Menikmati Pilpres Sebagai Acara Entertainment
---------------------------------------------

Pesta demokrasi kedua tahun ini segera berlangsung di seluruh pelosok negeri. 
Pesta itu bernama Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan digelar pada hari 
Rabu, 8 Juli 2009. Dari sekian puluh juta warga yang berhak hadir di pesta, ada 
yang menganggapnya penting dan siap melakukan langkah tegap menuju pesta, ada 
yang biasa-biasa saja lenggang-kangkung, ada yang cuek-bebek ogah-ogahan, ada 
juga yang "ah, prek...". Kelompok yang terakhir ini lebih memilih jadi 
penggemar Michael Jackson melakukan moonwalk di bulan purnama Rabu Pahing, 
tanggal 15 Rajab 1430H.

Inilah pesta yang ditunggu-tunggu hasilnya oleh sebagian besar rakyat negeri, 
bahkan termasuk oleh kelompok "ah, prek...". Yang ditunggu adalah hasilnya, 
bukan pestanya. Siapa diantara tiga kandidat yang akan menerima mandat rakyat 
untuk melanjutkan memimpin negeri ini. Mudah-mudahan kata 'memimpin' juga 
diterjemahkan sebagai membangun, memajukan, memakmurkan, mensejahterakan serta 
mengamankan. Bukan hanya memimpin thok..., setelah itu terserah rakyatnya 
disuruh bangun dan sejahtera sendiri-sendiri.

*** 

Sejak acara pra-pesta antara lain kampanye dan debat capres/cawapres, saya 
mencoba menikmati suasananya, melalui media surat kabar, televisi maupun 
internet. Adakalanya seru, ada kalanya lucu, ada kalanya menggemaskan, sesekali 
menjengkelkan. Satu-satunya cara untuk bisa menikmati serangkaian acara 
pra-pesta itu adalah menjadikannya sebagai sebuah acara entertainment. Dengan 
begitu saya tidak perlu membuang energi untuk mikir, melainkan nikmati saja, 
enjoy aja... 

Ketika yang muncul di permukaan adalah tentang sesuatu yang logis dan masuk 
akal, saya manggut-manggut. Ketika yang terdengar adalah tentang mimpi, saya 
menghisap rokok dalam-dalam kemudian saya tiupkan asapnya ke layar televisi. 
Ketika ada yang lucu, segera saya mengingat lagunya Mbah Surip lalu tertawa 
bersama anak saya dengan irama serak patah-patah. Enak to..., mantep to...

Acara debat capres (terutama yang terakhir) lebih enak dinikmati. Tidak monoton 
dan datar seperti debat sebelumnya. Bak sebuah pertunjukan teater, ada 
pemainnya yang nampak piawai berimprovisasi dan melakukan blocking dengan manis 
di atas pentas. Ada juga muncul paparan dialog yang begitu runtut, sistematis 
dan enak didengar dengan mimik meyakinkan. Namun sesekali ada juga yang 
menyanyikan lagunya Kuburan Band, dari nada kunci C, A minor, D minor, ke G, ke 
C lagi..., ke C lagi..., ke C lagi... Semuanya berlangsung wajar, apa adanya 
(ya memang seperti itulah adanya).

Sungguh saya begitu menikmatinya, membuat saya semakin bisa membaca apa yang 
ada di pikiran mereka, bagaimana cara mikirnya, serta bagaimana mereka menata, 
mendudukkan dan berbagi buah pikirannya. Akhirnya dapat mempersempit pilihan 
saya (meskipun sampai mendekati hari pesta rasanya kok masih enggak 
sempit-sempit juga, dan itu pun tidak terlalu menjadi soal). Kalaupun saya 
belum punya pilihan hingga detik terakhir, semoga sekian puluh juta tetangga 
saya sebangsa dan setanah air sudah menentukan pilihannya secara demokratis. 
Suka tidak suka dan setuju tidak setuju, negeri ini pasti akan dipimpin oleh 
seorang presiden, setidak-tidaknya oleh satu di antara ketiga kandidat yang 
ada. 

Saya ingat ketika tahun lalu Barack Obama dan John McCain saling berdebat dan 
beradu argumen sebagai bagian dari agenda pesta demokrasi Amerika. 
Masing-masing kandidat menunjukkan kelasnya tanpa perlu merasa saling tidak 
enak atau tidak sopan, melainkan terbungkus dalam kemasan pesta demokasi. 
Rakyat Amerika pun tidak merasa bosan duduk di depan televisi mengikuti acara 
semacam itu, karena mereka menikmatinya sebagai acara entertainment yang 
mendidik, bernas dan menambah wawasan.  

Saya berusaha menikmati acara debat tiga capres Indonesia seperti rakyat 
Amerika menikmati acara yang sama menjelang pemilihan presidennya. Maka yang 
melintas di pikiran saya adalah acara entertainment tentang bagaimana tiga 
selebriti politik negeri ini tampil di depan publik, mempertontonkan 
kapabilitas, kompetensi dan kelayakannya untuk dipilih. 

Kalaupun kemudian masih juga saya merasa sulit untuk memilih, maka saya akan 
tetap ingin mengikuti pestanya untuk menikmati suasananya. Sebab ini adalah 
acara entertainment lima tahunan. Teriring doa seperti tulisan di atas pintu 
tol Bogor dari arah Jakarta : "Kutunggu Campur TanganMu Tuhan Pada 8 Juli 2009".

Yogyakarta, 4 Juli 2009 (‘Met Ultah Amerika...!)
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke