Ramadhan Dan Para Kafilah Facebook
---------------------------------- 

Hilal Ramadhan baru saja menyembul. Sholat tarawih malam pertama Ramadhan baru 
saja usai. Kami sekeluarga bersiap meninggalkan garis Start untuk menjelajah 
medan laga Ramadhan, semoga Sang Panitia Ramadhan mengijinkan kami menyentuh 
garis Finish di penghujung Ramadhan 1430H. Tiba-tiba anak saya (Noval, 15 th) 
sambil membawa buku Qur’an menghampiri dan mengajukan tantangan : "Pak, 
khatamkan Qur'an, yuk". Spontan saya jawab penuh percaya diri : "OK, Insya 
Allah". 

Cuma di balik ajakan atau tantangan anak saya itu sepertinya tersembunyi 
sindiran, seolah-olah anak saya mengatakan kalau akhir-akhir ini bapaknya 
kurang rajin membuka-buka kitab suci itu (kata lain untuk 'kurang rajin' adalah 
'malas'). Membuka-buka saja jarang, apalagi membacanya. Padahal di rumah kitab 
suci itu pathing geletak, ada tergeletak dimana-mana. Okelah, mungkin itu 
sekedar sensitifitas perasaan saya saja sebagai orang tua. 

Dalam hati saya berkata : "Siapa takut?". Meski waktu kuliah dulu nilai 
matematika saya tidak pernah dapat A, tapi kalau cuma menghitung kemungkinan 
tercapainya tantangan anak saya itu rasanya cukup mudah. Pengalaman saya 
menunjukkan bahwa kecepatan baca Qur'an saya rata-rata 1 juz/jam. Kecepatan 
yang masih dalam batas aman, sebab kalau terlalu ngebut khawatir melanggar 
rambu-rambu tajwid (ilmu tentang cara melafalkan dan membaca Qur'an). Kaidah 
yang harus dipegang memang bukan 'lebih cepat lebih baik', melainkan 
'lanjutkan' meski grothal-grathul...

Jadi kalau dalam satu buku Qur'an itu terdiri dari 30 juz, maka kalau saya mau 
meluangkan waktu sejam per hari (lagi-lagi) Insya Allah saya akan bisa 
mengkhatamkannya. Atau, kalau mau di-breakdown menjadi dua kali baca Qur'an per 
hari, malam dan siang masing-masing setengah jam, juga bisa. Atau, setiap habis 
sholat fardhu, menyempatkan 12 menit baca Qur'an juga masih feasible 
dikerjakan. Sudah puluhan kali Ramadhan saya praktekkan dan terbukti bisa saya 
kerjakan. 

Ya... ya..., lalu muncul pertanyaan : Meluangkan waktu beberapa menit setiap 
hari untuk membaca tulisan Arab yang enggak ngerti maksudnya? Tunggu dulu, 
untuk apa buang-buang waktu...? 

Kaidah kedua nampaknya perlu dipahami. Lakukan dulu perintah-Nya, setelah itu 
silakan dikaji dan dipelajari logika maksud, tujuan dan pencapaiannya. Tapi 
jangan lalu dibalik, sebab nanti bisa terjadi karena tidak logis (menurut 
kemampuan akal manusia saat ini) maka lalu tidak usah dilakukan saja. 

Namun diam-diam saya bersyukur masih bisa berlapang dada mendengarkan ajakan 
anak saya dan bahkan merasa panas dan terprovokasi. Sebab di jaman banyak orang 
tua mengeluh tentang anak sekarang yang katanya susah dinasehati, suka 
membantah dan suka ngeyel, tapi kalau ada anaknya yang mengajak kebaikan orang 
tua suka pura-pura tidak mendengar dan pura-pura sibuk. Lalu tiba-tiba minta 
dimaklumi kalau kemudian merasa capek karena kesibukannya itu dan terkadang 
malah berkilah sambil berkata anaknya sok tahu dan malah berbalik menasehati 
ini-itu.
 
Hari demi hari Ramadhan berlalu. Sebagai orang tua wajar kalau kemudian berlaku 
sok bijaksana (inilah salah satu keahlian yang perlu dimiliki orang tua), lalu 
mengajukan nasehat kepada anaknya : "Kayaknya lebih bagus kalau bisa khatam dua 
kali selama Ramadhan, wong dulu bapak juga bisa". Nasehat yang beraroma 
tantangan ini rupanya direspon sama anak saya. 

Tapi ya itu tadi, dasar anak sekarang. Menerima tapi dengan syarat. Kepada 
ibunya dia berbisik : "Bisa khatam dua kali asal nanti dibelikan honda..." 
(mungkin karena perlu membaca agak ngebut maka perlu tunggangan yang bernama 
honda). Akhirnya saya jawab : "Oke boss, Insya Allah beres" (anak saya ini 
waktu balita dulu suka dipanggil 'boss' dan sampai sekarang terkadang saya 
terbawa menyebutnya begitu...). Tentu saja persetujuan saya juga pakai syarat.

Pertama, lakukan tapi jangan karena hondanya (apapun sepeda motor yang 
diinginkannya, sebut saja honda…). Kedua, jangan hanya mengkhatamkan baca 
Qur’an tetapi setelah Ramadhan harus dilanjutkan dengan mempelajari untuk 
memahami maknanya dan mengamalkannya. Akhirnya deal dan anak saya pun 
nyengenges…. 

Belajar untuk memahami makna bacaan Qur'an dan lalu mengamalkannya adalah sama 
pentingnya dengan membaca tulisan Arabnya yang enggak dimengerti maksudnya itu. 
Itulah yang banyak terjadi, merasa sudah puas kalau sudah membaca thok. Tetapi 
karena membaca thok pun punya nilai ibadah, maka tidak apalah memulai membaca 
sebisa-bisanya. Sebab kalau tahu-tahu mempelajari maknanya dan mengamalkannya 
tapi tidak pernah tahu bacaan aslinya juga bisa tinggal menjadi kenangan dan 
khayalan. 

Kaidah ketiga perlu saya tanamkan, yaitu : bacalah, pahami dan amalkan. Jangan 
karena merasa tidak bisa memahami dan mengamalkan lalu berkata mendingan tidak 
usah dibaca saja. Hingga akhirnya sepanjang badan mengandung hayat ya hanya 
sibuk berlindung dibalik kata-kata "percuma kalau tidak tahu artinya dan tidak 
diamalkan". Begitu selamanya hingga skak-mat dan game over... Wallahu a'lam...

*** 

Jadi, demi mendengar tantangan anak saya yang nadanya agak provokatif itu lalu 
membuat saya sesumbar dalam hati : "Ah kecil, Insya Allah...". Kata 'Insya 
Allah' harus selalu saya gunakan, karena saya takut rasa percaya diri saya yang 
berlebihan berubah menjadi kesombongan.

Itu teorinya, Bung...!. Prakteknya? Ngudubilah enggak mudah... Tapi terkadang 
heran juga, meluangkan sedikit waktu untuk sebuah kebaikan rasanya sulit dan 
berat sekali. Sementara methentheng (melotot) di depan layar internet sambil 
ngublek-ublek Facebook serasa waktu sejam tidak cukup. Bahkan panggilan adzan 
pun sering lewat begitu saja. Bagai peribahasa mengatakan biarlah panggilan 
adzan berkumandang para kafilah Facebook tetap berlalu... 

Kini saya mesti siap-siap untuk membelikan honda sebagai "pahala" tambahan bagi 
anak saya nanti usai Ramadhan. Insya Allah, bisalah... Sesial-sialnya kalau 
nanti tabungan saya tidak cukup, tinggal cari dana talangan Rp 500 ribu untuk 
DP sudah bisa nyangking honda. Cicilannya nanti diurus belakangan, masak kalah 
sama pemudik lebaran. Kalau perlu dipikir sambil tidur, toh tidurnya orang 
berpuasa juga ibadah... Ugh...!

Yogyakarta, 30 Agustus 2009 (9 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com 



      

Kirim email ke