Pesantren dan Perjuangan untuk Kemerdekaan





[image: Pesantren dan Perjuangan untuk Kemerdekaan]






Judul                : Perlawanan dari Tanah Pengasingan Kiai Abbas,
Pesantren Buntet, dan Bela Negara


Penulis             : H Ahmad Zaini Hasan


Penerbit            : LKiS


Cetakan            : I, 2014


Tebal                : xxii + 174 halaman: 16 x 23,5 cm


ISBN                 : 602-14913-2-7


Peresensi          : Junaidi Khab, *Pecinta Baca Buku dan Tercatat Sebagai
Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan
Ampel, Surabaya*






Dalam perjalanan sejarah nasional yang sudah banyak dinikmati anak-anak
sekolah dan dunia akademisi, pahlawan kemerdekaan dan pengusiran para
penjajah hanya dilakukan oleh segelentir orang. Misalkan Soekarno, Bung
Hatta, Bung Tomo, Achmad Yani, Supratman, dan Jenderal Sudirman. Bahkan
riwayat pengakuan sebagai pahlawan kemerdekaan dalam mengusir penjajah dari
Hindia Belanda ada yang nyaris dilupakan, misalkan Tan Malaka. Padahal Tan
Malaka juga pejuang mengusir penjajah seangkatan dengan Soekarno dan
pahlawan lainnya. Namun, namanya ditenggelamkan dari riwayat perjuangan
para pahlawan nasional.




Begitu pula dengan pejuang yang hakikatnya lebih agresif dalam melawan
penjajahan, yaitu pesantren dan tokoh-tokohnya yang mayoritas terdiri dari
kiai dan rakyat biasa. Mereka seakan-akan mau dilupakan oleh catatan
sejarah perjuangan dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini. Jika kita
cermati secara saksama, peran pesantren dan tokoh-tokoh agama memiliki
peran banyak dalam mengusir penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan
Hindia Belanda. Misalkan KH Hasyim Asy’ari di Jombang. Namun, sejarah sudah
tidak adil dan ditutupi oleh kepentingan elit politik.




Maka dari itu, inisiatif H Ahmad Zaini Hasan untuk membuka mata sejarah
melalui buku ini perlu diacungi jempol. Melalui karyanya ini ia akan
menguak dan menggali lagi sejarah pesantren serta tokoh-tokohnya dan rakyat
jelata yang pernah mengusir penjajah demi kemerdekaan Hindia Belanda yang
terkubur dari gerusan tanah elit politik. Pesantren dan para kiai yang
berjuang melawan penjajahan adalah pahlawan yang jasa-jasa dan
perjuangannya juga perlu dikenang dan diamalkan.




Ada banyak fakta sejarah yang menyatakan bahwa pesantren adalah musuh para
kaum penjajah dan kaum elit negeri menjadi teman-temannya. Maka tak heran
jika perjuangan mengusir kaum kolonial berangkat dari rakyat jelata dan
pesantren dengan basis memberikan pendidikan kepada mereka yang tertindas.
Misalkan pesantren Buntet di Cirebon melakukan berbagai daya dan upaya
untuk mengusir kaum kolonial (hlm. 3).





Di Cirebon ini, berbagai aktivitas nasional berjalan. Cirebon sebagai
sentra perdagangan dan penyebaran Islam oleh Sunan Gunung Jati pada masa
dulu, bukan semata-mata kebetulan belaka. Namun, di sana ada potensi untuk
gerakan kaum kolonial dalam menancapkan akar-akar kolonialisme dan
imperialisme. Maka di sana lahirlah pesantren Buntet. Tokoh utama yang
menjadi pejuang dari pesantren Buntet yaitu Kiai Abbas dan Kiai Muqayyim
serta kiai-kiai lainnya yang memiliki pengetahuan luas dan ilmu
supranatural yang sulit dilawan menggunakan senjata modern.




Kiai Abbas dari pesantren Buntet Cirebon bukan sembarang kiai, pada saat
melawan tentara Inggris di Surabaya, KH Hasyim Asy’ari menunggu kedatangan
Kiai Abbas dari Buntet sebelum memulai perlawanan. Kiai Abbas memiliki
kekuatan laskar Hizbullah. Dari kekuatan laskar tersebut terbagi menjadi
dua bagian, yaitu organisasi yang terdiri dari anak-anak dan orang tua.




Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh kiai Abbas itu kemudian menjadi
pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di Surabaya pada tahun
1946. Peristiwa itu terjadi setelah Kiai Hasyim Asy’ari mengeluarkan
Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1946. Bung Tomo segera datang berkonsultasi
pada KH Hasyim Asy’ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap
tentara Inggris.




Tetapi kiai Hasyim Asy’ari menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan
dimulai terlebih dahulu, sebelum Kiai Abbas datang ke Surabaya. Memang
setelah itu laskar dari pesantren Buntet, di bawah pimpinan KH Abbas
beserta adiknya, KH Anas mempunyai peran besar dalam perjuangan menentang
tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 November 1945
(hlm. 57).




Kehadiran karya ini untuk menunjukkan bahwa pesantren yang selalu identik
dengan kalangan tertinggal bukan seperti yang sering kita dengar. Pesantren
merupakan tempat pergerakan para pejuang untuk memerdekakan bangsa
Indonesia yang tertinggal dari sisi ekonomi, pendidikan, dan berbagai ilmu
pengetahuan. Di mana ada pusat penjajah bercokol, tak jauh dari tempat itu
pesantren akan berdiri dan para kiai yang menjadi penggerak untuk meluasnya
penjajahan. Kita perlu membuka cakrawala pikir yang luas untuk membuka
pintu sejarah pesantren di balik perannya dalam pengusiran kaum penjajah.
Benih-benih perjuangan dari pesantren jangan sampai dikerdilkan hanya
karena persoalan politik dan kepentingan pribadi yang mengatasnamakan agama
dan bangsa Indonesia.




Buku ini mengisahkan perjuangan pesantren Buntet dan pergerakan-pergerakan
nasional yang dilakukan oleh para kiai pesantren Buntet dan
keturunan-keturunannya untuk merebut kemerdekaan bagi rakyat Indonesia dari
kaum penjajah. Ada banyak peran oleh pesantren Buntet dan para tokohnya
yang dipaparkan dalam buku ini. Mulai tentang Cirebon sebagai pusat
gerakan, pesantren Buntet sebagai pedepokan para pendekar, dan
perjuangan-perjuangannya yang dilakukan untuk mengusir kaum penjajah.




Sebenarnya Buntet ini hanya merupakan sebagai representasi perjuangan
rakyat jelata dan pesantren untuk melawan penjajahan dari keseluruhan
pesantren yang ada di Nusantara. Dengan kata lain, buku ini hanya fokus
pada perjuangan dan pergerakan nasional dari pesantren Buntet di Jawa Barat
dalam pengusiran kaum penjajah di Indonesia. []






--
http://harian-oftheday.blogspot.com/


"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke