|
|
![]() |
![]() |
|
Sub Rubrik:
Investasi
Sektor Riil
Keuangan
Warung Info
|
|
![]() |
![]() |
|
Karpet Merah buat Renault
|
| Priyanto Sukandar, Ahmad Pahingguan, Restu Wijaya, dan Mega Julianti Sumantri |
| |
RENAULT hanya perlu waktu tiga tahun untuk menjadikan dirinya sebagai
tim terkuat di arena balap paling bergengsi: Formula-1. tentu saja, itu
sebuah prestasi besar. Tapi, bagaimana dengan kemampuan Renault
menggarap pasar mobil di Tanah Air? Itu yang masih perlu dibuktikan. Yang jelas, Renault kini berminat membuka pabrik di
Indonesia. Pabrikan asal Prancis yang sudah bergabung dengan Nissan
Jepang dalam naungan Renault-Nissan BV itu telah siap dengan dana US$
600 juta. M. Lutfi, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),
menegaskan, gergasi mobil Eropa itu sudah mengajukan niatnya itu kepada
pemerintah sejak 25 Juli lalu. Rencananya MoU pembuatan pabrik Renault
akan ditandatangani di Prancis Oktober mendatang bersamaan dengan
kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Renault-Nissan memang layak memperhatikan Indonesia. Maklum,
di negeri ini, nama Renault dan Nissan cukup beken. Kehebatan Renault
ditopang oleh penampilan menawan Fernando Alonso dan Lewis Hamilton di
sirkuit. Lalu, Nissan naik daun sejak masuknya produk Terrano, X-Trail,
dan belakangan yang paling fenomenal: Nissan Grand Livina.
Popularitas
Grand Livina jelas ditopang oleh karakter penduduk Indonesia yang
jumlahnya banyak dan suka bepergian beramai-ramai dengan keluarga.
Grand Livina adalah mobil penumpang dengan tujuh tempat duduk. Cukup
untuk mengangkut orang dalam jumlah banyak. Makanya, mobil ini mendapat
sambutan luar biasa di Indonesia. Tak ayal, setelah peluncuran Grand Livina, penjualan mobil
Nissan di sini mengalami kenaikan tajam. Di awal tahun 2006 permintaan
akan mobil Nissan hanya 426 unit. Namun setelah dikeluarkan Grand
Livina, penjualannya langsung melonjak sebesar 1.810 unit. Konsumen
yang hendak membeli mobil ini terpaksa harus menunggu lebih dari tiga
bulan. Keberhasilan Livina itu juga yang membuat Renault-Nissan semakin
terpikat kepada Indonesia. Masuknya Renault-Nissan semakin membuat jajaran BKPM dan
Departemen Perindustrian lebih pede. Mereka pun kini mempersiapkan
skema menarik bagi investor yang hendak menanamkan modalnya di sektor
otomotif di negeri ini. Salah satu skema yang dirancang, dan akan
digunakan pula untuk menyambut Renault-Nissan, adalah dengan menyiapkan
lahan guna pembangunan pabrik. Sesuai dengan keinginan Renault-Nissan
BV, pemerintah telah menyediakan 50 hektare lahan di wilayah Kendal,
Jawa Tengah. Lutfi meyakinkan bahwa lokasi yang ditawarkan kepada
Renault-Nissan BV tersebut telah dilengkapi dengan sarana
infrastruktur, yakni rel kereta api, pelabuhan, dan sarana pendukung
industri lainnya. Kepala BKPM ini juga menjanjikan terus tersedianya
pasokan listrik di sana. Paket yang disediakan pemerintah itu jelas ibarat karpet
merah bagi Renault-Nissan. Namun uniknya, Gunadi Sindhuwinata (Presiden
Direktur PT Indomobil), tak langsung menerimanya. Indomobil adalah agen
tunggal pemegang merek (ATPM) Nissan di Tanah Air. Menurut Gunadi,
tawaran pemerintah itu memang cukup menarik. Namun, sampai saat ini,
Gunadi tidak bisa membuat keputusan. Ini disebabkan masih belum usainya
kajian yang dibuat oleh tim Renault. Tim Renault memang tengah melakukan kajian mengenai
keekonomisan membuat pabrik di Kendal. Renault jelas harus
mempertimbangkan biaya produksi logistik dan kesiapan infrastruktur
pendukungnya. Terlebih lagi lokasi Kendal terbilang jauh dari pusat
pemasaran Renault selama ini: Jakarta. Sebenarnya Renault-Nissan BV bukannya tak memiliki pabrik di
Indonesia. Nissan telah memiliki pabrik perakitan mobil di Purwakarta,
Jawa Barat. Kapasitas pabrik yang dimilikinya mencapai 30 ribu unit per
tahun. Tapi, kapasitas tersebut kini dinilai sudah tidak memadai lagi.
Apalagi, Renault-Nissan akan serius untuk menggarap pasar Asia
Tenggara. Itu sebabnya, perlu tambahan pabrik. Beruntung sekali
Indonesia dijadikan pusat produksi kendaraan jenis multi purpose
vehicle oleh pabrikan patungan Asia-Eropa tersebut.
TAK HANYA RENAULT YANG MASUK
Sebenarnya tak hanya Renault-Nissan yang akan memfokuskan produksinya
di negara Asia Tenggara. Produsen mobil asal Amerika, General Motors
(GM), juga berencana untuk menambah kapasitas pabriknya untuk wilayah
Asia Tenggara. Stephen K. Carlisle, President General Motors South East Asia
Operation, mengatakan, Asia Tenggara merupakan pasar yang mendapatkan
perhatian lebih dari GM. Rencananya untuk produksi di wilayah Asia
Tenggara ini akan difokuskan pada produksi kendaraan dengan jenis sport
utility vehicle (SUV) dan multi purpose vehicle (MPV). Menurut Carlisle, GM tengah bersiap untuk memilih satu dari
dua negara, Indonesia dan Malaysia, sebagai tempat menempatkan
investasinya. Sayang, Carlisle enggan untuk memerinci negara mana yang
lebih besar mendapatkan kesempatan emas tersebut. Tetapi, GM sudah
punya pabrik di Indonesia dan memiliki kapasitas produksi 20 ribu unit
per tahunnya. Pabrik itu terletak di Pondok Ungu, Bekasi, dan dulu
dipakai untuk membuat (Opel dan kemudian Chevrolet) Blazer. Namun, sejak beberapa tahun yang lalu produksi Blazer di
Indonesia dihentikan. Carlisle berjanji, akhir tahun ini, akan ada
kepastian soal nasib pabrik GM yang ada di Pondok Ungu itu. Indonesia memang masih punya peluang untuk didatangi investor
otomotif. Menurut data BKPM, tercatat pabrikan Honda dari Jepang
berminat menambah investasi hingga US$ 150 juta, Hyundai (Korea) US$ 23
juta, dan Bajaj (India) senilai US$ 50 juta. Nah, biar industri
otomotif kita semakin seronok, pemerintah juga tengah mengkaji rencana
pembebasan tarif bea masuk bahan baku bagi industri komponen yang belum
diproduksi di Indonesia. Jonkie D. Sugiarto, Wakil Ketua Gaikindo, mengatakan, dengan
jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, pangsa pasar mobil di
Indonesia jelas masih terbuka lebar. Sampai saat ini Jonkie belum
melihat adanya persaingan yang tidak sehat antarprodusen mobil. Justru,
ujarnya, masuknya pendatang baru akan membuat persaingan antarprodusen
mobil di Indonesia menjadi lebih baik. Jonkie yakin, penjualan mobil di
Indonesia kelak bisa mencapai 1 juta kendaraan per harinya. Saat ini, penjualan mobil di Indonesia baru mencapai 400 ribu
unit per tahunnya. Jumlah ini masih di bawah Malaysia yang sudah
mencapai 500 ribu setiap tahunnya. Suhari Sargo, pengamat otomotif, menuturkan, pasar Indonesia
memang cukup besar. Sayang, pabrik mobil yang ada di dalam negeri
kebanyakan baru sebatas pabrik perakitan. ”Belum sampai pada taraf
pembuatan mobil yang sesungguhnya,” terang Suhari. Untuk membuat pabrik
produksi mobil, ujar Suhari, dibutuhkan modal tidak sedikit. Volume
penjualannya pun nantinya harus besar agar ongkosnya menjadi lebih
murah. Suhari juga menyesalkan masih banyaknya pabrik mobil di
Indonesia yang belum banyak menggunakan komponen lokal dalam setiap
produksinya. Padahal ia bilang, kualitas komponen lokal tak kalah
bersaing dengan buatan luar. Tapi, seorang pemain otomotif mengatakan, komponen lokal
belum memadai secara kualitas dan kuantitas. Itu sebabnya, ia meminta
agar ada investor yang berani bermain di industri komponen. Bener tuh.
Di mana-mana juga begitu, tak ada industri mobil yang kuat tanpa
didukung industri komponen yang memadai pula.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
![]() |