Bakmi Jawa Jogja Mbah Hadi
----------------------------------------

Pada sekitar tahun 1997 mbah H. Hadi memulai usaha warung bakmi kaki lima di 
pinggiran depan terminal Terban, Yogyakarta. Kini bakmi khas Jogja itu dikenal 
dengan nama bakmi jawa atau jowo, lebih afdhol lagi kalau disebut bakmi jowo 
Jogja. Bahkan ketika warung sejenis dibuka di kota lain pun tetap menggunakan 
label bakmi jowo atau bakmi Jogja.

Kalau kebetulan sedang berada di Jogja, maka banyak pilihan tempat untuk 
mencicipi bakmi Jowo sejenis ini. Sekedar menyebut nama yang sudah dikenal, di 
antaranya ada bakmi Mbah Mo, bakmi Pak Pele, bakmi Kadin, dan masih banyak 
lainnya yang tersebar di seantero wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, beserta 
segenap penerus, peniru dan pengikutnya. Dan, bakmi jowo Mbah Hadi adalah satu 
di antaranya.

Lokasi bakmi Mbah Hadi relatif mudah dicari dan dicapai karena berada di tengah 
kota Jogja. Berada di kawasan bekas terminal Terban, Jl. C. Simanjuntak, 
tepatnya sebelah utara SPBU. Sejak Mbah Hadi meninggal dunia bulan Mei 2009 
yll, kini usaha warung bakminya diteruskan oleh putra-putranya. Dimotori oleh 
Pak Sukiran, putra kedua Mbah Hadi, dan dibantu oleh adik-adik serta 
sanak-saudara lainnya, maka kini warung bakmi Mbah Hadi yang semakin dikenal 
para pelanggannya terus mengibarkan bendera bakmi jowonya.

"Sakjatosipun meniko inggih namung samben kok pak...", kata Pak Sukiran yang 
maksudnya menjelaskan bahwa jualan bakmi ini sebenarnya cuma sekedar sambilan. 
Tentu saja ini gaya merendah versi pak Sukiran. Sepenuhnya dapat dimaklumi 
karena pak Sukiran merasa pekerjaan utamanya sebenarnya seorang PNS di Jogja, 
tapi setiap sore hingga malam jualan bakmi. Begitu kira-kira logika pikirannya. 
Dan saya cuma tersenyum mengiyakan.

Kalau saya pikir-pikir, ya sambilan bagaimana kalau warung bakminya setiap  
hari rata-rata menghabiskan 10 ekor ayam dan 300 butir telur bebek, yang 
berarti sekitar 300 porsi bakmi godok (rebus) dan goreng terjual habis. Pak 
Sukiran dan pasukan keluarganya bahu-membahu melayani penggemar dan penikmat 
bakmi jowo setiap malam dan buka mulai jam 5 sore, tentu ini bukan pekerjaan 
sambilan atau pengisi waktu belaka. Belum lagi kalau tiba musim liburan atau 
lebaran, 14-15 ekor ayam siap dihabiskan.

Rasa bakminya memang tidak diragukan lagi bakal membuat ketagihan penggemar 
bakmi jowo. Tergolong hoenak…. Sekelas dengan bakminya Mbah Mo yang ada di 
pedalaman mBantul sana (yang konon kini kelezatan taste-nya yang sudah kondang 
itu mulai rada menurun, tapi ya tetap saja enak...). Dalam upayanya menjaga 
kualitas rasa bakminya, pak Sukiran menerapkan rejim satu wajan satu porsi. 
Betapapun banyaknya pelanggan yang mengantri, tetap saja pemasakannya akan 
dilayani sesuai prosedur yang sudah ditetapkan, yaitu setiap porsi dimasak 
masing-masing dan sangat dihindari untuk memasak sekaligus lebih dari satu 
porsi. Prosedur inilah yang diyakini oleh pak Sukiran dan timnya akan mampu 
menjaga cita rasa khas bakmi jowonya dan ramuan bumbu yang pas bagi setiap 
porsinya.

Meski pelayanannya sebenarnya tergolong lincah dan cekatan, dan meski didukung 
oleh dua wajan yang beroperasi non-stop sejak buka, tetap saja berakibat 
menjadi kurang cepat ketika banyak pelanggan menunggu dilayani. Meski demikian 
toh dengan tenangnya pak Sukiran berkata : "Kalau sabar ya monggo ditunggu... 
Kadang-kadang ada juga yang kurang sabar lalu tidak jadi beli". Dalam hal 
seperti ini pun pak Sukiran bergeming, pokoknya satu wajan tetap satu porsi. 
Akibatnya hanya pelanggan-pelanggan yang fanatik dengan cita rasa khas bakminya 
Mbah Hadi saja yang sanggup mengemban judul "sabar menanti", menanti dilayani 
maksudnya…

Seperti pengalaman saya malam kemarin, puluhan orang rela dengan sabar menanti 
dilayani. Warung bakmi ini sebenarnya hanya menempati sepetak kios kecil yang 
hanya diisi oleh dua buah meja kayu panjang dengan empat bangku 
berhadap-hadapan, tapi di luar warungnya tergelar kursi dan tikar tambahan. Itu 
pun penuh diisi pelanggan. Dalam menjalankan bisnisnya, bakmi Mbah Hadi 
berkolaborasi dengan pedagang angkringan yang menyediakan minuman teh jahe.

Harga per porsinya tergolong murah-meriah jika dibandingkan dengan 
warung-warung bakmi kategori hoenak tenan, yang ada di Jogja. Sebanding juga 
dengan kesabaran menunggunya. Kalau tidak salah tiap porsinya dihargai sekitar 
Rp 8.000,-. Harga persisnya saya lupa (maklum saking enaknya jadi lupa...). 
Menirukan kata seorang rekan setelah makan bakmi Mbah Hadi ini lalu 
mengekspresikan kepuasannya : linak, litu, linggo, lico, lijo..., njuk liyar. 
Maksudnya, lali anak (lupa anak), lali putu (lupa cucu), lali tonggo (lupa 
tetangga), lali konco (lupa teman), lali bojo (lupa istri), dan akhirnya lali 
mbayar (lupa mbayar)... Kalau yang terakhir ini memang rada nekat...

Pak Sukiran memang pantas kalau sekarang bisa menikmati hasil rintisan dan 
kerja keras almarhum Mbah Hadi sejak lebih sepuluh tahun yll. Maka menjaga 
kualitas cita rasa bakminya adalah menjadi prioritasnya. Jamaknya sebuah 
kesuksesan, maka kini banyak pihak investor mulai melirik ingin membuka cabang 
bakmi Mbah Hadi. Namun pak Sukiran nampaknya belum tergerak. Khawatir tidak 
tertangani dengan baik (bahasa moderennya, manajemennya tidak siap), nanti 
malah bubrah semua. Sederhana sekali. Dan kita sering dibuat tertegun 
menyaksikan kesuksesan yang terjadi di balik sebuah kesederhanaan sikap dan 
cara berpikir.

Yogyakarta, 29 September 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com/category/indonesia-catatan-perjalanan/adventure-of-makan-makan/


      

Kirim email ke