Berburu Bakmi Mbah Slamet Di Kotagede
-------------------------------------------------------

Penggemar bakmi jawa di Jogja ini memang dimanjakan. Hampir di setiap sudut 
jalan mudah dijumpai adanya gerobak bakmi dengan aneka cita rasanya. Sebagian 
diantaranya sudah cukup kondang, bahkan dikenal oleh warga pendatang dari luar 
kota. Soal rasa, itu tergantung selera dan sensitifitas lidah masing-masing.

Berburu bakmi bisa jadi agenda wisata malam yang sekali-sekali perlu dicoba. 
Hanya kalau sudah bisa menikmati sensasi bakmi jawa yang khas dengan taste 
bawang putih dan kemirinya itu, maka yang tadinya sekali-sekali bisa jadi 
berkali-kali. Sebab banyak pilihan warung bakmi perlu dicoba. Dan satu-satunya 
cara untuk bisa mengatakan enak atau tidak adalah setelah mencoba mencicipinya 
sendiri.

Maka pergilah berburu bakmi di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Atas saran 
beberapa rekan, saya dan keluarga mencari lokasi bakmi Mbah Slamet. Sebuah nama 
yang belum banyak dikenal orang di dunia perbakmian Jogja. Tidak sulit untuk 
menemukan lokasi warung ini meski tidak ada tulisan apapun di depan warung 
bakmi Mbah Slamet ini. Tepatnya berada di Jl. Pramuka 80, Kotagede, Jogja 
(sebelah timur toko Pamela Swalayan). Di rumah itu pula Mbah Slamet dan 
istrinya kini tinggal berdua menuntaskan hari tuanya sambil berjualan bakmi.

Ketika kami datang, Mbah Slamet sedang duduk leyeh-leyeh di atas lincak (kursi 
panjang terbuat dari bambu). "Lho kok sepi, Mbah?", tanya saya. "Wong niki 
nembe mawon buka (ini baru saja buka)", jawabnya. Maka jadilah kami bertiga, 
saya bersama istri dan anak perempuan saya, menjadi pembeli pertamanya. 
Penglaris, kata orang (tapi ya tetap saja mbayar....). Sementara istri Mbah 
Slamet masih terlihat sibuk membantu memberes-bereskan perlengkapan warungnya. 
"Kolo wau kerinan (tadi terlambat bangun)", kata Mbah Slamet. Rupanya sore itu 
mereka kecapekan sehingga ketiduran dan terlambat bangun. Maklum, namanya juga 
mbah-mbah.

Mbah Slamet biasa buka sesudah maghrib. Jam berapapun maghribnya, pokoknya 
bubar maghrib (usai sholat maghrib) baru buka dan sekitar jam sebelas malam 
biasanya bakminya sudah habis. Setiap hari Mbah Slamet dan istrinya bekerja 
sama menjual bakmi jawa menempati teras depan rumahnya. Mbah Slamet urusan 
perbakmian, sedangkan istrinya urusan cuci-mencuci piring dan perminuman 
spesialis minuman tanpa es. Jadi jangan pesan es teh atau es jeruk, sebab Mbah 
Slamet tidak menyediakan es.       

Begitulah kegiatan rutin setiap hari sepasang kakek-nenek bak mimi lan mintuno, 
Mbah Slamet berdua saja dengan istrinya. Ketika saya tanya berapa putranya, 
dijawabnya : "Kosong, mas...". Sejenak saya mengernyutkan dahi berusaha 
memahami maksud jawaban Mbah Slamet, baru kemudian saya ngeh dan merasa 
bersalah telanjur menanyakannya, sebab ternyata Mbah Slamet dan istrinya tidak 
dikaruniai anak. Lebih-lebih ketika Mbah Slamet berkata lirih sambil tetap 
sibuk meracik bakmi : "Wong meniko namung kangge nyambung gesang kok mas (yang 
dilakukannya ini cuma untuk sekedar menyambung hidup saja)". Tutur kata bernada 
datar dari Mbah Slamet itu terasa getir dan nglangut (mengawang-awang) 
terdengar di telinga saya. Ya, betapa tidak. Dua orang kakek-nenek bahu-membahu 
berjualan bakmi setiap hari hingga usia tuanya, sementara tidak ada yang 
diharapkan meneruskan generasi bakmi sesudah mereka. Boro-boro menimang cucu. 
Tadinya saya mau tanya sampai kapan akan berjualan
 bakmi, namun pertanyaan itu lalu saya batalkan. Ada perasaan tidak tega untuk 
bertanya lebih lanjut.

Begitu lugu dan sederhananya. Sesederhana warungnya yang hanya diisi sebuah 
meja dengan tiga buah lincak diterangi cahaya sebuah lampu 25 Watt di atas 
mejanya, berdinding kerei (dinding penyekat terbuat dari anyaman bambu). Kalau 
pembelinya banyak, biasanya kemudian mereka rela duduk di trotoar jalan atau 
sambil nongkrong di atas sadel sepeda motornya. Namun Mbah Slamet begitu 
pede-nya ketika ditanya kok tidak ada tulisan apapun di depan warungnya agar 
mudah dicari orang. Jawabnya : "Sampun sami ngertos mas (sudah pada tahu mas)", 
yang maksudnya para pelanggannya sudah pada tahu dimana lokasi warung bakminya. 
Bahkan ketika saya tawari mau saya bikinkan spanduk pun dijawabnya : "Walah, 
mboten usah mas (tidak usah mas)". Walah, Mbah Slamet.....

Soal cita rasa bakminya? Karena dalam kamus makan-memakan ini hanya ada dua 
kategori cita rasa makanan, yaitu hoenak dan hoenak tenan, maka bakmi Mbah 
Slamet tergolong hoenak. Jam terbangnya di dunia perbakmian sudah 
membuktikannya. Memulai bisnis perbakmian sejak 37 tahun yll. dan masih 
bertahan dengan menyajikan sekitar 50 piring per hari hingga saat ini kiranya 
cukup membuktikan bahwa cita rasa bakmi Mbah Slamet tidak diragukan. Ada yang 
cocok dan ada yang tidak, itu hal yang lumrah. Dari dulu hingga kini Mbah 
Slamet tidak pernah mengubah resep racikan bakminya. Ya begitu-begitu itu. 

Mbah Slamet memulai bisnis bakminya sejak tahun 1972 dengan lokasi warungnya 
berada di depan terminal bis THR Jogja (sekarang Pura Wisata di Jl. Brigjen 
Katamso). Masih jelas dalam ingatan Mbah Slamet, bahwa waktu itu masih jaman 
Toto Koni (ini sejenis lotere yang di jaman itu masih legal). Bisa ditebak 
bahwa waktu itu Mbah Slamet melayani para penggemar judi atau lotere yang suka 
mangkal di depan terminal bis yang biasanya beraktifitas di malam hari, yang 
sedang kelaparan. Kalau sekarang usia Mbah Slamet 67 tahun, itu berarti Mbah 
Slamet memulai bisnis bakminya sejak usia 30 tahun.

Ubo rampe bakminya sebenarnya standar saja. Setelah telur bebek digoreng di 
atas wajan dengan menggunakan pemanas arang di atas anglo, lalu diberi adonan 
bumbu yang terdiri dari campuran bawang putih, ebi (udang kering) dan sedikit 
kemiri, lalu dituang air sebanyak kebutuhannya untuk bakmi rebus atau bakmi 
goreng, ditambah irisan kol dan daun bawang, dua genggam mi putih dan mi 
kuning, suwiran ayam kampung, lalu diaduk hingga masak. Padahal ya cuma begitu, 
tapi kok ya hoenak.... Lebih-lebih bakmi rebusnya, sruputan pertama kuahnya 
yang masih panas itu terasa segar benar. Ukuran sepiring penuh bakminya yang 
dihargai Rp 7.000,- itu cukup banyak.

Akhirnya setelah kenyang menyantap bakmi rebus Mbah Slamet, kami pun pamit 
pulang dan tidak lupa saya sampaikan sekedar pujian atas bakminya yang enak 
sambil berucap "matur nuwun". Eh, malah dijawab : "Kulo ingkang matur nuwun 
(saya yang terima kasih)", katanya sambil tersenyum dengan terus melayani enam 
orang pembeli yang sudah mengantri. Bakminya Mbah Slamet, hmmmmmm.... bakminya 
full, enggak setengah-setengah...

Yogyakarta, 22 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke