“Tentu, jika kasus korupsi yang melibatkan sejumlah kader atau elite PKS, dan 
ini terbukti adanya dana hasil korupsi itu masuk ke dalam partai, maka sangat 
berkemungkinan MK (Mahkamah Konstitusi) dapat membubarkan PKS, sesuai dengan 
peraturan perundang-undangan”


DEMOKRAT sudah ketahuan KORUPSI => DIBUBARIN GAK??
GOLKAR biangnya KORUPSI => DIBUBARIN GAK??

sumbernya dari VOA => Voice of AMERICA....CABEEEEEEE DEECH.....



From: Ananto 
Sent: Tuesday, February 19, 2013 3:38 PM
To: undisclosed-recipients:
Subject: [keluarga-islam] Apa Bedanya Ridwan Hakim Hilmi Aminuddin Dengan Tomy 
Soeharto?

  

Apa Bedanya Ridwan Hakim Hilmi Aminuddin Dengan Tomy Soeharto?



Ridwan Hakim masih sangat belia. Belia sekali. Tetapi, semua pejabat di 
Departemen Pertanian (Deptan) tahu, sosok laki-laki belia ini. Betapapun, 
tentang Ridwan Hakim ini, sebelumnya tak banyak yang tahu, sosok laki-laki 
belia ini.



Mungkin pengaruh Ridwah Hakim ini, sangat besar, dibandingkan Menteri Pertanian 
Suswono, karena Ridwan Hakim, tak lain, anak dari Ketua Majelis Syuro PKS, 
Hilmi Aminuddin, orang yang paling berkuasa dan sangat menentukan di partai 
yang berlamband dua bulan sabit dan padi itu.



Ridwan Hakim, anak keempat Hilmi Aminuddin ini, juga mempunyai hubungan yang 
luas, dan umumnya para pengusaha keturunan Cina, dan tentu yang mempunyai 
kaitan dengan Departemen Pertanian. Bukan hanya pengusaha importir daging, 
tetapi berbagai kalangan pengusaha yang mempunyai kepentingan dengan Departemen 
Pertanian.



Sungguh sangat luar biasa, Ridwan, yang hanya berbekal sebagai anak keturunan 
Ketua Majelis Syuro PKS, Hilmi Aminuddin telah mempunyai peranan yang besar di 
Departemen yang dipimpin kader PKS, Suswono itu.



Hanya sayang seribu sayang, anak kesayangan Ketua Majelis Syuro PKS, Hilmi 
Aminuddin ini, ketika meledak huru-hara "daging sapi", di mana Presiden Partai 
PKS, Lutfhi Hasan Ishak, tertangkap tangan oleh KPK, dan kemudian di tahan di 
RTM Guntur, sekarang menurut berbagai informasi di media, Ridwan Hakim telah 
meninggalkan Indonesia dan lari ke Turki, sehari sebelum KPK mengeluarkan surat 
perintahan pencegahan.



Ridwan Hakim yang konon pernah belajar di London itu, entah belajar tentang 
apa, sekarang menghilang, dan menjadi penuh dengan tanda tanya. Mengapa harus 
menghilang? Adakah ini inisiatif dia sendiri, atau memang ada upaya-upaya agar 
Ridwan pergi, dan tidak disidik oleh KPK, karena dikawatirkan akan membongkar 
segala kebobrokan yang selama ini terjadi di Departemen Pertanian, terkait 
bukan hanya dengan impor daging, tetapi berbagai masalah lainnya, yang menjadi 
ladang "bisnis", sejumlah elite PKS.

Nampaknya, Ridwan Hakim yang menjadi anak "kesayangan" Ketua Majels Syuro Hilmi 
Aminuddin itu, memahami betul kedudukannya dan kedudukan ayahnya, kemudian ikut 
bermain di Departemen Pertanian, yang sangat sarat dengan berbagai sengkarut, 
yang luar biasa.



Sekarang ini, Departemen Pertanian menjadi perhatian seluruh publik di 
Indonesia. Di mana harga daging di Indonesia merupakan harga daging mahal di 
seluruh dunia, karena terbebani rente para pemain importir dengan kepentingan 
elite partai dan pejabat di departemen itu.



Peristiwa yang sekarang ini terjadi di Departemen Pertanian ini, mirip ketika 
anak Soeharto, Tomy mengangkangi bisni cengkeh melalui BPPC, dan di tangan 
Tomylah cengkeh menjadi hancur, dan menyebabkan para petani menjadi sangat 
menderita. Tetapi, Soeharto sangat sayang terhadap Tomy, dan membiarkan 
sengkarut terhadap cengkeh, dan membiarkan para petani menjadi menderita.



Ridwan dan Tomy memiliki sifat yang sama, suka dan sangat menikmati kenikmatan 
dunia, foya-foya, dan mengandalkan kekuasaan orang tuanya. Segala yang 
dirasakan dapat beres dengan kekuasaan yang dimiliki oleh orangtuanya.



Sehingga, Tomy dapat malang melintang, tanpa ada yang berani mengungkitnya. 
Sama halnya, Ridwan Hakim, orangtuanya mempunyai kekuasaan di PKS, dan Suswono 
kader PKS, yang menjadi anak buah Hilmi Aminuddin, maka Ridwan yakin Suswono 
tidak akan berani terhadap dirinya.



Tetapi, Ridwan yang mula-mula merasa berkuasa bisa mengatur segalanya di 
Departemen Pertanian, dan kini melarikan diri ke luar negeri, saat KPK 
mengeluarkan pencegahan. Mestinya, Ridwan Hakim anak Ketua Majelis Syuro Hilmi 
Aminuddin, harus berani bertanggungjawab atas segala yang sudah dilakukannya. 
Tidak meninggalkan Indonesia.



Sebagai anak pemimpin Partai Dakwah seperti PKS, seharusnya Ridwan memberikan 
tauladan yang baik, dan tidak meninggalkan Indonesia, serta ketika merasa 
bersalah harus berani mempertanggungjawabkan segala tindakannya didepan hukum, 
bukan pergi meninggalkan Indonesia.



Dalam hal ini, termasuk Ketua Majelis Syuro PKS, Hilmi Aminuddin, harus 
bertanggung jawab, dan memberikan tauladan, sekiranya Hilmi dapat menghadirkan 
kembali Ridwan Hakim, agar saat ini dibutuhkan oleh KPK, sebagai bagian dari 
proses penyidikan telah berada di Indoneisia.



Sementara itu, sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengajukan 
pencegahan terhadap sejumlah saksi kasus suap kuota impor daging sapi. Kali 
ini, KPK meminta Ditjen Imigrasi mencegah empat orang saksi, termasuk Ridwan 
Hakim, anak Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera Hilmi Aminuddin.

Surat permohonan yang diajukan KPK ke Ditjen Imigrasi itu bernomor KEP 
107/01-23/02/2013 tanggal 8 Februari 2013. Selain Ridwan, KPK juga mengajukan 
pencegahan terhadap Ahmad Zaky, Rudi Susanto, dan Jerry Roger.


Namun, KPK kalah cepat. Di antara para saksi yang dicegah tersebut, Ridwan 
Hakim telah pergi ke luar negeri. Ridwan sudah terbang ke Turki pada Kamis 7 
Februari 2013, sehari sebelum surat permohonan cegah dilayangkan KPK ke Ditjen 
Imigrasi.


"Dia terbang dengan pesawat Turkish Air TK67 pukul 18.49 WIB melalui bandara 
internasional Soekarno Hatta," kata Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny 
Indrayana, Jumat 15 Februari 2013.


Namun, Denny memastikan tiga saksi lainnya masih berada di tanah air. 
"Berdasarkan laporan yang masuk, baru Ridwan Hakim yang ke luar negeri. Belum 
ada laporan lain. Jadi kami menganggap mereka (saksi lainnya) masih di dalam 
negeri," kata Denny.


Denny tidak mau berspekulasi soal kemungkinan bocornya surat pencegahan KPK ke 
telinga Ridwan. "Saya tidak ingin menduga-duga. Saya hanya menyampaikan fakta. 
Surat cegah KPK yang kami terima tanggal 8 Februari atas nama Ahmad Zaki, Rudi 
Susanto, Ridwan Hakim, dan Jerry Roger," ujar Denny.


Bukan kali ini saja permohonan cegah yang diajukan KPK kalah cepat dengan 
targetnya. Sebelumnya, KPK harus susah payah mengejar Muhammad Nazaruddin 
hingga ke luar negeri karena kasus serupa. 


Nazaruddin yang saat itu menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Demokrat kabur 
ke Singapura sebelum surat permohonan cegah dilayangkan KPK. KPK baru mengirim 
surat permohonan pada 24 Mei 2011. Sedangkan Nazaruddin terbang ke Singapura 
pada 23 Mei 2011 malam.


Diburu

Hingga Jumat sore, belum ada keterangan resmi dari KPK terkait hal ini. Namun, 
Denny memastikan pemerintah Indonesia akan berkoordinasi dengan semua pihak, 
termasuk jaringan internasional atau Interpol, untuk melacak keberadaan Ridwan 
Hakim. "Langkah-langkah untuk mendeteksi yang bersangkutan tidak bisa kami 
ungkapkan rinci ke publik. Nanti akan susah (dikejar). Harap dimaklumi," kata 
Denny.


Dia optimis Ridwan bisa dibawa pulang. "Ada macam-macam mekanisme imigrasi 
(untuk memulangkan Ridwan). Kita kan punya pengalaman memulangkan Nazaruddin 
dan Gayus," katanya. Denny pun yakin KPK tidak tinggal diam karena mereka sudah 
punya jaringan kerja sama internasional.


Sejauh ini, belum diketahui kaitan Ridwan dengan kasus suap-menyuap kuota impor 
daging sapi yang meneyeret bekas Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq ini. KPK 
belum menjelaskan secara resminya.



Sementara itu, pengacara Luthfi Hasan Ishaaq, M Assegaf, mengatakan kliennya 
belum pernah menceritakan nama Ridwan dalam sesi konsultasi hukum. Selama ini, 
yang dibicarakan Luthfi hanya sebatas pertemuan dengan Mentan, Suswono, Dirut 
PT Indoguna, Elizabeth, Dirut PT Radina Bio Adicita Elda Deviana dan Ahmad 
Fathanah.


"Sebatas itu saja. Ini muncul nama baru anaknya Pak Hilmi ini baru ramai hari 
ini. Peranannya apa, menarik untuk kita klarifikasi dengan Luthfi," kata 
Assegaf. "Secuil pun tentang anaknya Hilmi Aminudin, saya sama sekali kita 
tidak punya pengetahuan tentang itu", ungkap Assegaf. 


Assegaf juga mengaku tidak tahu menahu tentang keberadaan Ridwan saat ini. Oleh 
sebab itu, Assegaf akan menanyakan peranan Ridwan pada Luthfi. "Justru ini 
membuat kami terdorong ingin tahu. Nanti saya tanya Luthfi apa perannya," kata 
dia.



Tentu, jika kasus korupsi yang melibatkan sejumlah kader atau elite PKS, dan 
ini terbukti adanya dana hasil korupsi itu masuk ke dalam partai, maka sangat 
berkemungkinan MK (Mahkamah Konstitusi) dapat membubarkan PKS, sesuai dengan 
peraturan perundang-undangan.



Tidak ada lagi di negeri ini yang dapat selamat dari kejaran KPK, yang sekarang 
telah berusaha membersihkan karat-karat korupsi yang sudah sangat melekat di 
tubuh bangsa Indonesia. Wallahu'alam. []



Sumber:

http://www.voa-islam.com/news/opini/2013/02/17/23309/apa-bedanya-ridwan-hakim-hilmi-aminuddin-dengan-tomy-soeharto/




-- 

http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke