
sebagai negara terjajah daripada menjadi negara yang merdeka? Faktanya, 
Indonesia bukan hanya tidak sanggup untuk mengatakan AS sebagai negara 
penjajah, tetapi bahkan memposisikan diri menjadi sapi perahan dari proyek 
global Kapitalisme yang diemban oleh AS.

2. Jika mengacu pada kaidah politik luar negeri AS maka kepentingan dalam 
negeri AS adalah segalanya. Dengan “soft strategi” Obama mendekati Dunia Islam, 
termasuk Indonesia, dengan jargon “mutual respect dan mutual interest”. Padahal 
kenyataannya, kehadiran Obama (khusus ke Indonesia) tidak lain adalah untuk 
mengokohkan penjajahan politik ekonomi AS. Indonesia adalah modal besar dan 
penting untuk AS, karena populasi penduduk, sumberdaya alam maupun 
geopolitiknya; baik untuk kawasan Asia Pasifik maupun Dunia Islam. Obama 
sebagai presiden AS datang ke Indonesia untuk memastikan Indonesia tetap dalam 
kendali dan cengkeraman kepentingan global AS. 

3. Berdasarkan pengkajian terhadap nash-nash syariah, menerima pemimpin dari 
negara penjajah (harbi fi’l[an]) sebagai tamu adalah haram secara syar’i. Obama 
adalah presiden negara penjajah. Kenyataan ini tidak bisa diabaikan begitu saja 
hanya karena sosok pribadinya yang berbeda dari pemimpin AS sebelumnya. 
Sebagian kalangan yang merespon secara positif kehadiran Obama tidak bisa 
bersembunyi di balik nash tentang kewajiban memuliakan tamu, sementara mereka 
mengabaikan fakta, bahwa Obama bukanlah tamu yang baik, melainkan tamu yang 
jahat, yang bahkan masih berlumuran darah kaum Muslim!

Wahai kaum Muslim:

Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لاَ 
يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ 
أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai teman 
kepercayaan kalian orang-orang di luar kalangan kalian, karena mereka tidak 
henti-hentinya menimbulkan kemadaratan atas kalian. Mereka menyukai apa yang 
menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa saja yang 
disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi (QS Ali Imran [3]: 118).

Karena itu, dengan alasan apapun sesungguhnya kaum Muslim haram menyambut 
Obama. Sebab, sikap itu berarti mengkhianati Allah SWT, Rasulullah saw., Islam 
dan kaum Muslim. Justru yang wajib dilakukan adalah menolaknya!

Lebih dari itu, sudah saatnya umat Islam memiliki penguasa yang benar-benar 
hanya takut kepada Allah SWT, bukan takut kepada Amerika atau siapapun yang 
menjadi musuh umat. Saatnya umat memiliki penguasa yang berpihak pada 
kepentingan dan kemaslahatan mereka, bukan melayani kepentingan negara penjajah 
seperti AS. Saatnya umat mengupayakan kehadiran sosok penguasa yang bisa 
menjaga ‘izzah (kemuliaan) Islam dan kaum Muslim, bukan terus-menerus berada di 
bawah kekuasaan penguasa yang justru menghinakan Islam dan kaum Muslim. Sosok 
penguasa itu tidak lain adalah sebagaimana para khalifah pada masa lalu, 
pemimpin negara Khilafah. Karena itu, perjuangan untuk menegakkan Khilafah 
sekaligus mengangkat seorang khalifah adalah kebutuhan umat saat ini sekaligus 
kewajiban dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Wallâhu a’lam bi ash-shawab. []

KOMENTAR AL-ISLAM:

Dino Patti Jalal: Obama sudah mengulurkan tangan persahabatan dan simpati 
kepada umat Islam (Vivanews.com, 16/3/2010).

Tetap membunuhi kaum Muslim di Irak, Afgan, Pakistan dll; itukah bentuk 
persahabatan dan simpati Obama (AS) kepada umat Islam?!





-------------------------------------------------------------------------------------------
<i>DISCLAIMER: <br>The information enclosed in this email (and any attachments) 
may be legally <br>privileged and/or confidential and is intended only for the 
use of the addressee(s). <br>No addressee should forward, print, copy, or 
otherwise reproduce this message in any <br>manner that would allow it to be 
viewed by any individual not originally listed <br>as a recipient. If the 
reader of this message is not the intended recipient, you are hereby 
<br>notified that any unauthorized disclosure, dissemination, distribution, 
copying <br>or the taking of any action in reliance on the information herein 
is strictly prohibited. <br>If you have received this communication in error, 
please immediately notify the sender <br>and delete this message. Unless it is 
made by the authorized person,  any views expressed <br>in this message are 
those of the individual sender and may not necessarily reflect <br>the views of 
PT Bank Bukopin Tbk.
-------------------------------------------------------------------------------------------

Kirim email ke