waduh... kendal ngeri temen yo.. kok ono preman barang...
2009/3/5 moh anto <[email protected]> > Perlu diketahui bahwa HB cs mempunyai pasukan preman yg sampe sekarang > masih aktif walaupun secara sembunyi-sembunyi, dan juga Ketua DPRD Jawa > Tengah adalah adik kandung dari HB > --- Pada *Kam, 5/3/09, witono hidayat <[email protected]>* menulis: > > > Dari: witono hidayat <[email protected]> > Topik: Re: [kendal-online] Siapa Wabup Kendal selanjutnya? > Kepada: [email protected] > Tanggal: Kamis, 5 Maret, 2009, 8:42 AM > > > andaikan tulisan ini bisa disampaikan kepada keluarga HB dan juga > keluarga besar DPRD Kendal... > > adakah yang bisa menyampaikan. .. > > mungkin mereka adalah orang orang yang hanya tau hidup untuk di dunia saja, > sehingga menumpuk harta seoalah bisa menyelamatkan mereka dari kematian... > > --- On *Thu, 3/5/09, Budiyanto <hr2fat...@gmail. com>* wrote: > > From: Budiyanto <hr2fat...@gmail. com> > Subject: Re: [kendal-online] Siapa Wabup Kendal selanjutnya? > To: kendal-online@ yahoogroups. com > Date: Thursday, March 5, 2009, 8:32 AM > > Haus Kekuasaan > Selasa, 03-Maret-2009, Penulis: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah > > Lain dulu lain sekarang. Mungkin ungkapan ini cocok dengan keadaan pada > hari ini. Mereka telah terhempas jauh dari tuntunan Allah -Ta’ala-, dan > Rasul-Nya -Shallallahu alaihi wa sallam- . Besarnya gelombang syahwat dan > syubhat membuat mereka terpisah jauh dari panutan mereka yaitu para sahabat > nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para shalafush shaleh. Mereka > beraqidah, bukan dengan aqidah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan para > sahabatnya. Mereka beribadah, bukan dengan ibadah yang dicontohkan oleh Nabi > -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabatnya. Mereka bermu’amalah, > bukan dengan mu’amalah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dan para > sahabat. Akhirnya, Allah Ta’ala membiarkan mereka memilih jalannya sendiri > dan memalingkan mereka dari kebenaran, kemana mereka mau berpaling sebagai > hukuman kepada mereka atas kedurhakaannya kepada Rasulullah -Shollallahu > ‘alaihi wasallam-, dan akibat mereka tidak mau mengikuti jalannya para > sahabat. > > Allah -Ta’ala- berfirman, > > “Barang siapa yang durhaka kepada Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan > mengikuti selain jalan orang-orang beriman (para sahabat) Kami biarkan dia > dalam kesesatannya dan kelak kami akan masukkan mereka ke dalam neraka > Jahannam, dan Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. > An-Nisaa’ :115) > > Jika kita mau memperhatikan kondisi kaum muslimin pada hari ini dan > membandingkannya dengan para sahabat dan pengikut mereka yang setia, maka > kita akan mendapatkan perbedaan yang sangat jauh. Pada hari ini, kaum > muslimin berlomba-lomba dan haus kekuasaan untuk mendapatkan jabatan dan > menjadi pemimpin. Padahal para salaf terdahulu menjauhi dan menghindarinya. > > Segala cara mereka tempuh, tanpa peduli lagi dengan halal tidaknya. Maka > nampaklah gambar-gambar mereka terpampang di setiap sudut jalan dengan > kata-kata yang menggoda berharap agar mereka dipilih oleh masyarakat. Mulai > dari orang kaya sampai guru ngaji; yang tua maupun yang muda, semua berebut > kursi jabatan. Sungguh sial para pengemis kekuasaan tersebut; mereka telah > menghamburkan harta dimana-mana demi meraih kekuasaan. Andaikan harta yang > mereka hamburkan dalam pesta demokrasi itu mau dikumpulkan, lalu > disedekahkan di jalan Allah, niscaya banyak orang yang akan merasakan > manfaatnya. Tapi demikianlah setan menghiasi kehidupan dunia ini dengan > segala macam tipuannya untuk membinasakan manusia, dan membuat mereka rugi > di dunia. > > Para salafush shaleh terdahulu sangat takut jika mereka diberikan > kekuasaan. Sebab mereka tahu dan pahami besarnya konsekuensi dan pertanggung > jawaban kekuasaan kelak di sisi Allah -Ta’ala- > > Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, > > أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, > فَاْلأَمِيْرُ الَّذِيْ عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ > رَعِيَّتِهِ > > “Ingatlah, setiap orang diantara kalian adalah pemimpin, dan setiap dari > kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang amir (pemimpin > masyarakat) yang berkuasa atas manusia adalah pemimpin, dan ia akan ditanya > tentang rakyatnya". [HR. Bukhari (5200) dan Muslim (4701)] > > Seorang yang mau menjadi pemimpin dan penguasa, harus mengetahui betul > bahwa kekuasaan adalah amanah yang amat berat dipundak, dan tanggung jawab > yang amat besar di sisi Allah, sebab ia harus menunaikan hak orang banyak, > dan berbuat adil kepada mereka sebagaimana halnya mereka ingin agar rakyat > menunaikan tugasnya di hadapan dirinya. Sungguh tugas ini amat berat > digenggam, dan amat berbahaya. Tak heran jika Panutan kita, Nabi Muhammad > -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengingatkan kita tentang bahayanya > kekuasaan, dan orang yang memintanya. > > Abdur Rahman bin Samuroh -radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Rasulullah > -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepadaku, > > يَا عَبْدَ الرَّحْمنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلِ اْلإِمَارَةَ, فَإِنَّكَ > إِنْ أُوْتِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا, وَإِنْ أُوْتِيْتَهَا > مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا > > "Wahai Abdur Rahman bin Samuroh, janganlah engkau meminta kekuasaan. Karena > jika kau diberi kekuasaan dari hasil meminta, maka engkau akan diserahkan > kepada kekuasaan itu (yakni, dibiarkan oleh Allah & tak akan ditolong, > pent.). Jika engkau diberi kekuasaan, bukan dari hasil meminta, maka engkau > akan ditolong". [HR. Al-Bukhoriy (6622, 6722, 7146, & 7147), dan Muslim > (4257, & 4692)] > > Abu Musa Al-Asy’ariy-radhiyal lahu ‘anhu- berkata, > > دَخَلْتُ عَلَى النَّبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلاَنِ > مِنْ بَنِيْ عَمِّيْ, فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ: يَا رَسُوْلَ اللهِ > أَمِّرْنَا عَلَى بَعْضِ مَا وَلاَّكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ, وَقَالَ الآخَرُ > مِثْلَ ذَلِكَ, فَقَالَ: إِنَّا,وَاللهِ ! لاَ نُوَلِّيْ عَلَى هَذَا الْعَمَلِ > أَحَدًا سَأَلَهُ وَلاَ أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ > > "Aku pernah masuk menemui Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersama dua > orang sepupuku. Seorang diantara mereka berkata, "Wahai Rasulullah, > jadikanlah kami pemimpin dalam perkara yang Allah -Azza wa Jalla- berikan > kepadamu. Orang kedua juga berkata demikian. Maka beliau bersabda, "Demi > Allah, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada orang > yang memintanya, dan tidak pula orang yang rakus kepadanya". [HR. > Al-Bukhoriy (7149), dan Muslim (1733)] > > Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, > > لَنْ أَوْ لاَ نَسْتَعْمِلُ عَلَى عَمَلِنَا مَنْ أَرَادَهُ > > "Kami tak akan mempekerjakan dalam urusan kami orang yang menginginkannya" > . [HR. Al-Bukhoriy (2261, 6923, & 7156), dan Muslim (1733)] > > Seorang yang meminta kekuasaan dan rakus terhadapnya akan mengalami > penyesalan, sebab ia bukan ahlinya. Kekuasaan menjadi sebuah kenikmatan > sementara, sedang kesusahan dan tanggung jawab akan menanti di Padang > Mahsyar. > > Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, > > إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ عَلَى اْلإِمَارَةِ وَسَتَكُوْنُ نَدَامَةً يَوْمَ > الْقِيَامَةِ, فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ > > "Sesungguhnya kalian kelak akan rakus terhadap kekuasaan, dan kekuasan itu > akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Kekuasaan adalah sebaik-baik > penetek(yakni, awalnya penuh kelezatan dan kenikmatan, pent.), dan > sejelek-jelek penyapih (yakni, di akhirnya, saat terjadi kudeta, dan > pertanggungjawaban di hari akhir, pent.)". [HR. Al-Bukhoriy (6729), dan > An-Nasa’iy (4211 & 5385)] > > Sungguh nasihat dan wejangan berharga ini seyogyanya menjadi peringatan > bagi kaum muslimin tentang beratnya tanggung jawab menjadi seorang pemimpin. > Hendaknya jangan berani meminta kekuasaan. Sebelum seorang diberi kekuasaan > dan tanggung jawab, hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan takut akan > azab-Nya dengan membentengi diri mereka dengan ilmu sebelum menjadi > pemimpin. > > Seorang ulama’ tabi’in, Al-Ahnaf bin Qois Al-Bashriy -rahimahullah- > berkata, “Umar bin Khattab pernah mengatakan kepada kami, “Pelajarilah ilmu > agama sebelum kalian memegang kekuasaan”. Sufyan berkomentar, “Karena > seseorang yang telah mengetahui ilmu agama, ia tidak akan berhasrat lagi > mengejar kekuasaan.” [Lihat Shifatush shafwah (2/236)] > > Demikian pula para salaf yang lain, mereka sangat takut jika diberi > kekuasaan. Al-Miswar bin Makhromah-radhiyall ahu ‘anhu- bekata, “Ketika > Abdur Rahman bin Auf diberi mandat dalam majlis syura (dewan musyawarah > pemilihan khalifah dari kalangan ulama yang cerdik dan pandai). Beliau > adalah orang yang paling kuidamkan untuk menduduki jabatan khalifah. Kalau > beliau enggan, sebaiknya Sa’ad. Tiba-tiba Amru bin Ash menjumpaiku dan > berkata, “Apa kira-kira pandangan pamanmu Abdur Rahman bin Auf, kalau ia > menyerahkan jabatan ini kepada orang lain, padahal dia tahu bahwa dirinya > lebih baik dari orang itu?”. Aku segera menemui Abdurrahman dan menceritakan > kepada beliau pertanyaan itu. Beliau lalu berkomentar, “Seandainya ada orang > meletakkan pisau dileherku lalu menusuknya hingga tembus, itu lebih kusukai > daripada menerima jabatan tersebut”. [Lihat Siyar Al-A’lam An-Nubala’ > (1/87-88)]. > > Utsman bin Affan pernah mengeluh karena mimisan (keluar darah dari hidung), > lalu beliau memanggil Humran. Beliau berkata, “Tuliskan mandat untuk > Abdurrahman untuk menggantikan aku bila aku meninggal". Maka Humran pun > menuliskan mandat itu. Setelah itu, Humran datang menjumpai Abdur Rahman > seraya berkata, “ Ada kabar gembira”. Abdur Rahman bertanya, “Kabar apakah > itu?”. Humran berkata, “Utsman telah menuliskan mandat untuk anda > sepeninggalannya” . Abdur Rahman pun segera berdiri di antara makam dan > mimbar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- (yakni, di Raudhah), lalu > berdo’a, “Ya Allah apabila penyerahan jabatan dari Utsman sepeninggalnya > betul-betul terjadi, maka matikanlah aku sebelum itu”. Tak lebih enam bulan > berselang, beliau pun wafat. [Lihat Siyar Al-A’lam An-Nubala’ (1/88)] > > Yazib bin Al-Muhallab ketika diangkat sebagai gubernur Khurasan, ia membuat > pernyataan, “Beritahukanlah kepadaku tentang seorang laki-laki yang memiliki > kepribadian yang luhur lagi sempurna”. Beliau lalu dikenalkan kepada Abu > Burdah Al-Asy’ariy. Ketika Sang Gubernur menemui Abu Burdah, ia mendapatinya > sebagai seorang lelaki yang memiliki keistimewaan. Ketika Abu Burdah > berbicara, ternyata apa yang ia dengar dari ucapannya lebih baik dari apa > yang ia lihat dari penampilannya. Sang Gubernur lantas berkata, “Aku akan > menugaskanmu untuk urusan ini dan ini, yang termasuk dalam kekuasaanku" . > Abu Burdah meminta maaf karena tidak bisa menerimanya. Namun Sang Gubernur > tidak menerima alasannya. Akhirnya Abu Bardah pun berkata, “Wahai Gubernur, > sudikan anda mendengarkan apa yang disampaikan oleh ayahku? Bahwa ia pernah > mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda”. Gubernur > berkata, “Sampaikanlah” . Abu Bardah berkata, “Sesungguhnya Ayahku (Abu Musa > Al-‘Asy’ariy) telah mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- > bersabda: > > “Barang siapa yang ditugaskan untuk memikul suatu pekerjaan yang dia tahu > bahwa dirinya bukanlah orang yang ahli atau pantas dalam pekerjaan tersebut, > bersiap-siaplah ia masuk ke dalam neraka”. > > Aku bersaksi wahai Gubernur, "Bahwa aku bukanlah orang yang ahli atau > pantas dalam urusan yang anda tawarkan". Sang Gubernur justru berkata, > “Dengan ucapanmu itu, kamu justru membuat kami makin berhasrat dan senang > menaruh kepercayaan kepadamu. Laksanakanlah dengan segala tugas-tugasmu. > Kami tidak bisa menerima alasanmu”. Maka lelaki itu pun menjalankan tugasnya > di antara mereka selama beberapa waktu. Lalu ia meminta ijin untuk dapat > menemui Gubernur, dan ia diijinkan. Lalu ia berkata, “Wahai Gubernur, > sudikan anda mendengarkan apa yang disampaikan ayahku kepadaku bahwa ia > mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “terlaknatlah > orang yang meminta atas nama Allah. Terlaknatlah orang yang diminta atas > nama Allah, lalu tidak mengabulkan permintaan si peminta, selama ia (si > peminta) tidak meminta perkara yang memutuskan persaudaraan” . > > Sekarang aku minta atas nama Allah untuk tidak menjalankan tugas lagi, dan > memaafkan saya atas pekerjaan yang telah saya lakukan.” Maka sang Gubernur > pun menerima alasannya. [Lihat Siyar Al-A’lam An-Nubala’ (4/345)] > > Sufyan berkata, “Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit > daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita bisa dapati orang zuhud dalam > hal makanan, minuman, harta, dan pakaian, namun kalau kita berikan kepadanya > kekuasaan, ia akan mempertahankannya dan berani bermusuhan membelanya”. > [Lihat Siyar Al-A’lam An-Nubala’ (7/262)] > > Itulah sebagian dari nasihat dan mutiara hikmah dan petuah salafush shaleh > yang tinggi mutunya, mahal harganya, dan besar faedahnya. Kalimat yang > muncul dari lisan generasi terbaik umat ini. Yakni sahabat, tabi’in, dan > tabi’ut tabi’in -radhiyallahu anhum-. > > Allah -Ta’ala- berfirman ketika memuji mereka, > > “Orang-orang yang terduhulu lagi pertama dari kalangan muhajirin dan anshar > dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka > dan mereka ridho kepada Allah dan Dia menyiapkan bagi mereka surga-surga > yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selamanya. > Itulah kemenangan yang besar”. ( QS. At-Taubah: 100) > > Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini, “Allah mengabarkan tentang ridhonya > kepada orang-orang beriman dari kalangan muhajirin dan anshar dan > orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta keridhoan mereka kepada > Allah. Dengan apa yang Allah telah siapkan mereka berupa surga-surga yang > nikmat dan kenikmatan yang abadi [Lihat Tafsir Al-Qur’anil Adzim (2/398)] > > Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, > > خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ > يَلُوْنَهُمْ > > “Sebaik-baik manusia adalah di zamanku, kemudian setelahnya (tabi’in), > kemudian setelahnya (tabi’ut-tabi’ in)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab > Asy-Syahadat (2509), dan Muslim dalam Fadho’il Ash-Shohabah (2533)] > > Ayat dan hadits di atas menjelaskan kepada kita tentang keutamaan dan > kedudukan yang agung yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada para > sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik. Karena itu, hendaknya > kita menjadikan mereka sebagai panutan dan suri teladan yang baik. Merekalah > yang dikenal dengan "Salafush Sholih" (Pendahulu yang Baik) > > Alangkah indahnya ucapan Abdullah bin Mas’ud-radhiyallahu ‘anhu-, > “Barangsiapa yang ingin mengambil teladan maka hendaklah ia mengambil > teladan pada orang yang telah meninggal (yakni, para sahabat), sebab orang > yang masih hidup tidaklah aman dari ujian. Mereka adalah para sahabat nabi > Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-, mereka adalah manusia terbaik umat > ini, yang paling bagus hatinya, yang paling dalam ilmunya, dan paling > sedikit membebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang dipilih oleh Allah > untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Maka kenalilah keutamaan > mereka! Ikutilah jalan mereka, dan berpegang teguhlah dengan akhlak dan > agama mereka semampu kalian, karena mereka berada pada petunjuk yang lurus > [HR. Abu Nua’im dalam Al-Hilyah (1/305)] > > Al-Imam Abu Amer Al-Auza’iy-rahimahul lah- berkata, “Sabarkanlah dirimu di > atas sunnah. Berhentilah di mana kaum itu (para sahabat) berhenti. > Berucaplah dengan apa yang mereka ucapkan, tahanlah (dirimu) dari apa yang > mereka menahan diri darinya, dan tempuhlah jalan salafush shalehmu > (pendahulumu yang shaleh). Karena sesungguhnya apa yang engkau leluasa > (melakukannya) leluasa pula bagi mereka”. [HR. Al-Lalikaa’iy dalam Syarh > I’tiqod Ahlis Sunnah (no.315), Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ ah (1/148)] > > Inilah beberapa buah petikan nasihat dari kehidupan Nabi -Shallallahu > ‘alaihi wa sallam- dan para sahabatnya yang jauh dari ketamakan terhadap > kekuasaan. Mereka amat takut menerima kekuasaan; berbeda dengan orang-orang > di akhir zaman ini, mereka berlomba-lomba meminta kekuasaan dengan berbagai > macam dalih, seperti "Demi Islam". Padahal semuanya demi kursi!! Islam tak > butuh kepada perjuangan yang jauh dari petunjuk Islam. Fa’tabiruu ya ulil > abshor. > > Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 98 Tahun II. > http://almakassari. com/?p=329# > more-329<http://almakassari.com/?p=329#more-329> > Budiyanto > > Pada 5 Maret 2009 23:15, moh anto <anto_sarimanan@ > yahoo.com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > menulis: > >> Menurut kabar yang sedang santer beredar DPRD Kab Kendal sedang >> didesak untuk segera melakukan pelantikan Wabup Siti Nurmarkesi utk menjadi >> bupati yg definitf, akan tetapi tampaknya ada ganjalan dr fraksi terbesar di >> DPRD Kab Kendal ttg hal ini. >> Fraksi terbesar ini tampaknya mempunyai tuntutan utk bisa mengisi posisi >> wabup yg kosong namun yg konyol calon yg muncul adalah Widya Kandi Susanti >> yg notabene adlah istri dari bupati yg di copot krn kasus korupsi. Klo ini >> terjadi alangkah konyolnya para wakil rakyat karena sangat tidak mungkin >> kasus korupsi bupati Kendal terjadi tnp melibatkan sosok istrinya, baik >> langsung maupun tidak langsung. >> Sebagai warga Kendal yg masih bermukim di Kab tercinta ini tentu sangat >> mendambakan sosok atau figur pemimpin yg mampu mengemban amanah dengan baik >> dan jujur.... >> >> ------------------------------ >> Warnai pesan status dengan Emoticon. >> Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru. >> <http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/maxwell/*http://id.messenger.yahoo.com/> >> > > > > ------------------------------ > Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! > <http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/pingbox/mailtagline/*http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/> > Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah > > -- ASROFI Address : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan Mobile : +6281 311 661 479 Phone : +6221 685 29 128 Yahoo : asrofism G-Talk : [email protected] Email : [email protected] Blog : www.asrofi.web.id Office : www.sentraproperty.com

