Kiriman dari salah seorang sohibku, cerpen yg belum ada judulnya J 
   
  Detik ini aku berada di sebuah kamar yang sumpek dengan tempat tidur yang 
tidak empuk lagi, seperti tidur di papan saja. Walaupun begitu aku tetap saja 
memilih menyendiri di kamar ini dan mengunci pintu rapat-rapat. Aku kesal 
sekali hari ini. Kesal dengan mereka. Ayah, ibu, kakek, dan nenekku. Dasar 
orang tua dan anak sama saja sifatnya. Like father like son. 
   
  Aku sudah membayangkan betapa meriahnya pesta teman-temanku di Bali. Aku dan 
teman-teman sudah menyiapkan pesta gila-gilaan selama berbulan-bulan. Capek, 
benar-benar capek. Aku yang paling mati-matian menyiapkan pesta ini. Aku sudah 
booking kamar hotel, sampai pernah ke Bali sendiri melakukan survey tempat biar 
tidak mengecewakan teman-teman. 
   
  Itu semua sudah kandas. Pesta yang kurencanakan dan kusiapkan selama 
berbulan-bulan kandas. Tidak ada kamar hotel yang empuk, tidak ada dugem yang 
sudah kuimpi-impikan, tidak ada hingar bingar musik, tidak ada teriakan dan 
ocehan teman-teman gaulku. Semuanya sudah kandas!. 
  Rangkaian kata-kata yang berisi permintaan ijin ortu untuk main ke rumah 
teman saat liburan sudah tidak bermanfaat lagi. Ayah ibuku mengetahui 
rencanaku. Aku tahu pasti ada yang membocorkan rencanaku. Hasilnya, liburan 
tahun ini, aku dibuang di sini. Di tempat kakek nenek. Sebuah desa yang sangat 
sepi dan membosankan. Rumah kakek nenekku benar-benar menjadi tempat 
pengasinganku. Tanpa HP, tanpa telepon rumah, tanpa teman-teman dekatku, tanpa 
kemewahan yang sering kudapat di kota, tanpa semua yang kuinginkan. Aku 
benar-benar bisa gila dengan semua ini.
   
  “Syan, buka pintu, nak. Sudah waktunya makan siang. Kamu belum makan dari 
pagi, nak”, suara nenekku mampu membangunkanku dari lamunanku.
   
  “Nggak! Syana nggak mau makan. Nggak lapar.” Jawabku dengan ketus.
  Nenekku sebenarnya sangat baik. Lebih baik dari ibuku. Setidaknya, nenek 
selalu menyempatkan diri buat ngurus orang-orang di sekitarnya. Tidak seperti 
ibu yang selalu sibuk dengan arisan, ngerumpi ke tetangga, jalan-jalan dan 
ngabisin uang ke mall, bla bla bla, de el el. So what gitu loh kalau aku juga 
ngehabisin waktu buat main sama temen-temenku. Gak ada bedanya,kan ?
   
  Kakekku juga lebih baik dari ayahku. Walaupun hanya lulusan Sekolah Rakyat, 
dia adalah orang yag sangat keren bila diajak bicara. Tidak seperti ayahku, 
seorang sarjana denagn predikat cum laude. Orang yang sangat dingin. Tidak 
pernah mendengar alasan putrinya. Diktator. Jahat, selalu benar... menurutku.
   
  Kakek, nenek, ayah, ibu sekarang sama. Semuanya sama. Tidak ada yang baik. 
Fyiuh!! Kenapa aku harus seperti ini ? Cuman karena tidak bisa main bareng 
temen, aku menyamakan kakek nenek dengan ortuku ?
  Lapar. Aku kelaparan. Aku belum makan sejak kemarin. Sejak aku berangkat dari 
rumah menuju tempat pembuangan ini. Ihh aku ingin makan, tapi aku lagi marah. 
Kesel sebel. Bila sudah sebel, aku tahan nggak makan. 
   
  “Syan...Ini kakek, kalo nggak mau makan, sholat dulu gih. Udah jam satu,” 
kini gantian suara serak kakekku yang muncul dari balik pintu. 
  Hah... sholat? Sejak kapan aku sholat ? Kakek dan nenek pasti bercanda. 
Mereka sudah tahu kalau aku bukan tipe orang yang melakukan ibadah itu. Lucu, 
benar-benar lucu.
   
  “Syan nggak sholat! “ teriakku.
   
  “Ya udah, kalau gitu. Nenek mau sholat dulu. Syan kalau mau makan ambil 
sendiri yah,”
   
  “Nek, Syan nggak pernah sholat,” jawabku mempertegas jawabanku tadi.
   
  “Syan....!” suara nenekku lirih. Nenek nangis.
  Aku nggak habis pikir. Kakek nenek adalah orang-orang yang sangat taat 
beragama, tapi tidak satupun anak-anak mereka yang alim. Termasuk ayahku, putra 
pertama mereka. 
   
  Masih kudengar suara tangisan nenekku dari balik pintu. Aku paling nggak 
tahan mendengar tangisan. Kudengar juga suara kakek yang berusaha menenangkan 
nenek. Aku bingung, sebel sama diriku sendiri. Kuangkat tubuhku dan berjalan 
menuju pintu. Kubuka pintu perlahan. 
   
  “Syan...,” ucap nenek dan langsung memelukku sesaat setelah kubuka pintu. 
   
  “Nek, Syan nggak bawa mukena,” ucapku.
   
  “Pake punya nenek, Syan.”
   
  Aku sholat diimami nenek. Air mata nenek membasahi sajadahnya, aku terbawa 
suasana. Ini adalah sholat pertamaku sejak SMP. Kini aku sudah kelas dua SMA. 
Sholat terakhir yang kulakukan saat SMP adalah sholat karena ujian praktek 
agama. Ahhh seburuk itukah aku?
   
  “Nek, maapin Syan yaa.” Ucapku seusai sholat, disambut senyuman lembut 
nenekku.
  ***
  Sudah seminggu aku tinggal di rumah kakek nenek. Pagi ini sudah saatnya 
pulang. Jam kuno di ruang tamu berdentang enam kali. Sedih sekali meninggalkan 
tempat ini. Tempat yang kubenci saat hari pertama aku menginjakkan kaki di 
sini, kini menjadi tempat yang sangat berat kutinggalkan. 
   
  Delman yang akan mengantarkanku menuju terminal sudah datang. Kakek ikut 
mengantarkanku sampai terminal. Nenek tidak bisa ikut mengantarkan karena pagi 
ini rumah nenek mendapat giliran tempat untuk pengajian desa. Sedih sekali 
harus berpisah dengan nenek. Sebelum pulang, kucium tangan nenek dan kupeluk 
tubuh nenek yang lebih kecil dariku.
   
  “Syan, kalau udah pake jilbab, nggak perlu pake topi !” nenek membuka topiku 
lalu menjitak kepalaku.
   
  “Syan, topinya buat kakek aja ya!” seloroh kakekku, disambut tawa nenek. 
   
  “Assalamualaikum, nek...!” 
   
  Delman membawaku pergi meninggalkan nenek. Tubuh nenek mengecil dan 
menghilang. Nek, i will miss u.
   
  “Ehh katanya kamu bukan bocah cengeng ! udah.. udah. Kalau liburan ke 
sini,ya. Sebentar lagi kalau udah musim panen, kakek ma nenek juga mau datang 
ke rumahmu.” Ucap kakek sambil memakaikan topi ke kepalaku. 
   
  “Bener, janji lho. Oleh-olehnya yang banyak.” Jawabku.
   
  “Eh.. kata nenek, ‘kalau udah pake jilbab, nggak perlu pake topi’, hehe,” 
ucapku sambil meniru gaya bicara nenek yang lirih. Kulepas topiku.
   
  “Kubilangin nenekmu lhoo.”
   
  “Bilangin aja weeeeee...”
  ***
  Capek. Udah gonta-ganti bus sampai tiga kali. Untung nggak tersesat. Maklum, 
aku pergi ke desa diantar temen ayah pake mobil. Akhirnya sampai juga aku di 
kota Solo tercinta. Kulihat jam tanganku. Wahh sudah jam dua lebih. Aku belum 
sholat Dhuhur. Kucari mushola. Penuh dan sesak. Ya udah jalan satu-satunya 
yaitu cepat-cepat mencari taksi and go home soon.
  Alhmdulillah. sampai di rumah juga, setelah kurang dari 15 menit perjalanan. 
Agak ragu aku memasuki rumah. Kuketuk pintu rumah.
   
  “Assalamualaikum.” Kebiasaan salam yang kudapat selama seminggu di rumah 
nenek tak sengaja keluar dari mulutku.
   
  Ibu membukakan pintu tanpa menjawab salam. Ibu bengong meihatku. Segera 
kucium tangan ibu. 
  Di ruang tengah, ayah hanya terdiam tanpa suara. Seperti biasanya. Dingin. 
   
  “Ibu, maapin Syan ya.”
   
  Kulihat jam menunjukkan pukul 14.30. Aku belum sholat Dhuhur. Segera 
kuberlari ke lantai atas menuju kamar mandi lalu ke kamar. 
  Kucari mukenaku. Ahh akhirnya ketemu juga. Mukena satu-satunya sejak SMP. 
Coba kukenakan. Hmm..kekecilan. Atasannya hanya menutup setengah lenganku. 
Bawahannya tidak mampu menutupi kakiku. Ya Allah, untuk menghadapMu pun aku tak 
punya pakaian yang layak. Beberapa menit lagi suara adzan Ashar akan 
berkumandang. Aku masih berdiri terpaku, bingung.
  Di lantai bawah. Kudengar mulai ada teriakan-teriakan.
   
  “Aku sudah bilang. Bukan jalan baik ngirim anakmu ke rumah orang tuaku. Dia 
sudah teracuni. Mending dulu kau biarkan saja dia minggat ke Bali! “ ucapan 
ayahku terdengar jelas. Membuatku tambah bingung.
   
  “Ayah, setidaknya dia nggak bersama anak-anak nakal. Iyya,kan.!” Jawab ibuku 
tak kalah kerasnya.
   
  Ayah, ibu.......aku sayang kalian. Aku tak ingin gara-gara aku kalian 
bertengkar. 
  Kudengar ketukan pintu dan suara ayah ibuku dari balik pintu.
   
  “Syan.. buka pintu. Ayah dan ibu mau bicara.” Suara ibuku terdengar dari 
balik pintu.
   
  Ragu tapi kubuka pintu kamarku. Mukena yang kekecilan masih melekat di 
tubuhku. Ayah dan ibu hanya terdiam membisu melihatku.
   
  “Syan mau sholat tapi mukenanya kekecilan.” Ucapku 
   
  Tak ada reaksi dari ayah dan ibuku. Sementara sayup-sayup terdengar suara 
adzan menunjukkan waktu sholat Ashar telah tiba. 
   
  “Syan berangkat dari rumah nenek tadi pagi. Belum sholat Dhuhur. Sekarang 
sudah Ashar. Syan nggak tahu cara menjamak sholat.” Ucapku lirih. Aku tak 
sengaja mengeluarkan air mata di depan ayah ibuku, sesuatu yang tidak pernah 
kulakukan dan menjadi pantangan bagiku.
   
   
   

                
---------------------------------
 Yahoo! Mail
 Use Photomail to share photos without annoying attachments.

[Non-text portions of this message have been removed]



 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/keluarga-sejahtera/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke