Dear all,

Di dekat kontrakan saya, kira2 100 meter dari rumah saya ada sebuah penerbit 
buku yang sekarang sepertinya mulai berpindah haluan ke bisnis "brown energy". 
Spanduk besar bertuliskan "brown energy terpasang tepat di depan kantor 
tersebut.
Di sana selain penerbitan buku dengan judul "Rahasia Bahan Bakar Air" juga 
mengadakan training rutin untuk masyarakat umum yang mau berhemat BBM.

Website dari kantor tersebut bisa dibuka di http://bahanbakarair.com/.

Di bawah ini adalah sebuah ulasan di koran kompas.

Kalau temen2 ada yang mau training ke tempat tersebut jangan lupa mampir ke 
tempat saya.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/20/00505070/menghemat.bbm.dengan.brown.energy
Menghemat BBM dengan "Brown Energy"


      
Jumat, 20 Juni 2008 | 00:50 WIB

YUNI IKAWATI dan NAWA TUNGGALMelonjaknya
harga minyak bumi yang cadangannya pun terus menyusut mendorong
pencarian sumber energi alternatif. Salah satunya adalah air, yang
begitu melimpah di muka bumi ini. Bahan bakar dari air—disebut gas
Brown—ketika dialirkan dalam mesin kendaraan bermotor bisa menghemat
bahan bakar minyak hingga 59 persen.Gas Brown yang dinamakan
sesuai dengan penemunya, Yull Brown, yang berkebangsaan Australia,
sesungguhnya adalah campuran gas hidrogen-hidrogen-oksigen yang
dihasilkan dari sistem elektrolisa atau pengurai cairan. Dalam tabung
elektrolisa itu dipasang kumparan magnetik untuk memecahkan campuran
air destilasi dan soda kue hingga menjadi campuran gas
hidrogen-hidrogen-oksigen (HHO). Hidrogen bersifat eksplosif dan
oksigen yang mendukung pembakaran.Gas HHO ini dalam tabung
elektrolisa yang dialirkan lewat selang masuk ke ruang bakar mesin dan
akan bercampur dengan gas hidrokarbon dari BBM. Dengan cara ini BBM
dapat dihemat dalam tingkat yang signifikan.Poempida
Hidayatullah dan Futung Mustari, perekayasa sistem yang telah
dikembangkan empat tahun lalu itu, menguji cobanya pada 30 kendaraan
bermotor roda empat dari berbagai jenis, baik yang berbahan bakar
bensin maupun solar. Hasilnya, BBM yang ada dapat mencapai rasio jarak
tempuh rata-rata 1:25 kilometer. Penghematan BBM- nya hingga 59 persen.Salah
satu uji coba adalah touring kendaraan roda empat Jakarta-Cikarang yang
menempuh jarak 112 kilometer, Sabtu (14/6). Untuk jarak itu, konsumsi
BBM tidak lebih dari 5 liter.Seperti dilaporkan dalam buku
mereka, Rahasia Bahan Bakar Air, uji coba pada Toyota Avanza, Mei lalu,
menunjukkan efisiensi bahan bakar bisa sampai 40 persen atau 1 liter
untuk 18 kilometer. Pada Mitsubishi L300 penghematannya sampai 94
persen atau dengan 1 liter bisa mencapai 23,3 kilometer.Soda kueBila
Poempida-Futung menghasilkan bahan bakar air (BBA) dengan
mengelektrolisa larutan campuran air destilasi dan soda kue, Djoko
Sutrisno menggunakan kalium hidroksida (KOH). Dibandingkan dengan KOH,
menurut Poempida, soda kue lebih mudah didapat, ramah lingkungan, dan
lebih murah.Rekayasa yang dihasilkan Djoko ini dapat mencapai
efisiensi sampai 80 persen. Teknisi bengkel kendaraan dari Yogyakarta
ini menemukan metode tersebut pada tahun 2005.Djoko menjelaskan
proses elektrolisa menggunakan prinsip ledakan hidrogen yang terpantik
api dari busi untuk menambah energi hasil pembakaran BBM pada
kendaraan. Di dalam tabung plastik dengan volume setengah liter diisi
air suling dicampur garam atau KOH. Kemudian, tabung elektroda itu
dilengkapi penghubung kabel yang dilengkapi lampu indikator dan dioda
penyearah untuk mendapatkan arus listrik dari aki sebagai proses
elektrolisa, yaitu proses memisahkan hidrogen dan oksigen dari air.”Hidrogen
yang membentuk gelembung udara lalu disalurkan ke manipol dan bercampur
dengan bensin yang sudah dikabutkan oleh karburator menuju ruang
pembakaran,” ujarnya.Pembakaran yang terjadi dengan tambahan gas
hidrogen ini ternyata makin kuat, yang berdampak pada penghematan BBM.
Djoko pada kesempatan itu juga membuktikan adanya ledakan hidrogen
dengan cara mengaliri tabung berisi air dan kalium hidroksida untuk
menghasilkan hidrogen.Gas hidrogennya lalu dimasukkan ke larutan
air sabun supaya membentuk gelembung udara yang berisi hidrogen. Saat
gelembung itu disulut dengan api, ledakan cukup keras terjadi.SosialisasiSaat
ini, Poempida-Futung dan Djoko giat mendorong masyarakat agar
menerapkan karya mereka untuk mengatasi tingginya harga BBM dan menekan
pencemaran gas rumah kaca.Dalam rangka menyosialisasi temuannya,
pada bukunya Poempida-Futung juga menyisipkan VCD tentang cara
pembuatan alat elektrolisa tersebut.”Saya tidak ingin mematenkan
rancangan ini, tetapi mendorong banyak orang supaya
mengaplikasikannya,” ujar Djoko. Hal yang sama juga dikemukakan
Poempida karena Brown energy merupakan ilmu yang telah menjadi public
domain atau dapat diakses di beberapa situs web, antara lain
waterbooster.com. Kedua perekayasa ini sendiri juga membuka situs
bahanbakarair.com. Sistem yang sama, menurut Poempida, juga mulai
dikembangkan di AS dan Eropa sejak tahun 2006.Dalam pengembangan
aplikasi sistem elektrolisa itu, Poempida mengatakan siap memberikan
pelatihan kepada tenaga mekanik di bengkel dalam pemasangannya.Sementara
itu, selama sebulan terakhir ini, rata-rata dalam sehari di rumah Djoko
di Yogyakarta dilakukan pemasangan alat tersebut pada 25 mobil dan
sekitar 50 motor.Menurut Djoko, biaya untuk membuat rangkaian
penghemat BBM yang dibutuhkan untuk pembelian tabung plastik,
elektroda, dioda, lampu, dan kabel hanya mencapai puluhan ribu rupiah.
Harga KOH yang hanya dibutuhkan tiga gram per liter air juga relatif
murah, Rp 30.000 per kilogram.BBA yang membahayakanPenemuan
teknologi BBA ini sebenarnya telah berusia 90 tahun. Namun, karena
alasan bisnis, hasil temuan ini dihilangkan, bukan hanya temuannya,
tetapi juga penelitinya. Nasib tragis dialami Nicola Tesla yang
dipenjara dan dihukum mati tahun 1943 dan Stanley Meyer dari AS yang
terbunuh tahun 1998.Upaya pembuatan bahan bakar air (watercar)
sebenarnya telah dirintis lebih dari dua abad, tepatnya tahun 1805,
oleh Isaac de Rivaz yang berkebangsaan Swiss. Ia orang pertama yang
menggunakan hidrogen yang dihasilkan dari elektrolisa sebagai bahan
bakar mesin dengan pembakaran internal. Namun, rancangannya belum
memuaskan.Setelah itu, tersebutlah beberapa nama peneliti yang melanjutkan 
upaya itu, antara lain Luther Wattles dan Rudolf A Erren.Kemudian, Yull Brown, 
warga Sydney, Australia, pada tahun 1974 berhasil membuat BBA untuk 
menggerakkan mesin.


      

Kirim email ke