Jika Harus Naik Ojek Membelah Kemacetan Jakarta
------------------------------------------------------

Jam sudah menunjukkan pukul 18:15 waktu Pondok Indah Jakarta. Kendaraan yang 
akan mengantarkan saya menuju ke stasiun Gambir masih saja berjalan merayap, 
bahkan nyaris tidak bergerak. Jalan di depan Wisma Pondok Indah nampak demikian 
padatnya. Saya mulai gelisah. Pada tiket kereta api Argo Lawu yang akan saya 
tumpangi kembali ke Jogja malam itu jelas menunjukkan waktu keberangkatan jam 
20:00 WIB.

Harus ada jalan keluarnya, kata hati saya. Sebab jika tidak, saya pasti akan 
ketinggalan kereta. Kalau sampai esok paginya saya belum tiba di Jogja, berarti 
saya tidak bisa sholat Idul Adha di kampung dan yang lebih saya khawatiri 
adalah kalau sampai saya gagal menjaga amanah dan komitmen untuk membantu 
Panitia Qurban di kampung saya.

Akhirnya saya putuskan turun dari kendaraan yang malam itu akan mengantar saya 
ke stasiun yang masih saja mbegegek (berhenti total) tertahan kemacetan parah. 
Segera saya menyeberang jalan untuk mencari taksi pada lajur jalan yang 
berlawanan yang tampak lebih lancar. Berdiri di pinggir jalan hingga lebih 15 
menit ternyata tidak juga ketemu taksi kosong. Hati saya semakin gelisah 
disertai perasaan tegang. Tiba-tiba saya ingat kalau petang itu saya belum 
membatalkan puasa Arafah yang saya jalani. Saya lalu menuju tukang rokok di 
pinggir jalan membeli sebotol air mineral sekedar untuk membatalkan puasa saya. 
Sambil saya minta pendapat penjualnya tentang bagaimana cara tercepat menuju 
stasiun Gambir. Rupanya kalau perasaan sedang gelisah dan pikiran rada panik, 
kita sering tidak mampu berpikir jernah. Sampai perlu minta pendapat orang 
lain, siapapun dia termasuk tukang rokok pinggir jalan.

Solusi tukang rokok ternyata sederhana saja : "Kalau tidak ada taksi mending 
naik ojek, pak", katanya. Ya, benar juga. Akhirnya usul itu saya setujui. Bapak 
penjual rokok pun berbaik hati membantu mencarikan ojek. Ketika saya tanya 
kira-kira berapa ongkosnya, dijawabnya sekitar 35 sampai 40 ribu rupiah. "Tapi 
ditawar saja, pak", katanya lagi.

Pak tukang ojek meminta ongkos Rp 50.000,- sampai Gambir, setengah jam sampai 
katanya. Wah boleh juga, pikir saya. Tapi seperti saran tukang rokok tadi, saya 
pun menawar. Tawar-menawar berjalan rada alot (sudah tahu keadaan terdesak, 
masih juga gengsi untuk menerima begitu saja tawaran harga tukang ojek). 
Akhirnya kami sepakat dengan ongkos Rp 40.000,- Perasaan saya mulai agak lega, 
walau belum sepenuhnya. Ojek belum jalan tapi pikiran saya sudah membayangkan 
membonceng ojek malam-malam membelah kemacetan Jakarta.

Sebuah sepeda motor butut Suzuki Tornado yang spedo meternya sudah bolong 
ditutup plastik yang diplester, kedua kaca spion diganti kecil-kecil, lampu 
depan remang-remang dan suara mesinnya mbeker-mbeker..., segera meluncur 
menembus malam, menembus kemacetan Jakarta. Saya tidak ingat lagi jalan mana 
saja yang kami lalui malam itu, karena pandangan mata saya tajam ke depan 
mengikuti liak-liuknya sepeda motor yang saya boncengi sambil perasaan full 
tegang. Ya bagaimana tidak tegang, wong terkadang lampu merah diterobos, 
berpindah lajur asal wesss... begitu saja, tidak perduli klakson kendaraan lain 
yang sedang melaju kencang di lajur yang dipotong. 

Ketika sampai di kawasan Senayan, kami bertemu dengan kepadatan lalulintas 
lagi, sepeda motorpun mengendap-endap lalu tiba-tiba menyalip dengan cara 
menyusup celah sempit di antara dua buah bis yang sedang berjalan tidak terlalu 
cepat. "Oedan...", kata saya dalam hati. Tiba di bundaran Hotel Indonesia, 
sepeda motor kembali beraksi dengan menambah kecepatan untuk mendahului bis 
kota dari sisi kanan dengan mencuri celah sempit di sudut antara moncong bis 
dengan separator jalan. Wusss... berhasil, termasuk berhasil merobohkan dua 
buah traffic cones yang bentuknya menyerupai corongan warna oranye yang berada 
di ujung separator jalan sebelah kanan. "Huhhh...", kata hati saya.

Mau saya tegur, saya khawatir nanti jalannya jadi pelan-pelan padahal saya 
berkepentingan untuk segera tiba di stasiun Gambir mengejar jadwal kereta Argo 
Lawu. Adrenain saya meningkat. Entah kenapa saya begitu menikmatinya. Sepeda 
motor pun kemudian melaju kencang menyusuri Jl. Thamrin ke arah utara menuju 
kawasan Monas, meski saya tidak sempat lagi memandang tugu itu. Lalu lintas 
mulai lancar dan tidak lagi merayap. Barangkali seperti itulah rasanya ikut 
balap road race.    

Tiba di Jl. Medan Merdeka Barat, tiba-tiba tukang ojek mengajak bicara. Katanya 
: "Kita lurus pak". Saya memang tidak terlalu hafal jalan-jalan di Jakarta. 
Tapi setahu saya kalau lurus berarti ke arah Kota, sedang stasun Gambir ada di 
sisi timurnya Monas. Spontan saya berteriak di tengah kebisingan lalu lintas : 
"Belok kanan, belok kanan...!". Sepeda motor pun spontan memotong ke kanan 
tanpa tolah-toleh. "Huhhhh, lagi...".

Mulai feeling saya curiga, jangan-jangan tukang ojek ini tidak tahu dimana 
letak stasiun Gambir. Lalu saya tanya : "Bang, tahu stasiun Gambir kan?". "Ya, 
tahu", jawabnya meyakinkan. 

Tiba di ujung Jl. Juanda, sepeda motor terus melaju kencang ke arah timur. Saya 
kembali curiga, tapi saya tepis keraguan saya. Mungkin dia tahu jalan pintas. 
Akhirnya, dugaan saya ternyata benar. Tukang ojek salah jalan hingga 
mutar-mutar kehilangan arah hingga ke kawasan Senen. "Wuahhh, modar aku!". 

"Bang, sebenarnya lu tahu stasiun Gambir enggak sih?", tanya saya hendak 
memastikan. Jawabnya : "Tahu pak, tapi jalannya banyak berubah". Sudahlah, hati 
saya mulai gemas. Ketika akhirnya tukang ojek itu beberapa kali tanya orang 
mencari arah yang benar, telinga saya mendengar yang ditanyakan bukan 'stasiun 
Gambir' melainkan 'terminal kota'. "Aaahhhh... Guoblog!", kata saya 
misuh-misuh..., memaki dalam hati (heran, masih juga saya khawatir menyinggung 
perasaannya). 

Lha kok tiba-tiba berhenti dan bilang : "Bapak turun sini saja lalu menyeberang 
sana", maksudnya saya disuruh naik taksi. Wooo, wong edan tenan iki (orang gila 
beneran ini). Langsung saya bentak : "Jalan terus dan ikuti perintah saya!". 
Kalau urusan tersesat kemudian kembali ke jalan yang benar (maksudnya kesasar) 
rasa-rasanya saya cukup punya pengalaman dan ini menjadi sebagian dari keahlian 
saya. 

Meskipun saya tidak familiar dengan kawasan itu, entah saya sedang berada di 
sebelah mananya apa saya pun tidak tahu, tapi yang jelas di kawasan Senen. 
Setidak-tidaknya saya bisa membaca tulisan petunjuk arah yang berupa rambu 
berwarna dasar hijau dan berwarna tulisan putih. Akhirnya tukang ojek saya 
komando dari belakang menemukan jalan yang benar. Puji Tuhan wal-hamdulillah, 
akhirnya saya sampai ke pintu gerbang keluar stasiun Gambir. Tobat tenan aku!  

Begitu berhenti, tukang ojek yang semula saya pikir orang Jakarte (pakai huruf 
akhir 'e') dan saya panggil 'Abang', ternyata kemudian bilang begini : "Dalane 
ora ceto, ora koyo nek awan pak (jalannya tidak jelas tidak seperti kalau siang 
pak)", katanya dalam bahasa Jawa. Spontan saya jawab : "Lha wis ngerti aku, nek 
awan serngengene cedak ngobong sirahmu (lha sudah tahu saya, kalau siang 
mataharinya dekat membakar kepalamu)", kata saya sambil rada jengkel. 

Segera uang Rp 50.000,- saya sodorkan sambil saya pesan : "Turahane pek-en nggo 
tuku bensin (sisanya kamu ambil buat beli bensin)", lalu saya tinggal pergi 
bergegas menuju ke dalam stasiun. Hitung-hitung saya sudah diberi bonus diajak 
wisata malam keliling Jakarta...

Yogyakarta, 27 Nopember 2009
Yusuf Iskandar 

http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke