Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 3
------------------------------------------

Anak lelaki saya minta ibunya membelikan buah melon, tapi ibunya lupa. 
Kebetulan suatu siang saya berada di dekat kios buah pinggir jalan di Jogja, 
maka langsung saja saya membelikan sebutir melon, sebelum nanti lupa lagi. 
Kepada penjual buah saya utarakan maksud saya, kemudian saya minta dipilihkan 
yang bagus, sekalian dimasukkan ke tas kresek, saya tanya harganya, lalu saya 
bayar tunai begitu saja. 

Kami (saya dan tukang buah) siang itu menjalankan bisnis kepercayaan. Saya 
tepis jauh-jauh pikiran bagaimana kalau ternyata saya dibohongi dengan 
dipilihkan buah melon yang jelek, toh buahnya tidak saya lihat lagi setelah 
dimasukkan ke dalam tas kresek warna hitam. Atau bagaimana kalau ternyata 
harganya dimahalkan atau kemahalan, sebab saya langsung membayarnya begitu saja 
dengan tanpa menawar sedikitpun atas harga yang disebutkanya. 

Sampai di rumah saat sorenya, sebutir melon yang beratnya dua kilogram setengah 
lebih sedikit itu saya pamerkan ke istri. Tujuan saya tentu memberikan surprise 
karena kemarin dia lupa membelikan buah melon pesanan anak saya. Lalu istri 
saya bertanya : "Beli melon, berapa harganya?".
"Sekilo enam ribu rupiah", jawab saya.
"Ditawarkan berapa?", tanya istri saya lagi.
"Ya, enam ribu rupiah", jawab saya tanpa merasa ada yang salah. Ya, memang 
sebenarnya tidak ada yang salah kok...
"Mestinya masih bisa ditawar lebih murah", komentar istri saya kemudian sambil 
memotong setengah buah melon itu lalu mengirisnya menjadi tipis-tipis 
menyerupai bulan sabit. Dialog saya dan istri kemudian terhenti sebentar karena 
kami masing-masing berpikir dengan jalan pikiran masing-masing. 

Sesaat kemudian, sambil leyeh-leyeh di depan televisi saya berkata dengan nada 
datar : "Kapan ya.... terakhir kali kita membeli buah tanpa menawar.... Lima 
tahun lalu, sepuluh tahun lalu, atau malah belum pernah sama sekali.....".

***

Dasar ibu-ibu, merasa belum afdol kalau belanja kok tidak nawar, kecuali di 
pasar moderen sekalipun tahu harga yang dipasang sebenarnya lebih mahal. Bila 
perlu mati-matian bertahan di depan bakul pasar hanya perkara uang seribu-dua 
ribu rupiah. Tapi itu memang sangat manusiawi (mungkin lebih tepat disebut 
ibuwi). Terkadang bukan masalah rupiahnya, melainkan kepuasannya.

Sama seperti ketika sekali waktu tawar-menawar dengan tukang becak di Jogja. 
Sang penumpang berlagak sok tahu bahwa biasanya biayanya tidak segitu. Dan sang 
tukang becak tidak mau kalah dengan berlakon memelas agar tawaran ongkosnya 
disetujuii. Akhirnya mereka sepakat dengan ongkosnya. Begitu tiba di tujuan, 
sang penumpang malah menggandakan ongkos becaknya, tinggal sang tukang becak 
munduk-munduk berterima kasih. Kalau memang begitu kenapa tadi mesti 
buang-buang waktu untuk bernegosiasi alot menawar ongkosnya? Ya itu tadi, 
improvisasi atas nama kepuasan. Kepuasan telah berhasil memenangi negosiasi 
(menang melawan tukang becak kok sombong....), kepuasan memberi lebih banyak 
tanpa diminta kepada tukang becak (seringkali antara berharap pujian dan ikhlas 
batasnya tipis sekali), dan kepuasan melakukan improvisasi dalam hidup.     

Ya, apa yang saya lakukan siang itu adalah sekedar ingin berimprovisasi. 
Keinginan itu terbersit begitu saja tanpa saya rencanakan. Bukan saya tidak 
bisa melakukan tawar-menawar. Sekali waktu saya pun bisa ikut menawar kalau 
lagi membeli buah. Sekedar ingin membuktikan bahwa saya juga bisa nyinyir 
bernegosiasi untuk bertahan memperoleh penghematan seribu-dua ribu rupiah. 
Suatu jumlah rupiah yang sebenarnya persentasenya relatif sangat kecil 
dibanding jumlah pengeluaran bulanan keluarga. Tapi kok ya dilakukan juga dan 
malah hampir selalu dilakukan. 

Artinya, kalau sekali waktu kita melakukan improvisasi kecil melakukan bisnis 
kepercayaan semodel cerita di atas, sebenarnya kita sedang membicarakan sesuatu 
yang nyaris tidak terlihat, tidak berpengaruh, tidak ada artinya apa-apa dalam 
penggalan kehidupan kita. Tapi faktanya, susah nian melakukannya dengan sepenuh 
keikhlasan.

Yogyakarta, 25 April 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke