Sudah Tahu Tidak Etis, Tapi Diulang-ulang Juga ----------------------------------------------
Kita tentu masih ingat kejadian beberapa waktu yang lalu tentang laporan kemajuan teknologi ponsel berkamera yang diperankan oleh penyanyi Maria Eva dengan seorang anggota DPR (peristiwanya maksud saya, bukan film-nya...). Di tengah asyiknya menikmati acara infotainment bersama keluarga, lalu tiba-tiba tersaji adegan liar di layar. Meski ada bagian yang ditutupi, tapi toh hakekatnya rekaman itu tetap ditayangkan. Dan, televisi pun tidak merasa puas hanya menayangkan cukup sekali-dua, melainkan berrrrrr-ulang-ulang disajikan sejak pagi, siang, sore, malam hingga keesokan harinya lagi. Apa tidak terbayangkan bagaimana perasaan keluarga pelaku skandal yang notabene tidak tahu ujung-pangkalnya, saat melihat tayangan yang berulang-ulang itu. Apa tidak terbayang bagaimana blingsatannya para orang-tua yang sedang duduk di depan televisi bersama anak-anaknya, saat adegan itu ditayangkan. *** Hari-hari ini, rekaman kotak hitam tentang percakapan dalam cockpit pesawat Adam Air DHI 574 yang hilang di selat Makassar pada 1 Januari 2007 yll. bertebaran di mana-mana. Tidak hanya dengan mudah diunduh dari internet, melainkan juga tidak henti-hentinya ditayangkan di televisi lengkap dengan transkrip dialognya. Pertama, saya merasa merinding membayangkan suasana detik-detik terakhir sebelum pesawat itu hilang ditelan laut. Kedua, saya merasa trenyuh dengan apa yang dirasakan oleh para keluarga korban setelah mendengar percakapan itu. Ketiga, saya nggrundel kok tega-teganya stasiun televisi mengulang-ulang tayangan itu. Terlepas dari kontroversi kebenaran rekaman kotak hitam yang telanjur menyebar bak virus flu burung (sedang virus flu burung saja tidak segegap-gempita itu). Jelas itu tidak asli, wong rekaman aslinya ada di gudangnya KNKT. Barangkali yang dimaksudkan adalah kontroversi apakah rekaman itu sesuai aslinya atau rekayasa atau sebuah "karya seni" seperti pertunjukan operet kampung hasil gabungan dari penggalan lagu-lagu. Juga terlepas dari kontroversi bagaimana mungkin dokumen yang bersifat rahasia itu bisa bocor di tengah masyarakat. Kalau setrum PLN atau air PDAM bocor masih "masuk akal" karena jaringannya ada di mana-mana dan untuk memperolehnya harus membayar (semakin) mahal. Atau soal-soal ujian nasional bocor masih "wajar" karena menyangkut gengsi dan biaya sekolah yang (juga semakin) mahal. Lha, kalau arsip kotak hitam kan hanya ada satu dan masyarakat sebenarnya tidak pernah menginginkan bocorannya. Anggaplah rekaman itu benar sesuai aslinya. Tersiarnya rekaman itu tentu menjadi berita eksklusif yang bernilai tinggi bagi media. Akan tetapi bagi keluarga korban atau mereka yang memiliki sangkut dan paut apalagi hubungan darah dengan keluarga korban, jelas itu bukan peristiwa yang menyenangkan. Bahkan cenderung menyakitkan yang membuka luka dan kepedihan lama. Sedang saya yang bukan siapa-siapanya saja rasanya kok tidak tega berulang-ulang mendengarkan rekaman itu. Tapi media televisi malah seperti berlomba menayangkan berulang-ulang. Tidak cukup sekedar memberitakan, membahas, mendiskusikan atau mengkajinya, melainkan lengkap dengan ilustrasi dan transkrip yang semakin mendramatisir. Saya membayangkan, apa yang akan dirasakan oleh keluarga korban ketika sedang santai menonton televisi bersama keluarga di rumah kemudian terhidang di layar televisi tayangan itu. Tidak cukup sekali bahkan. Pagi, siang, sore, malam, seperti tiada jeda. Betapa kepedihan hati tiba-tiba seperti diublek-ublek. Apa televisi kita sudah kehilangan empati tentang kejadian-kejadian semacam ini? Apa tidak cukup ditayangkan sekali saja, lalu selebihnya cukuplah dengan kajian atau diskusi yang lebih berbobot dan elegan, ketimbang memutar-mutar rekaman berulang-ulang. Toh, bagi masyarakat pada umumnya rekaman semacam itu sebenarnya tidak banyak membawa manfaat. Semua pihak rasanya tidak seberapa bodoh untuk memahami bahwa tayangan seperti itu sebenarnya tidak etis dan juga tidak memberi nilai tambah apapun bagi masyarakat. Tapi kok ya tidak seberapa pintar untuk memutuskan bahwa tidak perlu diulang-ulang penayangannya. Itulah televisi kita. Seperti tidak bisa membedakan kapan siang dan kapan malam. Kapan acaranya ditonton orang dewasa dan kapan ditonton anak-anak. Kapan televisinya bisa bernilai informatif, kapan menghibur, kapan mendidik dan kapan menyakitkan. Atau, jangan-jangan untuk turut mencerdaskan bangsanya pun, ya... kapan-kapan saja... Atau, memang... (Maaf, mengutip penggalan transkrip kotak hitam yang beredar di internet : "Voice on DHI 574 cockpit : ok.... that's confirm... that's confirm affirm iya khan... ngaco ngaco FIDSnya udah ----, FMSnya... FMS telah mengacaukan dirinya sendiri... UEDANN opo....") Yogyakarta, 3 Agustus 2008 Yusuf Iskandar http://yiskandar.wordpress.com http://madurejo.wordpress.com

