Cuaca Panas, Pesawat Pun Begoyang Keras ---------------------------------------------------------
Cuaca seminggu terakhir ini terasa begitu panas, terutama di wilayah pulau Jawa. Beberapa hari yll suhu tertinggi di Jogja berhasil menembus angka 37,7 derajat Celcius. Panasnya seperti di Mekkah, kata seorang teman yang belum pernah ke Mekkah. Tapi hari-hari terakhir ini naga-naganya sudah mulai mau hujan. Lumayan, meski baru mau... Menjelang tengah hari minggu lalu, pesawat Garuda Boeing 737-800 yang saya tumpangi dari Jogja sudah mengurangi ketinggian dan siap-siap mendarat di bandara Cengkareng. Dari ketinggian nampak bentang kota metropolitan Jakarta. Suhu udara di darat dilaporkan 32 derajat Celcius. Cuaca langit Jakarta juga dilaporkan cerah. Namun tiba-tiba badan pesawat bergoncang agak keras. Goncangannya agak berbeda tidak seperti biasanya kalau sedang menabrak awan. Mulanya biasa saja. Namun makin lama goncangan itu berlangsung semakin kuat dan berulang-ulang, badan pesawat njumbul-njumbul naik-turun sambil sedikit goyang kiri goyang kanan, seperti sedang berkendaraan melewati jalan rusak. Penumpang mulai rada tegang. Ketika saya lihat ke luar jendela ternyata cuaca sangat cerah dan bersih. "Waduh, ada apa ini", pikiran saya mulai menerka-nerka. Jangan-jangan... Tapi kok pilotnya tidak memberi informasi apapun. Goyangan berlangsung terus menyertai pesawat yang semakin menurun, hingga akhirnya... mak jedug, menyentuh landasan bandara Cengkareng. Alhamdulillah, kata saya dalam hati masih diliputi ketidak-tahuan apa sebenarnya yang sedang terjadi. Ketika pesawat sudah berhenti, penumpang di sebelah kanan saya tiba-tiba menjadi akrab dengan penumpang lain di belakangnya. Rupanya mereka terakrabkan oleh rasa takut. Sepertinya sudah saling tidak bisa menahan diri untuk mengekspresikan ketakutannya selama beberapa menit menjelang mendarat tadi. Ketakutan membawa keakraban. Saya menguping percakapannya. "Kedua kaki saya sudah gemetaran tadi", kata penumpang di samping kanan saya kepada teman barunya yang duduk di belakangnya, yang kemudian menimpali : "Saya juga sudah sport jantung tadi. Saya hanya berusaha yakin dengan nama besar Garuda saja". Rupanya memiliki nama besar ada juga gunanya, kata saya iseng dalam hati. Setidak-tidaknya lebih dipercaya, meski kalau memang mau celaka, ya celaka aja. Tidak ada hubungannya dengan nama besar atau nama kecil. Penumpang yang di belakang tadi rupanya memang begitu ketakutan setelah pengalaman tadi, lalu katanya : "Pulangnya nanti saya mau naik kereta saja. Takut, saya...", begitu kira-kira katanya kemudian. "Kenapa?" tanya penumpang yang duduk di sebelah saya. Sudah jelas ketakutan kok ya ditanya kenapa. Namun jawaban jujur penumpang yang ditanya tadi membuat saya berteka-teki. Katanya : "Kalau naik kereta atau mobil, kalau ada apa-apa kan masih bisa ditemukan. Lha kalau naik pesawat, hilang entah kemana". Agak tersenyum kecut juga saya mendengar kata-kata itu. Kemudian mereka berdua mulai berjalan keluar dari pesawat dan pembicaraan mereka pun terhenti. Padahal saya berharap penumpang di sebelah kanan saya tadi bertanya : Apanya yang hilang dan apanya yang ditemukan?. *** Saya masih merasa penasaran kenapa tadi pesawat begitu bergoncang lebih dari biasanya ketika badan pesawat menabrak awan. Saya telanjur berprasangka buruk, jangan-jangan pilotnya baru dan belum cukup pengalaman. Baru ketika hendak keluar dari pesawat dan melewati seorang pramugari saya sempatkan bertanya : "Mbak, kenapa tadi goncangannya kuat sekali?". Jawab pramugari itu dengan kalem seperti tidak ada apa-apa (ya memang sebenarnya tidak ada apa-apa) : "Karena ada tekanan udara panas dari bawah, pak". Ooo, begitu to... Sungguh baru paham saya bahwa suhu udara di darat yang demikian panasnya ternyata dapat menyebabkan adanya tekanan kuat hingga mendorong dan melawan gerak turun pesawat yang hendak mendarat. Maka kalau pada hari-hari dimana suhu udara begitu panas dan terpaksa harus naik pesawat di saat tengah hari, bersiap-siaplah untuk mengalami goncangan yang rada menyiutkan nyali seperti dialami oleh dua penumpang tadi. Tapi memasuki musim penghujan dan langit mendung berawan, hal yang sama juga bisa terjadi. Kalau kemudian benar ada apa-apa, semoga saja dapat ditemukan... Lho, apanya? Yogyakarta, 26 Oktober 2009 Yusuf Iskandar http://yiskandar.wordpress.com

