Mampir Nyoto Di Warung Soto Sapi Winong Kotagede
---------------------------------------------------------------

Jumat pagi-pagi ini saya mesti mengantar anak perempuan ke terminal bis 
Giwangan, Jogja. Sejak kemarin dia sudah wanti-wanti agar bapaknya tidak lupa. 
Katanya mau mengikuti kegiatan outbond kampusnya ke daerah Sarangan (Jatim) 
lalu besoknya pindah ke Magelang (Jateng). Pulang dari terminal sengaja saya 
menempuh rute memutar melalui kecamatan Kotagede, sekedar ingin menikmati 
suasana pagi mendung yang baru akhir-akhir ini melanda kawasan Jogja dan 
sekitarnya setelah berbulan-bulan panas terus-terusan.

Tiba di daerah Winong, ujuk-ujuk saya ingat di daerah itu ada warung soto sapi 
yang lumayan enak, cerita seorang teman. Tidak susah untuk mencari lokasinya, 
tepatnya di Jl. Ngeksigondo no. 4 yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah 
tinggal saya. Langsung saja berhenti tepat di depan warung yang pagi itu masih 
terlihat sepi. Kemudian pesan semangkuk soto sapi sambil sedikit ngobrol dengan 
pelayannya. Biasa, kalau sudah begini rasa ingin tahu selalu muncul. Sumber 
informasi yang paling mudah, ya ngobrol dengan pelayannya.

Semangkuk soto dengan kandungan irisan daging sapinya cukup banyak segera 
tersajikan. Belum puas dengan itu, lalu saya pesan iso (usus) goreng yang 
dipotong kecil-kecil sebagai ramuan tambahan. Sayang iso gorengnya dibumbu 
bacem. Saya kurang begitu suka karena sensasi rasa asli isonya jadi hilang.

Sruputan pertama kuahnya begitu menggoda, selebihnya terserah yang 
menyruput..., sebab rasa kaldu dagingnya langsung terasa. Setelah dicecap-cecap 
sebentar kemudian saya tambah dengan kecap manis. Dasar lidah Jogja, kalau 
belum ditambah kecap serasa makan soto tanpa kecap... Kurang manis, maksudnya. 
Rasanya lumayan enak, terutama bagi sopir yang sedang kelaparan di pagi 
mendung. Bisa sebagai referensi kalau suatu kali nanti kepingin makan soto yang 
lokasinya tidak jauh dari rumah di kawasan Jogja tenggara.

Warung soto ini sudah cukup dikenal di wilayah Jogja, sebagai warung Soto Sapi 
Winong. Tampilan warungnya yang mengesankan sederhana dan melayani pecinta soto 
sejak pagi hingga sore hari itu kini sudah memiliki cabang di Jl. Wonosari dan 
Jl. Solo. Masih di wilayah Jogja juga. Ini menandakan bahwa bisnis persotoan 
yang mulai dirintis oleh Pak Wachid sebagai pemiliknya sejak sekitar tahun 1993 
itu cukup berkembang. Setidak-tidaknya memberi pilihan bagi pecinta soto yang 
sedang berada di wilayah kota Yogyakarta. Harga semangkuk nasi soto yang hanya 
Rp 7.000,- kiranya masih wajar  jika menimbang citarasa yang ditawarkan dan 
asesori irisan daging dalam racikan sotonya. Setidaknya sebanding dengan 
kebutuhan sebagai pilihan sarapan pagi bagi warga masyarakat penyoto (penggemar 
soto) yang tinggal atau melewati wilayah seputaran Kotagede, Yogyakarta.  

Setelah menyelesaikan transaksi pembayaran dan membawa sebungkus soto untuk 
'boss' saya di rumah, saya pun pamit kepada pelayannya (ke pelayan saja kok 
pamit...). Beberapa saat sebelum meninggalkan halaman warung, lha kok tiba-tiba 
ada sepeda motor berhenti menghalangi. Pengendaranya sepasang muda-mudi. 
Keduanya lalu turun dan terlibat dalam pembicaraan serius. Tentu saja saya 
tidak mendengar percakapan mereka. Tapi memperhatikan ekspresi wajah keduanya 
sepertinya sedang bertengkar. 

Dari belakang kemudi saya memperhatikan adegan yang langka itu. Dalam hati saya 
memberi apresiasi kepada kedua orang itu. Setidak-tidaknya mereka telah 
melakukan safe action berlalu lintas. Berboncengan sepeda motor, bertengkar, 
lalu menepi berhenti dulu. Daripada nanti dikira pemain sirkus jalanan, naik 
sepeda motor sambil berantam...  Pelajarannya adalah, jangan naik sepeda motor 
sambil bertengkar. Kalau terpaksa juga mau bertengkar di jalan, menepilah dulu 
dan berhenti di tempat yang aman (Lha ya siapa yang mau bertindak bodoh semacam 
ini? Tapi faktanya toh terjadi juga...).    

Tidak lama kemudian, mereka pun bersepakat melanjutkan perjalanan berboncengan 
kembali. Mungkin sudah ada kesepakatan damai atau gencatan senjata sementara 
waktu. Entahlah, itu urusan mereka. Yang jelas, kemudian saya pun mengambil 
gambar spanduk penanda warung Soto Sapi Winong lalu berangsur pulang. Tadi itu 
bukan saya sengaja ingin menikmati adegan pertengkaran sepasang muda-mudi, 
melainkan saya terpaksa menunggu hingga pertengkaran selesai karena mereka 
berhenti tepat di depan tulisan yang mau saya foto. 
    
*** 

Nyoto atau makan soto adalah salah satu pilihan sarapan pagi yang relatif 
murah-meriah-mudah. Tergolong makanan cepat saji yang bukan fast food. Kalau 
kebetulan uang saku lagi cekak, makan soto tanpa pesan minum pun masih layak 
ditempuh, sebab kuah soto tidak bersantan dan menyegarkan.

Menyimak kata orang Jawa : "Urip mung sak dermo nunut nyoto" (hidup itu cuma 
sekedar numpang makan soto), murah, cepat, dan kebutuhan perut terpenuhi. 
Esensinya adalah bahwa hidup ini cuma sebentar saja, sebelum menuju ke 
destinasi terakhir yang lebih kekal dan abadi. Karena itu, tunaikanlah hidup 
ini sebagaimana adanya dan wajarnya, sebagaimana makan soto di pagi hari. Sebab 
soto dan penyoto itu tidak mungkin neko-neko. Dari dulu hingga nanti lewat 
tanggal 21 Desember 2012, yang namanya soto dan nyoto ya begitu itu...

Yogyakarta, 20 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke