Ramadhan Dan Para Pekerja Borongan
---------------------------------------------- 

Hari sudah bergeser lewat tengah malam, memasuki hari ke 21 bulan Ramadhan atau 
disebut juga malam selikuran. Baru saja kitab lusuh itu saya tutup setelah 
menyelesaikan membaca surat As-Sajadah. Enaknya langsung nggeblak saja di atas 
kasur empuk, ingin segera beristirahat untuk nanti bangun lagi saat makan 
sahur. 

Tiba-tiba terdengar nada suara jangkerik, tanda ada SMS masuk. Sembari 
malas-malasan membuka mata, saya lihat rupanya SMS dari istriku di Jogja. "Kok 
tumben-tumbenan kirim SMS malam-malam", kata saya dalam hati. Agaknya dia lupa 
kalau suaminya sedang berada di wilayah yang waktunya dua jam lebih cepat.

Ketika saya baca SMS-nya berbunyi (ditulis dalam bahasa Jawa) : "Mas, coba 
lihat Mario Teguh di TV One". 

Saya tersenyum sendiri. Sambil agak kurang bergairah saya balas SMS-nya : 
"Waduh, lha di kamarku ndak ada TV, je...". Boro-boro..., TV rusak saja tidak 
ada, apalagi TV One.

Lalu HP saya letakkan di samping tempat tidur. Maksudnya agar saya bisa 
mendengar dengan keras, ketika alarm yang saya setel jam setengah empat nanti 
berbunyi. Itupun sekali waktu pernah kebablasan tidak bangun dan akhirnya tidak 
makan sahur (lebih tepatnya, ketika alarm berbunyi lalu terbangun sejenak, 
mematikan alarm, tidak langsung bangun, dan akhirnya tertidur lagi kebablasan 
hingga terdengar adzan Subuh).

Rupanya SMS berbunyi lagi, kata istriku : "Mengenai lebaran, banyak orang 
menonjolkan diri padahal banyak utang, berarti sebenarnya tidak bahagia...", 
pasti menirukan tuturan Mario Teguh. 

Sejenak kemudian menyusul lagi SMS : "Wah, apik tenan...". Istriku memang 
penggemar Mario. Sebenarnya saya juga, hanya bedanya kalau istriku penggemar 
Mario Teguh, kalau saya Mario yang suka cat warna kuning temannya Maria. 

Akhirnya saya jadi terjaga dan terpancing memberi komentar : "Kata lainnya : 
Orang-orang itu menjadikan lebaran sebagai tujuan. Padahal mestinya lebaran itu 
hasil, sedang tujuannya adalah sempurnanya puasa Ramadhan". 

Tidak lama kemudian datang SMS sambungan : "Kesimpulannya, lihatlah diri 
sendiri sebagaimana apa adanya, jangan.... Terusnya lupa...he...he...", tulis 
istriku.

"Terusnya : Jangan menjadikan orang lain sebagai ukuran. Lalu perhatikan apa 
yang terjadi...", balasku kemudian.
"Ngarang!", balas istriku dengan cepat. 
"Lha, coba saja diingat-ingat..., kalau enggak percaya", balas saya lagi. 
"Yo wis, nanti tak ingat-ingatnya sambil tidur", balasan cepat dari seberang 
sana.
"Ya, betul itu", kataku. Berbalas SMS akhirnya selesai dengan SMS penutup dari 
saya : "Ini malam selikuran, tambahi tahajudnya". 

Dan, hilang sudah kantuk saya. Kini malah jadi tidak bisa tidur. Berganti 
dengan rasa lapar yang ditandai dengan munculnya suara kruyuk-kruyuk dari dalam 
perut. Tolah-toleh di kamar tidak ada yang bisa dimakan, kecuali ada sedikit 
sisa kacang kulit yang katanya baik untuk jantung. Maksudnya kalau dimakan 
secukupnya, sebab untuk jenis perut tertentu kalau makan kacang kebanyakan 
esoknya mencret. 

*** 

Malam selikuran adalah tradisi yang ada di kalangan sebagian masyarakat Jawa 
yang maksudnya malam tanggal duapuluh satu Ramadhan yang biasanya diwarnai 
dengan peningkatan aktifitas beribadah di malam hari. Ya tadarus baca Qur’an, 
dzikir, sholat malam, i’tikaf, sedekah, kajian di masjid, mushola atau surau, 
dsb. Disebut tradisi karena tidak ada dasarnya. Namun maksudnya adalah..., eh 
siapa tahu lailatul-qodar (malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari seribu 
bulan) turun di malam itu, maka banyak orang sudah siap menyongsong 
kedatangannya dengan ibadah yang lebih giat dari malam-malam lainnya. 

Masalahnya, adalah kalau giat beribadah hanya pada malam selikuran saja dengan 
harapan berjumpa dengan lailatul-qodar, maka itu sama artinya dengan pasang 
nomor lotere. Berharap ibadah borongannya pada malam itu dapat bernilai lebih 
dari seribu bulan, sementara pada malam-malam lainnya acuh tak acuh. Berharap 
mendapatkan kemuliaan pada malam itu, sementara pada malam-malam lainnya tidak 
mulia tidak apa-apa. Masih lebih baik kalau disertai harap-harap cemas, artinya 
ada niat kesungguhan di balik ikhtiarnya. Lha kalau berharap thok, berarti 
dapat ya syukur, tidak dapat yo wis...

Ibadah borongan ini tentu bukan yang dikehendaki Tuhan bagi hambanya yang 
sedang berbisnis dengan Ramadhan. Salah satu rahasia kenapa Allah swt. tidak 
memberitahu kapan lailatul-qodar tiba adalah agar hambanya menjaga kontinyuitas 
ibadah malamnya. Dan bukan diborong dalam satu malam saja seperti Bandung 
Bondowoso mborong seribu candi dalam semalam dan terakhir mbangun candi Mendut 
yang nilainya lebih baik dari seribu candi.

Jika demikian, taruhlah lailatul-qodar benar-benar turun pada malam itu. 
Rasanya cukup fair kalau kemudian para pekerja borongan itu hanya memperoleh 
lail-nya (malamnya) saja. Sementara qodar-nya (kemuliaannya) numpang lewat 
untuk melanjutkan perjalanan mencari dan menemui orang lain yang setiap 
malamnya bersujud penuh rasa harap-harap cemas menunggu datangnya kemuliaan dan 
ampunan dari Sang Pemilik Malam. 

Pada malam itu lalulintas di angkasa sangat padat dan penuh sesak oleh para 
malaikat yang sibuk naik-turun menggendong kemuliaan kemana-mana untuk 
dibagi-bagikan gratis kepada setiap hamba yang bersungguh-sungguh dengan ibadah 
Ramadhannya. Saking padatnya angkasa raya oleh milyaran malaikat dengan 
kesibukannya, sehingga… 

malam yang cerah menjadi temaram dan syahdu... 
udara tidak terlalu dingin tidak terlalu hangat 
tapi badan merinding tanpa sebab... 
suasana terasa hening seolah semua isi bumi sedang bersujud 
sambil menitikkan air mata penuh penghambaan... 
dan  angin pun berhembus halus memberdirikan helai-helai bulu kuduk 
ketika menyapunya dengan belaian lembut... 
Subhanallah! 

*** 

Cara beribadah para pekerja borongan itu tidak beda dengan mereka yang 
menjadikan lebaran sebagai tujuan. Apapun akan dilakukan untuk memanfaatkan 
momen lebaran sebagai momen memperoleh pengakuan atas sukses yang telah diraih, 
yang diwujudkan dalam perlambang-perlambang yang tampak di mata. Meski untuk 
itu mereka berkorban apa saja yang terkadang menjadi tidak rasional. Karena 
lebaran yang menjadi tujuannya, maka lebaran itulah yang kemudian akan 
diperolehnya. Bukan kemenangan, bukan kebahagiaan…

Mestinya lebaran adalah sebuah hasil, tujuannya adalah sempurnanya ibadah 
Ramadhan, prosesnya adalah penghambaan yang ikhlas selama Ramadhan siang dan 
malam semata-mata karena mengharap keridhoan-Nya. Dalam konteks beribadah, 
tujuan dan proses (cara mencapainya) adalah sama pentingnya. Adalah tidak benar 
kalau untuk tujuan beramal lalu diupayakan dengan merampok atau korupsi. Juga 
tidak betul kalau melakukan sholat, puasa atau sedekah tetapi tujuannya agar 
disanjung orang lain. Meski antara tujuan dan proses itu hanya diri sendiri dan 
Tuhan yang tahu. 

Jika tujuan dan prosesnya ditunaikan dengan landasan la’allakum tattaqun (agar 
kalian bertakwa), maka Insya Allah hasil yang diraih akan datang dengan 
sendirinya, yaitu kemenangan dan kebahagiaan yang tak terukur nilainya di hari 
fitri nanti. Tak juga dapat disebandingkan dengan mobil atau sepeda motor baru 
meski kreditan berplat nomor B, pakaian dan perhiasan gemerlap hasil gesekan 
kartu kredit, lembar uang baru yang dibagi-bagikan kepada anak-anak tetangga, 
dan aneka perlambang yang semacam itu. 

Dan, sang Hasil ini sekarang sedang gelisah merindukan ingin segera berjumpa 
dengan orang-orang yang tujuan dan proses ibadah Ramadhanya karena imaanan 
wahtisaban (karena iman dan berharap ridho-Nya). Semoga dalam Ramadhan kali ini 
(enggak tahu kalau Ramadhan tahun lalu atau tahun depan), kita semua termasuk 
ke dalam gerombolannya orang-orang yang sedang dirindukan oleh sang Hasil itu. 
Amin.. 
 
Tembagapura, 11 September 2009 (21 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke