Ramadhan, The Real Business
----------------------------------

Ramadhan adalah peluang bisnis. Berbeda dengan bisnis-bisnis lainnya yang harus 
diburu, dicari dan dikaji, maka peluang bisnis ini malah mendatangi, mengetuk 
semua pintu dan menawar-nawarkan dirinya untuk segera ditangkap. Berbeda dengan 
bisnis-bisnis lainnya yang potensi keuntungannya terbatas dan butuh modal, maka 
peluang bisnis ini potensi keuntungannya tak terbatas. Belum lagi bahwa peluang 
bisnis yang bernama Ramadhan ini nyaris tanpa modal. Tidak juga modal dengkul, 
wong mereka yang tidak punya dengkul pun memiliki kesempatan yang sama untuk 
menggapai keuntungan yang semaksimal-maksimalnya. 

Intinya : Ramadhan adalah peluang bisnis yang luar biasa secara hakiki. Bukan 
bahasa iklan, bukan dramatisasi dialektika dan bukan iming-iming agar produknya 
dibeli orang. Melainkan, benar-benar bisnis yang luar biasa bagi penganut agama 
Islam yang mempercayainya. No question asked! Lha, apa ada penganut Islam yang 
tidak mempercayainya? Lho, piye to... Lha ya boanyak sekali....  

Dikiranya kalau dibilang keuntungan bisnis Ramadhan itu sekian kali lipat dan 
tumpuk-undhung..., itu adalah gaya bahasa para ustadz atau penceramah kuliah 
subuh agar omongannya didengar orang. Dikiranya ucapan-ucapan berbahasa Arab 
itu sekedar bumbu-bumbu ceramah agar match dengan nuansa bulan Ramadhan. 
Padahal itu adalah ucapannya Sang Maha Pemberi Peluang Bisnis. Padahal itu 
adalah janji Tuhan yang pasti akan ditepati, tidak sebagaimana janji-janji 
pemburu hantu kekuasaan. Dan Tuhan itu adalah Tuhannya penganut Islam yang 
(kalau mau jujur, merasa) skeptis dengan janji Tuhannya sendiri. Aneh to...?  
Bukankah seharusnya para pemeluk Islam itu berani mengatakan bahwa Tuhanku "tak 
gendong kemana-mana...". Sebab Tuhannya orang Islam itu mengatakan bahwa "Aku 
lebih dekat dari urat lehermu sendiri".

*** 

Dan herannya, ketika dan setiap kali peluang bisnis itu muncul, tidak banyak 
kaum muslim yang berlomba-lomba menangkapnya (dikatakan tidak banyak karena 
masih lebih banyak yang tidak...). Buktinya? Ketika peluang itu datang, mereka 
biasa-biasa saja. Just business as usual. Sebulan Ramadhan adalah sama seperti 
sebelas bulan lainnya. Bedanya hanya siangnya berpuasa, malamnya tarawih (bagi 
yang mau menyempatkan). Lebih dari itu, bulan Ramadhan adalah sama persis 
dengan bulan-bulan lainnya dari Syawal hingga Sya’ban.

Tidak banyak yang kemudian menyongsongnya dengan hati berbunga-bunga karena 
sebuah peluang luar biasa telah tiba. Tidak banyak yang menyiapkan strategi 
agar keuntungan maksimal dari peluang bisnis yang bernama Ramadhan bisa 
dimanfaatkan dan didayagunakan untuk mengumpulkan keuntungan 
sebanyak-banyaknya. Keuntungan yang kelak dapat menjadi bekal jaga-jaga 
kalau-kalau bisnis-bisnis lainnya gagal atau rugi atau tekor atau bahkan 
bangkrut.

Aneh bin ajaib... Kalau ada bisnis yang potensi keuntungannya hanya beberapa 
juta saja kita sering begitu bersemangat bagaimana menangkapnya, menyusun 
business plan-nya, mencari pinjaman modal, menghitung untung-ruginya, pusing 
dengan strategi pengelolaanya, dsb. Lha ini ada peluang bisnis yang digaransi 
pasti untung dan untungnya nyaris tak terbatas jumlahnya, bahkan mau ditinggal 
tidur sekalipun..., kok tenang-tenang saja.

Aneh bin konyol... Bagi yang berstatus orang gajian, demi menguntungkan 
majikannya mereka rela kerja lembur banting tulang siang-malam, bila perlu 
sehari semalam jam berputar 36 kali, menyusun business plan dan strategi agar 
bisnis majikannya meraup keuntungan sebesar-besarnya. Bukannya hal itu salah, 
melainkan heran saja, sebab ketika datang peluang bisnis yang jelas dijanjikan 
keuntungannya bagi dirinya sendiri dan bukan bagi orang lain, mereka 
menghadapinya biasa-biasa saja. Padahal seandainya jagat raya ini bisa diukur 
dimensi volumenya, tidak akan cukup menampung kebaikan dan keuntungan yang 
telah nyata-nyata dijanjikan oleh Tuhannya. Tapi ya tetap saja itu adalah 
periode waktu yang sama dengan waktu sebelumnya.

Aneh bin tidak habis pikir... Ketika datang peluang bisnis yang potensi 
keuntungannya enggak seberapa, adrenalinnya meningkat kuat seperti tidak sabar 
ingin segera menggapai keuntungan yang dianggapnya lebih besar ketimbang bunga 
bank, sedang potensi gagalnya juga sama besar. Tapi ketika peluang bisnis yang 
keuntungannya sudah dijamin pasti diberikan dan sak hohah boanyaknya, mereka 
cuek saja seperti bukan apa-apa.

***

Kini, mulai hari ini, peluang bisnis yang bernama Ramadhan itu sedang ada di 
depan mata. Tanpa modal diperlukan. Tanpa manajemen yang rumit-rumit. Tanpa 
khawatir bagaimana kalau rugi, wong sudah digaransi keuntungan pasti datang 
dalam jumlah yang tak terhingga banyaknya. Hanya dibutuhkan sedikit kesadaran 
bahwa inilah bisnis yang seharusnya perlu disiasati pencapaiannya. Inilah 
bisnis sesungguhnya yang memerlukan action plan bagaimana menyiasatinya.

Tidak perlu muluk-muluk, meski semakin muluk semakin baik. Siapkan rencana aksi 
untuk memanfaatkan peluang itu. Bila sekian tahun hayat dikandung badan merasa 
ibadahnya tidak karu-karuan, inilah saatnya untuk mengubahnya menjadi lebih 
karuan. Jika semula sholat setahun dua kali (Idul Fitri dan Idul Adha), ubahlah 
menjadi sehari dua kali misalnya, atau jadikan sholat fardhunya menjadi lebih 
bermutu. Bila seprana-seprene kerjanya misuh-misuh (maki-maki, marah, atau 
ngomongin orang, dengki) kepada lima atau enam orang setiap hari, kurangi jadi 
satu atau dua kali saja (tinggal pilih siapa yang bersedia dipisuh-pisuhi...). 

Bila selama ini sedekahnya hanya berkisar sepuluh ribuan, terkadang saja 
sedikit lebih (itupun tergantung berapa besar sedekah orang yang sebelumnya), 
kini tambahkan menjadi tiga puluh atau tujuh puluh ribu. Pendeknya, hanya perlu 
sebuah rencana aksi yang so simple. Sebab inilah satu-satunya bisnis yang siapa 
saja bebas menentukan mau untung berapa dan dengan cara bagaimana, silakan 
diatur sendiri. Dan luar biasanya bahwa semua itu dijamin pasti untung.

Jika demikian..., ayo ramai-ramai merebut peluang bisnis Ramadhan ini. Boleh 
percaya boleh tidak, semakin banyak yang memperebutkan peluang bisnis ini, akan 
semakin berhamburan keuntungan yang dijanjikan akan betebaran jatuh dari langi. 
Sebab Tuhan tidak akan kehabisan stok keuntungan itu, bahkan akan semakin 
ditambah dan ditambah dan ditambah. Enak to..., mantep to...

Ramadhan adalah the real business yang dijamin bebas dari upaya tipu-tipu, 
tidak ada kata merugi dalam kamusnya ibadah Ramadhan kecuali bagi mereka yang 
menganggap bulan Ramadhan sama dengan sebelas bulan lainnya. Mereka inilah yang 
hanya akan babak-belur kelaparan dan kehausan sebulan penuh (tapi terlihat 
sombong dan bangga) tanpa berhak menerima added value Ramadhan (kecian deh, 
mereka...). 

Hanya dibutuhkan keikhlasan dalam penghambaan kepada Tuhan dan melakukannya 
dengan penuh perhitungan akan keuntungan-keuntungan yang dijanjikan, yang oleh 
para ustadz sering diistilahkan dengan sebutan imaanan-wahtisaaban.... Ayo, 
rebutlah peluang bisnis Ramadhan. La’allakum tattaquun....agar kalian bertakwa, 
kata Allah dalam kitab suci.

Selamat menunaikan ibadah Ramadhan 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga 
Allah swt. memberi kesempatan untuk menuntaskan pertempuran sebulan penuh 
hingga tiba saatnya menggapai kemenangan di hari fitri.

Yogyakarta, 21 Agustus 2009 (1 Ramadhan 1430H).
Yusuf Iskandar

http://madurejo.wordpress.com    



      

Kirim email ke