Tekad Baru: Hidup yang Polos-polos Saja****

Senin, 4 Juni 2012, 07:15 WIB****

Menneg BUMN Dahlan Iskan ****

 ****

Saya tidak menyangka persoalan seperti utang negara, impor garam, dan
sulitnya swasembada gula sudah menjadi bisik-bisik tetangga di desa.
Padahal desa ini berada di lereng Gunung Ciremai nun di Kabupaten Kuningan,
Jabar. Saya beruntung Jumat malam lalu bisa bermalam di desa Bunigeulis dan
berdialog dengan ratusan penduduk setempat.****

 ****

Mengapa penduduk desa sampai gelisah dan pusing memikirkan utang negara?
Bahkan impor garam? Ternyata ada virus yang menjalar cepat: virus informasi
setengah matang. Mereka hanya tahu sepotong tentang utang negara: jumlahnya
yang meningkat.****

 ****

Saya minta seorang peserta dialog untuk berdiri. Saya ajukan pertanyaan
padanya, baik mana Anda punya utang Rp8 juta tapi kekayaan Anda Rp10 juta,
dengan punya utang Rp20 juta tapi kekayaan Anda Rp100 juta. Benar bahwa
utang itu meningkat. Tapi juga benar kekayaannya meningkat drastis. Inilah
yang tidak pernah sampai ke masyarakat. Mungkin memang tidak sampai,
mungkin juga sengaja disembunyikan.****

 ****

Peserta dialog yang saya minta berdiri itu rupanya seorang humoris. Dengan
nada bergurau dia menjawab, lebih baik kekayaannya meningkat tapi tidak
punya utang! Ini mah mirip khotbah Jumat yang pernah saya dengar: semua
orang itu inginnya serba enak. Waktu kecil dimanja, waktu remaja foya-foya,
waktu muda kaya raya, waktu tua sehat bahagia, waktu meninggal masuk sorga!*
***

 ****

Dari dialog di desa malam itu saya melihat penularan hope kalah cepat
dengan penularan pesimisme. Begitu cepat virus pesimisme, sinis,
keluh-kesah, dan sebangsanya menjalar ke mana-mana. Ini tentu bahaya
mengingat hope adalah salah satu faktor utama untuk kemajuan bangsa.****

 ****

Di sini hope menghadapi persoalan yang sangat berat. Menularkan pesimisme
cukup hanya dengan kata-kata. Modalnya pun hanya gombal. Sedang membangun
hope harus dengan kerja nyata plus hasil yang bisa dirasa. Setiap kesulitan
harus diberikan jalan keluar. Setiap kebuntuan harus ada terobosan.
Masyarakat yang ada dalam “kuldesak” yang terlalu lama hanya akan membuat
virus anti kemajuan merajalela.****

 ****

Serbuan virus hopeless dari kota inilah yang kini harus dilawan di
desa-desa dengan bukti nyata. Karena itu Bulog, Sang Hyang Sri, Pertani,
Pupuk Indonesia, PT Garam, pabrik-pabrik gula, Perhutani, dan banyak BUMN
lainnya, tahun ini harus bekerja all-out di lapangan.****

 ****

Bulog, dengan pasukan semutnya, ternyata bisa. Dalam lima bulan ini saja
Bulog sudah berhasil menghimpun beras 2 juta ton! Prestasi yang sangat
membanggakan. Kerja lima bulan ini sudah sama dengan hasil pengadaan beras
selama dua tahun (2010/2011). ****

 ****

Memang melelahkan, tapi itulah harga yang harus dibayar untuk memulihkan
kepercayaan masyarakat. Memang harus muter terus--saya lihat sampai-sampai
Dirut Bulog Sutarto Alimoeso kini ganti sepatu kets--tapi dengan hasil yang
begitu nyata akan menambah kepercayaan diri kita.****

 ****

Memulai kerja keras memang sangat berat. Tapi kalau sudah terbiasa bekerja
keras, semua pekerjaan akan menjadi mudah.****

 ****

Dalam dua minggu ini saya juga sudah keliling 14 pabrik gula di tiga
propinsi. Sudah pula tampak perubahan: bukan saja pocong-pocong sudah
bermetamorfosis menjadi ‘Ayu-ayu Azhari’, tapi gigitannya pun sudah
berotot. Semua pabrik gula sudah mampu meningkatkan rendemen awal. Semua
pabrik gula juga sudah berani memberi jaminan rendemen minimal kepada
petani. ****

 ****

Hebatnya lagi semua pabrik gula juga sudah berani memberikan uang jaminan
kepada petani tebu. Selama ini petani tebu terjerat oleh pedagang gula. Ini
bukan salah si pedagang, tapi karena pabrik gula sendiri yang tidak
berdaya: baru bisa membayar sebulan setelah petani menyerahkan tebunya.****

 ****

Sebaliknya pabrik-pabrik gula kini juga sudah berani menerapkan prinsip BSM
kepada petani tebu: bersih, segar, manis. Tebu yang dikirim ke pabrik
haruslah tebu yang bersih. Bukan tercampur dengan pucuk-pucuknya,
tanah-tanahnya, dan anakan-anakannya. Tebu itu juga tebu yang segar, yang
fresh from the field. ****

 ****

Dan yang paling penting, tebu yang dikirim ke pabrik adalah tebu yang sudah
cukup manisnya. Jangan menebang tebu sebelum dipastikan (diperiksa dengan
alat pengukur) bahwa tebu tersebut sudah matang kadar gulanya.****

 ****

Saya melihat semangat yang tinggi di semua manajer dan karyawan pabrik gula
yang sudah saya kunjungi. Juga semangat untuk “polos-polos saja”. Semula
dahi saya mengkerut ketika mendengar istilah “polos-polos saja” itu. Saya
tidak mengerti apa maksudnya. Ternyata itulah tekad baru untuk tidak
mempermainkan angka. Angka rendemen, angka timbangan, angka pupuk, angka
tanam, angka angkutan, dan angka-angka yang menggoda lainnya.****

 ****

Saya paham, membiasakan diri untuk “polos-polos saja” juga sangat berat
awalnya. Tapi kalau sudah terbiasa, hidup ini akan dimudahkan jalannya.****

 ****

Sang Hyang Sri, Pertani, dan Pupuk Indonesia (Pupuk Sriwijaya, Petrokimia
Gresik, Pupuk Kaltim, dan Pupuk Kujang), juga bisa menjadi motor besar
untuk menggerakkan hope di seantero desa: mendekatkan benih unggul, pupuk,
dan pembasmi hama ke desa-desa. Puluhan ribu kios harus di bangun. Di
mana-mana. ****

 ****

Jangan sampai petani kesulitan cari pupuk yang akhirnya mendapat pupuk
palsu. Sulit cari benih unggul yang akhirnya menanam padi seadanya. Program
mendekatkan benih-pupuk ke desa-desa memang akan memakan waktu tapi harus
istiqamah jalannya.****

 ****

Garam pun sebenarnya juga penuh dengan hope. Terutama untuk garam yang
dimakan manusia. (Sebagian besar garam diperlukan oleh pabrik kertas!).
Sebetulnya, kalau hanya untuk manusia Indonesia keperluan garamnya tidak
banyak: 1,4 juta ton per tahun. Kita lebih menyukai yang manis-manis
daripada yang asin-asin.****

 ****

Saya berterima kasih bahwa Menteri Perindustrian, Bapak MS Hidayat,
menemukan cara baru: membranisasi ladang garam. Begitu pentingnya program
membranisasi ini sehingga saya usul ke Pak Hidayat penyertaan modal negara
(PMN) untuk berbagai industri dikurangi saja. Lebih baik dikonsentrasikan
untuk menolong jutaan petani garam di seluruh Indonesia. Triliun rupiah PMN
untuk Merpati, misalnya, hasilnya begitu-begitu saja. Merpati harus
dicarikan jalan sendiri. Jalan korporasi. Bukan jalan subsidi.****

 ****

Kalau dari sekitar 20.000 hektar ladang garam di seluruh Indonesia bisa
diberikan membran 10 persennya saja, hasilnya bisa mencapai 1,7 juta
ton/tahun. Sudah melebihi keperluan garam untuk manusia Indonesia.****

 ****

Tapi membeli membran untuk 2.000 ha ladang garam memang memerlukan biaya
besar. Tiap hektar memakan dana Rp20 juta. Tapi angka itu tidak ada artinya
dibanding dengan PMN untuk bidang lain. Padahal angka itu begitu besar
artinya bagi petani garam. Belum lagi bagi harga diri bangsa yang selalu
dihina dengan kalimat: garam pun harus impor!****

 ****

Sambil menunggu PMN saya akan minta bank-bank BUMN untuk menghitung.
Mungkinkah skema kredit dilakukan untuk membranisasi itu. Menurut hitungan
Dirut PT Garam, payback membran ini hanya dua tahun. Berarti petani garam
bisa mengembalikan kredit itu dalam dua tahun. Apalagi kalau diizinkan
menggunakan dana KPBL BUMN untuk membayarkan bunganya. Agar petani garam
tidak dibebani bunga.****

 ****

Membran adalah sejenis plastik yang dihamparkan di tambak garam. Dengan
dihampari membran, keuntungannya dobel: proses pembuatan garamnya lebih
cepat (air lautnya lebih panas sehingga lebih cepat menguap), dan semua
garamnya menjadi garam kelas satu.****

 ****

Tanpa membran, lapisan garam yang paling bawah pasti tercampur tanah dan
lumpur. Ini membuat sekian persen garam menjadi garam kelas tiga. Sulit
dijual. Murah pula harganya. Di Madura saja kini ada 350.000 ton garam
jenis ini. Menumpuk. Tidak ada yang beli. Isunya pun negatif: BUMN tidak
mau beli garam rakyat.****

 ****

Membran adalah hope baru bagi petani garam. Ini juga belum banyak
diketahui. ****

 ****

Selesai salat Jumat di sebuah masjid di pinggir jalan di Cirebon minggu
lalu, ketika mulai mengenakan sepatu DI-19, saya didatangi camat dan kuwu
setempat. Sambil melirik DI-19, Pak Camat mengemukakan bahwa di depan
masjid itu ada aset BUMN yang sudah puluhan tahun menganggur. Itulah
bangunan milik PT Garam yang sudah lama ditinggalkan.****

 ****

Padahal ada sekitar 1.000 petani garam di kawasan dekat masjid itu sampai
ke Indramayu. PT Garam sebagai BUMN tidak pernah melakukan pembelian garam
rakyat. Kepada Pak Camat saya berjanji untuk menelusurinya. Saya juga
bertanya: apakah sudah ada petani garam yang menggunakan membran. Ternyata
belum. Bahkan kata membran pun baru sekali itu dia dengar.****

 ****

Sambil mengemudikan mobil ke pabrik gula Jatitujuh, saya hubungi Dirut PT
Garam. Benar. Tidak ada pembelian itu. Bahkan sudah sejak 1992. Tapi PT
Garam yang baru mulai tahun ini bisa bernafas, sudah bisa memberikan hope.
Tahun ini PT Garam bisa membeli garam rakyat di Cirebon-Indramayu sebanyak
15.000 ton. Indikasi harganya pun sudah bisa disebut: antara Rp700 sampai
Rp720 per kilogram, tergantung kualitasnyana. Ini sudah lebih baik dari
harga tahun lalu yang Rp620 per kilogram.****

 ****

Untuk garam, kawasan Cirebon-Indramayu memang tidak sebagus Madura. Di
Indramayu petani hanya bisa membuat garam sekitar empat bulan dalam
setahun. Bulan ini saat Madura sudah bisa menghasilkan garam, Indramayu
masih hujan. Tentu di atas langit masih ada langit. Sebagus-bagus Madura,
masih lebih bagus lagi Kupang, NTT. Di sana garam bisa dibuat selama
sembilan bulan dalam setahun! ****

 ****

Hanya saja belum ada ladang garamnya. PT Garam baru akan ke sana setelah
nafasnya genap. Mungkin tahun depan.****

 ****

Hope memang tidak membuat perut terasa kenyang. Tapi hope lah yang bisa
membuat hidup terasa lebih hidup!****

 ****

*Menneg BUMN Dahlan Iskan****

 ****

Sumber:****

http://analisis.vivanews.com/news/read/320420-tekad-baru--hidup-yang-polos-polos-saja

Kirim email ke