Kiai Ali Maksum dan Dinamisasi Teks-teks Klasik


[image: http://www.nu.or.id/onefiles/nu_or_id/dinamic/mid/1369798903.jpg]



Ketika bersantai bersama teman-teman guru dalam suatu obrolan seputar peran
ulama, salah seorang dari mereka menyodorkan buku berjudul “Seratus Tokoh
Islam Indonesia yang Paling Berpengaruh”. Penulisnya menempatkan KH Hasyim
Asy’ari para posisi pertama, disusul kemudian berturut-turut tokoh pendiri
Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan proklamator kemerdekaan Ir Soekarno. Yang
menarik ketika membuka daftar isi buku itu adalah tercantumnya nama Kiai
Haji Ali Maksum pengasuh pondok pesantren Krapyak Jogjakarta.



Beliau adalah menantu KH Muhammad Moenawwir , pendiri pondok tersebut,
seorang ulama Al-Qur’an yang memiliki reputasi hebat, yang mana dari tangan
beliau lahir ulama’-ulama’ sekaliber KH Arwani Amin Kudus, KH Muntaha.



Sebagai salah satu lulusan krapyak tentunya secara pribadi bangga mana kala
pengasuhnya “dianggap” sebagai sosok yang memiliki pengaruh. Tidak
main-main pengaruh itu dalam skala nasional. Namun sesaat kemudian
terlintas pikiran “nakal” yaitu pertanyaan” apakah betul bahwa kiai Ali
Maksum ini benar-benar  termasuk tokoh yang berpengaruh di Indonesia?



Apakah penulis buku ini benar-benar telah melakukan penilitian serius untuk
sampai pada kesimpulan bahwa tokoh Kiai Krapyak ini layak menjadi salah
satu dari seratus orang yang berpengaruh!! Apa parameter yang dipakai
penulis itu dan apa pula bidang yang telah dipengaruhi oleh kiai Ali ini,
sehingga pembaca haqqul yakin bahwa Kiai Ali Maksum ini layak mendapat
tempat sebagai tokoh paling berpengaruh.



KH Ali Maksum adalah generasi kedua selevel dengan KH Wahid Hasyim. Beliau
seorang putra dari ulama utara jawa tepatnya kota lasem Rembang jawa tengah
yaitu KH Maksum. KH Maksum sendiri juga tercatat sebagai pendiri NU bersama
para kiai Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah dan lainnya.



KH Ali beberapa tahun mondok di pesantren termas pacitan setelah sebelumnya
belajar pada ayahnya sendiri. Studi beliau berlanjut ke makkah belajar
dibawa asuhan ayah ataupun kakek sayyid Muahammad Al-Maliki. Menurut
riwayat, Kiai Ali Maksum  belajar dimakkah kurang lebih 2 tahun saja.



Selama menjadi pengasuh di Pesantren Krapyak, Kiai Ali juga dipercaya
mengajar di IAIN Sunan Kalijaga. Beliau pernah dipercaya menjadi team
Lajnah Pentafsir Al-Qur’an. Adapun karir oraganisasi kiai Ali adalah
menjabat Rais Aam NU periode 80an setelah Rais Aam KH Bisri Sansuri Jombang
wafat.  Pengukuhan kepemimpinan Kiai Ali ini ketika generasi pendiri NU
wafat, padahal pada saat itu tokoh-tokoh  NU yang kharismatik( bahkan)
secara usia lebih senior dari beliau masih banyak, misalnya KH As’ad Samsul
Arifin situbondo, dan KH Ali Mahrus Kediri.



Kiai Ali Maksum tidak diragukan tingkat keilmuannya. Beliau termasuk jenis
ulama’ yang berangkat tidak dari bangku sekolah formal layaknya ulama’
sekarang. Justru intelektualitasnya beliau bangun dari pesantren.



Kiai Ali sudah kesohor sebagai calon ulama’ handal ketika belajar di
Pesantren Termas. Saat itu beliau sudah mendapatkan julukan “Munjid”
berjalan, kamus arab karangan non muslim. Beliau juga sedikit berbeda dari
ulama’ kebanyakan. Beliau sangat gandrung terhadap logika dan ilmu mantiq.
Diantara karya penting yang menjadi petunjuk bahwa kedepan beliau merupakan
tokoh penting dan berpengaruh adalah bukunya yang berjudul “Mizanul Uqul fi
Ilmil Mantiq” pertimbangan akal dalam ilmu mantiq. Hal inilah tidak
mengherankan bila mana santrinya diajak membaca sebanyak-banyaknya kitab
apapun dari madzhab apapun, seperti yang pernah dituturkan oleh KH Masdar
Farid. Seorang peneliti Belanda Martin van Bruenesen mengklasifikasikan
Kiai Ali sebagai kiai alim, sedangkan Kiai As’ad sebagai kiai
kanuragan.



Dalam salah satu tulisan Gus Dur yang berjudul “Baik Belum Tentu Manfaat”,
beliau menceritakan satu saat bertanya kepada Kiai Ali Maksum tentang
belajar di pesantren sembari melakukan “puasa ngrowot” , yaitu puasa
meninggalkan makan nasi dan lauk bernyawa semisal ikan, telur, digantikan
sekedar makan ketela dan sejenis umbi-umbi lainnya selama belajar. Gus Dur
menyatakan bahwa makanan itu tentunya jauh dari gizi yang diperlukan bagi
pertumbuhan dan berakibat lemahnya kemampuan santri selama mondok, namun
mengapa dalam salah satu karya imam Al-Ghazali “laku” tersebut justru
direkomendasinya selama proses belajar?



Kiai Ali menjawab bahwa “pendapat (Al-Ghazali) itu baik tapi belum tentu
manfaat”. Di sini oleh Gus Dur, Kiai Ali dianggap mampu melakukan
dinamisasi yang diperlukan terhadap teks-teks klasik. Kiai Ali memahami
kebaikan pendapat tersebut namun belum tentu manfaatnya khususnya untuk
masa sekarang.



Hal yang tak kalah penting yang mendorong pentingnya posisi beliau dalam
pentas nasional adalah momentum estafet kepemimpinan NU pasca wafatnya kiai
Bisri Sansuri. Saat itu NU dalam tarikan yang sangat kuat antara NU politik
dan NU kultural. Munculnya kelompok Cipete dan kelompok Situbondo
menunjukkan indikasi tarik-menarik kepentingan yang sangat kuat saat itu.
Bilamana dulu NU salah memilih pucuk pimpinan pengganti Kiai Bisri mungkin
saja wajah NU tidak seperti sekarang. Nama-nama seperti KH Ahmad Siddiq,
Gus Dur mungkin saja tidak muncul.



Yang menarik, suara-suara pembaharuan dari generasi ketiga NU yang moderat
seperti KH Mustofa Bisri, KH Masdar Farid, Gus Dur adalah santri beliau
sendiri. Begitu pula suara-suara ulama’sepuh saat itu kompak tertuju pada
kiai Ali bahwa beliaulah yang paling cocok mengawal pembaharuan dalam tubuh
NU.



Sekarang NU sudah dikenal oleh semua termasuk masyarakat luar. Penelitian
tentang NU semakin banyak. Pemerintah nyaman menjalankan roda
pemerintahannnya karena dukungan NU terhadap NKRI. Memang semua itu
sumbangsih terbesar adalah Gus dur KH Ahmad Siddiq. Namun beliau berdua
bekerja mengangkat harkat NU karena back up Kiai Ali Maksum.



Muktamar Krapyak 89 menjadi saksi betapa kuatnya dukungan Kiai Ali pada
duet kepemimpinan KH Ahmad Siddiq-Gus Dur dari suara ketidakpuasan sebagian
kiai terhadap sepak terjang Gus Dur selama ini.  Beliau yang mula-mula
meredakan situasi internal NU. Beliau yang memberi ruang gerak bagi
pikiran-pikiran segar bagi kebaikan NU. Pendek kata kiai Ali Maksum
merupakan peletak dasar pikiran moderat NU yang sekarang ini merupakan
mainstream NU secara umum. []



Mohammad Yahya,

Alumnus Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

<<image001.jpg>>

Kirim email ke