Fenomena Kerancuan Dalam Metodologi Memahami Agama
SEBAB-SEBAB PERPECAHAN
Oleh
Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql
AL-IFTIRAAQ MAFHUMUHU ASBABUHU SUBULUL WIQAYATU MINHU [Perpecahan Umat !
Etiologi & Solusinya]
Fenomena Kerancuan Dalam Metodologi Memahami Agama
Beberapa Fenomena Kerancuan Dalam Metodologi Memahami Agama Yang Dimaksud
Adalah.
[1]. Mengambil ilmu tidak dari ahlinya. Maksudnya ialah sebagian orang
mengambil ilmu dari setiap orang yang mengajak mereka belajar. Dan dari setiap
orang yang mengibarkan bendera dakwah serta mengaku : "Aku adalah seorang juru
dakwah". Akhirnya mereka jadikan juru dakwah itu sebagai imam panutan dalam
masalah agama. Mereka-pun menimba ilmu darinya, padahal juru dakwah itu tidak
paham Islam sama sekali. Oleh sebab itu, kita temui sekarang ini slogan-slogan
mentereng yang dikibarkan panji-panjinya oleh sekumpulan umat manusia, terutama
para pemuda. Kita dapati pemimpin dan ketuanya jahil tentang dasar-dasar agama.
Lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat lagi menyesatkan.
Sebabnya ialah juru-juru dakwah tersebut melihat dirinya banyak diikuti orang
yang mengambil ilmu agama darinya tanpa hati-hati dan mencari kejelasan serta
tanpa metodologi yang benar. Mereka tidak melihat apakah pemimpinnya itu layak
diambil ilmunya ataukah tidak !?
Pada umumnya mereka lebih terbawa perasaan daripada dituntun oleh ilmu. Ini
jelas sebuah kesalahan fatal, artinya setiap muncul juru dakwah yang kondang
dan kharismatik mereka langsung menjadikannya sebagai imam dalam agama.
Meskipun juru dakwah tersebut tidak punya ilmu pengetahuan tentang sunnah nabi
dan fiqih sedikitpun. Sungguh benar sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam.
"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mencabut suatu ilmu secara sekaligus
setelah dianugrahkan kepadamu. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mencabutnya
dari manusia dengan mewafatkan para ulama berserta ilmunya. Maka yang tersisa
hanyalah orang-orang jahil. Apabila mereka dimintai fatwa maka mereka memberi
fatwa menurut pendapat mereka sendiri. Maka mereka sesat dan menyesatkan"
[Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Kitab Al-I'tisham bil Kitab wa Sunnah 8/282.
Hadits ini diriwayatkan juga dengan lafal yang berbeda oleh Imam Muslim, Ahmad,
At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Daud]
Dakwah kepada agama Allah dan amar ma'ruf nahi mungkar hanya pantas dicetuskan
oleh para ulama yang mulia lagi paham tentang masalah agama dan menimba ilmunya
dari sumber yang asli dengan berlandaskan metode yang benar. Jika demikian,
tidak semua orang yang akalnya dipenuhi pengetahuan, wawasan dan
pemikiran-pemikiran boleh dijadikan imam dalam agama. Sebab banyak sekali
dijumpai orang fasik bahkan orang kafir yang mengetahui banyak persoalan agama
Islam, dan banyak pula dijumpai dari kalangan orientalis yang menghafal
sejumlah buku-buku induk dalam ilmu fiqih. Bahkan mereka hafal Al-Qur'an,
Shahih Bukhari, kitab-kitab Sunan dan lain-lainnya. Orang-orang seperti itu
hanyalah hafal ilmu namun tidak memahami agama sama sekali. Begitu pula banyak
orang yang mengaku dirinya muslim, dan memiliki sejumlah maklumat, namun tidak
memahami metodologi memahami agama, tidak memahami kaidah-kaidah amal,
mu'amalah dam iltizam (komitmen) terhadap As-Sunnah. Tidak mengambil dienul
Islam dengan
metodologi yang benar. Tidak mengambilnya dari ulama rabbani, sehingga mereka
berfatwa tanpa ilmu, mengarahkan dan mengumpulkan orang tanpa dasar ilmu dan
aqidah yang benar.
[2]. Salah satu fenomena kerancuan dalam metodologi memahami agama yang
merupakan sebab perpecahan umat ialah memisahkan diri dari para ulama. Yaitu
sebagian penuntut ilmu, juru dakwah dan pemuda memisahkan diri dari ulama.
Mereka merasa cukup menimba ilmu agama melalui buku, kaset, majalah dan
media-media lainnya. Mereka enggan menuntut ilmu dari para ulama. Hal ini jelas
merupakan gejala yang berbahaya bahkan merupakan benih perpecahan umat.
Jika kita kembali melihat sejarah awal perpecahan umat Islam, seperti
menyempalnya kelompok Khawarij dan Rafidhah, niscaya kita dapati bahwa diantara
faktor utama terjadinya bencana perpecahan di kalangan orang-orang yang mengaku
Islam -selain orang-orang munafik dan zindiq- adalah memisahkan diri dari
sahabat. Melecehkan sahabat dan menolak mengambil ilmu dari sahabat.
Orang-orang itu lebih memilih menimba ilmu secara otodidak atau dari rekannya.
Mereka berkata : "Kami sudah menguasai Al-Qur'an, kami sudah memahami
As-Sunnah, kami tidak butuh bimbingan orang lain, maksud mereka, tidak butuh
bimbingan para sahabat dan ulama dari kalangan tabi'in. Dari situlah mereka
menyempal dan keluar dari metodologi memahami agama yang benar. Menyimpang dari
jalan orang-orang yang beriman (para sahabat), jalan (metode) yang diambil dari
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan metode yang diambil para tabi'in dari
para sahabat, kemudian diambil oleh generasi salaf dari para imam-imam
terpercaya generasi demi generasi.
Dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Ilmu ini akan diambil oleh para imam yang adil dari setiap generasi"
[Hadits Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam buku Syaraf Ashhabul Hadits hal.
28-29, Ibnu Adi dalam buku Al-Kamil I/152-153 dan III/902 dan dinyatakan hasan
oleh beliau. Dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam buku Bughyatul Multamis
hal. 34-35]
Para imam yang adil adalah para penghafal hadits yang tsiqah (kuat hafalannya),
yaitu yang mengambil ajaran agama ini dari para ulama lalu mereka
menyampaikannya kepada orang lain.
Memisahkan diri dari ulama merupakan bahaya yang sangat besar. Sebab ilmu hanya
akan membuahkan berkah bila diambil secara benar dari alim ulama. Dan
eksistensi ulama tidak akan pernah terputus sampai akhir zaman.
Propaganda segelintir orang bahwa ulama juga punya kekurangan dan kekeliruan
adalah propaganda yang menyesatkan. Memang benar, ulama juga manusia biasa yang
tidak terlepas dari kekurangan dan kekeliruan, namun jangan lupa, secara umum
mereka merupakan teladan dan panutan. Mereka adalah hujjah, melalui merekalah
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyalurkan agama ini. Merekalah ahli dzikir dan
rasikhun. Merekalah para imam yang mendapat petunjuk dan siapa saja yang
menyimpang dari jalan mereka pasti binasa. Merekalah jama'ah, siapa saja yang
keluar darinya pasti sesat. Menimba ilmu dari selain ahlinya (ulama) merupakan
tindakan yang sangat berbahaya, baik terhadap dirinya maupun terhadap orang
lain.
[3]. Di antara gejala salah kaprah dalam memahami agama adalah pelecehan ulama
yang dilakukan oleh sebagian orang yang sok tahu dan sejumlah oknum juru
dakwah. Sangat disayangkan, gejala tidak sehat ini kita lihat mulai merebak.
Tentu saja ini sangat mengkhawatirkan. Kita wajib saling menasihati guna
mencegahnya. Sebab setiap perkara yang tidak segera ditanggulangi para penuntut
ilmu dan alim ulama bisa menjadi bahaya besar.
[4]. Sebagian pemuda yang berguru kepada sesama mereka, atau kepada
pelajar-pelajar yang tidak lebih pandai daripada mereka. Yaitu belajar secara
penuh serta meninggalkan ulama-ulama besar dan memutuskan hubungan dengan
mereka. Bukan maksudnya tidak boleh belajar dari para penuntut ilmu, bahkan
siapa saja yang menguasai salah satu disiplin ilmu syari'at, di samping itu ia
juga seorang yang shalih, tentu boleh saja menimba ilmu darinya. Namun juga
bukan berarti meninggalkan orang yang lebih alim daripadanya. Atau merasa cukup
dengan penuntut ilmu itu serta memutuskan hubungan dengan para ulama besar.
Sebab bisa jadi hal itu menjadi salah satu faktor munculnya perpecahan. Yaitu
bilamana para pemuda tersebut sudah merasa cukup mengambil ilmu, teladan,
panutan, etika dan petunjuk dari sebagian penuntut ilmu serta meninggalkan para
ulama yang lebih alim, lebih terhormat dan lebih senior.
Sudah barang tentu hal ini sangat berbahaya. Dan lebih bahaya lagi bila
sebagian pemuda tersebut dianggap syaikh dalam hal ilmu oleh sebagian yang lain.
Namun hal itu jangan disalah tafsirkan sebagai larangan menyelenggarakan
majelis ilmu (selain majles ulama), bergaul dan bekerja sama dalam dakwah dan
amar ma'ruf nahi mungkar. Bahkan majelis-majelis dan kerja sama dalam hal itu
sangat dianjurkan. Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah menimba ilmu dengan
metode yang keliru, yaitu menolak mengambil ilmu dari para ulama. Sikap seperti
itu merupakan ciri ahli bid'ah dan ahwa', sikap yang sangat berbahaya dan
merupakan faktor utama meletusnya perpecahan. Sebab metode seperti itu akan
membatasi pengambilan ilmu dari orang-orang tertentu saja. Hal itu bisa
menggiring kepada hizbiyyah (bergolong-golongan) dan ashabiyah (fanatik
golongan). Apalagi karakter ulama tidak tampak pada diri pemuda-pemuda itu.
Dari sinilah bibit perepecahan akan tumbuh.
[Disalin dari kitab Al-Iftiraaq Mafhumuhu asbabuhu subulul wiqayatu minhu,
edisi Indonesia Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya, oleh Dr. Nashir bin
Abdul Karim Al-'Aql, terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]
---------------------------------
Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.
[Non-text portions of this message have been removed]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/keluarga-sejahtera/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/