Ramadhan Dan Ngantukan
-------------------------------------- 

Siang hari puasa, sedang menjadi tamu di sebuah kantor di Jakarta. Sementara 
dihadapkan dengan komitmen yang harus diselesaikan segera, lha kok mata ini 
rasanya nguantuk sekali. Kalau saja terjadinya di luar Ramadhan, resepnya 
almarhum Mbah Surip bisa ditiru... ngopi, ngudut wal-ngemil sepuasnya, dijamin 
melek lagi. Lha ini pas puasa Ramadhan, mata rasanya berat sekali. Dibawa 
jalan-jalan malah seperti macan luwe (lapar), mendingan kalau putri Solo, enak 
dipandang… Mau cuci muka bolak-balik, nanti malah dikira tukang pel toilet. 

Saking tidak tahannya, akhirnya pamit pada teman di sebelah : "Sampeyan silakan 
lanjutkan pekerjaannya, saya mau tidur dulu sebentar...". Lha memang obatnya 
orang ngantuk itu ya hanya ada satu, yaitu tidur. Tidak lama langsung mak 
lerrr... Lima belas menit kemudian terbangun, badan terasa lebih segar. 
Tidurnya orang berpuasa memang efektif dan berkualitas, sebab Tuhan 
berkepentingan untuk menjaga kualitas orang-orang yang ikhlas dengan puasanya 
yang puasa itu hanya karena untuk menghamba kepada-Nya. Bukan karena alasan 
lain. 

***    

Usai merampungkan komitmen di Jakarta, esok harinya saya harus kembali ke 
Jogja. Sudah enggak sabar rasanya kepingin sampai di rumah. Kangen keluarga? 
Bukan, tapi kepingin tidur lebih pulas..., agar tubuh kembali prima untuk 
berbisnis dengan Ramadhan.

Dari kawasan Buncit Raya menuju ke bandara Cengkareng, hari Jumat sore. Ini 
saat-saat yang harus diwaspadai, mengingat sore menjelang week-end dan buka 
puasa, lalulintas bisa sangat padat-merayap, termasuk jalan tolnya. Pengalaman 
sebelumnya saya pernah hampir ketinggalan pesawat, bahkan sekali waktu pernah 
juga ditinggal beneran...

Berbasa-basi seperlunya dengan sopir taksi Transcab yang ada televisinya. 
Sambil menonton siaran TV One, lalu menitipkan sejumlah uang kepada pak sopir 
untuk membayar tol. Tidak lama kemudian saya tidak lagi mampu mengendalikan 
rasa kantuk, dan akhirnya mak lerrr...tertidur di taksi, tinggal Bang One 
gantian menonton saya. Baru bangun ketika pak sopir tanya mau diantar ke 
Terminal mana. Ternyata saya sudah melewati gerbang tol terakhir sebelum tiba 
di Cengkareng, entah tadi lewat jalan mana saja saya tidak tahu.

Turun dari taksi agak gliyeran (sempoyongan), lapar, baru bangun tidur di taksi 
dan masih rada ngantuk. Saya langsung menuju Terminal B, check-in untuk pesawat 
Batavia Air yang menuju Jogja. Masih cukup waktu untuk duduk-duduk di ruang 
tunggu. Tapi justru karena itu saya jadi ngantuk lagi. Kursi di ruang tunggu 
tidak dilengkapi sandaran kepala, padahal rasa kantuk tak lagi bisa 
dikendalikan. Akhirnya mak tekluk.... leher patah ke depan, ke belakang, serong 
kanan, serong kiri, mak lerrr... Lama-lama leher ya rada sakit juga. 

Daripada dilirak-lirik bule perempuan yang sepertinya asyik baca buku tapi 
sambil mencuri-curi pandang ke arah saya, sebelum saya ge-er mendingan saya 
bangun lalu keluar dari ruang tunggu. Tujuan saya mencari-cari tempat takjil 
(makanan buka puasa) gratisan yang memang biasanya ada di bandara. Benar juga 
memang ada. Setelah mengambil satu paket takjil lalu datang panggilan boarding 
naik pesawat. Tumben, sore-sore begini pesawat Batavia bisa on-schedule. 
Sejujurnya, saya rada surprise....

Ketika pesawat mulai atret hendak terbang ke Jogja, mbak pramugari memberitahu 
bahwa waktu berbuka puasa telah tiba. Paket takjil gratisan pun saya buka dan 
makan-minum seperlunya sekedar membatalkan puasa. Tidak lama kemudian saya 
tertidur lagi, dan bahkan saya tidak tahu saat-saat pesawat take-off, karena 
tahu-tahu mendengar halo-halo pramugari bahwa dalam waktu beberapa saat lagi 
pesawat akan mendarat di bandar udara Adisutjipo.

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya tiba dengan selamat di rumah saat seluruh 
penghuninya sedang sholat tarawih, sehingga saya harus meloncat pagar rumah 
yang terkunci dan menunggu di teras belakang rumah. Untung tidak saya tinggal 
tidur lagi di teras... 

***    

Ini memang sepenggal dongeng tentang ngantuk di kala puasa Ramadhan. Ngantuk 
adalah rahmat, sebab betapa banyak orang yang harus pergi ke dokter karena 
tidak bisa ngantuk dan tidur. Beruntunglah orang-orang yang masih bisa ngantuk 
lalu bisa pula mengobatinya dengan tidur. Lebih beruntung lagi orang-orang yang 
bisa menikmati ngantuknya seperti apa adanya, sebab ngantuk itu tidak bisa 
di-manage untuk disetel jadwalnya, melainkan disiasati bagaimana menghadapinya.

Di antara tanda-tanda orang berpuasa adalah ngantukan atau gampang ngantuk, 
alias sedikit-sedikit ngantuk (ngantuk kok cuma sedikit…?) yang disebabkan oleh 
karena kurang tidur akibat banyak menggunakan waktu meleknya untuk berbisnis 
dengan Ramadhan. Itulah yang memang dianjurkan agama. Maka ngantuknya dan kalau 
kemudian tidurnya orang yang sedang berpuasa adalah bernilai ibadah. Sesuatu 
yang mengandung kebaikan tentu ada nilainya di mata Tuhan. Nilai positif itu 
yang kemudian berjudul pahala. 

Ini hanya soal logika saja. Sebenarnya tidak perlu menunggu puasa Ramadhan 
untuk mengatakan hal ini. Daripada melek tapi malah omongan dan kelakuannya 
tidak karuan, maka tidur tentu lebih baik. Jadi tergantung pembandingnya, sebab 
bisa saja tidur adalah bernilai bencana meski sedang berpuasa kalau dengan 
tidur lalu keluarganya keleleran karena malah tidak berusaha mencari nafkah 
bagi keluarganya. 

Memang banyak ustadz dan penceramah yang dengan bersemangat jihad berkata dalam 
bahasa londo Arab, menyebut ada Hadits yang bunyinya begini : naumush-shooimun 
‘ibadah (tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah)... Sementara kalangan 
menilai bahwa penggalan kalimat Hadits itu adalah dhoif (lemah), bahkan 
cenderung maudhu’ (palsu). Oleh karena itu baiknya dikembalikan ke perkara 
pokoknya saja, bahwa ibadah itu berbanding lurus dengan ikhtiar.

Tidur mulu... tidak ngapa-ngapain kok dapat pahala, tidak melakukan aksi kok 
berharap ada reaksi, tidak melakukan kebaikan apapun kok berharap dapat bonus 
pahala... Lha kok nyimut... Itu melawan sunatullah. Bukan itu amal yang pantas 
dipahalai. Ngantuk akibat kurang tidur menjadi bernilai ibadah kalau waktu 
malamnya dimanfaatkan untuk berbisnis dengan Ramadhan, tadarus, sholat malam, 
dzikir, dsb. Lha kalau ngantuk karena malamnya untuk ndugem dan cekakak-cekikik 
tak jelas juntrungannya..., ya enggak apa-apa juga sih, cuma jangan lalu 
esoknya berlindung di balik Hadits imitasi bahwa naumush-shooimun ‘ibadah... 
Enggak ada itu, enggak ada...!

Cuma perlu hati-hati, bahwa batas antara niat ibadah dan niat malas itu tipis 
sekali. Hanya diri masing-masing dan Tuhan yang tahu, sebagaimana puasa itu 
langsung dipersembahkan kepada-Nya, tanpa perantara ustadz, kyai atau imam, dan 
tanpa alat bantu apapun, tidak juga sarung, kopiyah, baju koko, sajadah, uang 
infak, dsb. Wallahu’allam... 
 
Yogyakarta, 29 Agustus 2009 (8 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke