Yup.
biasanya hidroponik memanfaatkan media non tanah
sedangkan aeroponik, akar menggantung tanpa media, tapi dari bawah disemprotkan 
air bernutrisi secara berkala
cocok untuk tanaman hias atau sayuran para hobiis
tapi mimpi buat petani kita....

--- On Sat, 9/13/08, TIGOR OSEANIKA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: TIGOR OSEANIKA <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: Bls: [kendal-online] Tragedi Pendidikan Pertanian
To: [email protected]
Date: Saturday, September 13, 2008, 5:21 PM










Apa d pertanian d ajarin hidroponik/aeroponi k, kayany bagus tu d terapin, bisa 
d tingkat malah
Walaupun g tau praktekny...ngaciir

--- On Fri, 9/12/08, Asrofi sm <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Asrofi sm <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: Bls: [kendal-online] Tragedi Pendidikan Pertanian
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Date: Friday, September 12, 2008, 2:34 PM








Mungkin rekan2 ada yang punya ide bagaimana memajukan pertanian, ga usah jauh2 
nasional deh... kendal aja..
kalo aku sendiri sihga punya ide apa2.... minta maaf

mari mulai berfikir bersama... demi anak cucu.


--- On Fri, 9/12/08, kendil <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: kendil <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Bls: [kendal-online] Tragedi Pendidikan Pertanian
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Date: Friday, September 12, 2008, 10:19 AM








lha mau jadi petani apa?
wong sawahe, setiap hari menyusut
jadi perumahan, jadi industri, jadi pasar, jadi mal

"Sementara itu, di Bekasi, sekitar 8.000 hektar sawah beririgasi berubah jadi 
areal industri dan perumahan. Di Sumatera Selatan, yang memiliki lahan ...
hizbut-tahrir. or.id/2008/ 08/12/"

mungkin nanti sawah, banyak dijumpai di museum atau galery sebagai pajangan

kendil-e, ngguling
segane wutah, ra sida mangan 





--- Pada Kam, 11/9/08, muhamad kundarto <[EMAIL PROTECTED] com> menulis:

Dari: muhamad kundarto <[EMAIL PROTECTED] com>
Topik: [kendal-online] Tragedi Pendidikan Pertanian
Kepada: "alumni faperta" <lintas_alumni_ [EMAIL PROTECTED] ups.com>, "kendal 
online" <kendal-online@ yahoogroups. com>
Tanggal: Kamis, 11 September, 2008, 7:58 PM






tulisan sangat penting dari surat kabar nasional.... ..

--- On Fri, 9/12/08, Joko Waluyo <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Joko Waluyo <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [dosen_upnjogja] Tragedi Pendidikan Pertanian
To: dosen_upnjogja@ yahoogroups. com
Date: Friday, September 12, 2008, 8:45 AM




Yth. Rekan Sejawat, saya kutipkan tulisan di Kompas Hari ini 
tentang "Tregedi Pendidikan Pertanian" di Indonesia. Mungkin bisa 
sebagai bahan diskusi dan renungan untuk kita semua.

Tragedi Pendidikan Pertanian
Jumat, 12 September 2008 | 00:34 WIB 
Khudori

Tidak ada yang mengejutkan saat Kompas (1/8/2008) melansir berita 
2.894 dari 9.019 kursi kosong di 47 perguruan tinggi negeri adalah 
program studi pertanian dan peternakan.

Kekosongan merata di hampir semua perguruan tinggi yang membuka 
program studi pertanian. Bahkan, kekosongan kursi hingga 50 persen 
dari daya tampung. Ini bukan hal baru. Sudah lebih satu dasawarsa 
program studi pertanian sepi peminat.

Tutup

Yang paling mengejutkan, meski program studi pertanian kian sekarat, 
tidak satu pun muncul keprihatinan dari para pemangku kepentingan. 
Jangankan dari presiden, sang doktor pertanian dengan predikat 
excellent, para rektor, dekan atau pengamat pertanian tergerak. Jika 
prihatin saja tidak muncul, bagaimana mungkin berharap akan ada 
langkah nyata. Program studi pertanian kini benar-benar sekarat.

Saat ini ada 82 PTN dan 2.500-an PTS yang mengasuh 14.000-an program 
studi. Dari jumlah itu ada 60-an PT yang mengasuh bidang pertanian. 
Di sebagian kecil PT ternama jumlah peminat bidang pertanian tidak 
surut, tetapi di sebagian besar PT studi pertanian tak lagi jadi 
magnet. Data Depdiknas, rentang 2005-2006 ada 40 fakultas pertanian 
di seluruh Indonesia tutup karena tak ada peminat.

Keterpurukan studi pertanian hanya akibat sektor pertanian 
dimarjinalkan. Tidak hanya dukungan pendanaan dan kelembagaan, 
perhatian pun mengendur. Bahkan, lebih dari dua dasawarsa 
dikampanyekan segera meninggalkan pertanian, melompat ke industri 
dengan proyek industri mercusuar, footloose, kandungan impor tinggi, 
dan dibiayai dari utang luar negeri.

Karena industri tak berbasiskan resource based sektor pertanian 
menjadi marjinal. Maka, terjadi dualisme ekonomi: sistem tradisional 
yang padat tenaga kerja di pedesaan dengan koefisien teknis produksi 
dapat berubah dan sistem modern yang padat modal di perkotaan dengan 
koefisien teknis produksi tetap.

Dualisme ekonomi itu menciptakan wilayah pedesaan dan perkotaan 
bersifat tertutup satu sama lain. Pertumbuhan ekonomi dari sektor 
industri perkotaan tidak menetes ke wilayah pedesaan sehingga 
kesenjangan pendapatan antara kedua wilayah itu cenderung kian 
melebar.

Sektor pertanian akhirnya identik dengan gurem, udik, miskin, dan 
tidak menarik tenaga terdidik menekuninya. Masyarakat dan komunitas 
petani terancam lenyap. Kajian pedesaan selama 25 tahun (Collier 
dkk, 1996) menemui fakta getir: tenaga kerja muda di pedesaan amat 
langka, hanya tersisa pekerja tua renta dan lambat responsnya 
terhadap perubahan dan teknologi. Terjadilah gerontokrasi sektor 
pertanian. Jika studi pertanian kering peminat dan dilihat sebelah 
mata, kalah pamor dengan studi farmasi, teknik, komputer, manajemen 
dan akuntansi, itu semua hanya dampak ikutan.

Restrukturisasi

Dirjen Dikti menyodorkan solusi, studi pertanian direstrukturisasi 
menjadi dua. Studi agronomi, hortikultura, ilmu tanah, pemuliaan 
tanaman dan teknologi benih, arsitektur lanskap, hama dan penyakit 
tanaman masuk studi agroekoteknologi, sedangkan agribisnis, ekonomi 
pertanian dan sumber daya, gizi masyarakat dan sumber daya keluarga, 
dan komunikasi dan pengembangan masyarakat dilebur jadi studi 
agribisnis. Apakah ini solusi mujarab dan bukan sekadar kosmetik 
penarik minat?

Menurut evaluasi Dirjen Dikti, penguasaan ilmu mahasiswa S-1 
pertanian terlalu spesifik, monodisiplin dan lebih berorientasi pada 
pendalaman ilmu. Dulu, perancang dunia pertanian berpikir sederhana. 
Menghadapi petani gurem dan kapasitasnya minim, pemikiran dibuat 
sederhana. Kini polarisasi baru dibuat antara pertanian berteknologi 
sederhana dan maju. Bahkan, karena desakan di luar pertanian, yang 
sederhana didorong maju, termasuk agroindustri. Desakan dari luar 
diupayakan dipenuhi kurikulum pendidikan tinggi pertanian. Sampailah 
pertanian yang berkaidah industrial dan bisnis.

Para dosen diberi kesempatan studi ke luar negeri. Mereka pulang 
membawa dimensi masing-masing untuk mengembangkan almamater. Sayang, 
jarang yang berpikir multidimensional. Hidroponik, aeroponik, kultur 
jaringan, sampai transgenik jadi bahan di kelas. Padahal, kondisi 
riil yang dihadapi adalah calon sarjana pertanian yang pertanian 
rakyatnya tetap gurem dan pendidikannya amat rendah.

Mestinya, hasil survei Subdirektorat Kurikulum dan Program Studi 
(2005) bisa jadi pemandu mencari jalan keluar. Survei itu 
menunjukkan, kompetensi minimal sarjana pertanian yang sesuai 
kebutuhan di lapangan pertanian adalah memiliki kompetensi umum di 
sektor pertanian, menguasai dan paham kearifan lokal (agar jadi 
pengembang wilayah), bisa memanfaatkan ICT, problem solver, punya 
jiwa wirausaha, memiliki pengetahuan bisnis, komunikatif dan 
kolaboratif, serta punya kemampuan superleader.

Jika kita berhasil merumuskan kurikulum studi pertanian, itu belum 
cukup tanpa perubahan cara pandang masyarakat atas sektor pertanian. 
Selama ada praanggapan yang salah, budaya tani harus dipermodern. 
Pola pikir ini memasung petani dan anak- anaknya. Dari segi 
pendidikan, anak-anak petani telah dididik untuk cita-cita di luar 
pertanian, yakni jadi salah satu faktor produksi bagi industri yang 
tak berbasis pertanian.

Khudori Peminat Masalah Sosial-Ekonomi Pertanian





Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!


 














      

Kirim email ke