Emang sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia kali mas, jadiin alun-alun sebagai tempat jualan dengan lapak-lapak non permanen.. di kota besar seperti Bandung saja juga seperti itu.. baik itu alun-laun Bandung di depan masjid agung jawa barat atau di lapangan gasibu (monumen perjuangan rakyat).. tiap minggu pagi sampai siang selalu penuh dengan pedagang-pedagang.. bahkan sampai makan jalan raya.. di kaliwungu masih mending mas.. lapaknya gak 24 jam.. di boja, alun2 kawedanan jadi pasar..
Arlies Bayu Swastika 085640091151 / 081320480100 [email protected] ________________________________ From: moh anto <[email protected]> To: [email protected] Sent: Saturday, January 31, 2009 7:51:49 PM Subject: [kendal-online] Alun-Alun Kawedanan Kaliwungu Sekitar tahun '96 ketika alun-alun kawedanan kaliwungu selesai di renovasi dan ditata dengan bentuk yang mungkin cukup wagu krn waktu itu masih belum tembus, terhadang bangunan di pojok timur utara (titipan sepeda), ada ruang publik yang bisa memuaskan masyarakat untuk berinteraksi atau sekedar menghabiskan malam di tengah padang "savana" hehe.... belum tersekat oleh ruang-ruang komersialisasi, rumput tampak hijau ranum bagai karpet khatulistiwa. Tapi lihatlah kondisi sekarang ini, komersialisasi di tiap jengkal lahan yang ada, manusia berkerumun seperti sesak nafas, tak ada kegiatan santai di atas padang "savana", rumputpun enggan untuk tumbuh meski sekarang musim hujan. Salah siapa ini? atau mungkin hanya imbas dari kebutuhan manusia akan materi sehingga ruang publik dijamah dan diperkosa dengan tanpa kenal lelah? Entah kapan ruang publik ini akan menjadi seperti dulu lagi........ ....... ________________________________ Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!

