Selamat Mendaki, Para Pendaki Kecil
------------------------------------------------

Awalnya anak saya (Noval, 15 tahun) mengajak mendaki gunung Rinjani (3726 
mdpl), di pulau Lombok, dalam rangka mengisi waktu libur sambil menunggu hasil 
UAN SMP-nya. Tapi sayang, bekalnya belum memadahi. Pesawat Jogja-Mataram pp. 
plus akomodasi, konsumsi, transport lokal, dll, untuk berdua pasti lumayan 
banyak jumlah rupiahnya. Pada waktu yang bersamaan ibunya sedang butuh tambahan 
dana cukup banyak untuk membuka toko. Dengan sangat menyesal, saya menjanjikan 
untuk menjadwal ulang rencana pendakian ke gunung Rinjani.

Sudah berbulan-bulan ini Noval suka menunggu acara adzan maghrib di depan 
televisi. Bukan tanda waktu sholatnya yang ditunggu (wong waktu sholat 
Jakarta), melainkan gambar awal tayangan adzan maghrib di saluran Trans7 adalah 
pemandangan danau Segara Anak yang membentang indah di tengah perjalanan 
mendaki Rinjani.

Rupanya diam-diam Noval merencanakan pendakian alternatif. Beberapa temannya 
termasuk guru sekolahnya dihubungi dan diajak mendaki ke gunung Merbabu (3142 
mdpl). Walhasil, tiga orang temannya jadi bergabung, sementara gurunya 
berhalangan. Lalu dimatangkanlah rencana pendakian ke gunung Merbabu, tanpa 
saya ketahui.

Tiba-tiba Noval minta ijin besok mau mendaki Merbabu. Waduh... Lalu bermunculan 
aneka pertanyaan untuk memastikan kesungguhannya. Ternyata memang rencana sudah 
matang. Bahkan ketika gurunya berhalangan pun mereka tetap berniat berangkat. 
Jelas, rencana tidak mungkin dibatalkan, sebab semua sudah disiapkan oleh Noval 
dan ketiga temannya.

Terkadang terpikir juga, jangan-jangan saya ini tergolong orang tua yang 
kelewat reseh dan khawatiran. Ya, sementara saya berpikir panjang untuk 
mengijinkan anak saya mendaki gunung dengan tanpa pendamping orang yang lebih 
dewasa, sementara itu pula para orang tua dari ketiga temannya Noval sepertinya 
biasa-biasa saja.

Sebenarnya bukan soal diijinkan atau tidak diijinkan, melainkan saya hanya 
khawatir kalau anak-anak itu menganggap bahwa mendaki gunung itu sekedar olah 
raga kuat jalan mendaki sambil membawa beban di punggungnya. Seperti halnya 
anggapan para kawula muda umumnya yang baru menyukai hobi petualangan di alam 
liar. Sedang yang sesungguhnya mendaki gunung itu jauh lebih memerlukan 
kesiapan fisik dan mental yang tidak sesederhana itu. Berita terakhir tentang 
pendaki yang tersesat di gunung Argopuro (Jatim) dan Ciremai (Jabar), hanyalah 
sedikit contoh dari tidak sederhananya kegiatan mendaki gunung itu.

Rupanya tekad dan semangat untuk mendaki sudah telanjur tidak bisa dipadamkan. 
Akhirnya ijin orang tua pun turun, tinggal kewajiban orang tua memberi bekal 
ilmu dan pengarahan yang cukup.  Saya tidak ingin mereka sekedar berhasil 
mencapai puncak, melainkan harus ada yang mereka pelajari dan hikmahi melalui 
kegiatan yang tidak biasa bagi anak-anak seusianya itu.

Selasa pagi ini cuaca Jogja sedang rada muram. Sejak pagi teman-teman Noval 
sudah berdatangan ke rumah dengan masing-masing membawa tas ransel besarnya. 
Noval minta diantar ke terminal bis Jombor di Jogja utara. Saya pun segera 
menyiapkan kendaraan. Namun sebelum berangkat, Noval dan ketiga temannya 
(Alfian, 15 tahun; Irman 14 tahun dan Faisal 14 tahun) saya kumpulkan untuk 
diberi pengarahan. Sementara komentar ibunya sederhana saja : "Wah, harus 
siap-siap menerima setumpuk pakaian kotor, nih...".

*** 

Hal pertama yang saya pastikan kepada ketiga teman Noval adalah apakah sudah 
memperoleh ijin dari orang tua masing-masing bahwa mereka akan mendaki Merbabu 
dengan tanpa guru pendamping. Jawaban mereka kompak : "Sudah". Setelah itu saya 
tanyakan rencana perjalanan pendakiannya. Lalu saya ingatkan bekalnya harus 
cukup termasuk untuk antisipasi keadaan darurat jika harus bermalam lebih lama 
di gunung. Selanjutnya mulailah saya memberikan kultum (kuliah tujuh menit, 
lalu molor sampai 15 menit). 

Hal-hal pokok yang saya ingin tegaskan adalah bahwa mendaki gunung itu tidak 
boleh dianggap sebagai kegiatan yang remeh. Tidak boleh sombong, betapapun 
kuatnya. Harus kompak dan bertenggang rasa dengan kondisi fisik temannya. 
Jangan memaksakan diri jika di tengah jalan cuaca menjadi buruk, dan apa yang 
harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Lalu saya suruh mereka sebelum 
mendaki supaya meminta bantuan penduduk setempat untuk menemani pendakian. 
Seseorang yang oleh para pendaki sering disebut dengan sebutan salah kaprah 
"ranger". Terakhir saya minta supaya mengirim SMS setiap kali ketemu sinyal.

Gunung Merbabu sebenarnya bukan gunung dengan tingkat kesulitan tinggi. Bentang 
alam topografi dan pepohonannya relatif tidak menyulitkan. Untuk mencapai 
puncaknya tidak seberat dan seberbahaya puncak Merapi. Namun tetap saja 
kemungkinan terburuk harus diantisipasi, di antaranya adalah perubahan cuaca 
seputaran komplek gunung Merbabu-Merapi.

Itulah sebabnya kenapa saya sebagai orang tua menjadi kedengaran begitu reseh? 
Karena mereka adalah pendaki-pendaki kecil yang masih suka cengengesan, yang 
saya khawatirkan belum mampu berpikir jernih ketika terjadi keadaan darurat di 
tempat yang adoh lor adoh kidul (jauh dari mana-mana), sementara kondisi 
fisiknya sangat terkuras. Noval dan seorang temannya memang sudah dua kali 
mendaki Merbabu, tapi dua orang temannya yang lain belum pernah. Dan kali ini 
adalah pendakian pertama mereka dengan tanpa didampingi oleh seorang dewasa. 
Akhirnya, sebelum berangkat mereka saya suruh melakukan sholat safar, 
sebagaimana kebiasaan kami setiap kali sebelum bepergian jauh. 

"Selamat mendaki, para pendaki kecil...". Ibu kalian di rumah menunggu dan siap 
menerima order cucian pakaian kotor tanpa biaya...

Yogyakarta, 9 Juni 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke