selamat menyimak...****

 ****

salam,****

ananto****



 ****

---------- Forwarded message ----------
From: <[email protected]>
Date: 2013/8/27
Subject: OPINI: Tanpa Kemandirian



Politik Ekonomi Tanpa Militansi

Bambang Soesatyo
Anggota DPR RI/
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia

FUNDAMENTAL ekonomi Indonesia itu lemah. Pertumbuhan ekonomi memang tinggi,
tetapi dia tidak independen alias minus kemandirian. Akibatnya, sendi-sendi
ekonomi negara mudah terguncang oleh perubahan eksternal berskala kecil
sekali pun. Begitulah jadinya jika politik ekonomi dipraktikan tanpa
militansi membangun kemandirian

Menjelang pekan terakhir Agustus 2013, grafik perekonomian nasional sungguh
menggelisahkan. Perkembangan harga di dalam negeri semakin ekstrim alias
terus menjauh dari jangjauan daya beli rakyat kebanyakan. Hari-hari ini,
bukan hanya harga kebutuhan pokok yang mahal, bahkan harga valuta dolar AS
terus bertambah mahal. Konsekuensinya,harga bahan pangan yang diimpor akan
bertambah mahal pula. Semua kecenderungan ini menggambarkan rapuhnya
fundamental ekonomi negara.

Indikator kerapuhan itu sudah terbaca ketika pemerintah bersikukuh
menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menjelang akhir Juni
2013. Kendati  jutaan keluarga sedang bergelut mengatasi beban puncak
berkait dengan kebutuhan biaya pendidikan anak dan persiapan menyongsong
bulan Ramadhan plus perayaan Indul Fitri, pemerintah sama sekali tak mau
berkompromi. Sikap yang demikian mengindikasikan bahwa pemerintah sedang
mengalami kesulitan likuiditas. Begitu keringnya likuiditas sehingga untuk
menetralisir harga daging di pasar dalam negeri pun pemerintah tak mampu.

Gambaran kerapuhan itu menjadi semakin nyata ketika nilai tukar dolar AS
terhadap rupiah terus menguat disertai dengan ambruknya indeks harga saham
gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penyebab depresiasi rupiah
dan turunnya harga saham di BEI adalah keluarnya dana-dana asing dari
Indonesia. Dana-dana itu keluar sebagai respons atas kebijakan otoritas
moneter Amerika Serikat (AS) menghentikan program stimulus ekonomi,
pertanda ekonomi AS telah terkonsolidasi.

Maka, kritik Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien
Rais tentang kondisi riel perekonomian nasional dewasa ini sudah merangkum
aspirasi berbagai elemen bangsa yang telah seringkali disuarakan. Ketika
berpidato pada acara ulang tahun PAN ke-15 di Jakarta, baru-baru ini, Amien
Rais berujar,” Kita ini, maaf saya katakan, jadi bangsa jongos di rumah
sendiri. Tidak ada kemandirian, kurang berkeadilan, ekonomi kita
hancur-hancuran. Semua itu bukan karena konstitusi, tapi people behind
constitution."

Bahkan kecaman Amien itu ibarat menyambung lidah jutaan ibu rumah tangga
yang sangat kecewa dengan ketidakberdayaan pemerintah mengendalikan aneka
harga kebutuhan pokok selama bulan Ramadhan hingga hari-hari menjelang
perayaan idul Fitri tahun ini. Sepanjang Juni, Juli hingga awal Agustus
2013, harga aneka kebutuhan pokok menjadi sangat mahal karena sebagian
besar harus diimpor. Dari daging sapi hingga sejumlah jenis komoditi sayur
mayur.

Karena Indonesia negeri agraris, ketergantungan yang begitu tinggi terhadap
bahan pangan impor menjadi penjelasan yang sangat gamblang tentang rapuhnya
fundamental perekonomian negara. Kalau sektor pertanian, perkebunan dan
juga sektor peternakan dibangun berlandaskan semangat mewujudkan
kemandirian, langkah impor tidak diperlukan. Sebaliknya, Indonesia
seharusnya bisa swasembada dan menjadi leader dalam ekpor komoditi pangan.

Kalau saja agenda atau program revitalisasi sektor pertanian yang pernah
dijanjikan dulu sudah direalisasikan, benih-benih kemandirian bangsa pasti
sudah terbangun. Setidaknya, Indonesia tak perlu lagi impor cabai, tomat
dan bawang. Sayang, janji revitalisasi sektor pertanian hanya pepesan
kosong. Sebab, ketergantungan pada bahan pangan impor justru bertambah kuat.

Kalau sudah seperti itu kecenderungannya, jangan heran jika neraca
perdagangan juga ikut rapuh alias gampang defisit. Kini, upaya
menyeimbangkan neraca perdagangan tidak hanya dirongrong oleh besarnya
kebutuhan devisa untuk belanja atau impor BBM, tetapi juga impor bahan
pangan. Artinya, demi stabilitas, ketersediaan dua kelompok komoditas
strategis ini harus selalu terjaga. Jadi, jelas bahwa taruhannya sangat
mahal; antara menjaga stabilitas nasional dan ketidakseimbangan neraca
perdagangan. Bisa dipastikan bahwa sangat sulit bagi pemerintah menjaga
keseimbangan neraca perdagangan, karena tidak ada potensi apa pun yang
dapat menurunkan impor BBM dan komoditi kebutuhan pokok.

Pekan lalu, pemerintah menerbitkan empat kebijakan ekonomi untuk menangkal
ancaman krisis ekonomi. Paket kebijakan itu merupakan gabungan kebijakan
Kementerian Perekonomian, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan
(OJK).

Kebijakan pertama fokus pada upaya memperbaiki defisit transaksi berjalan
dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ekspor dipacu dan meringankan
pajak bagi industri berorientasi ekspor. Impor migas diturunkan dengan
memperbesar konsumsi biodiesel. Juga menaikkan pajak barang mewah untuk
mobil CBU dan barang impor bermerek dari 75% menjadi 125% hingga 150%.

Kebijakan kedua  fokus menjaga pertumbuhan ekonomi. Defisit APBN-2013 tetap
sebesar 2,38%, dan memberikan insentif kepada industri padat
karya. Sedangkan
kebijakan ketiga berupaya menjaga daya beli. pemerintah dan BI menangkal
gejolak harga dan inflasi.

Sementara kebijakan keempat  fokus pada upaya mempercepat investasi.
Pemerintah akan mengefektifkan sistem layanan terpadu satu pintu perizinan
investasi. Saat ini sudah dirumuskan pemangkasan perizinan hulu migas dari
69 izin menjadi 8 izin. Pemerintah juga akan mempercepat revisi peraturan
daftar negatif investasi (DNI).

Namanya juga kebijakan, pastilah ideal. Namun, apakah empat kebijakan itu
relevan untuk merespon depresiasi rupiah dan kejatuhan harga saham? Patut
diragukan. Buktinya, pasar tetap saja bereaksi negatif. Ada dua tafsir yang
bisa dimunculkan dari reaksi pasar seperti itu.

Pertama, pasar tidak yakin pemerintah kapabel menangkal ancaman krisis.
Kedua, empat kebijakan itu memang tidak relevan dengan potensi ancaman
terkini. Sebab, esensinya lebih mengarah pada upaya mempromosikan investasi
dan membangun hambatan tarif untuk memperkecil volume impor barang mewah.

Padahal, persoalan paling utama yang sedang dihadapi perekonomian negara
saat ini adalah nilai tukar atau depresiasi rupiah, khususnya terhadap
dolar AS. Ekses dari menguatnya nilai tukar dolar AS sangat jelas;
merongrong neraca perdagangan dan dampak atau pengaruhnya terhadap harga di
pasar dalam negeri, karena BBM dan sebagian komoditi pangan diimpor.
Sepanjang tahun 2012 nilai impor pangan Indonesia mencapai Rp125 triliun.
Lonjakan relatif tinggi, karena tahun 2011 masih di kisaran  Rp 90 triliun.
Komoditi pangan yang diimpor meliputi beras, jagung, kedelai, biji gandum,
tepung terigu, gula pasir, daging sapi dan daging ayam, garam, singkong dan
kentang.  Tahun ini, nilai impor bahan pangan pasti melonjak lagi karena
krisis daging sapi yang berkepanjangan.

Jadi, sudah jelas bahwa Indonesia bisa dibayangi krisis ekonomi karena
faktor eksternal. Fakta ini membuktikan daya tahan ekonomi negara sangat
lemah. Maka, harus ditumbuhkan militansi untuk membangun dan memperkuat
fundamental ekonomi negara. Sebagai negara agraris, Indonesia mestinya
mampu memenuhi kebutuhan bahan pangan sendiri. Dengan sumber minyak yang
cukup memadai, kebutuhan akan BBM mestinya tidak seluruhnya diimpor. Cukup
dengan kemauan politik, kemandirian bangsa bisa diwujudkan. []****


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss...! ****



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke