Bravooooo

      Wajib militer di Indonesia? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! 
http://id.answers.yahoo.com
Title: Karpet Merah buat Renault
     
  Rabu, 15 Juli 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
  Investasi
  Sektor Riil
  Keuangan
  Warung Info
  Interview
  Peluang
  Profesi
  Profil
  Strategi
  Figur
  Hukum
  Debat
  Testimoni
  Verboden
  Kolom
  Politik
  Kesehatan
  Teras
  Surat
  Gaya Hidup
  Bazar
  Koktail
  Advokasi
  Galeri
  Kronik

Sub Rubrik: Investasi Sektor Riil Keuangan Warung Info

Karpet Merah buat Renault

Priyanto Sukandar, Ahmad Pahingguan, Restu Wijaya, dan Mega Julianti Sumantri
 
RENAULT hanya perlu waktu tiga tahun untuk menjadikan dirinya sebagai tim terkuat di arena balap paling bergengsi: Formula-1. tentu saja, itu sebuah prestasi besar. Tapi, bagaimana dengan kemampuan Renault menggarap pasar mobil di Tanah Air? Itu yang masih perlu dibuktikan.
Yang jelas, Renault kini berminat membuka pabrik di Indonesia. Pabrikan asal Prancis yang sudah bergabung dengan Nissan Jepang dalam naungan Renault-Nissan BV itu telah siap dengan dana US$ 600 juta. M. Lutfi, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), menegaskan, gergasi mobil Eropa itu sudah mengajukan niatnya itu kepada pemerintah sejak 25 Juli lalu. Rencananya MoU pembuatan pabrik Renault akan ditandatangani di Prancis Oktober mendatang bersamaan dengan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Renault-Nissan memang layak memperhatikan Indonesia. Maklum, di negeri ini, nama Renault dan Nissan cukup beken. Kehebatan Renault ditopang oleh penampilan menawan Fernando Alonso dan Lewis Hamilton di sirkuit. Lalu, Nissan naik daun sejak masuknya produk Terrano, X-Trail, dan belakangan yang paling fenomenal: Nissan Grand Livina.

 Artikel Lain
Elnusa Ingin Cepat Besar
Audit yang Bikin Mabuk
Sederhana, Banyak Masalah
Sepanjang Jalan Inflasi
Karpet Merah buat Renault
Agar Si Ulin Tak Punah
Akibat Ulah Sindikat
Terpukau Pesona Zidane
Bahan Baku yang Bikin Kusut
Tak Ada yang Tersisa dari Garuda
Popularitas Grand Livina jelas ditopang oleh karakter penduduk Indonesia yang jumlahnya banyak dan suka bepergian beramai-ramai dengan keluarga. Grand Livina adalah mobil penumpang dengan tujuh tempat duduk. Cukup untuk mengangkut orang dalam jumlah banyak. Makanya, mobil ini mendapat sambutan luar biasa di Indonesia.
Tak ayal, setelah peluncuran Grand Livina, penjualan mobil Nissan di sini mengalami kenaikan tajam. Di awal tahun 2006 permintaan akan mobil Nissan hanya 426 unit. Namun setelah dikeluarkan Grand Livina, penjualannya langsung melonjak sebesar 1.810 unit. Konsumen yang hendak membeli mobil ini terpaksa harus menunggu lebih dari tiga bulan. Keberhasilan Livina itu juga yang membuat Renault-Nissan semakin terpikat kepada Indonesia.
Masuknya Renault-Nissan semakin membuat jajaran BKPM dan Departemen Perindustrian lebih pede. Mereka pun kini mempersiapkan skema menarik bagi investor yang hendak menanamkan modalnya di sektor otomotif di negeri ini. Salah satu skema yang dirancang, dan akan digunakan pula untuk menyambut Renault-Nissan, adalah dengan menyiapkan lahan guna pembangunan pabrik. Sesuai dengan keinginan Renault-Nissan BV, pemerintah telah menyediakan 50 hektare lahan di wilayah Kendal, Jawa Tengah.
Lutfi meyakinkan bahwa lokasi yang ditawarkan kepada Renault-Nissan BV tersebut telah dilengkapi dengan sarana infrastruktur, yakni rel kereta api, pelabuhan, dan sarana pendukung industri lainnya. Kepala BKPM ini juga menjanjikan terus tersedianya pasokan listrik di sana.
Paket yang disediakan pemerintah itu jelas ibarat karpet merah bagi Renault-Nissan. Namun uniknya, Gunadi Sindhuwinata (Presiden Direktur PT Indomobil), tak langsung menerimanya. Indomobil adalah agen tunggal pemegang merek (ATPM) Nissan di Tanah Air. Menurut Gunadi, tawaran pemerintah itu memang cukup menarik. Namun, sampai saat ini, Gunadi tidak bisa membuat keputusan. Ini disebabkan masih belum usainya kajian yang dibuat oleh tim Renault.
Tim Renault memang tengah melakukan kajian mengenai keekonomisan membuat pabrik di Kendal. Renault jelas harus mempertimbangkan biaya produksi logistik dan kesiapan infrastruktur pendukungnya. Terlebih lagi lokasi Kendal terbilang jauh dari pusat pemasaran Renault selama ini: Jakarta.
Sebenarnya Renault-Nissan BV bukannya tak memiliki pabrik di Indonesia. Nissan telah memiliki pabrik perakitan mobil di Purwakarta, Jawa Barat. Kapasitas pabrik yang dimilikinya mencapai 30 ribu unit per tahun. Tapi, kapasitas tersebut kini dinilai sudah tidak memadai lagi. Apalagi, Renault-Nissan akan serius untuk menggarap pasar Asia Tenggara. Itu sebabnya, perlu tambahan pabrik. Beruntung sekali Indonesia dijadikan pusat produksi kendaraan jenis multi purpose vehicle oleh pabrikan patungan Asia-Eropa tersebut.

TAK HANYA RENAULT YANG MASUK
Sebenarnya tak hanya Renault-Nissan yang akan memfokuskan produksinya di negara Asia Tenggara. Produsen mobil asal Amerika, General Motors (GM), juga berencana untuk menambah kapasitas pabriknya untuk wilayah Asia Tenggara.
Stephen K. Carlisle, President General Motors South East Asia Operation, mengatakan, Asia Tenggara merupakan pasar yang mendapatkan perhatian lebih dari GM. Rencananya untuk produksi di wilayah Asia Tenggara ini akan difokuskan pada produksi kendaraan dengan jenis sport utility vehicle (SUV) dan multi purpose vehicle (MPV).
Menurut Carlisle, GM tengah bersiap untuk memilih satu dari dua negara, Indonesia dan Malaysia, sebagai tempat menempatkan investasinya. Sayang, Carlisle enggan untuk memerinci negara mana yang lebih besar mendapatkan kesempatan emas tersebut. Tetapi, GM sudah punya pabrik di Indonesia dan memiliki kapasitas produksi 20 ribu unit per tahunnya. Pabrik itu terletak di Pondok Ungu, Bekasi, dan dulu dipakai untuk membuat (Opel dan kemudian Chevrolet) Blazer.
Namun, sejak beberapa tahun yang lalu produksi Blazer di Indonesia dihentikan. Carlisle berjanji, akhir tahun ini, akan ada kepastian soal nasib pabrik GM yang ada di Pondok Ungu itu.
Indonesia memang masih punya peluang untuk didatangi investor otomotif. Menurut data BKPM, tercatat pabrikan Honda dari Jepang berminat menambah investasi hingga US$ 150 juta, Hyundai (Korea) US$ 23 juta, dan Bajaj (India) senilai US$ 50 juta. Nah, biar industri otomotif kita semakin seronok, pemerintah juga tengah mengkaji rencana pembebasan tarif bea masuk bahan baku bagi industri komponen yang belum diproduksi di Indonesia.
Jonkie D. Sugiarto, Wakil Ketua Gaikindo, mengatakan, dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, pangsa pasar mobil di Indonesia jelas masih terbuka lebar. Sampai saat ini Jonkie belum melihat adanya persaingan yang tidak sehat antarprodusen mobil. Justru, ujarnya, masuknya pendatang baru akan membuat persaingan antarprodusen mobil di Indonesia menjadi lebih baik. Jonkie yakin, penjualan mobil di Indonesia kelak bisa mencapai 1 juta kendaraan per harinya.
Saat ini, penjualan mobil di Indonesia baru mencapai 400 ribu unit per tahunnya. Jumlah ini masih di bawah Malaysia yang sudah mencapai 500 ribu setiap tahunnya.
Suhari Sargo, pengamat otomotif, menuturkan, pasar Indonesia memang cukup besar. Sayang, pabrik mobil yang ada di dalam negeri kebanyakan baru sebatas pabrik perakitan. ”Belum sampai pada taraf pembuatan mobil yang sesungguhnya,” terang Suhari. Untuk membuat pabrik produksi mobil, ujar Suhari, dibutuhkan modal tidak sedikit. Volume penjualannya pun nantinya harus besar agar ongkosnya menjadi lebih murah.
Suhari juga menyesalkan masih banyaknya pabrik mobil di Indonesia yang belum banyak menggunakan komponen lokal dalam setiap produksinya. Padahal ia bilang, kualitas komponen lokal tak kalah bersaing dengan buatan luar.
Tapi, seorang pemain otomotif mengatakan, komponen lokal belum memadai secara kualitas dan kuantitas. Itu sebabnya, ia meminta agar ada investor yang berani bermain di industri komponen. Bener tuh. Di mana-mana juga begitu, tak ada industri mobil yang kuat tanpa didukung industri komponen yang memadai pula. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2004 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by ProWeb APDesign
 

Kirim email ke