Ramadhan Dan Goyang Jabar
---------------------------------------------------- 

Gempa 7,3 SR melanda Jabar, berpusat di laut selatan baratdaya Tasikmalaya, 
Jawa Barat. Sementara data melaporkan ada sekian puluh jiwa melayang, sekian 
ratus manusia terluka, sekian ribu rumah rusak parah, dan tak terhitung 
jumlahnya yang resah wal-gelisah terantuk musibah.

Pikiran saya melayang teringat gempa Jogja 5,9 SR, 27 Mei 2006, ketika di pagi 
hari tiba-tiba bumi Jogja bergoyang patah-patah selama 57 detik. Padahal 
pantasnya kalau Jogja itu goyangnya lemah gemulai bak tari Bedoyo, bukannya 
patah-patah seperti di Jabar yang kemudian menyebakan rumah-rumah rubuh mak 
breg..., dan sekian ribu manusia pun berpulang ke haribaan Sang Maha Penggoyang.

Siapapun mafhum bahwa gempa itu pasti akan terjadi tanpa aba-aba. Musibah itu 
akan tetap melanda bumi Jabar dan kawasan sekitarnya, karena memang demikian 
kepastian yang telah ditulis di dalam buku besarnya Sang Pemilik Bumi. Bukan 
peristiwa kebetulan, melainkan skenario yang sudah terencanakan dengan manis 
dan indah. Hanya manusia saja yang seringkali kurang pandai membaca tanda-tanda 
kebesaran Sang Maha Pemilik Rencana.

Seandainya manusia ini mempunyai kemampuan untuk terbang ke langit tingkat 
tujuh yang berjuta tahun jaraknya dan kemudian menyaksikan bagaimana sistem 
tata surya ini bermanuver, niscaya akan paham bahwa bagi Tuhan, bumi ini bak 
sebutir pasir terbawa angin muter-muter. Maka tahulah bahwa bumi Jabar hanyalah 
bagian kecil saja dari butir pasir itu, apalagi manusia-manusianya yang 
pethenthang-pethentheng tidak paham juga kalau keberadaannya nyaris tak 
terdefinisikan.

Apa artinya? Untuk mengacak-acak bumi Jabar, bagi Tuhan adalah semudah 
menghembuskan asap rokok Marlboro merah yang diarahkan ke kerumunan pasir, 
tinggal clik... seperti menggesekkan ibu jari dan jari tengah... Lalu 
berantakanlah bumi Jabar dan manusia-manusianya, Ada yang mati, ada yang 
hilang, ada yang cedera, dan ada yang menangis, ketakutan, stress, bingung, 
menggerutu. Tapi ada juga yang ikhlas dan hatinya semeleh, pasrah dan 
nerimo..., bahwa ini adalah sebuah kepastian. Siap atau tidak siap, sudah kaya 
atau masih miskin, sudah dilantik jadi anggota Dewan atau masih berperkara, 
sebodo teuing... bumi Jabar akan tetap digoyang.

Kalau sedemikian mudahnya Tuhan mengoyang bumi Jabar dan manusia-manusianya. 
Maka akan sedemikian mudah pula Tuhan menatanya kembali. Bahkan sama mudahnya 
dengan mengabulkan apapun permintaan manusia-manusia yang barusan 
dijungkir-balikkan. Tapi coba kita ingat-ingat, kapan terakhir kali kita berdoa 
mengajukan permohonan dengan penuh kesadaran dan penghambaan kepada Sang 
Khalik? Padahal itu adalah perintah-Nya dan sekaligus disertai dengan janji-Nya 
yang pasti bakal dipenuhi. Anehnya, sudah disuruh minta, kemudian dijanjikan 
bakal dipenuhi, enggak mau juga… Tidak cukup sampai di situ. Bulan mega-bonus 
pun ditawarkan-Nya. Gratis tanpa modal. Itu pun masih disisipi dengan sebuah 
malam yang nilainya lebih dari seribu bulan. 

Maka penghuni bumi Jabar dan sekitarnya sepertinya pantas bersyukur. Mereka 
yang kemudian meninggal dunia setelah digoyang patah-patah sedang mereka dalam 
keadaan berpuasa dengan ikhlas dan khusyuk karena iman dan semata mengharap 
ridho-Nya (imaanan wah-tisaaban), sepertinya mereka telah menutup episode 
hidupnya dengan happy ending (khusnul khotimah). Sungguh sebuah anugerah.

Puasa yang ikhlas adalah puasa yang dikerjakan bukan karena enggak enak sama 
tetangga atau teman kerja sebelah meja. Puasa yang ikhlas adalah puasa yang 
targetnya seperti diperintahkan-Nya agar la’allakum tattaquun..., agar kalian 
bertakwa. Maka tidak siapapun dapat menilai kualitas ibadah puasa seseorang, 
karena puasa itu memang diperuntukkan hanya bagi Tuhan dan tidak siapapun bisa 
turut campur.

Mereka yang kemudian selamat jiwanya sedang mereka ikhlas menerima musibah dan 
tetap bersyukur, maka mereka sesungguhnya sedang berada sangat dekat di sisi 
Tuhannya. Doanya sangat dekat dengan kunci terkabulkannya. Ya, doanya mereka 
yang sedang berpuasa, doanya mereka yang teraniaya, doanya mereka yang sabar 
dan khusyuk. 

(Memang diperlukan skill yang terlatih untuk bisa bersyukur di tengah 
musibah..., sebuah keterampilan yang tidak begitu saja akan dimiliki seseorang. 
Benar-benar tidak mudah, belum lagi kalau wartawan televisi memfasilitasi untuk 
muring-muring di depan kamera ketika bantuan terlambat).
 
Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang penuh keberkahan bagi masyarakat Jabar 
dan sekitarnya. Goyang Jabar adalah pertanda kecintaan Tuhan kepada manusia 
yang dipilihnya. Tinggal manusianya dipersilakan untuk memilih : Mau?.

Yogyakarta, 3 September 2009 (13 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke