--- On Mon, 2/9/09, Yusuf Iskandar <[email protected]> wrote:
From: Yusuf Iskandar <[email protected]>
Subject: [kendal-online] Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono
To: "Kendal Online" <[email protected]>
Date: Monday, February 9, 2009, 4:33 AM
Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono
------------ --------- --------- --------- -
Sebenarnya jarum jam masih belum memukul angka tujuh, tapi cuaca pagi di
Wonosobo sepertinya masih sangat pagi. Sang mentari rada kesulitan menebar
lepas cahayanya karena terhalang awan pagi pegunungan. Saat sedang menikmati
sruputan secangkir kopi, pandangan saya terpancing menoleh ke luar rumah karena
terdengar suara seorang wanita memanggil-manggil : ”Megono...... ,
megono......” . Saya pikir, itu suara seorang ibu yang sedang mencari anaknya
yang tadi lari kabur masih telanjang ketika sedang dimandikan dengan air sumur
yang dingin.
Rupanya pikiran saya yang kelewat kotor. Ibu paruh baya bergaun hijau kusam
yang sedang berjalan melenggang sambil menggendong bakul atau tenggok itu
sedang menjajakan menu sarapan pagi. Nasi megono, nama makanan yang
dijajakannya.
Menu sarapan pagi nasi megono sepertinya sudah menjadi bagian keseharian warga
masyarakat Wonosobo. Mereka layak membanggakan hal itu. Ungkapan yang pas untuk
menggambarkan suasana ini adalah : ”Serasa belum sarapan kalau belum menyantap
nasi megono”, atau lebih ekstrim lagi dikatakan ”tiada hari tanpa nasi megono”.
Menu yang hampir sama racikannya sebenarnya juga ada di daerah Pekalongan dan
Temanggung, meski agak beda komponen produknya..
Penjual nasi megono banyak dijumpai di pinggir atau sudut-sudut kota Wonosobo
setiap pagi hari. Para pegawai, pelajar, buruh dan umumnya masyarakat Wonosobo
pun bisa membekali perutnya sebelum pergi meninggalkan rumah dengan praktis dan
berbiaya murah. Sebungkus nasi megono yang dibungkus daun pisang berlapis
kertas seadanya bisa diperoleh dengan pengganti uang Rp 500,- sampai Rp 1.000,-
tergantung takaran dan menu tambahannya.
Citarasa masakan setiap orang pasti tidak sama meskipun racikan bumbunya sama,
maka biasanya setiap orang sudah memiliki bakul favoritnya masing-masing.
Seperti keluarga teman saya yang tinggal di kawasan dusun Karangkajen, desa
Wonosobo Timur, juga sudah punya langganan bakul nasi megono (atau terbalik,
bakul nasi megono yang punya pelanggan keluarga teman saya....). Masakan nasi
megono Bu Peno terasa lebih pas di lidah. Setiap pagi Bu Peno yang berparas ayu
seperti dawet Banjarnegara, selalu menyempatkan mampir ke rumah teman saya itu
untuk menjajakan nasi megono. Maka Bu Peno yang pagi itu tampil lugu dan
sportif dengan lilitan kain kebaya agak nyingkrang (tampil sportif tidak harus
dengan berkaus ketat plus celana pendek oleh artis sinetron) pun dengan sigap
bak satpol PP siap
beroperasi, membongkar bakul atau tenggok-nya dan segera membungkus nasi
megono sebanyak yang dipesan.
Kopi secangkir yang belum sempat saya habiskan segera saya tinggalkan, lalu
gantian membedah bungkusan nasi megono bikinan Bu Peno. Sepiring tempe kemul
yang masih panas kebul-kebul, dilengkapi setoples peyek teri pun menemani
sarapan pagi dengan nasi megono. Hmmm..... nikmat benar (mengingatkan saya akan
sarapan pagi dengan gudangan yang dibeli di pasar Sentul Jogja). Nasi megono
yang masih hangat, sepertinya pas benar dilahap sebagai sarapan pagi di kala
udara Wonosobo yang masih dingin.
Sebungkus nasi megono yang tampilan warnanya semburat kecoklatan itu sepintas
memang telihat kurang membangkitkan nafsu makan. Tapi bersabarlah sedikit,
hirup aroma wanginya, sempatkan menelisik komponen produknya, lalu cicipi
sedikit demi sedikit. Maka itu adalah hasil pencampuran nasi dan sayur-mayur
antara lain daun pepaya dan polong atau kol hijau yang dirajang kecil-kecil,
diramu dengan parutan kelapa muda, dan dimasak bersama-sama dengan cara dikukus
atau orang Jawa menyebutnya di-dang. Hasilnya adalah nasi megono yang gurih dan
hoenak, beraroma merangsang selera dan nyamleng tenan.....
Mengunyah dan menelan nasi megono, diselang-seling dengan menggigit tempe kemul
(tempe goreng yang dibalut dengan adonan tepung terigu dan tepung beras
ditambah sedikit kunyit dan rempah penyedap) dipadu dengan kriuk-kriuk peyek
teri, adalah sebuah pengalaman menyantap sarapan pagi yang sungguh nikmat.
Sebuah tradisi sarapan pagi yang perlu dipertahankan. Bukan saja mengandung
nilai nostalgia bagi mereka warga Wonosobo yang sudah tua atau kini merantau di
tanah seberang, melainkan juga lebih sehat dan bergizi alami.
Di Temanggung ada juga nasi gono atau sego gono. Mirip-mirip nasi megono, tapi
campurannya lebih bervariasi dan biasanya berbumbu pedas. Dulu banyak dijumpai
saat tiba musim panen, menjadi bekal makan para petani saat harus seharian
berada di sawah. Entah sekarang apa masih menjadi tradisi atau sudah berganti.
Di Pekalongan juga ada nasi megono yang nasinya berupa nasi liwet yang
disajikan terpisah dengan sayur-mayur semacam urap. Sayurnya pun biasanya
berupa buah nangka muda atau gori yang dirajang agak kasar, lalau dikukus
bercampur parutan kelapa muda dan bunga kecombrang. Makanya lebih beraroma
wangi dan (juga) sedap. Sajian komplit nasi megono Pekalongan bisa merupakan
perpaduan dengan nasi putih, dan bisa juga dinikmati bersama menu pelengkap
berupa tumis tauco, sayur lodeh, sambal kering tempe, balado telor, ikan asin
dan lalapan mentimun.
Sajian nasi megono Wonosobo agaknya lebih sederhana tapi gurih dan numani
(membuat ketagihan). Karena itu, sebaiknya jangan lewatkan menikmati nasi
megono jika sempat menjumpai suasana pagi hari dan kebetulan pas berada di kota
Wonosobo.
Yogyakarta, 9 Januari 2009
Yusuf Iskandar
http://yiskandar. wordpress. com