--- On Tue, 7/29/08, Lia Yunita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Lia Yunita <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Tujuh Kali Naik Haji Tidak Bisa Melihat Ka'bah
To: "dewi ayu" <[EMAIL PROTECTED]>, "Endang Herawati" <[EMAIL PROTECTED]>,
"puspitarini kesumaningtyas" <[EMAIL PROTECTED]>, "nunung khusnul" <[EMAIL
PROTECTED]>, "Ratna yasin" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, July 29, 2008, 2:53 AM
--- Pada Jum, 25/7/08, Eka Susanti <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: Eka Susanti <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [thh33] Fw: Trs: Tujuh Kali Naik Haji Tidak Bisa Melihat Ka'bah
Kepada: "rina suprihati" <[EMAIL PROTECTED]>, "farakka sari" <[EMAIL
PROTECTED]>, "seta rukmalasari" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "saat
fauzi" <[EMAIL PROTECTED]>, "candra candradijaya" <[EMAIL PROTECTED]>, "thh33"
<[EMAIL PROTECTED]>, "dodo" <[EMAIL PROTECTED]>, "dewi kartika" <[EMAIL
PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "handoyo Handoyo" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED]
Tanggal: Jumat, 25 Juli, 2008, 4:47 AM
----- Forwarded Message ----
From: Hertina Indriani <hertina_indriani@ yahoo.com>
To: ade novianza <[EMAIL PROTECTED] com>; alfin nur <[EMAIL PROTECTED] com>;
anggita tresliyana <anggita.tresliyana@ gmail.com>; Atik Rosalina
<atikrosalina@ yahoo.com>; aya <urban_plannerid@ yahoo.com>; deliana putri
<deliana_putri80@ yahoo.com>; desi novita <alifya_putri@ yahoo.com>; devi
avrita <[EMAIL PROTECTED] co.id>; [EMAIL PROTECTED] com; eka susanti
<ekasusanti11@ yahoo.com>; Fajar Diah <[EMAIL PROTECTED] com>; Farah
<farakk_sari@ yahoo.com>; febrina <[EMAIL PROTECTED] com>; firzi harahap
<firzi.harahap@ yahoo.com>; foyya_newsted@ yahoo.com; Hardian Arbi
<hardian.arbi@ unilever. com>; idzacute_rkq@ yahoo.com; ira dwi <[EMAIL
PROTECTED] com>; isti kresna <[EMAIL PROTECTED] com>; Jihan Marina <[EMAIL
PROTECTED] com>; lanny megasari <[EMAIL PROTECTED] com>; [EMAIL PROTECTED] com;
[EMAIL PROTECTED] com; nisa zahra <[EMAIL PROTECTED] com>; nita ryolita <[EMAIL
PROTECTED] com>; Nurul Amalia <[EMAIL PROTECTED] com>; Prima Sanjaya
<supreme_san@ yahoo.com>; Puspo Edi G
<[EMAIL PROTECTED] com>; rama yunalis <rama_yunalis@ yahoo.com>; Rany Prahesty
<rany_prahesty@ yahoo.com>; Rini <rini_kembar@ yahoo.com>; rudi hidayat
<rudihidayat@ yahoo.com>; Santy <anty_riany80@ yahoo.co. id>; seta rukmalasari
<[EMAIL PROTECTED] com>; Suci <birulaut_1987@ yahoo.com>; tatiek kartika
<[EMAIL PROTECTED] com>; trias kelly <[EMAIL PROTECTED] com>; triasther <[EMAIL
PROTECTED] com>; venny <[EMAIL PROTECTED] com>; vyara lestari <[EMAIL
PROTECTED] co.nz>; Yayu <[EMAIL PROTECTED] com>; yeni dian <ummuhaya123@
yahoo.co. id>; yenisuryani@ deptan.go. id; yuliasri <[EMAIL PROTECTED] com>;
Yusuf <delapanjuni@ yahoo.com>
Sent: Thursday, July 24, 2008 10:44:35 AM
Subject: FW: Trs: Tujuh Kali Naik Haji Tidak Bisa Melihat Ka'bah
--- On Mon, 7/21/08, Dewijanti, Mila <[EMAIL PROTECTED] deepwater. com> wrote:
From: Dewijanti, Mila <[EMAIL PROTECTED] deepwater. com>
Subject: FW: Trs: Tujuh Kali Naik Haji Tidak Bisa Melihat Ka'bah
To: "diah_martiani" <diah_martiani@ telkomsel. co.id>, "Dini Agustina Budhi W"
<[EMAIL PROTECTED] id>, "nadia paramita" <[EMAIL PROTECTED] com>, "Svetla
Rahayu" <[EMAIL PROTECTED] com>, "Vyara Lestari" <[EMAIL PROTECTED] co.nz>,
"Hertina Indriani" <hertina_indriani@ yahoo.com>, "Hardian Arbi" <hardian.arbi@
yahoo.com>, mila_herwina@ yahoo.com, [EMAIL PROTECTED] com, "sawidjan gunadi"
<trikusumo2002@ yahoo.com>, "Shitadewi" <shitadewi_clarissa@ yahoo.co. id>,
"poppie" <poppieintan@ yahoo.com>, "Yeni Setyorini" <[EMAIL PROTECTED] com>,
[EMAIL PROTECTED] com, [EMAIL PROTECTED] com, "Winnugroho Wiratman" <[EMAIL
PROTECTED] com>, "Windy Kurnia" <[EMAIL PROTECTED] com>
Cc: "Dewi, Galuh Astuti" <[EMAIL PROTECTED] deepwater. com>, d_agustina_178@
yahoo.com, "agus mali suwardi" <devdas_mali@ yahoo.com>, "Machtum, Nurlaila"
<[EMAIL PROTECTED] deepwater. com>, "Rahayu, Yuri" <[EMAIL PROTECTED]
deepwater. com>, "Susanty, Vivi" <[EMAIL PROTECTED] deepwater. com>,
rifkymochamad@ yahoo.com, [EMAIL PROTECTED] com, ekominandarsaputra@ yahoo.com,
"Faisol, Muhammad" <[EMAIL PROTECTED] deepwater. com>, "Wismawan, Muhamad"
<[EMAIL PROTECTED] deepwater. com>, "Yudi, Arief" <[EMAIL PROTECTED] deepwater.
com>, "Pitoyo, Arief" <[EMAIL PROTECTED] deepwater. com>
Date: Monday, July 21, 2008, 4:30 AM
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Kisah Nyata...Tujuh kali naik Haji tidak bisa melihat Ka'bah
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama
sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan
anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang
berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala perlengkapan sudah disiapkan.
Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya
sehat wal'afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf
dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam.
"Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah".
Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, "Ummi undzur ila Ka'bah (Bu, lihatlah
Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu..
Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu
sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya. Hasan kembali
membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya
tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat
apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali
yang tampak hanyalah kegelapan.
Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia
masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram
segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh
di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih.
Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi
tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya
dan juga rahmat-Nya.
Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang
sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap
Ka'bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kembali membawa ibunya berhaji
tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya. Tahun berikutnya
kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka'bah,
sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat
Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka'bah. Hasan tidak patah arang. Ia
kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.
Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah. Setiap berada di Masjidil
Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan
yang terjadi pada diri Sarah.. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali
menunaikan ibadah haji. Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang
menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka'bah. Padahal, setiap berada jauh
dari Ka'bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya
punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT?. Apa yang telah
diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan
berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim
ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena
kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa kesulitan
berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan
masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama,
kemudian meminta agar Ibu dari Hasan mau menelponnya. Anak yang berbakti ini
pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk
menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi
permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali
peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah
introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang
terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah
diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah
dilakukannya.
"Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah
sepele," kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta
waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak
mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka,
akhirnya Sarah menelpon. "Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat
di rumah sakit," cerita Sarah akhirnya. "Oh, bagus.....Pekerjaan perawat adalah
pekerjaan mulia," potong ulama itu. "Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya
dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,"
ungkapnya terus terang. Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu
akan berkata demikian.
"Disana...." sambung Sarah, "Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua
ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak
laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya
tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka."
Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
"Astagfirullah. ....." betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang
diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. Bayangkan, betapa banyak keluarga
yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak tahu,
bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.. Jika seorang
bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat
menentukan dalam perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu
orang-orang yang tidak boleh dinikahi.
"Cuma itu yang saya lakukan," ucap Sarah.
"Cuma itu ?" tanya ulama terperangah.
"Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak
keluarga yang sudah Anda hancurkan !" ucap ulama dengan nada tinggi.
"Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?" tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
"Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati."
"Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama.
"Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir."
"Maksudnya ?" tanya ulama tidak mengerti.
"Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit,
segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam
tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya
masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati."
"Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya
memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke
dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau
masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu
kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya,
emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu
dosa yang saya lakukan."
Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak
marah.
"Cuma itu yang kamu lakukan ?". "Masya Allah....!!! Saya tidak bisa bantu anda.
Saya angkat tangan".
Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah
terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang
memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya,
ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata,
"Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa
mengampuni dosa Anda."
Bumi menolaknya.
Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar
selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui
telepon. Ia berharap Sarah telah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya.
Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang
kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga
Hasan di Mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama
menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.
"Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad," ujar Hasan.
Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut. "Bagaimana ibumu meninggal, Hasan
?" tanya ulama itu.
Hasanpun akhirnya bercerita :
Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal
dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah.
Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah,
tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi
lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali
kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat,
sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu
kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang
menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi.
Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.
Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena
pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan
sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka
akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di
hamparan tanah kering kerontang.
Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega
meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa
pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang
diri. Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian
hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak
wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki
itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya," Biar aku tangani jenazah ibumu.
Pulanglah!" kata orang itu.
Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan
menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian
mengebumikan ibunya. "Aku minta supaya kau jangan menengok ke belekang, sampai
tiba di rumahmu," pesan lelaki itu. Hasan mengangguk. Kemudian ia meninggalkan
pemakaman.
Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk
mengetahui apa yang terjadi dengan jenazah ibunya. Sedetik kemudian ia
menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah
dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis
rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah
Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langkah seribu, ia pun bergegas meninggalkan
tempat itu.
Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa
separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena
terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan
Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta
ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya.
Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah
diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.
Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun
dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan
hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu,
bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari
bekas kehitaman semakin hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya
selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa
yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.
Uang Rp 50.000 atau S$50 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak derma
masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. 45 menit terasa
terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu untuk
pertandingan sepak bola .... Semua insan ingin memasuki syurga tetapi tidak
banyak yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk memasukinya.
Kita mengirimkan ribuan 'jokes' dan 'suratberantai' melalui e-mail tetapi bila
mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah seringkali berfikir 2 atau 3 kali.
OLEH ITU JANGAN BIARKAN DIRI KITA INI MENJADI SEBAHAGIAN DARI KELUCUAN
TERSEBUT. Kirimkan cerita ini kepada rekan, sahabat dan keluarga anda.
INSYA'ALLAH RAHMAT ALLAH SWT AKAN MENGHAMPIRI, AMIN.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Regards,
MiLa DeWi **
Rig Administrator
Phone : +62-21-75914550, Ext. 806
Fax : +62-21-75914551
Mobile : +62-811 999028
email : [EMAIL PROTECTED] deepwater. com
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.