Lelaki Ta’lim Muta’allim

Oleh: Umi Rahayu Fitriyanah


Matahari sore itu belum sepenuhnya kembali ke peraduan, ketika setiap
santri khusyu mendengarkan penjelasan Pak Kiai tentang kitab Ta’limul
Muta’allim. Kitab yang sudah sangat masyhur di kalangan pesantren dan
mengkaji mengenai tata cara menuntut ilmu. Tidak hanya menuntut ilmu, tapi
menuntut ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.


Dan Fatimah, gadis berjilbab putih dengan paras manis berada di antara
ratusan santri tersebut yang sedang larut dalam kekhusyuan menyimak
penjelasan Pak Kiai mengenai kitab itu.


Rabu itu hari sangat cerah, rutinitas pesantren berjalan dengan normal, dan
seperti biasa Pak Kiai dengan penuh tawadhu memberikan penjelasan mengenai
kitab Ta’lim Muta’allim, sesuai dengan jadwal pengajian kitab kuning setiap
sore. Fatimah hanya menundukkan kepala, berusaha mencerna dengan baik
setiap penjelasan Pak Kiai, mencernanya agar bisa menjadi asupan untuk akal
dan hatinya.


Namun, usahanya menyimak penjelasan Pak Kiai sore itu tampaknya sia-sia,
ada hal yang mengganggu konsentrasi Fatimah saat mengaji sore itu.
Penjelasan Pak Kiai tidak terlalu dihiraukannya, penjelasan panjang itu
hanya berputar-putar di otak Fatimah, terus memaksa masuk ke telinganya,
tapi tidak ke pikirannya.


“Para penuntut ilmu dianjurkan untuk menghormati ilmu, namun tidak hanya
ilmu yang harus dihormati, tapi orang-orang yang mengajarkan ilmu juga agar
mendapat keberkahan ilmu. Sayidina Ali karamallahu wajhah pernah
berkata,”Aku adalah sahaya (budak) orang yang mengajarku walau hanya satu
huruf. Jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap
menjadikan aku sebagai budaknya. Itulah Sayidina Ali yang sangat
menghormati ilmu”, tutur Pak Kiai.


“Bahkan dalam satu bagian dalam kitab ini ada penjelasan bahwa para
penuntut ilmu jangan mengetuk pintu rumah guru, tapi sebaliknya menunggu
sampai keluar, itu merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap guru,
orang yang memberikan kita ilmu”, kembali Pak Kiai memberikan penjelasan
dengan sangat bersahaja setelah mengharokati kitab gundul Ta’lim Muta’allim
dan memberi arti dengan bahasa Jawa. Dan lagi-lagi hanya tertangkap oleh
telinga Fatimah, tidak dengan pikirannya.


Sosok itu, lelaki yang terpaut 2 tahun lebih tua dari usia Fatimah bermain
dalam pikirannya. Pikiran yang entah datang dari mana, tapi penjelasan Pak
Kiai sore itu memang mengingatkannya pada sosok Mas Ahmad, kakak kelasnya
di sekolah dan di pesantren. Pikirannya tanpa diminta mengulang kejadian
pagi itu. Fatimah teringat kejadian saat dia sedang mendapat giliran piket
membersihkan halaman rumah Pak Kiai, ada sosok Mas Ahmad yang sedang
berdiri di depan pintu rumah Pak Kiai, hanya berdiam. Tanpa mengucapkan
sepatah katapun atau mengetuk pintu rumah Pak Kiai.


Setiap orang yang berlalu lalang di halaman depan rumah Pak Kiai pasti
memiliki pertanyaan yang sama mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu, tak
terkecuali Fatimah. Namun, dia tidak membiarkan pikirannya bertanya-tanya
terlalu lama, disapunya sampah dedaunan yang berguguran dan sudah mulai
mengering. Kurang lebih satu jam sudah, Fatimah telah rampung menyapu
halaman dan beberapa kewajiban piket lainnya, dan Mas Ahmad... ah iya,
Fatimah sengaja lewat depan rumah Pak Kiai sewaktu akan kembali ke kamarnya
padahal jalan yang lebih dekat tidak melewati halaman depan rumah Pak Kiai,
dan ternyata Mas Ahmad masih berdiri di sudut itu.


Rasa penasaran pun mau tidak mau kembali menyelimuti pikirannya, hingga
sosok Bu Nyai dalam balutan jilbab bermotif bunga membuka pintu, dan
mempersilahkan Mas Ahmad masuk.


Ya, penjelasan Pak Kiai Rabu itu menjawab teka-teki yang bermain dalam
pikiran Fatimah mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu.


Ternyata Mas Ahmad sedang mengamalkan salah satu ajaran dalam kitab Ta’lim
Muta’allim. Terbersit sebuah senyum manis di wajah ayu Fatimah menyadari
Allah mengizinkannya menjadi saksi satu sosok orang yang mengamalkan kitab
Ta’lim Mutallim. Mengagumkan. Fatimah membatin.


Tidak berhenti sampai situ, teman satu kamar Fatimah, Mba Zahra satu kelas
dengan Mas Ahmad di sekolah. Mba Zahra pernah bercerita bahwa Mas Ahmad
senantiasa menjaga wudhunya. Mas Ahmad selalu kembali berwudhu ketika
merasa wudhunya batal.


Ah, lagi-lagi bagi Fatimah penjelasan Pak Kiai seolah menjadi pengiring
tayangan ingatannya yang bergantian muncul mengenai Mas Ahmad.


“Imam Zarkhasi pernah sakit perut, namun beliau tetap mengulang-ulang
belajarnya, dan berwudhu, sampai tujuh belas kali pada malam itu, karena
beliau tidak mau belajar kecuali dalam keadaan suci. Ilmu itu cahaya dan
wudhu juga cahaya. Sedangkan cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali
dengan berwudhu”, penjelasan Pak Kiai yang lagi-lagi Fatimah temukan dalam
sikap Mas Ahmad. Cocok. Fatimah bersorak dalam hatinya.


Mas Ahmad putra sulung dari seorang Kiai besar di Cirebon, tapi dia tidak
sombong. Sejauh yang Fatimah tahu, Mas Ahmad sangat baik. Tidak pernah
membanggakan keturunan bahwa dirinya memang berasal dari keluarga Kiai yang
notabene sangat dihormati oleh masyarakat. Diantara kebiasaan Mas Ahmad
yang diketahui Fatimah adalah kenyataan bahwa Mas Ahmad sangat rajin, dia
selalu menjadi orang pertama yang datang ketika akan mengaji. Mas Ahmad
menyapu ruangan yang akan digunakan sebagai tempat mengaji para santri,
menggelar karpet usang yang menjadi alas para santri mengaji, merapikan
tempat duduk Pak Kiai, dan lain sebagainya. Alasannya sederhana, Mas Ahmad
sangat menghormati ilmu, dan semua yang berkaitan dengan ilmu.


Mas Ahmad dengan gamblang mengaplikasikan setiap ilmu yang didapatnya dari
kitab Ta’lim Muta’allim, dan hal-hal yang tadi terlintas dalam pikiran
Fatimah mengenai Mas Ahmad yang selalu mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim,
diyakini Fatimah baru sebagaian kecilnya saja yang Ia tahu. Batin
Fatimahpun telah resmi menjulukinya sebagai “Lelaki Ta’lim Muta’allim”.


Dan kini... Mas Ahmad sedang melanjutkan mencari ilmu ke Madinah dengan
beasiswa penuh, salah satu prestasi Mas Ahmad selain selalu menjadi juara
kelas, selalu memenangkan banyak perlombaan mengenai agama ataupun ilmu
umum, hafal Al-Qur’an, menjadi ketua pondok pesantren, dan masih banyak
lagi prestasi Mas Ahmad yang selalu mengundang decak kagum siapapun yang
mengetahuinya.


Fatimah percaya itu merupakan salah satu keberkahan yang Allah berikan
kepada Mas Ahmad yang selalu menghormati ilmu dan mengamalkan kitab Ta’lim
Muta’allim. Mas Ahmad... Sang Lelaki Ta’lim Muta’allim. Fatimah tersenyum
lagi, dan kini dia kembali berkonsentrasi menyimak penjelasan Pak Kiai,
pikirannya sudah kembali dari penjelajahan mengenai sosok Lelaki Ta’lim
Muta’allim. []



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke