*Beribadah dengan Menghargai Air*


Esensinya lembut, namun kekuatannya luar biasa. Air mampu menghidupkan
tumbuh-tumbuhan di Bumi dengan sekali siram. Dengan air, Bumi menjadi hidup
dan makhluk di atasnya dapat terus berlangsung. Namun jangan lupa, air bisa
meruntuhkan gedung sekali terjang. Bisa meratakan apapun yang bercokol di
muka Bumi sekali hempas. Bukti kekuasaan Allah Subhânahu wata‘âla,
mengingatkan tragedi Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh. Juga banjir yang
melumat kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalam yang durhaka.



Begitu pentingnya air, hingga al-Qur’an menuliskannya sebanyak 63 kali.
Salah satu yang sangat mengesankan ada pada QS Al-Anbiya [21]: 30, di mana
Allah Subhânahu wata‘âla telah mengungkapkan rahasia penciptaan-Nya atas
segala makhluk hidup yang bermaterikan air, “…Dan dari air kami jadikan
segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”.



Artinya, air merupakan faktor kunci kehidupan makhluk di muka bumi. Ayat di
atas menegaskan jika air memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan alam.
Dalam hal ini, tidak heran jika air adalah unsur alam pertama dibahas oleh
filsuf Yunani kuno. Thales, yang dikenal sebagai filusuf pertama,
mengatakan bahwa arkhe (asas atau prinsip) alam semesta adalah air.
Aristoteles menduga bahwa Thales berpikir begitu karena bahan makanan semua
makhluk memuat zat lembab, dan demikian halnya dengan benih pada semua
makhluk hidup (Bertens, 1999).



Penelitian tentang air di dunia kedokteran semakin membuktikan eratnya
hubungan antara air dengan manusia dan kehidupannya. Kebutuhan manusia
terhadap air menjadi penentu terpenting lancar atau tidaknya seluruh proses
metabolisme tubuh manusia. Sulit membayangkan kita bisa hidup tanpa air.



Karena itu, 75% bumi kita dipenuhi air. Uniknya, kadar air di Bumi ini sama
persis dengan entitas manusia yang unsur pembentuk terbesarnya adalah air.
Sekitar 70-75 % manusia dewasa unsur pembentuk terbesarnya terdiri atas
air. Otak 74,5%. Darah 83%. Tulang keras 22%. Gigi 2%. Pada konsep
terbentuknya, telur yang dibuahi 96%-nya adalah air. Setelah lahir, 80%
tubuh bayi adalah air. Semakin manusia berkembang dewasa, persentase air
berkurang dan menetap sampai batas 70% ketika manusia mencapai dewasa.



Jadi, airmerupakan anugrah terbesar dari Allah Subhânahu wata‘âla, karena
air adalah bagian terpenting dari kehidupan mahluk hidup. Air dibutuhkan di
segala bidang kehidupan: pertanian, industri, lingkungan, transportasi,
dll. Bahkan saat ini air menjadi komuditi perdagangan yang menjanjikan,
dalam bentuk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).



Dalam perkembangannya, air juga digunakan untuk terapi penyembuhan. Dalam
dunia kedokteran dikenal dengan istilah “Hukum Baruch dan Hidro-terapi”.
Hukum Baruch, adalah teori ciptaan Simon Baruch (1840-1921). Ia
mengemukakan bahwa air memiliki daya penenang, jika suhu air sama dengan
suhu kulit. Jika suhu kulit lebih tinggi atau lebih rendah, maka akan
memberikan efek merangsang. Sedangkan Hidroterapi yang berasal dari bahasa
Yunani (hydro = air, dan therapiea = pengobatan), merupakan pengobatan yang
efeknya berhasiat menghilangkan lelah dan ketegangan, merangsang sistem
kardiovaskuler, menjinakkan syaraf kulit dan syaraf organ-organ intern.



Masalah yang kita hadapi sekarang adalah, air yang ada kini telah banyak
tercemari, akibat ulah manusia. Pencemaran air oleh masyarakat mencapai
klimaks yang sangat menghawatirkan. Ternyata kemajuan teknologi justru
mengantarkan manusia pada perusakan lingkungan, terutama air. Akibatnya,
manusia sendiri yang kesulitan, ketika air sudah banyak tercemar, dan
mengancam kesehatan. Akhirnya, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak
menghargai air dan berakhlak pada air, sebagai ungkapan syukur kepada
Pencipta air. Dengan demikian, menghargai air berarti salah satu bentuk
ibadah kita kepada Sang Khaliq. Bukankah bersyukur itu ibadah?



Sebenarnya, penghargaan terhadap air telah dilakukan oleh manusia sejak
dulu, dengan menjadikan air sebagai simbol-simbol kehidupan. Sebagaimana
dikutip Masaro Emoto, Dr. Davis menceritakan bagaimana air sangat dihargai
oleh masyarakat zaman dulu. Pada zaman Yunani kuno, orang harus benar-benar
menghargai air. Banyak mitos Yunani yang dibuat berdasarkan usaha untuk
melindungi air. Namun kemudian, ilmu pengetahuan muncul dan menutupi
mitos-mitos ini, karena dianggap tidak ilmiah. Air pun kehilangan nilai
mistiknya, dan hanya dipandang sebagai zat biasa.



Dalam Islam, penghargaan terhadap air sangat luar biasa. Bagaimana ketika
Rasulullah Sallallâhu ‘alaihi wasallam melarang kencing di air yang tidak
mengalir, atau menghambur-hamburkan air ketika wudhu, walau wudhu di sungai
sekalipun. Suatu ketika Rasulullah Sallallâhu ‘alaihi wasallam bertemu
dengan Sa’d bin Ubadah yang sedang wudhu dengan berlebih-lebihan.
Rasulullah menegurnya, “Apa pemborosan ini, wahai Sa’id?” Sa’d menjawab,
“Apakah di dalam wudhu masih dianggap pemborosan?” Rasulullah Sallallâhu
‘alaihi wasallam menjawab, “Ya, walaupun kamu wudhu di tepi sungai.”



Tidak hanya itu, penghargaan terhadap air dipraktikkan Rasulullah dalam
keseharian beliau. Diriwatkan dari sahabat Jabir Radhiallâhu ‘anhu, ketika
ditanyakan mengenai mandi yang baik, beliau menjawab, “Rasulullah
Sallallâhu ‘alaihi wasallam mandi dengan satu sha’ air (±2,75 liter), dan
ber berwudhu dengan satu mud (±0,688 liter)”. Seorang lelaki berkata,
“Demikian itu tidak mencukupi bagiku”. Jabir menjawab, “Demikian itu telah
mencukupi bagi orang yang lebih baik darimu serta lebih lebat rambutnya
darimu”.



Hal ini menggambarkan penghargaan Islam terhadap air yang luar bisa. Para
ulama Islam juga secara konsisten meneladani Nabi. Imam Qulyubi
mengharamkan penggunaan air dalam wudhu melebihi kadar kebutuhan (Israf).
Bagi para pakar fikih, pemborosan air dalam wudhu minimal berhukum makruh.
Setiap membahas masalah ibadah (fiqhul-Ibâdât), para ulama pasti mengawali
dengan pembahasan air. Inilah bentuk penghargaan yang tinggi terhadap air.



Hanya saja, tradisi modern telah memupus penghargaan terhadap air, akibat
terbawa arus pemikiran bahwa teknologi dapat menyelesaikan segalanya.
Ketika disadari bahwa bumi telah menglami krisis air sebab air telah
tercemari limbah industri dan sampah masyarakat, maka segala upaya untuk
memurnikan air baru dilakukan. Padahal, yang dibutuhkan air bukanlah
pemurnian, melainkan penghargaan. Dan sampai kini, penghargaan terhadap air
ternyata tidak dilakukan. Akibatnya, manusia sendiri yang menanggung
akibatnya.



Sebenarnya, penghargaan terhadap air ini dapat kita lakukan dalam kehidupan
sehari-hari. Misalnya, dengan menghemat penggunaan air, tidak mengotori
air, dan banyak lagi perilaku positif yang mendukung kemurnian air.
Menggunakan air sesuai kebutuhan merupakan cara efektif dalam menghargai
air. Dalam hal ini, jangankan dalam waktu yang tidak diperlukan, dalam
ibadah pun tidak diperkenankan boros air. Kita hanya disunatkan membasuh
anggota wudhu sebanyak tiga kali. Lebih dari itu, hukumnya makruh, bahkan
bisa haram, karena dinilai berlebih-lebihan. Dengan cara demikian, tidak
akan terjadi eksploitasi air.



Selebihnya, kita juga harus menghormati proses-proses yang berkenaan dengan
penyediaan air, sebagai langkah ikhtiar penjagaan air, seperti melestarikan
daerah tangkapan air dan menjaga hutan. Sebab, eksploitasi air dan
pengalihan penggunaan daerah tangkapan air yang tidak terkontrol membuat
keseimbangan ekologis terganggu, akhirnya mengurangi ketersediaan air. Oleh
sebab itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menjaga kelestarian
hutan. Sebab, hutan adalah penampung air hujan. Ketika hutan sudah gundul,
maka mata air jadi mati saat kemarau. Belum lagi ketika hujan, air akan
mengerus tanah, dan akibatnya terjadilah tanah longsor dan banjir. Jadi,
hutan, air dan semua hal yang ada di jagat raya ini, harus dijaga
kelestariannya, karena semuanya memiliki pertalian bagi sumber kehidupan.



Dari usaha yang kita lakukan, kita berharap Allah Subhanahu wata‘âla akan
mengembalikan lingkungan kita menjadi sejahtera dan nyaman. Syukur kita
kepada Allah atas karunia air, sebaiknya kita wujudkan dengan senantiasa
mempertahankan sumber-sumber mata air yang ada di sekitar kita, melalui
usaha melestarikan hutan atau penghijauan. Semoga amal kita diterima Allah
Subhanahu wata‘âla. Amin.



Santri Pondok Pesantren Sidogiri – Pasuruan



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke