Ibrahim Bapak Agama-Agama





[image: Ibrahim Bapak Agama-Agama]






Judul Buku        : Ibrahim as. Bapak Semua Agama : Sebuah Rekontruksi
Sejarah Kenabian Ibrahim AS. Sebagaimana tertuang dalam Taurat, Injil dan
Al-Qur’an.


Penyadur          : Iqbal Harahap


Penerbit            : Lentera Hati


Tahun               : Cetakan Pertama, Februari 2014


Volume             : xvi+254 hlm.; 15 x 23 cm


Jenis Cetak       : Soft cover/ Bookpaper


ISBN                 : 978-602-7720-18-3


Harga               : Rp. 77.000


Peresensi          : Luluk Fikri Zuhriyah, *dosen Fakultas Dakwah UIN Sunan
Ampel Surabaya*






Ibrahim a.s. adalah bapak agama-agama langit dan leluhur para nabi dan
rasul. Dalam tradisi Yahudi dan Nasrani dia dikenal dengan sebutan Abraham.
Julukannya sebagai bapak agama-agama berkat penemuan kebenaran hakiki
setelah bertualang dalam pencarian panjang berliku demi mendamba Tuhan
sejati sesembahan makhluk.




Riwayat tentang Ibrahim a.s. dicoba diungkap oleh buku ini melalui sudut
pandang sejarah. Mengambil kesimpulan dan meluruskan kekeliruan dengan
melihat pada al-Qur’an dan hadis, kitab suci lain seperti Taurat dan Injil,
serta berbagai buku sejarah.




Buku yang disadur dari tujuh buah buku berbahasa Arab yang meliputi *Ibrâhîm
Abû al-Anbiyâ’ *karya ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad; *Dirâsât Târîkhiyyahmin
al-Qur’ân al-Kârîm* karya Muhammad Bayumi Mahrani; *Dirâsât fî
Târîkhasy-Syarqî al-Adnâ al-Qadîm *karya Muhammad Bayumi Mahrani; *Mishrwa
al-Syarq al-Adabî al-Qadîm* karya ‘Abdul ‘Aziz Shalih; *Min I’jâz al-Qur’an*
karya Ra’uf Abu Sa’dah; *‘Arâ’is al-Majâlis* karya Abu
Ishakats-Tsa’labi; *Muhammad
Rasulullah wa al-ladzîna Ma’ahu* karya ‘Abdul Hamid Jaudah as-Sahhar.




Buku ini dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, seperti yang disebutkan
dalam pengantarnya: Pra Ibrahim dan Pasca Ibrahim.




Pada bagian pertama, diuraikan sejarah Nuh a.s. dan keturunannya, serta
bagaimana seiring dengan persebarannya terbentuk agama dan kepercayaan yang
bermacam-macam. Bagian kedua membahas silsilah Ibrahim a.s., kelahirannya,
perjalanannya mencari Tuhan, peristiwa pembakarannya hidup-hidup, dakwah
yang dilakukannya sebagai utusan Allah, sampai saat beliau harus
mengorbankan anaknya dan membangun Baitullah.




Tabel sejarah dan gambar silsilah cukup membantu pembaca untuk memahami
kronologis sejarah Ibrahim a.s. Mungkin akan lebih baik jika gambar peta
khususnya dibuat lebih jelas dan menarik.




Ada beberapa hal yang cukup menarik yang perlu diberi highlights dari buku
ini.




*Raja Namrud*




Dalam buku ini terdapat kontradiksi antara pengantar dengan uraian di bab
III mengenai raja Namrud. Sebagaimana kita ketahui, tokoh Namrud dipahami
(sebagian masyarakat) sebagai raja yang memerintahkan para bawahannya agar
menghukum Ibrahim melalui hukum bakar, karena Ibrahim a.s. telah melakukan
penghancuran berhala-berhala atau patung-patung orang-orang Ur, dengan
menyisakan satu berhala besar yaitu patung Dewa Mardukh.






Pemahaman seperti ini juga tampak dalam uraian penulis pengantar buku ini
(xiv). Padahal, penyebutan raja Namrud sebagai subyek utama perintah hukum
bakar sangat minim bukti sejarah yang valid. Menurut Rusydi al-Badrawi,
catatan-catatan sejarah tidak menyebutkan adanya seorang pun raja bernama
Namrud yang pernah memerintah Irak.(73). Tokoh yang berpendapat bahwa
Namrud yang memerintahkan hukum bakar kepada Ibrahim a.s. adalah
ats-Tsa’labi dalam bukunya‘Ara’is al-Majalis. Selain ats-Tsa’labi tidak ada
yang menyebut nama Namrud.




Menurut al-Badrawi dan Abbas Mahmud Aqqad, tokoh yang memerintahkan
dijatuhkannya hukuman bakar hidup-hidup atas diri Ibrahim a.s. adalah
Syawaji (Shoulgi), raja Ur yang sombong dan haus pengagungan. (80). Jadi
tidak ada nama Namrud di sini. Bahkan menurut Al Badrawi, sejarah Irak kuno
tidak meninggalkan catatan apa pun yang menunjukkan pernah berkuasanya
seorang raja bernama Namrud. (48).




*Hajar sebagai Budak*





Ketika Ibrahim a.s. berkunjung ke Mesir bersama Sarah, istrinya, Ibrahim

mendapati raja Mesir yang menginginkan istrinya. Waktu itu di Mesir ada
kebiasaan aneh yaitu sering mengganggu perempuan yang sudah bersuami dan
merampas mereka. Tetapi terhadap perempuan yang belum bersuami, justru
tidak akan mengganggunya. Karena Sarah berada dalam lindungan Allah, maka
upaya sang raja menjamah Sarah selalu mengalami kegagalan. Sampai akhirnya
raja merasa bahwa Sarah bukan perempuan sembarangan. Selanjutnya raja
menghadiahkan seorang budak yang bernama Hajar.




Ketika usia Ibrahim sudah semakin bertambah, sedangkan ia belum memiliki
keturunan, maka Ibrahim terus bermunajat kepada Allah agar menganugerahi
keturunan. Mengetahui bahwa suaminya sangat mendamba keturunan, sedangkan
dirinya juga semakin berumur, Sarah menghadiahkan Hajar untuk dinikahi. Ini
cukup menarik. Sebab, adakalanya muncul kesan merendahkan ketika membaca
riwayat Ibrahim yang mengawini budak istrinya. Padahal, apa yang dilakukan
Sarah merupakan sesuatu yang lazim ketika itu. (133). Dan majikan perempuan
akan memperlakukan anak yang lahir dari budak perempuannya sebagai
anaksendiri.




Pada mulanya Hajar bukanlah budak (148), melainkan seorang tawanan. Ia
adalah istri raja Mesir yang dikalahkan orang-orang Ain Syams. Raja Mesir
menghadiahkan kepada Sarah untuk menutup kemungkinan munculnya perlawanan
dari kaum Hajar. Allah mengangkat kembali kehormatan Hajar dengan
menjadikannya sebagai istri bagi Ibrahim menjadi ibu bagi Ismail, sekaligus
menjadi ibu leluhur seluruh bangsa Arab.




*Kerancuan Taurat*




Buku ini banyak mengkritisi keterangan-keterangan yang terdapat di dalam
Taurat, karena seringkali mengandung kerancuan yang akut.Misalnya,
perjalanan Ibrahim a.s ke Hijaz sama sekali tidak diakui penulis Taurat.

Malahan, Taurat menyebut bahwa Ibrahim mengusir Hajar dan Isma’il. Ia hanya
memberi mereka bekal, lalu menyuruh keduanya pergi. Padahal keterangan ini,
menurut al-Badrawi sangat rancu.




Kerancuan lainnya adalah keteranganTaurat tentang Hajar yang diperintahkan
malaikat untuk mengangkat putranya, Ismail, padahal putranya sudah berusia
16 tahun.




Buku ini juga mengungkap keterangan dusta para penulis Taurat tentang Nabi
Luth a.s., keponakan Ibrahim a.s. Dalam Kitab Kejadian Pasal 19 diterangkan
bahwa dua putri Luth a.s. memberi minuman anggur kepada Nabi Lutha.s. Maka
Nabi Luth a.s. menjadi lupa diri, sehingga Nabi Luth berhubungan badan
dengan kedua putrinya itu. Kemudian kedua putri Nabi Luth itu hamil. “Yang
lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab; dialah
bapak orang Moab yang sekarang. Yang lebih muda pun melahirkan seorang anak
laki-laki, dan menamainya Ben-Ami; dialah bapak bani Amon sekarang.”(184)






Satu hal yang cukup mengganggu dari buku ini adalah tidak diterjemahkannya
nama kerajaan, tempat atau nama kota. Misalnya nama Amuri, Akad, Babil,
Hibrun dan sebagainya. Padahal Amuri bisa diterjemahkan menjadi Amorit,
Akad menjadi Akadia, Babil menjadi Babilon (untuk kerajaannya diberi nama
Babilonia), Hibrun menjadi Hebron dan sebagainya.






Secara umum, buku ini menambah pengetahuan dan memperjelas gambaran tentang
kehidupan Ibrahim as., hijrahnya ke berbagai tempat untuk berdakwah, serta
keistimewaannya hingga beliau menjadi al-Khalil (kesayangan Allah) dan
menjadi salah satu dari lima nabi bergelar Ulul ‘Azmi. []






--
http://harian-oftheday.blogspot.com/


"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke