http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/06/04/30753/tak-hanya-inteli-masjid-tim-jokowijk-akan-intai-badan-intelijen-negara/#sthash.3kkHcbhD.dpbs

Tak Hanya Inteli Masjid, Tim Jokowi-JK Akan Intai Badan Intelijen Negara
JAKARTA (voa-islam.com) - Tim sukses Jokowi-JK di Jawa Barat mewaspadai 
mobilisasi intelijen menjelang Pilpres 9 Juli.
Kordinator Tim Advokasi Jokowi-JK Jabar, Abdy Yuhana, meminta 
kesungguhan negara untuk tidak mengerahkan Badan Intelijen Negara (BIN) 
terlibat dalam Pilpres 2014.
“Yang kami harapkan adalah pemilu presiden 2014 akan berjalan dengan 
baik tanpa ada manipulasi dan intimidasi melalui cara-cara intelejen,” 
ujar Abdy di kantor DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Selasa (3/6).
Abdy menegaskan, dalam kampanye nantinya para relawan Jokowi-JK di 
Jabar akan bergerak melawan rumor menyesatkan di publik. Disinggung 
tentang pengawasan terhadap BIN, Abdy mengakui sangat sulit karena pola 
kerja BIN yang senyap.
“Kami mengakui memang susah mengawasi, namun kami akan kerahkan jaringan kami 
untuk memantaunya secara senyap pula,” paparnya.
Selain mengingatkan aparatur negara tetap netral, tim advokasi 
Jokowi-JK Jabar juga menuntut penyelenggara pemilu menjadi wasit yang 
adil.
MUI: Pengawasan Kader PDIP Pada Khatib Jum'at Lukai Perasaan Umat Islam

Pekan
 silam, Kamis (29/5) Ketua DPC PDI Perjuangan Jakarta Timur, William 
Yani, menginstruksikan kepada kader dan pendukung Jokowi-JK yang muslim 
agar memantau khutbah Jumat di masjid-masjid.

Instruksi tersebut terungkap lewat info yang diposting pada akun twitter berita 
PDIP @news_pdip, Kamis (29/5) kemarin.

MUI
 ikut bereaksi menanggapi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan 
mengatakan, pengawasan yang dilakukan oleh kader Partai Demokrasi 
Indonesia Perjuangan (PDIP) terhadap khatib di masjid, sangat melukai 
perasaan umat Islam.

"Pengawasan itu sangat melukai umat Islam, sejak kapan mereka menjadi polisi 
agama?" tanya Amidhan di Jakarta, Jumat (30/5).

Jika polisi agama, sambung dia, wajar jika adanya pengawasan terhadap masjid.

"Sama
 seperti zaman penjajahan, bicara politik langsung dilaporkan ke 
polisi." Menurut dia, hal biasa kalau soal bicara politik di masjid, 
yang tidak boleh adalah kampanye mengajak salah satu pasangan capres dan
 cawapres.

"Mengapa pengawasan hanya dilakukan di masjid, sedangkan gereja, pura, vihara 
dan lainnya tidak," kata dia lagi.

Menurut dia tidak adil, jika umat Islam mendapat perlakuan seperti itu.

Lagi pula, khatib yang memberi khutbah di masjid tahu mengenai batasan untuk 
tidak berkampanye.

Anggota
 Tim Sukses Jokowi-JK Eva Kusuma Sundari mengatakan, pihaknya memang 
meminta kepada kader partai yang beragama Islam untuk melakukan aksi 
intelijen terhadap masjid-masjid.
Eva beralasan kampanye hitam terhadap pasangan Jokowi - Jusuf Kalla 
banyak terjadi di masjid-masjid. Kader PDIP juga diminta untuk merekam 
khutbah khatib di masjid.
Pemilu Presiden 9 Juli 2014 diikuti dua pasangan capres dan cawapres, Prabowo 
Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. 
[jabir/rmol/voa-islam.com]
- See more at: 
http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/06/04/30753/tak-hanya-inteli-masjid-tim-jokowijk-akan-intai-badan-intelijen-negara/#sthash.3kkHcbhD.dpuf

Kirim email ke