ke-AKU-an
 
                              oleh : Muhamad Kundarto
 
Setiap ada peristiwa yang menghebohkan, orang cenderung memberikan komentar 
yang beraneka, tergantung background dan ada misi dari lontaran komentar 
tersebut. Komentar ada yang positif, ada pula yang sebaliknya. 
Yang positif, cenderung membangun, biasanya berlampirkan solusi terbaik agar 
lebih baik atau lebih maju. 
Yang negatif, cenderung menyalahkan, berusaha mencari titik kelemahan dan 
membombardir dengan komentar yang menyudutkan.
 
Mungkin kita pernah mencemooh pernyataan pemimpin yang cenderung menonjolkan 
prestasi dan menutupi kekurangan. Dalih "kebebasan pers" digunakan agar semua 
orang menyampaikan fakta apa adanya. Orang mungkin pula bahwa semua hal, 
termasuk komunikasi, perlu mempertimbangkan kearifan yang sering kali bersifat 
tersirat (tidak terucap).
 
Orangtua yang sedang memadu kasih tapi ketahuan anaknya yang balita, tentu 
tidak akan mengaku bahwa mereka memadu kasih. Mereka akan membuat istilah yang 
bisa dicerna anaknya yang balita, sekaligus punya misi pendidikan akhlaq yang 
baik. Boleh jadi mereka akan membuat cerita bohong atau sedikit berbohong.
 
Pemimpin yang mengetahui 'kondisi dapur hancur' jelas tidak akan membuka info 
100% ke publik. Dapat dibayangkan bagaimana dampak sosial yang ditimbulkan 
apabila rakyat (yang umumnya berpemahaman sederhana) mendengar kabar bahwa 
negara tidak punya duit lagi, energi sudah habis, pangan tidak ada cadangan, 
dll. Tentu akan membuat kegelisahan super hebat. Makanya walau pers mengejar 
info tak kenal waktu, sang pemimpin tak bergeming memberikan pernyataan yang 
menyejukkan khalayak, walau mungkin berbau kebohongan.
 
Pelatih sepakbola, bagaimanapun kondisi timnya, akan cenderung membuat 
pernyataan bahwa timnya siap bertanding sebaik mungkin. Dia harus menjaga moral 
para pemainnya agar tidak down. Dia juga harus menjaga kesan baik dan semangat 
fans club-nya. Teakhir, dia juga tidak mau diketahui oleh tim lawan tentang 
kekurangsiapan tim nya. So, sang pelatih boleh jadi akan membuat pernyataan 
bombardis di depan pers. Namun komentar akan cenderung 'apa adanya' setelah 
pertandingan selesai.
 
Bagi demonstran, sistem yang ada saat ini, tentu akan dianggap buruk. Tentunya 
tergantung misi apa dalam demonya. Sang pendemo jelas akan membusungkan dada 
dan bahkan membuat pernyataan bahwa mereka mampu menggantikannya. Walaupun 
boleh jadi apa yang diteriakkan tersebut masih sebatas mengejawantahkan (baca: 
aktualiasasi) semangatnya saja, belum ke arah kemampuan diri.
 
Para pejabat di birokrasi, akan cenderung melaporkan "sudah melakukan yang 
baik, dan mencegah yang buruk". Kenapa? karena dia membawa misi 
institusi/instansi yang harus berkesan baik di mata publik, dan mungkin juga 
membawa misi pribadi sebagai pejabat agar berkesan baik juga. Di level negara, 
pemerintah jelas akan berusaha membuat kesan baik karena membidik pemilu tahun 
depan. Namun kalangan non pemerintah (partai oposisi) akan cenderung selalu 
mencari celah kekurangan pemerintah, agar bisa 'mencuri' nama baik untuk modal 
suksesi tahun depan.
 
Terkadang pula permasalahan yang terlihat tidak sesederhana yang dilihat. 
Misalnya dunia pendidikan. Entah karena APBN yang super defisit atau apa, 
alokasi dana untuk pendidikan sangat kurang. Universitas dibiarkan jalan 
sendiri mencari dana, lalu munculah BHMN, dll. Rakyat kecil hanya bisa komentar 
"pandai saja tidak cukup, karena untuk kuliah perlu biaya mahal". Sementar 
universitas akan dilematis karena tidak mungkin mengandalkan hanya dari SPP/DPP 
mahasiswa. Maka banyak kampus yang cenderung berbau pendidikan plus 
entrepreneur plus kerjasama lainnya. Dari sudut pandang pengelola, mungkin 
inilah upaya maksimal dalam rangka menjalankan manajemen kampus yang baik. Dari 
sudut pandang lain, mungkin ini dinilai sebagai komersialisasi dunia 
pendidikan. Yang jelas, fenomena ini bukan sekedar ke-aku-an dari pengelola, 
mahasiswa, dan alumni belaka; tetapi banyak faktor lain yang sering tidak 
kelihatan oleh publik.
 
Menengok ke dunia petani. Hampir semua petani berada di level garis kemiskinan, 
kecuali pengusaha di bidang pertanian. Mengapa harga beras selalu rendah? 
mengapa pendapatan petani selalu kecil? itulah pertanyaan beken dari para 
petani kita. Kemiskinan dan pertanian ibarat 2 muka dalam 1 mata uang, alias 
saling terkait. Namun respon pihak luar cenderung memanfaatkan pertanian dan 
kemiskinan sebatas slogan politik belaka. Sudut ke-aku-an dari non petani, 
mungkin menyarankan "petani harus bekerja keras". Tetapi faktanya petani super 
keras dalam bekerja sampai tidak sempat sang kolesterol menumpuk di badannya. 
Kata pebisnis, yang paling diuntungkan (baca: meraup keuntungan besar) adalah 
pedagang, mereka menguasai pasar dan mendapatkan harga berlipat.
 
ke-aku-an beda tipis dengan ke-ego-an, walaupun slogannya atas nama demokrasi, 
kebebasan pers, pejuang, rakyat, dll. sebaiknya ke-aku-an diimbangi dengan 
kearifan dan kebijaksanaan. budaya mencelah diarahkan menjadi budaya 
mengkritisi dengan solusi. budaya menghakimi diarahkan menjadi budaya dakwah 
yang berharap perubahan akhlaq.
jangan karena emosional yang membalut ke-aku-an, membuat kita gelap mata dan 
selalu membenarkan diri serta menyalahkan orang lain.
 
Yogyakarta, 5 Agustus 2008
 


      

Kirim email ke