Terbanglah Si Burung Merak
------------------------------------
Kemarin dan esok
adalah hari ini
bencana dan keberuntungan
sama saja
Langit di luar
langit di badan
bersatu dalam jiwa
Penggalan bait puisi itu begitu melekat di kepalaku, sejak aku masih duduk di
bangku SMP, lebih 35 tahun yang lalu. Penggalan puisi itu pernah dikutip oleh
majalah musik ‘Aktuil’ (almarhum), tertulis dengan warna putih di atas
background hitam, lalu dicetak menjadi sebuah poster besar berukuran A0. Poster
itu pun pernah menjadi kebanggaanku hingga kutempel di kamar kecilku
(maksudnya, kamar yang berukuran kecil…) yang dindingnya terbuat dari gedek
(anyaman bambu) dan papan. Itulah sebabnya aku begitu menghafalnya. Sepertinya
belum lama saya selesai membacanya di atas pentas.
***
Kini sang penulis puisi itu, WS Rendra, telah kembali berpulang menghadap
kepada Sang Pencipta. Si Burung Merak itu telah menyelesaikan tugas hidupnya
meninggalkan tapak-tapak keindahan dalam berperikehidupan, dan terkadang
kegarangan dalam berolah pikir.
Bagi sebagian orang, barangkali masih mengingat bagaimana Rendra membaca
puisi-puisinya terkadang dengan teriakan lantang dan garang, lalu kemudian
dengan nada lembut dan kemayu, atau sesekali datar tanpa ekspresi. Pilihan
katanya terkadang terangkai begitu indah dan romantis, tapi ada kalanya mbeling
dan keras sesuka udel-nya, atau bahkan polos apa adanya, begitu saja. Namun
ketika Rendra membacanya seorang diri di tengah pentas yang luas, panggung
seperti menjadi ruang yang sempit karena penuh terisi oleh getaran vokalnya,
kelincahan blocking-nya yang memukau dan gaya panggungnya yang memikat bak
bulu-bulu indah burung merak.
Gaya bertuturnya banyak menjadi inspirasi bagi penyair-penyair muda.
Puisi-puisi Rendra adalah puisi yang membebaskan, terkadang melankolis, dan
seringkali malah memerahkan telinga yang mendengarnya. Ada yang menyukainya dan
ada yang membencinya. Namun perjalanan ekspresinya tak bisa dihalang-halangi
bagai banjir bandang tak terbendung. Begitu pun perjalanan spiritualnya,
seperti bergolak di bawah arus yang tampak tenang, karena orang lain tak perlu
tahu apa yang ada di bawah alunan gelombang kehidupannya.
Goresan puisi-puisinya kini sampailah sudah pada tetesan tinta yang terakhir,
menyertai perjalanan berikutnya kembali menuju kepada Sang Maha Pujangga.
Tinggal penggalan-penggalan sajak dan puisinya menebar meninggalkan banyak
perenungan. Puisi-puisi yang akan tetap membebaskan apapun yang masih
terbelenggu, memperindah apapun yang masih carut-marut dan membersihkan apapun
yang masih kotor. Hanya bagi orang-orang yang dapat memahami hakekat hasil oleh
pikir dan olah batin penulisnya. Dan penulis puisi itu adalah Willibordus
Surendra Broto Rendra alias Si Burung Merak.
Selamat jalan Mas Willi… Terbanglah Si Burung Merak dalam damai bersama
hembusan angin penuh pengampunan menuju ke haribaan Sang Penguasa Angkasa Raya.
“Kalau politik itu kotor, maka puisilah yang akan membersihkannya”, kata John
F. Kennedy. Semoga puisi-puisimu yang tak kan lapuk oleh hujan dan tak kan
lekang oleh panas, pada saatnya akan membersihkan kotoran-kotoran yang menyisip
di sela-sela jari kaki bangsamu dan bangsaku yang sedang resah dan gelisah
dirundung berbagai godaan nafsu serakah dan amarah.
Yogyakarta, 7 Agustus 2009
Yusuf Iskandar