Bagi orang yang sedang menapak karier, atau saat jabatan kian menanjak, 
biasanya urusan makin banyak yang datang pada waktu yang sama. Kita hanyalah 
seorang diri, walau kadang banyak keinginan. Kita juga bukan manusia super plus 
fiksi, yang bisa membelah diri menjadi beberapa tubuh lalu pergi menuju ke 
segala penjuru untuk menyelesaikan urusan-urusan kita tersebut. Lalu harus 
bagaimana? Apa yang sebaiknya kita lakukan? Apakah hanya milih salah satu saja, 
lalu yang lain EGP (emang gue pikirin)? Wah bisa-bisa karier kita akan langsung 
merosot tajam.
 
Dalam skala yang sederhana, orang kadang dipusingkan dengan urusan kantor dan 
keluarga. Mungkin pertama bisa dipilah, urusan kantor jam 08.00-16.00 dan 
sisanya buat keluarga. Tapi praktek akan berbeda dengan teori. Urusan antar 
jemput anggota keluarga mungkin dilaksanakan pada jam kantor. Urusan 
menyelesaikan tugas kantor kadang harus lembur di rumah. Jadilah ritme kerja 
ini harus dihadapi sebijak mungkin, karena boleh jadi bagi pihak yang waktunya 
terampas akan melakukan tuntutan. Kantor dapat memberikan surat 
peringatan apabila pada jam kerja sering bolos, keluargapun akan protes keras 
apabila dicuekin gara-gara mengerjakan urusan kantor.
 
Belum lagi bagi yang keluarganya banyak (misalnya poligami atau anak-anaknya 
banyak, semua butuh perhatian) dan urusan kantor yang banyak pula (misalnya 
lebih dari satu kantor, atau kita menjabat posisi penting alias super sibuk). 
Wah bisa-bisa IQ merosot tajam gara-gara stress tinggi. Temperamental, sering 
lupa dan tidak tahu harus berbuat apa serta mulai darimana; adalah ciri khas 
ritme kerja sudah mulai overload (baca: beban melebihi kemampua fisik-mental).
 
Solusi dari permasalahan ini adalah Manajemen Prioritas. Kita harus rajin 
membuat urutan prioritas menurut skala kepentingan dan waktu. Mungkin urusan 
banyak di waktu yang sama, cobalah urutkan mana yang paling penting. Itulah 
yang harus diselesaikan dulu atau didatangi langsung. Misalnya penting karena 
kita jadi pembicara, sedang di lain tempat hanya sebagai peserta. Jika memang 
urusan cukup banyak, mungkin bisa dilobi untuk kita datang agak terlambat atau 
pelaksanaanya digeser waktunya.
Kita juga membuat urutan kegiatan berdasar waktu. Selanjutnya mempertimbangkan 
rentang waktu yang dibutuhkan dalam pergeseran tempat menuju urusan berikutnya.
 
Terkadang kita membutuhkan orang lain atau alat (alarm HP) untuk sekedar 
mengingatkan tentang waktu kegiatan tertentu. Orang yang membantu tersebut 
sering disebut sebagai sekretaris pribadi. Tugasnya untuk mengatur jadwal 
kegiatan dan sekaligus mengingatkan dalam pelaksanaannya.
 
Namun rencana walau sudah disusun dengan matang, tetap saja ada kemungkinan 
untuk mundur atau batal atau kita sendiri yang terhambat karena sesuatu hal. 
Maka alangkah baiknya jika urutan kegiatan berikutnya menjadi prioritas 
berikutnya pula. Istilahnya, kita membuat Plan A, Plan B dan Plan C.
 
Secara sosial, kesibukan yang supertinggi bisa memicu kerenggangan hubungan 
sosial. Kita bisa dikatakan sombong karena sulit ditemu atau gara-gara jarang 
tersenyum. Untuk itu kita perlu menyisihkan waktu diantara kesibukan itu untuk 
sekedar rileks, seperti obrolan santai, silaturahmi, atau sekedar "say hello" 
via sms. Di era yang super sibuk ini, terkadang SMS menjadi jurus mujarab dalam 
komunikasi.
 
Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke