Ukuran kedewasaan orang biasanya ditentukan dengan masa baligh, yaitu 
menstruasi untuk wanita dan mimpi basah (keluar sperma) untuk pria. Namun masa 
baligh untuk pria dan wanita cenderung beda umur. Masa baligh pria lebih lambat 
sekitar 3-5 tahun. Di saat wanita sudah terfokus pada peristiwa istimewa 
terkait badannya (baca: menstruasi), para pria remaja masih asyik dengan mainan 
bola, dll. (baca: belum terkonsentrasi mengamati kondisi fisik sendiri). Masa 
baligh akan mempengaruhi dalam perilaku terhadap lawan jenisnya. Rasa 
ketertarikan mulai tumbuh. Efek sampingnya berupa kangen, rindu, cemburu, benci 
dan dendam. Tergantung masing-masing menyikapinya.
 
Terkait dengan pernikahan, banyak orang yang mengaitkan antara faktor umur 
dengan kedewasaan dan kepemimpinan dalam rumah tangga. Berdasar kondisi 
biologis tadi, maka kedewasaan pria umur 25 tahun setara dengan wanita umur 
20-22 tahun. Sehingga timbul sebuah teori pernikahan, bahwa sebaiknya selisih 
umur pasangan 3-5 tahun dimana pria lebih tua atau wanita lebih muda. Namun 
kita melihat banyak pasangan yang menikah seumuran. Banyak pula yang beda 
umurnya di atas 10 tahun. Bahkan ada juga wanitanya jauh lebih tua. Apa 
dampaknya terhadap perilaku biologis? Konon pria masih tertarik untuk 
berhubungan badan sampai umur 70an. Namun wanita mulai kurang tertarik pada 
saat pasca menopaouse. Di sisi lain, kondisi fisik pria cenderung belum banyak 
berubah sampai umur 45an. Tetapi kondisi fisik wanita akan banyak berubah 
secara drastis pasca hamil/melahirkan. Terkait kondisi stamina fisik ini, masa 
ideal wanita adalah umur 18 sampai 40 tahun. Sedangkan masa ideal
 pria adalah 20 sampai 45 tahun. Jadi, kondisi fisik sangat terkait erat dengan 
faktor umur. Memang ada kekhususan, terutama dengan anggapan "awet muda". 
Umumnya Olahragawan/wati akan terlihat lebih muda dibanding orang yang jarang 
berolahraga, pada umur yang sama.
 
Keterkaitan umur bukan hanya ke urusan biologis/fisik. Pernikahan juga bukan 
semata karena faktor biologis/fisik. Para pria memang cenderung memilih 
pasangannya dengan pertimbangan fisik sebagai pertimbangan utamanya. Sedangkan 
para wanita memilih pasangannya lebih berdasar pada pertimbangan kemapanan, 
kedewasaan dan kesetiaan. Ternyata pertimbangan dari sisi wanita lebih banyak 
pada urusan psikis. Alhasil, kedewasaan tidak selalu terkait dengan faktor umur 
saja. Banyak hal yang mempengaruhinya. Anak tunggal dan atau anak bungsu 
cenderung manja, walaupun umurnya sudah tua. Seorang anak kecil akan mendadak 
dewasa manakala mengalami cobaan hidup yang berat, misalnya mereka yang yatim 
piatu atau fakir miskin.
 
Sehingga kita tidak perlu aneh, manakala kebanyakan pria dewasa sampai manula 
tetap menginginkan wanita muda. Keinginan ini jelas mempertimbangkan faktor 
umur.
Jangan aneh pula manakala kebanyakan wanita sangat mengagumi pria-pria mandiri 
dan super dewasa yang siap melindungi, memperhatikan dan menyayangi. Keinginan 
ini sering tidak mempertimbangkan faktor umur.
 
Apapun pertimbangannya, faktor umur memang akan berpengaruh pada kelangsungan 
pernikahan. Tetapi sejauh mana pengaruhnya, tergantung dari sisi mana kita 
menilai. Yang jelas, jika pertimbangan utama adalah materi (umur, fisik, harta, 
jabatan, keturunan), maka pertimbangan itu akan sangat rawan berubah dan 
menggonjang 'dinding kesetiaan'. Jika pertimbangannya karena faktor hati 
(akhlaq, keimanan, kesopanan, tata krama), maka insyaallah perjalanan nikah 
akan mencapai kelanggengan.
 
Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke