Dari Terminal Bus Kertajaya - Mojokerto, sekitar 2 kilometer menuju ke arah
timur, terdapat sebuah perkampungan dengan suasana khas dengan jejak-jejak
kebesaran peradaban Kerajaan Majapahit. Perkampungan dengan rumah
berhalaman depan cukup luas yang berjajar-jajar rapi, tidak kalah dengan
perumahan di klaster-klaster modern saat ini. Ya, perkampungan di sebuah
dusun bernama Tegal Sari ini terasa damai. Teriknya sengatan panas matahari
di siang itu membuat hampir semua penjuru jalan terlihat sepi. Berbagai
aktifitas warganya, mulai dari bertani, berdagang, dan membuat kerajinan
sepatu atau sandal menambah kelengangan sudut-sudut kampung. Keriuhan
anak-anak baru akan terasa menjelang waktu ashar tiba.






Pada waktu menjelang ashar tiba itulah, suasana perkampungan akan terlihat
dengan sesungguhnya. Layang-layang berterbangan di angkasa, teriakan
bocah-bocah yang membuncah, berlari ke sana ke mari dengan riang gembira,
serta usainya pekerjaan para ayah dari sawah dan ladangnya, dan ibu-ibu
serta emak-emak yang bersenda gurau sembari menggendong bayi-bayi
mungilnya. Ah, sangat indah.






Namun, keindahan tersebut berhenti sejenak, ketika terdengar panggilan
menyeru, "Allahu Akbar, Allaahu Akbar/ Asyhaduanlaa ilaaha illallaah/
Asyhadu anna muhammadar rasulullaah/ Hayya 'alash shalaah/ Hayya 'alal
falah... dan seterusnya." Berbondong-bondong mereka menghentikan sejenak
aktivitas itu. Menuju dan mengharap pengampunan atas segala kesalahan yang
hari itu mungkin telah dilakukannya, di Baabuttaubah.






[image: cid:ii_i6315eaz0_14b81063ce3d43f9]






Ya... Langgar Baabuttaubah, Dusun Tegal Sari, Desa Jabon, Kecamatan
Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Bagaimana suasana di dalamnya? Silahkan
baca selanjutnya di
http://klipingmasjid.blogspot.com/2015/02/mengharap-pengampunan-di-baabuttaubah.html






ANANTO PRATIKNO






-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/


"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke