tur nuwun mbakTUTI,kiriman artikelnya
pripun kabare mbakTUTI,SEMOGA sehat sehat saja nggih
salam dari bangkabelitung,dan salam buat semuanya rekan rekan mailist di
kendal-online
tuti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
astaghfirullohaladzim....
memang beginilah potret realita di sekitar kita...
kita selalu membantu meski hanya doa untuk para pemberantas koruptor
semoga tak ada wajah koruptor dlm kepemimpinan kita baik negara, departemen,
kantor2 publik.
kanibal yah mereka itu, memakan sesama sendiri...
beberapa hari lalu lingkungan saya heboh oleh berita yang tidak baru. Oknum
yang baru bebas dipersoalkan kembali karena ada bukti baru yang menyatakan
tindakannya. yah digelandang lagi ke pengadilan.
dia telah menjalani hidup seperti itu (maksudnya keluar masuk bui) selama 10
tahun. piknik kali...
anaknya nikahan, dia datang dengan kawalan polisi....malu ga tuh
ternyata ada karmanya....anaknya hamil duluan sebelum resmi menikah...
seperti cerita sang koruptor jadinya
yah moga2 bisa buat contoh buat yang lain....
Memoar Seorang Koruptor
Kata orang bijak manusia dibentuk oleh alam sekitarnya;berlaku hukum sebab
akibat. Dan, koruptor lahir bukan hanya karena keserakahan dan adanya
kesempatan, namun juga merupakan produk masyarakat.
Bila ada yang mengajukan pertanyaan, kenapa aku jadi koruptor, jawabnya, aku
sudah bosan hidup miskin, dan kenapa tindakan korupsiku tidak terbongkar,
jawabannya aku melakukan korupsi berjamaah, saling menjerumuskan dan saling
menutup rahasia.
Biografi pendek ini aku tulis bukan karena aku orang bodoh, jika bodoh tentu
tak kan mungkin jadi koruptor. Membobol uang negara itu perlu kecerdasan,
keahlian khusus, strategi, dan keberanian tiada tara.
Sifat koruptifku berproses lama. Dengan menulis biografi ini beban pikiranku
jadi berkurang, minimal merasa seolah-olah, ya seolah-olah dosaku berkurang
walau sebetulnya tidak. Pembaca pun jadi mengerti,
memaklumi, syukur-syukur mau memaafkan.
Dua hari setelah HUT-ku yang ke-5, ibuku meninggal. Sebulan kemudian ayah
menikahi seorang gadis belia. Sejak itu beliau tidak
ambil peduli. Hanya waktu aku mau khitan ayah memberi sedikit uang, sepasang
pakaian, dan seekor kambing.
Almarhumah ibu cukup berada; sawah dan kebunnya banyak. Perhiasan emas
berbentuk gelang, kalung, anting dan cincin bermata berlian, dan seikat besar
uang ia simpan dalam kotak di lemari pakaian.
Tiga hari setelah jasad ibu dikubur, lemari pakaian almarhumah dibongkar paksa
paman atau kakak lelaki tertua ibu. Semua perhiasan dan uang
almarhumah dibagi antara paman dan adik-adik perempuannya. Dua bulan kemudian
sawah dan kebun ibu juga diperebutkan, yang tersisa untukku hanya tiga
pasang pakaianku, selembar sarung almarhumah.
Sejak itu aku diasuh adik nenek. Dengan susah payah nenek muda
membesarkanku, menyekolahkanku mulai dari SD di desa kami hingga tamat SMA
di ibu kota kabupaten. Selama sekolah deraan hidup aku alami lahir dan batin.
Di SMA aku hanya punya pakaian dua stel, sepatu tanpa kaus kaki.
Makan dua kali sehari dengan lauk seadanya, kerap sebutir telur itik untuk dua
hari, jajan tidak pernah, mandi dengan sabun cuci.
Berawal dari kemiskinan
Impitan kemiskinan menyebabkan aku merasa rendah diri, aku menjauhkan diri
dari pergaulan. Satu-satunya yang sering aku kunjungi di kota tempat tinggalku
adalah Tia, putri sulung paman. Jika aku pulang kampung, paman menitip uang
untuk Tia, aku pun diberi sekadar beli setengah bungkus rokok.
Tia sangat cantik dalam pandanganku. Ia siswi sekolah kejuruan putri. Tanpa
sadar aku pun jatuh cinta padanya.
Sehari sebelum pulang kampung libur kuartal pertama ketika duduk di bangku
kelas III SMA aku ke rumah kos Tia. Bikin janji besoknya bareng pulang ke
kampung. Sebelum pamit, sepucuk surat aku berikan padanya. Surat berisi curahan
hati dan pernyataan cinta.
Besoknya setiba di terminal aku lihat Tia sudah duduk dalam bis. Aku pun naik,
duduk pada bangku di depannya. Ia mencibir lalu meludahi wajahku. Aku malu,
merasa dihina di depan umum. Air ludahnya aku bersihkan dengan sapu tangan,
sapu tangan itu aku simpan dalam kantong celana.
Aku bersumpah, suatu masa Tia dan keluarganya harus tunduk padaku. Aku
bertekad memperistrinya. Untuk itu aku harus keluar dari kemiskinan. Jalan
satu-satunya merantau, mengumpulkan uang sebanyak mungkin, dan melanjutkan
pendidikan ke tingkat sarjana.
Setelah tamat SMA aku merantau ke Pulau Jawa. Setiba di Ibu Kota aku mengurus
KTP, lewat uang semua serba beres.
Pada tahun pertama di Jakarta aku kerja serabutan, mulai dari mencari order
untuk perusahaan penyemprot nyamuk hingga bergabung ke dalam CV Dua Jari alias
nyopet. Suatu siang ketika nyopet di atas bis kota aku tertangkap tangan, lalu
dikeroyok massa. Wajahku babak belur. Seorang oknum berseragam menyelamatkanku,
aku dibawanya naik sepeda motor.
Di tempat sepi semua uang, kalung, cincin, dan gelang emas miliku diminta paksa.
Bosan jadi copet aku terjun sebagai salesmen, bekerja pada perusahaan pengadaan
peralatan kantor. Siang kerja, malam kuliah. Di kampus aku mendapat mata kuliah
tak resmi, oknum dosen membisikkan asal ada uang semua bisa diatur, mulai dari
indeks prestasi (IP),
skripsi, dan ijazah. Di lapangan pun aku mendapat ilmu khusus. Kepala bagian di
beberapa kantor pemerintah yang jadi klienku beri persyaratan. Dari keuntungan
yang aku dapat, 75 persen untuk dia dan 25 persen untukku. Lalu, 90 persen
barang pesanan dikirim ke kantor, sisanya dikirim ke rumahnya.
"Enak nian jadi oknum pegawai negeri. Setiap bulan terima gaji, hampir tiap
hari korupsi, itu pun sambil ongkang-ongkang kaki di kantor pakai AC," gumamku.
Sejak itu aku pun bercita-cita ingin jadi pegawai negeri. Berbagai upaya
ditempuh. Akhirnya uang juga yang bicara. Dengan ijazah sarjana yang cepat
didapat berkat uang, aku pun diterima jadi pegawai negeri, juga pakai uang
pelicin.
Hari pertama masuk kantor aku mencatat prestasi gemilang sebagai calon
koruptor: sebuah pena merek Parker yang tergeletak di sebuah meja berhasil aku
kantongi.
Di kantor aku menjalin hubungan dengan semua orang. Bila punya uang aku
bagi-bagi pada teman. Tiap sebentar memberi kado hadiah hari kelahiran atau
perkimpoian pada atasan.
Aku disenangi, jabatanku meroket, selalu berada di tempat basah. Karierku
berawal sebagai pegawai biasa, terakhir pada posisi Kepala Biro Pengadaan dan
Proyek. Aku berprinsip, jika mendapat rezeki maka yang lain mesti ikut
menikmati.
Setahun setelah merantau aku mulai berkirim pada nenek muda; semula kecil,
makin lama makin besar. Taraf pertama dapur nenek muda aku suruh perbaiki,
setahun kemudian kukirimi uang untuk renovasi rumah.
Paman yang dulu membongkar lemari almarhumah ibu berulang kali menulis surat,
berpesan supaya aku jangan mencari istri di negeri orang, dan mohon agar aku
segera pulang kampung. Aku pun pulang kampung sebagai pemuda sukses. Dua hari
setiba di kampung, paman bersama putri sulung dan bungsunya, Tia dan Carla,
datang menemuiku di
rumah nenek muda. Tia bertitel sarjana, tapi belum kerja. Carla siswi SMA.
Keduanya cantik. Dalam hati aku berbisik, kedua gadis cantik itu mesti jadi
milikku.
Paman memohon padaku agar bersedia mempersunting Tia. Anaknya banyak, dia
kerepotan memikul biaya rumah tangganya. Dua minggu setelah berada di kampung
aku menikah dengan Tia, seminggu kemudian memboyongnya ke Jakarta. Carla juga
ikut. Aku berhasil meyakinkan paman, berjanji membiayai sekolahnya di Jakarta.
Pada tahun ketiga pernikahan kami, Tia coba bunuh diri lantaran Carla memberi
tahu dari Bandung-tempat ia aku kuliahkan-bahwa ia sedang mengandung anakku.
Tentu ada tuduhan aku lelaki tak bermoral.
Sebagai koruptor tentu aku tidak bermoral, orang bermoral tak mungkin jadi
koruptor.
Waktu menerima SK pensiun aku tercatat sebagai salah seorang koruptor cukup
sukses. Di kampung punya tiga rumah mewah, banyak sawah dan kebun. Di rantau
memiliki lima rumah, satu di Pondok Indah, satu di Permata Hijau, sebuah di
Kapuk Mutiara, sebuah di Jakarta Pusat dan sebuah Villa di Cipanas, tiga buah
mobil mewah, setumpuk batangan emas, beberapa deposito bank dalam dan luar
negeri, serta memiliki saham di beberapa
perusahaan.
Tia tidak berbahagia menikah denganku. Pada hari tuanya ia sakit-sakitan.
Kami tidak punya anak, tapi anakku dengan wanita lain ada tujuh orang; sepasang
dari Carla, tiga dari dua pembantu yang pernah bekerja pada kami, dan dua lagi
dari wanita berlainan. Anak pertama mengidap HIV/AIDS, anak kedua hamil sebelum
nikah, dua lainnya kecanduan
narkoba, seorang jadi buronan polisi, seorang jadi lesbian, si bungsu masih di
taman kanak-kanak.
Aku sendiri, bahagiakah? Entahlah! Ada hasrat untuk tobat, tapi hati dan otak
nampaknya sudah terlalu sarat dosa. Yang terbayang bukan senyum bidadari di
dalam surga, melainkan api neraka yang menyala.
Ingin tahu siapa aku? ......
Berdirilah di depan cermin, mungkin aku adalah yang bayangannya terlihat pada
kaca.
Atau,
dia itu adalah ayah, paman, saudara atau tetangga Anda sendiri..
--
Best Regards,
Syamsi Kusyanti,
Consumer Loan Group
PT. Bank Mandiri, tbk
Jl. Jend. Gatot Subroto Kav 36-38
Jakarta 12190
my profile :
http://syamsikusyanti.multiply.com/journal
http://www.friendster.com/syamsiku
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Joint Photographic Experts Group: [EMAIL PROTECTED]
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
---------------------------------
Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business.