Ramadhan Dan Kisah Sebuah Kitab Lusuh
---------------------------------------------------- 

Sebuah kitab yang tampak lusuh seperti tiba-tiba muncul terselip di rak buku. 
Mulanya biasa saja, setiap kali menatapnya tak sekali pun tergerak ingin tahu 
lebih jauh, padahal buku asing itu sebelumnya tak pernah ada di sana. Dari 
kenampakannya saya yakin buku lusuh itu adalah kitab Al-Qur’an.

Sampai kemudian bulan Ramadhan tiba. Saya pikir, inilah waktu yang tepat untuk 
pegang-pegang kitab suci. Cara pikir yang lugu tenan..., yang tanpa disadari 
sering muncul dalam pikirannya orang-orang pemegang KTP Islam. Seolah-olah 
waktu di luar Ramadhan adalah bukan waktu yang tepat untuk berurusan dengan 
kitab suci. Mau pegang kitab suci saja kok menunggu musimnya, seperti musim 
ujian bagi mahasiswa, musim liburan, musim durian, dan musim-musim lainnya. 
Mirip-mirip kalau orang baru terpikir soal pajak setiap tiba bulan Maret, atau 
baru berencana memiliki sarung dan kopiyah baru ketika Lebaran menjelang.

Ketika kemudian kitab lusuh itu benar-benar saya ambil, betapa saya rada 
terperanjat, surprise... Lho, ini kan kitab yang dulu saya miliki dan pernah 
saya cari-cari, kok tiba-tiba muncul di sini? Kemana saja selama ini? Kata 
istri saya yang menemukannya ketika sedang bersih-bersih rumah : "Ya embuh, 
wong ada di situ...".

Kitab kecil dengan sampul hardcover warna biru tua sekali, berukuran 10 cm x 15 
cm dan tebal 2 cm itu adalah oleh-oleh almarhum ayah saya ketika dulu pulang 
dari tanah suci. Dulu kitab itu selalu menghiasi di dalam tas punggung saya. 
Menghiasi tapi di dalam tas, itu karena memang yang menikmati hiasan itu bukan 
mata melainkan hati, jadi tidak harus nampak di mata. Sampai ketika saya 
pensiun dari pekerjaan saya di Papua dan kembali ke Jogja, kitab itu tiba-tiba 
menghilang dari peredaran. Hanya karena saya memiliki banyak penggantinya, maka 
saya merasa tidak perlu mempersoalkan raibnya kitab suci itu. Toh, apapun jenis 
dan modelnya selama masih bernama Qur’an isinya pasti sama. Dan, saya hanya 
perlu isinya.

Saya memang punya kebiasaan menyisipkan kitab suci di dalam tas, termasuk tas 
punggung. Ya pergi kerja, ke lapangan, traveling, sampai mendaki gunung pun 
kitab suci selalu ada di dalam tas punggung yang tak gendong kemana-mana... 
Untuk apa? Kalau sempat akan saya baca-baca (tapi lebih sering tidak 
sempatnya...). Hanya karena saya percaya bahwa pasti ada gunanya, minimal 
menjaga aura, maka tetap saja kitab suci itu tak gendong kemana-mana… 
Pengalaman terakhir adalah saat menunggu ayah saya yang sedang sakaratul maut 
di sebuah rumah sakit di Semarang setahun yll, saya tinggal merogoh tas 
punggung untuk meraih Qur’an kecil yang pada bagian surat Yasin sudah saya 
lipat halamannya.

Seperti halnya kitab suci lusuh yang barusan saya temukan dan saya yakin itu 
adalah kitab suci saya yang raib sekian tahun yll, karena pada beberapa bagian 
tertentu masih terlihat halaman yang saya lipat agar kalau saya mau membaca 
surat-surat tertentu dari Al Qur’an, maka mudah mencarinya. Saya memang punya 
surat-surat favorit, seperti surat Yasin, Yusuf, Fush-shilat, As-Sajadah, dan 
beberapa lainnya. Entah kenapa saya menyukai surat-surat itu sehingga relatif 
lebih sering saya baca ketimbang surat-surat lainnya. Meski begitu, 
seprana-seprene... ya enggak hafal juga, karena itu kitabnya perlu tak gendong 
kemana-mana. Hanya agak celingukan ketika hendak mampir ke toilet, mau dibawa 
masuk kok enggak etis amat, mau ditinggal di luar khawatir orang lain nanti 
yang nggendong kemana-mana...

Baru sekarang saya tahu bahwa rupanya dulu kitab itu diambil dan sering dibawa 
anak lelaki saya ke sekolah, yang waktu itu masih kelas 5 SD. Maka kalau 
kemudian kitab itu jadi terlihat lusuh, sampul luarnya kusam, halaman putihnya 
berubah lethek (berwarna kehitaman agak kotor), ada halaman yang lepas lalu 
dipasang lagi semaunya..., ya maklum, namanya juga anak-anak. Bahkan juga 
kehujanan, buktinya lebih 600 halamannya pada lengket. Untungnya itu buku suci 
bikinan luar negeri, produksi percetakan Madinah di atas kertas berkualitas 
bagus, sehingga ketika halaman-halaman lengket yang jumlahnya lebih 600 itu 
saya buka satu persatu, bisa dengan mudah diurai. Saya bayangkan kalau kualitas 
kertasnya seadanya seperti banyak kitab bikinan dalam negeri, pasti pada sobek 
dan terkelupas tulisannya.

Meski kitab kecil itu kini tampak lusuh, tapi saya bangga memilikinya. Sebab, 
berarti selama ini kitab itu sering dibuka dan dibaca, entah oleh siapa. 
Setidaknya ada manfaatnya dibanding kalau kitab itu saya taruh di dalam sangkar 
lemari kaca bening berlampu sehingga selalu terlihat bagus dan bersih karena 
tidak pernah disentuh, bahkan di "musim beribadah" di bulan Ramadhan. Disentuh 
saja tidak, apalagi dibuka, dibaca dan dikaji isinya.

Kini, kitab lusuh itu kembali menghiasi isi tas ransel saya (menghiasi tapi 
tidak terlihat mata). Mudah-mudahan membantu upaya saya untuk berbisnis dengan 
Ramadhan, ketika saya sedang ke luar kota. Ukurannya yang agak kecil memudahkan 
untuk nyisip di dalam ransel yang tak gendong kemana-mana...

Yogyakarta, 2 September 2009 (12 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke