thanks again and enjoy,Mr.SetyoWibowo,ttg do'a dimulut yg semakin mble.
  salam kenal dari seberang.

Setyo Wibowo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Teman2,

Ini kisah ttg bagaimana do'a di mulut bisa berbeda dg yg di dalam hati.
Mana kira2 yg akan terkabul?

Sorry kalo pernah baca... 

Btw: Setuju saweran bwt hosting-nya....

Wassalam,
Bw

-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.430 / Virus Database: 268.14.11/543 - Release Date: 20/11/2006
21:20



____________
DISCLAIMER :
This e-mail may contain confidential or legally privileged information and/or 
information subject to copyright. If you have received this e-mail in error you 
are hereby notified that any dissemination, distribution, disclosure or copying 
of this e-mail, or any part of it, is strictly prohibited and please notify the 
sender by return e-mail and delete this message from your system.




         From: Eddy Abimanyu <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [alumni_bppn] Semoga Dia Makin Memble
Date: Wed, 22 Nov 2006 07:42:17 +0700

Semoga Dia Makin Memble

Ini cerita orang BATAK yang pesan moralnya bagus juga...
Saya terkesan dengan cerita seorang teman. Ceritanya begini.....

"Si Bernard adalah anak sulung dari sebuah keluarga halak hita (Batak).
Dia bekerja di sebuah perusahaan yang maju pesat, dan karirnya pun sangat
baik. Setiap bulan dia selalu mengirimkan uang buat orangtuanya, dan ini
dilakukan secara teratur dan rutin. Jumlahnya selalu disesuaikan dengan
besarnya
gaji yang diterima. Kalau dia mendapat insentif, bonus dsb, tokoh kita ini
akan mengirimkan jumlah yang lebih besar. Dan setiap bulan dia selalu 
meminta agar orangtuanya berdoa untuk dia, agar dia selalu dalam
pemeliharaan
Tuhan.

Hingga pada saat Indonesia diterpa krisis ekonomi, perusahaan tempatnya
bekerja mulai kelimpungan dan akhirnya harus ditutup. Bernard harus pensiun
dini/PHK. Sebagai kompensasi, dia menerima uang pesangon cukup besar,
jauh lebih besar dari yang diterima rutin setiap bulannya. Dan pada kondisi
begini pun dia tidak lupa mengirimkan sebagian kepada orangtuanya, dan
jumlahnya jauh lebih besar dari yang dikirimkannya setiap bulan. Dan 
dia juga menitipkan pesan seperti ini " Amang, inang!! Loas ma rohamuna
manjalo kiriman on. Unang lupa hamu manangianghon ahu, ai nunga memble ahu
nuaeng." (Ayah, Ibu, Semoga hati kalian rela menerima kiriman ini. Jangan
lupa
mendoakan aku, karena saya sekarang sudah MEMBLE)

Orangtua si Bernard sangat senang mendapat kiriman yang sedemikian
banyak. Dalam bayangan mereka, anaknya mendapat posisi yang lebih bagus dan 
gaji yang berlipat ganda. Tuhan mendengarkan doa mereka. Ini harus 
disyukuri. Dan mereka pun mengundang para tetangga dan sisolhot (kerabat)
dan
mengadakan partangiangan (doa) ucapan syukur. Sintua (majelis) juga
diundang. 
Dalam acara partangiangan tersebut, ortu si Bernard mengungkapkan "tema 
besar" acara partangiangan tersebut. Temanya adalah "Mandok mauliate tu
Tuhan-ta, ala naung memble do anakhon nami si Bernard. Jala asa
tatangiangkon
ibana, asa lam tu memble na tu joloan on". ("Mengucap syukur kepada Tuhan 
kita, karena anak kami si Bernard sudah memble. Doakanlah dia, agar semakin
memble di masa yang akan datang") Dan demikanlah acara partangiangan
tersebut
berlangsung, mengikuti tema besar yang ditentukan tuan rumah. Mereka
berdoa dengan khusuk, terlebih orangtuanya, mengucap syukur atas si Bernard
yang sudah memble saat ini. Dan agar Tuhan memberi berkat yang 
berkelimpahan, dan karunia agar si Bernard semakin memble.

Demikian singkat cerita, si Bernard dapat penawaran bekerja pada posisi
yang lebih baik di salah satu perusahaan besar asing yang tidak terkena
dampak krisis. Dan dia dibayar jauh lebih besar dari yang diterimanya di
perusahaan yang sebelumnya. Dia mengucap syukur dan berdoa sepenuh hati,
atas
berkat kasih Tuhan. Dan dengan hati berbunga-bunga dia pergi ke kantor pos,
mengambil pos wesel dan menuliskan pesannya di sana "Amang, inang!!
Mauliate ma ditangiang muna. Mauliate di Tuhan-ta, ai dibege do tangiangta.
Horas. Sian anakhon muna: Bernard". (Ayah, Ibu!! terimakasih atas doanya.
Terimakasih kepada Tuhan karena sudah didengarNya doa kita. Salam. Dari
anakmu: Bernard".) Dan dia menuliskan angka setengah dari gajinya untuk
dikirimkan. Wesel pos tiba di huta (kampung), di alamat orangtua Bernard.
Orangtuanya sangat-sangat senang. Lebih senang lagi, setelah membaca pesan
si
Bernard, dan angka kiriman di wesel. "Mauliate ma Tuhan, dibege Ho do
tangiang
nami. Dilehon Ho do pasu-pasu tu anak nami si Bernard. Nunga lam memble be
ibana." (Terima kasih Tuhan, karena Engkau mendengar doa kami. Diberikan
olehMu
berkat kepada anak kami si Bernard. Sudah semakin memble dia.)

Dan tiba pada akhir tahun, Bernard pulang kampung menemui orangtuanya.
Setelah melepas rindu, bongkar-bongkar oleh-oleh untuk semua, ibunya
bertanya." Cerita ma jolo ho anaha, aha ma karejo dohot pangkatmu 
nuaeng amang, ai tung balga kirimanmu tu hami. Tung apala las do rohanami, 
jala dibege Tuhan do tangiang nami, asa lam tu memble-na ho dipasu-pasu
Tuhan". (Ceritakanlah anakku, apakah kerja dan pangkatmu sekarang nak,
karena
kirimanmu kepada ayah ibu sungguh besar. Kami sangat bahagia, Tuhan telah
mendengar doa kami, bahwa kamu semakin memble dan diberkati Tuhan). Si
Bernard mula-mula terdiam, agak kaget, setengah tidak mengerti. Kok
orangtua saya mendoakan saya agar semakin memble???? Setelah diingat-ingat, 
dia tidak dapat menahan senyumnya. Dan sambil tertawa kecil dia menceritakan
tempat bekerjanya sekarang jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Dia tidak
mengungkapkan mengenai hal PHK dan pesangon yang dia terima. Dan tidak
lupa dia mengucapkan terimakasih atas doa orangtuanya. Dan dalam
kesendiriannya, dia merenungkan semua kejadian itu. Orangtuanya mendoakan 
dia agar semakin memble, pada saat dia memble betulan setelah di PHK. 
Sementara dia berdoa agar Tuhan menunjukkan kasihnya berupa
tempat pekerjaan baru baginya. Dan dia mendapat tempat kerja dan posisi
yang lebih bagus, dan dia tidak memble lagi.

Setelah sekian lama merenung, dia mengerti bahwa Tuhan bekerja dengan
caranya sendiri. Tuhan lebih mendengar doa yang keluar dengan bahasa
iman, lebih dari bahasa mulut. Dan dia bangkit dari tempat duduknya, melipat
tangan dan berdoa atas berkat Tuhan yang berkelimpahan, dan atas
orangtua yang selalu berdoa untuknya."

Catatan penulis : Kisah ini adalah kisah sebenarnya, yang diceritakan
oleh namborunya (tantenya). Nama disamarkan.
Penulis: Unknown
God bless you all

d=2123/stime=1164156508/nc1=3848523/nc2=3848567/nc3=3> 



        
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

Kirim email ke